Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 118


__ADS_3

Bandara cukup ramai, terlihat dari ruang tunggu yang hanya menyisakan sedikit kursi kosong.


Rangga duduk disebelah Filla setelah check in pesawat dan mengurus bagasi, "Udah gue urus, kita tinggal tunggu panggilan buat masuk ke pesawatnya," ucap Rangga.


Filla mengangguk, lalu meronggoh tasnya mencari ponsel, Filla berniat menghubungi Vino, bahkan pesannya semalam belum dibaca sama sekali oleh Vino.


Tanpa menunggu lama, Filla menelpon Vino, namun yang terdengar hanya operator, Filla sedikit khawatir karena tidak biasanya Vino hilang tanpa kabar.


"Fill, untuk masalah kemaren, gue minta maaf," ucap Rangga memberanikan diri setelah berperang dengan dirinya sendiri sejak tadi.


Filla menoleh, "Asal lo jangan kayak gitu lagi," ucap Filla lalu membuang muka, dirinya lebih memilih fokus menghubungi Vino yang belum juga memberikan kabar.


Rangga meronggoh tasnya mengeluarkan coklat kesukaan Filla, "Nih," ucap Rangga.


Filla menoleh lalu mengerutkan keningnya merasa heran, "Buat apa?" tanya Filla lalu kembali fokus pada layar ponselnya.


"Buat dimakan lah, ini sebagai tanda permintaan maaf gue," ucap Rangga.


Filla menoleh pada Rangga, "Nggak usah Ngga, lo cuma mau minta maaf kan? Yaudah gue udah maafin, nggak usah berlebihan," ucap Filla.


Rangga mengangguk lalu kembali memasukkan cokelat yang sengaja ia beli kembali kedalam tas. Penolakan Filla adalah hal pertama yang terasa menyesakkan untuk Rangga.


Ponsel Rangga berdering, siapa lagi kalau bukan Kania, Rangga dengan malas kembali memasukkan ponselnya kedalam saku.


Belum beberapa detik, ponsel Rangga kembali berbunyi, tampak dilayarnya Kania masih berusaha menghubungi Rangga.


"Angkat Ngga, berisik," ucap Filla sambil melipat tangannya.


"Males," ucap Rangga kembali mematikan panggilan Kania.


Filla menoleh lalu kembali membuang pandangannya dari Rangga, tentu saja dirinya sedikit terusik, Filla sempat melihat nama Kania di layar ponsel Rangga, dan Filla merutuki dirinya sendiri saat rasa penasaran mendominasi nya.


Ponsel Rangga kembali berbunyi menandakan Kania masih setia bertahan.


"Angkat Ngga, ganggu," ucap Filla kesal.


Rangga menghela napas, lalu memutuskan untuk menerima panggilan Kania.


"Akhirnya, Ngga kamu masih marah? Ngga please maafin aku, kemarin aku kebawa emosi, kamu dimana? Aku samperin oke?" ucap Kania dari seberang.


"Mau ngomongin apalagi?" tanya Rangga malas.


"Ngga, kemaren aku cuma emosi, aku minta maaf," ucap Kania masih berusaha meyakinkan Rangga.


"Oke gue maafin," ucap Rangga.


"Makasih Ngga, kapan kita bisa ketemu? Aku nyamperin kamu aja oke?" ucap Kania antusias. "Tapi kamu salah ngomong kan? Kok pake gue-elo sama pacar sendiri?"

__ADS_1


"Pacar? Lupa kemaren semua selesai?" ucap Rangga.


"Ngga, katanya kamu udah maafin aku?" ucap Kania merengek.


"Iya, gue maafin, tapi ini terakhir kali lo hubungin gue!" Rangga langsung memutuskan sambungan telepon dari Kania.


Filla menyimak semua ucapan Rangga, dan kali ini Filla membenci dirinya sendiri, karena sedikit rasa senang mendengar kabar putus dari mulut Rangga sendiri.


******


Setelah menunggu hampir 10 menit, akhirnya mereka masuk kedalam pesawat, Filla mematikan ponselnya dan tetap saja belum ada kabar dari Vino.


Didalam pesawat Rangga dan Filla duduk bersebelahan, Filla memilih memejamkan mata dan memakai earphone miliknya. Tanpa berniat mengobrol dengan Rangga sedikitpun, Filla benar-benar membuat batasan agar hatinya terasa aman.


"Fill," panggil Rangga sambil menyenggol bahu Filla.


Filla membuka earphone-nya lalu menatap tanya pada Rangga.


"Gue ke toilet dulu," ucap Rangga.


Filla mengangguk lalu kembali menyibukkan diri, intinya Filla menutup akses untuk mengobrol dengan Rangga.


Tak memakan waktu lama Rangga kembali duduk disebelah Filla, "Fill," panggil Rangga sambil menepuk pundak Filla.


Filla menghela napas lalu menatap malas pada Rangga, "Kenapa?" tanya Filla.


"Nggak usah," ucap Filla sambil menggeleng.


"Terus siapa yang habisin? Ini salah fasilitas pesawatnya," ucap Rangga kembali menyodorkan kotak tersebut.


Filla melihat sekeliling, dan benar saja semua orang mendapatkan bagiannya, "Makasih," ucap Filla.


"Hmmm," ucap Rangga yang menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi.


Filla menepuk jidatnya, bagaimana bisa dirinya mengira kotak tersebut dari Rangga, benar-benar memalukan menurut Filla.


Tanpa Filla sadari Rangga menyembunyikan senyumnya.


******


Mereka sampai di Bandar Udara Depati Amir Pangkalpinang setelah menghabiskan waktu satu jam lebih didalam pesawat.


Filla merenggangkan tubuhnya yang terasa penat karena duduk. Ia kembali menyeret kopernya setelah Rangga mendahului dirinya, sekarang Rangga berada didepan Filla namun terhalangi oleh dua orang yang berjalan keluar juga bersama mereka.


"Rangga tungguin," teriak Filla membuat beberapa orang disekitarnya menoleh namun tidak pada Rangga, menurut Filla, Rangga malah semakin berniat meninggalkannya.


Mereka keluar dari pintu kedatangan, sudah ada seorang pria paruh baya yang menghampiri mereka.

__ADS_1


Permisi, "Rangga dan Filla?" tanya driver yang akan mengantar mereka sampai ke Bangka Tengah.


"Iya Pak," ucap Rangga sopan.


"Saya bantu bawakan," ucap driver tersebut sambil meraih koper mereka berdua.


Setelah membantu memasukkan koper kedalam bagasi Rangga memilih duduk disebelah pak Andi yang baru Rangga ketahui namanya setelah berkenalan.


Pak Andi menjalankan mobil keluar dari parkiran bandara, "Baru pertama ya datang ke Bangka?" tanya pak Andi.


Rangga mengangguk, "Iya Pak, rencananya mau liburan disini," ucap Rangga.


"Cocok kalau begitu, banyak tempat bagus disini, apalagi pantai, disini surganya," ucap pak Andi.


Rangga mengangguk, "Tadi nunggunya lama ya Pak, maaf banget Pak, soalnya pesawat delay hampir setengah jam."


"Nggaklah nak, sudah biasa mah kalau Bapak nunggu," ucap pak Andi sambil tertawa.


Filla melihat pemandangan diluar jendela mobil, terlihat sangat asri dan dia menyukainya, Filla hanya sering mendengar cerita mama dan papa tentang Bangka Belitung, kali ini ia benar akan membuktikan omongan kedua orangtuanya.


"Masih kuliah nak?" tanya pak Andi sudah mulai akrab dengan Rangga.


Filla melirik kedepan, dia sempat heran ketika Rangga begitu ramah dan mau diajak mengobrol dengan pak Andi karena Filla tahu bagaimana sifat Rangga, kali ini Filla menemukan sisi lain dari Rangga.


"Masih Pak, sekarang tinggal nunggu panggilan wisuda," ucap Rangga.


"Wah hebat, anak saya masih semester 3, dia lanjut di Yogyakarta, padahal di Bangka Belitung juga ada Universitas," ucap pak Andi.


Rangga mengangguk mendengar cerita pak Andi, Rangga bisa simpulkan bahwa ia nyaman dengan keramahan pak Andi yang mampu membangkitkan suasana.


"Itu temennya masih kuliah juga?" tanya pak Andi sambil melirik ke kaca depan.


Filla tersenyum, "Panggil Filla aja Pak, satu angkatan pak sama Rangga," ucap Filla sambil tersenyum.


"Oh seumuran rupanya," ucap pak Andi.


"Nah keinget masalah liburan, nanti kalian harus datang ke Kolong Biru di Nibung, itu tempatnya bagus, banyak juga turis yang mampir ke sana."


Filla mengangguk, "Tempat wisata paman?" tanya Filla.


Pak Andi mengangguk, "Iya, itu awalnya bekas galian pertambangan timah, yang akhirnya jadi tempat wisata," ucap pak Andi.


"Jadi penasaran," ucap Filla. Filla akhirnya mencaritahu tentang Kolong Biru di google, dan banyak artikel dan foto yang ia temukan. "Bagus Pak, airnya beneran biru," ucap Filla sambil menunjukkan layar ponselnya.


"Keren juga ya, bisa merubah galian jadi tempat wisata," ucap Rangga.


Mereka bercerita banyak, Pak Andi tipikal orang yang mudah akrab dan suka bercerita membuat Rangga dan Filla juga betah mendengarkan dan menanggapi obrolan pak Andi.

__ADS_1


*********


__ADS_2