
Filla menatap dirinya pada pantulan cermin, dirinya sudah bersiap untuk kencan dengan Vino, setelah pesta semalam, Vino mengatakan akan memberi kejutan lagi hari ini, bahkan Villa tidak bisa mengelak permintaannya.
Sentuhan terakhir, Filla membuka kotak pemberian Vino, semalam ia sudah sempat membukanya, namun rasa kagum semalam masih sampai pada sore ini.
Filla meraba kalung dengan liontin kupu-kupu, Vino sempat memberitahu Filla alasan mengapa Vino memilih liontin dengan bentuk kupu-kupu, Seperti kupu-kupu Filla selalu terlihat indah, mengingat ucapan Vino membuat Filla tersenyum.
Diambilnya kalung tersebut lalu mengenakannya, Filla melihat kalung yang ia kenakan, "Cantik," ucapnya lalu mengambil tas dan ponselnya.
Filla berjalan menuruni tangga, seperti biasa Tita dan mama terlihat akrab diruang keluarga. Filla tersenyum, rasanya nyaman melihat keadaan rumah selalu seperti ini.
"Asik banget, Kakak nggak diajak," ucap Filla sambil mencium mama dan Tita bergantian.
"Akak sibuk dandan," celetuk Tita.
Filla tertawa, "Kamu belum aja dek, entar juga abis make up Kakak kamu pinjem," ledek Filla.
"Kakak udah mau berangkat?" tanya mama lalu menyesap teh yang sejak tadi ada diatas meja.
Filla mengangguk, "Tapi nunggu Kak Vino," ucap Filla lalu melihat arloji dipergelangan tangannya.
Mama mengangguk, "Jangan lupa sholat magrib dan isya, jangan sampai karena pergi berdua, kalian meninggalkan sholat," ucap mama mengingatkan.
"Siap Bos," ucap Filla.
"Cie, kalung baru," ucap Tita.
Filla tersenyum, "Bagus nggak?"
"Bagus, Akak jadi tambah cantik," ucap Tita.
Filla mengacak rambut lebat milik Tita, lalu menciumnya, "Gemes," ucap Filla.
******
"Udah lama nunggu ya? Maaf macet banget," ucap Vino saat mereka sudah berada didalam mobil setelah berpamitan dengan mama.
Filla mengangguk sambil tersenyum, "Nggak apa-apa Kak, lagian aku juga baru selesai kok," ucap Filla.
Filla memasang sabuk pengaman namun dirinya kesusahan saat menariknya.
"Macet?" tanya Vino lalu mencoba membantu Filla memasang sabuk pengaman. "Nah beres," ucap Vino sampai ia baru sadar wajah mereka sangat dekat.
Filla menahan napasnya, gerakan tiba-tiba dari Vino tentu saja membuatnya terkejut, apalagi wajah Vino hanya berjarak 10 cm dari wajahnya sekarang, Filla hanya berharap suara jantungnya tidak terdengar oleh Vino.
"Kak," ucap Filla pelan.
Vino tersadar dan memundurkan tubuhnya, "Hmm, kita berangkat sekarang?" tanya Vino terlihat dirinya sangat gugup.
Filla mengangguk, dirinya harus menetralkan suara jantung agar tidak terdengar ditelinga Vino.
Vino menghela napas, "Cantik," ucap Vino sambil menoleh.
Filla mengerutkan kening.
__ADS_1
"Kalungnya," ucap Vino berbohong, padahal ia menyebut kata cantik untuk menggambarkan Filla.
Filla mengangguk, "Iya Kak cantik banget, makasih ya," ucap Filla canggung.
Vino tersenyum, mereka sadar suasana yang tercipta sekarang terlalu canggung membuat mereka salah tingkah.
******
Jalanan cukup padat, mereka menghabiskan 45 menit perjalanan menuju mal yang biasanya hanya memakan waktu 25 menit.
"Makan dulu yuk," ajak Vino.
Filla mengangguk, dirinya juga mulai merasa lapar, terakhir ia hanya memakan Sop buatan bi Surti tanpa nasi.
"Burger mau?" tanya Vino sambil menunjuk restoran fast food.
Filla mengangguk, "Boleh Kak," ucap Filla.
Mereka berjalan masuk kedalam restoran tersebut, Filla cukup risih dengan tatapan perempuan disekeliling mereka. Apalagi pada perempuan didepan Vino saat mereka mengantri.
Perempuan didepan Vino sengaja mundur dan beberapa kali melirik pada Vino, namun Vino malah fokus pada papan menu.
"Kamu mau makan apa? Nasi? Burger?" tanya Vino sambil menunjuk papan menu.
Filla diam masih memperhatikan perempuan disekeliling Vino dengan tatapan tak sukanya.
"Dek," ucap Vino lalu menoleh pada Filla, ia mengikuti arah pandang Filla. Lalu tersenyum. "Jangan diladeni," ucap Vino.
"Hmm," Filla mendonggak. "Kenapa Kak?" tanya Filla sambil memfokuskan diri.
"Filla mengangguk."
"Adeknya, pasti sih, soalnya tadi manggilnya adek," bisik perempuan dibelakang Filla.
"Iya kayaknya, pengen kenalan," bisik mereka kembali membuat Filla menoleh, namun saat Filla menoleh mereka malah pura-pura tidak tahu.
Filla memutar bola mata malas, beginilah keadaannya jika memiliki pacar seganteng Vino, Filla dulu selalu meledek Vino tentang hal ini, dan ternyata Filla yang merasakannya.
"Ah ganteng banget, pengen," ucap perempuan didepan Vino.
Padahal mereka sudah selesai memesan dan mendapat makanannya, tapi masih saja berdiri sambil memandangi Vino.
Vino maju ke depan diikuti Filla, Filla masih mengawasi gerak gerik perempuan yang memandangi Vino.
"Please itu adeknya, kalau pacarnya bisa patah hati gue," bisik mereka sekali lagi.
Filla melipat tangan didepan dada lalu mendengus sebal.
"Kenapa?" tanya Vino.
"Hmm," Filla menggeleng. "Nggak Kak," ucap Filla kembali tersenyum.
"Fiks beneran adeknya, lo dengerkan dia panggil Kakak," ucap salah satu perempuan dengan antusias.
__ADS_1
Filla akhirnya menyerah, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, meladeni mereka sama saja buang-buang waktu. "Aku mau burger ayam aja Kak, minumnya samain aja," ucap Filla.
Vino mengangguk lalu mengelus puncak kepala Filla.
Filla mengalihkan perhatiannya dengan melihat pada dapur restoran yang sedikit kelihatan, ia akan fokus untuk membuat apapun yang dilihatnya menarik.
"Udah kenalan aja, kayaknya emang kakak adik."
Vino menoleh pada perempuan yang sejak tadi membicarakannya, biasanya Vino tidak pernah meladeni atau bahkan tertarik, namun melihat Filla hilang mood mendengar ucapan mereka membuat Vino senang.
"Silahkan, pesanannya."
Filla tersenyum lalu menerimanya, bukanya dibalas senyuman oleh pelayan tersebut, malah Filla mendapati perempuan tersebut menatap Vino penuh rasa kagum.
"Untuk minumannya, akan saya antar kan," ucap pelayan tersebut sambil tersenyum.
Vino mengangguk lalu mengajak Filla untuk mencari meja kosong, "Sini Kakak bawain," ucap Vino.
Filla memberikan tanpa membantah.
"Hai, gue Karamel," ucap salah satu perempuan yang sejak tadi mencuri pandang pada Vino.
"Sorry mbak, saya udah punya pacar," ucap Vino sambil tersenyum lalu menggenggam tangan Filla membuat Filla terbelalak. "Yuk sayang," ucap Vino.
Filla tak bisa menyembunyikan senyumannya, tindakan Vino membuatnya kagum, santai namun tepat.
Filla tahu pasti betapa malunya perempuan yang Vino tolak mentah-mentah. Mereka bahkan berlari keluar dari restoran.
"Kalau cemburu kamu harusnya ngomong, jangan diem," ucap Vino sengaja menjahili Filla.
"Kakak, jangan ngeledekin," ucap Filla sebal.
Vino tertawa, "Iya sayang," Vino mengelus wajah Filla.
Filla tersenyum, Vino memang selalu bisa membuatnya melambung.
"Silahkan pesanannya," ucap pelayan, terlihat jelas dimata Filla, pelayan tersebut sengaja menggoda Vino.
"Mbak, biasa aja liatin pacar saya," ucap Filla.
Vino saja dengan cepat menoleh, ia tak menyangka Filla akan mengucapkan itu.
"Maaf Mbak saya kira Kakak-adik," ucap pelayan tersebut malu.
"Kakak-adik dari Hongkong," ucap Filla lalu mengambil minumannya lalu menyesapnya.
Pelayan tersebut pergi setelah menunduk sopan.
Vino tertawa, "Kok bisa gitu?" tanya Vino.
"Kata Kakak kalau nggak suka omongin aja," ucap Filla.
Vino tertawa lalu mengusap kepala Filla, "Kerja bagus, makasih kecemburuannya," ucap Vino.
__ADS_1
"Kakak."
*********