Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 172


__ADS_3

"Lo duluan aja Fill, gue nggak papa kok nungguin Sam," ucap Reya.


Mereka duduk di bangku kosong depan cafe.


Filla menggeleng, "Gue temenin aja."


"Tapi ini udah malem dan hujan lagi."


"Gue bawa mobil Rey, jadi tenang aja," Filla melipat tangan didepan dada. "Oiya, kenapa lo nggak bawa mobil lo aja tadi? Atau nggak, gue anterin nggak papa."


Sekarang Reya yang menggeleng, "Nggak usah, Sam bentar lagi nyampe kok, mobil gue masih di bengkel, lagian tau sendiri gimana Sam, selalu pengen anter jemput gue."


Filla mengangguk, dirinya lalu mendonggak, melihat tetesan hujan, memang tidak terlalu lebat tapi cukup membuat basah jika berjalan dibawahnya.


"Fill," Reya menoleh pada Filla membuat Filla ikut menatapnya dengan tatapan tanya, "Lo nggak mau kerja di Indonesia?" tanya Reya serius.


Filla menghela napas, "Kalau ditanya mau atau nggaknya ya tentu mau Rey, cuma kayaknya bukan disini tempat gue."


"Terus dimana? Ditempat lo harus ngorbanin karir lo dan keinginan lo, bahkan rela jauh dari keluarga?" tanya Reya.


Filla menatap Reya, tidak bisa ia pungkiri ucapan Reya benar adanya, "Nggak semua perlu penjelasan Rey, itu pilihan gue, ya harus tanggung konsekuensinya."


"Pilihan yang mempersulit diri lo sendiri? Fill, gue sebagai orang yang seenggaknya ada dalam hidup lo dan peduli sama lo, cuma mau bilang, ini nggak bener kalau yang lo dapetin cuma rasa sakit."


"Gue nggak tahu, yang jelas sekarang gue nggak bisa selalu disini," ucap Filla.


"Lo milih kabur lagi? Gue saranin Fill, kalau lo emang pengen semua ini berakhir ya lo sendiri yang akhiri, jangan selalu kabur dan akhirnya mempersulit hidup lo sendiri, selesein apa yang belum selesai, setelahnya terserah lo mau tetap pergi atau memilih tinggal."


Filla menghela napas.


Reya menepuk bahu Filla, "Gue ngomong gini, karena gue amat peduli sama lo, yang gue pengen, lo jujur sama diri sendiri sekarang, jangan karena rasa sakit lo dulu, membuat lo salah dalam memilih."


Filla menatap Reya yang menatapnya dengan keyakinan.


Tiiiiiiin....


Suara kelakson mobil Samuel terdengar saat mobil tersebut terparkir di hadapan Filla dan Reya.


Samuel keluar dari mobil dengan payung birunya, dengan senyuman khasnya seperti biasa berjalan mendekat pada Filla dan Reya, "Maaf lama Yang," ucap Samuel saat berada dihadapan Filla dan Reya. "Filla pulang naik apa? Sekalian bareng kita aja."


Filla tersenyum lalu menggeleng, "Gue bawa mobil Sam, jadi tenang aja, anter aja sahabat gue kerumah dengan selamat," ucap Filla.


Samuel dan Reya tersenyum.


"Yaudah, gue pulang dulu Fill, lo juga langsung pulang, jangan lupa ngabarin gue."


Filla tertawa, "Iya ibu cerewet," ledek Filla. "Sana gih, entar tambah malem."

__ADS_1


Filla melambaikan tangan saat Reya dan Samuel mulai meninggalkan halaman cafe, Filla melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah cukup malam ditambah langit yang mendung membuat malam terasa semakin larut.


Filla mengangkat tasnya menutupi kepala, dirinya berniat berlari menuju mobilnya, baru satu langkah Filla terdiam saat seseorang memayungi dirinya.


"Rangga?" Filla sedikit tersentak saat wajah Rangga begitu dekat dengan wajahnya, "Ngapain disini?" tanya Filla.


Rangga tersenyum, "Karena khawatir, kata mama kamu keluar padahal hujan kayak gini," Rangga menyampirkan rambut Filla kebelakang telinga.


Mendapat perlakuan mendadak itu Filla refleks memundurkan tubuhnya membuat Rangga malah memajukan langkahnya.


"Eh entar basah," Rangga mengibaskan bahu Filla yang terkena tetesan hujan.


"Gue bawa mobil, nggak perlu khawatir juga," ucap Filla.


Rangga tersenyum, "Nggak papa, khawatir itu wajar saat aku lagi berusaha mendapatkan kembali cinta kamu."


"Nggak jelas, udah ah gue mau pulang," Filla hendak berjalan meninggalkan Rangga, sampai dirinya dibuat terkejut sekali lagi, tanpa aba-aba Rangga menggenggam tangan Filla erat.


Rangga ikut melihat arah pandang Filla pada tangannya yang sengaja Rangga genggam, Rangga tersenyum, "Kamu tega suruh aku pulang naik taxi lagi setelah aku berusaha sampai kesini karena khawatir sama kamu?"


Filla menghela napas, "Yaudah, tapi lo yang nyetir," Filla melempar kunci mobilnya pada Rangga.


"Siap tuan putri," ucap Rangga antusias.


Filla mendudukan diri disebelah Rangga, "Lain kali, nggak perlu lo samperin gue, gue bisa pulang sendiri kok," ucap Filla tanpa menoleh pada Rangga.


Filla tersentak saat tubuh Rangga begitu dekat dengannya, "Lo mau ngapain?" tanya Filla berusaha keras menjauh.


Rangga memasang sabuk pengaman untuk Filla, lalu tersenyum dan mengacak rambut Filla, "Kamu mikirin apa? Hayo," ledek Rangga.


Tak bisa Filla pungkiri kedekatan mereka tadi membuat jantungnya tidak bisa bekerjasama, "Apaan sih? Gimana gue nggak kaget, lo bergerak tiba-tiba gitu," Filla membenarkan rambutnya.


Rangga tertawa, "Iya percaya," ucap Rangga masih dengan nada meledeknya, dirinya begitu suka membuat Filla salah tingkah.


Rangga menjalankan mobil milik Filla keluar dari parkiran cafe, menyusuri jalanan yang cukup sepi karena hujan.


Chiiit ...!


Rangga menahan tubuh Filla dengan tangannya, "Astagfirullah," ucap Rangga sambil melihat kearah depan mobil.


Filla mengusap dadanya pelan, dirinya hampir terdorong kedepan dan bisa saja membentur bagian depan mobil, untung lengan Rangga menahan tubuhnya.


Rangga menoleh pada Filla, "Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Rangga khawatir. "Sorry Fill, ada kucing," ucap Rangga merasa bersalah.


Filla ikut melihat arah pandang Rangga, "Nggak papa, untung lo rem tepat waktu," ucap Filla.


"Aku cek dulu, kamu tunggu disini," Rangga keluar dari mobil setelah meraih anggukan Filla.

__ADS_1


Filla sedikit memajukan tubuhnya melihat apa yang sebenarnya Rangga lakukan diluar sana, hampir satu menit Rangga masih saja berusaha mengusir kucing yang masih setia berbaring dijalanan.


Filla tak bisa menyembunyikan tawanya, bagaimana tidak, Rangga terlihat lucu dengan wajah frustasinya berusaha mengusir kucing yang bahkan tak bergeming.


Filla memilih turun dari mobil.menghampiri Rangga, "Mau sampai kapan, lo ngibasin tangan?" tanya Filla.


Rangga menoleh, "Kenapa keluar, gerimis ini nanti kamu sakit Fill."


"Dan liat lo maju mundur nggak jelas nyingkirin kucing ini?" tanya Filla. "Masih takut aja sama kucing," ledek Filla.


Rangga menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Bukan takut, cuma geli, kamu tahu itu," ucap Rangga membela diri.


Filla mengangkat kucing kecil tersebut lalu membawanya kepinggir jalan, "Lain kali hati-hati," ucap Filla sengaja berbicara pada kucing sambil mengelus kepalanya.


Rangga berdiri di sebelah Filla dan memayungi Filla dengan tangannya.


"Ngapain?" tanya Filla saat menyadari Rangga memayunginya.


"Kamu gampang flu kalau kena air hujan, ayo cepetan masuk ke mobil," ucap Rangga.


Hujan tiba-tiba berubah menjadi lebat, membuat Rangga dan Filla yang hanya berdiri dalam hitungan detik dibawahnya cukup dalam keadaan baju mulai basah.


"Hujan," ucap Filla sambil memayungi kepalanya dengan tangan.


"Cepet," Rangga masih memayungi kepala Filla dengan tangannya, sambil mengikuti Filla sedikit bergerak cepat.


Setelah memastikan Filla masuk kedalam mobil, Rangga memayungi kepalanya sendiri dengan tangannya dan berlari masuk kedalam mobil lalu menempatkan diri dikursi kemudi.


Filla dan Rangga mengibas lengan mereka masing-masing, tentu saja sekarang baju mereka basah kuyup.


"Pake," ucap Rangga memberikan jaketnya pada Filla.


Filla mengerutkan kening lalu menggeleng, "Nggak usah," ucap Filla berusaha menolak.


"Pakai sebelum gue liat lebih jelas," ucap Rangga tanpa menoleh kearah Filla.


Filla mengerutkan kening tak mengerti maksud Rangga, sampai dirinya menunduk dan mendapati lekuk tubuhnya terlihat karena bajunya yang basah. Filla refleks menyilangkan tangannya menutupi tubuh.


"Kenapa nggak bilang dari tadi?" Filla dengan cepat menyambar jaket Rangga dan memakainya. "Dasar mesum!" ucap Filla.


"Kalau aku mesum, nggak akan aku kasih tahu, apalagi ngasih jaket," ucap Rangga.


Setelah ucapan Rangga keheningan mendominasi diantara mereka. keduanya sama-sama canggung untuk berbicara.


Filla merutuki dirinya sendiri, wajahnya sedikit memerah, selalu tak mampu melihat bahkan melirik Rangga yang juga berusaha fokus menyetir mobil.


******

__ADS_1


__ADS_2