Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 105


__ADS_3

Vino mendudukan diri disofa ruang keluarga, segelas jus sudah ada diatas meja, bi Surti memang orang paling gesit menurut Vino, Vino membuka jaketnya dan menaruhnya di senderan kursi, kemudian mendudukkan diri kembali menghadap TV yang masih menyala dengan film kartun kesukaan Tita.


"Akak," panggil Tita yang turun dari lantai atas.


Vino tersenyum sambil merentangkan tangan, bersiap memeluk Tita, sudah menjadi kebiasaan Tita sangat dekat dengan dirinya, "Kok filmnya ditinggal?” tanya Vino saat Tita sudah duduk disebelahnya.


"Tadi liat Shopia, takut diganggu Bici," ucap Tita.


Bici adalah kucing peliharaan Mama yang hampir 3 tahun, kucing dengan bulu putih menggemaskan itulah yang sedang Tita ceritakan.


Vino tertawa, "Emang Bici bisa lakuin apaan Ta sama Shopia?"


Tita mempautkan bibir, sepertinya sudah cukup kesal dengan Bici, "Shopia selalu jatuh dibawah, Bici dorong pakai kepala," ucap Tita sambil melipat tangan didepan dada.


"Nggak sengaja kali itu Bicinya," ucap Vino memang senang mencandai Tita.


"Kata Bunda Tita disekolah, kalau nggak sengaja itu cuma sekali, kalau sering itu sengaja namanya."


Vino mengguk, baru beberpa hari tidak melihat Tita, Tita dengan perkembangannya membuat Vino kagum.


"Kakak, ini baju papa, pake aja, Kakak madi dikamar mandi itu aja, handuk baru ada di dalam," ucap Filla yang membawa setelan baju ditangannya.


Vino mengambilnya sambil tersenyum.


"Ada Vino?" Papa yang baru masuk kedalam rumah langsung menghampiri mereka diruang keluarga.


Vino langsung menyalami papa.


"Iya nih, Pa, Kak Vino pinjem baju Papa nggak apa-apakan?" tanya Filla.


"Apasih yang nggak buat calon menantu," ledek papa sambil tertawa.


"Papa," Filla dengan wajah memerah menatap papa dengan kesal.


Tita langsung mendudukan diri di pangkuan papa, "Apa itu menantu?" tanya Tita dengan polosnya.


"Anak kecil nggak boleh tahu," ucap papa yang langsung memeluk dan mencium perut Tita membuat Tita tertawa menahan geli.


"Udah, yuk pada bubar, hampir magrib ini," ucap mama yang keluar dari dapur. "Vino mandi gih," ucap mama yang meraih anggukan Vino.


"Kita sholat berjamaah aja," ucap Papa yang meraih anggukan yang lain.


******


Filla melipat mukenahnya bersama mama, mereka selesai sholat berjamaah dengan papa sebagai imam, Filla tersenyum melihat Vino dengan sarung dan kopiahnya terlihat adem dipandang, baru kali ini Filla melihat penampilan Vino saat sholat, bagaimana tidak menjadi rebutan mahasiswi dikampus jika Vino punya ketampanan yang tak Filla sadari selama ini, lebih tepatnya setelah memutuskan ingin menerima Vino ada rasa yang berbeda saat melihat keberadaan Vino.


Selesai sholat mereka duduk diruang keluarga, Vino berbincang dengan papa, sedangkan Filla dan mama membantu bi Surti menyiapkan makan malam didapur.


"Pa, Kak, Ta, yuk makan," ucap Filla saat berada diruang keluarga.


Tanpa banyak bicara mereka semua menuju ruang makan dan mendudukkan diri, makanan sudah banyak tersaji diatas meja.

__ADS_1


Filla mengambil makanannya, tempe goreng adalah makanan kesukaannya, hampir tidak pernah absen sepiring tempe goreng tersaji diatas meja.


Seperti biasa papa dan Vino berbicara banyak tentang perusahaan dan dunia bisnis.


"Gimana bisnis kamu yang di Singapur Vin?" tanya papa sambil menyendokkan sup kedalam mangkoknya.


Vino meletakkan gelasnya diatas meja, "Alhamdulillah Pa, lancar, cukup bagus perkembangannya sejak perusahaan berdiri," jawab Vino.


Papa mengangguk, "Papa ada niat kerjasama sama perusahaanmu untuk pembangunan hotel di Yogyakarta."


"Boleh Pa, nanti kita bicarakan," ucap Vino lalu meneguk air putih yang ada digelasnya.


"Bisa urusan kantor bicaranya dikantor?" tanya mama. "Kita nggak ngerti," ucap mama.


Vino dan papa tertawa, "Siap sayangku," ucap Papa yang membuat Filla memutar bola matanya.


"Alay ah Papa sama Mama," ucap Filla.


"Iya alay kayak Tobi," ucap Tita membuat semua menoleh padanya.


Filla tersenyum setelah mendapat ide menjahili Tita, "Tobi pacarmu Ta?" tanya Filla sengaja, ia ingat Tobi adalah teman sekelas Tita di TK, dan banyak anak-anak lain yang menjodohkan mereka berdua, Filla saja tak habis pikir saat Tita menceritakannya, membayangkannya saja membuat Filla geli.


"Akak," ucap Tita sambil mempautkan bibirnya.


"Tita udah punya pacar emang?" Vino menambahi.


Filla mengangguk antusias, serasa mendapat dukungan dari Vino untuk menjahili Tita.


"Akak juga, tau ah cebel," ucap Tita membuat semuanya tertawa dengan wajah menggemaskan Tita.


Tita menggaruk kepalanya, "Itu Mam, temen TK Tita, yang endut dan suka bawa botol minum kodok," ucap Tita.


"Oh anaknya Bu Ika?" tanya mama.


"Ndak tahu juga sih," ucap Tita.


Mama mencubit pipi Tita yang menjawab pertanyaannya dengan gemas, Tita memang polos seperti umurnya, membuat orang-orang disekitar gemas dengan tingkahnya.


"Lagian Mama, nanya emaknya sama Tita, mana tahu," ucap papa membuat Vino dan Filla tak bisa menahan tawanya.


"Kan refleks Pa," ucap mama sambil menepuk bahu papa.


*******


"Pa, Ma, kita berdua minta izin buat pacaran," ucap Vino saat mereka duduk diruang keluarga setelah selesai makan malam.


Papa dan mama menoleh cepat pada Vino, papa bahkan sampai menjatuhkan remot AC yang sedang ia pegang.


Filla tentu saja sama terkejutnya dengan ucapan Vino, tapi Filla cukup kagum, bahkan dalam hubungan yang baru dimulaipun, Vino selalu mebawa keluarga didalamnya, jarang Filla menemui pria yang seberani Vino.


"Apa, apa? Mama nggak salah denger nih?" tanya mama menggeser duduknya mendekati Filla.

__ADS_1


"Coba ulang, Papa juga kayaknya ngebleng tadi," ucap papa.


Vino menghembuskan napasnya, "Jadi gini Pa, Ma, kita sepakat buat memulai hubungan, dan menurut Vino nggak baik kalau nyembunyiin ini dari Papa ataupun Mama," ucap Vino.


"Papa bangga sama kamu Vin, berani berbicara dan minta izin langsung sama kami," ucap Papa sambil menepuk bahu Vino.


"Mama setuju," ucap mama antusias.


"Ma santai dong," ucap papa membuat Vino tak bisa menahan senyumnya. "Papa setuju, asal kalian bisa jaga diri dan jaga kepercayaan kami, Papa juga tenang kalau Filla sama kamu," ucap papa tulus.


"Makasih Pa," Vino tersenyum. Ia menatap Filla yang memilih diam. Teringat belum sempat menanyakan pendapat Filla tetang omongan ini membuatnya merasa bersalah pada Filla.


*****


"Kakak hati-hati," ucap Filla sambil tersenyum.


Mereka sekarang berada didepan pintu rumah, setelah Vino berpamitan dengan mama dan papa, Filla berinisiatif mengantar Vino sampai pintu depan.


"Fill," panggil Vino.


Vino yang lebih tinggi darinya membuat Filla mendonggak sambil mengerutkan kening, "Kenapa Kak?" tanya Filla heran.


"Maaf, kamu pasti kaget tentang omongan kakak tadi sama orangtuamu, maaf, harusnya kakak izin dulu sama kamu," ucap Vino merasa bersalah.


Filla tertawa.


"Kok kamu malah ketawa? Kakak serius ini," ucap Vino.


Filla masih tertawa, "Aku pikir apa, abis Kakak lucu, aku nggak marahlah, lagian aku malah kagum Kakak kayak cowok idaman semua cewek, minta izin gitu," ucap Filla jujur.


Vino mengusap dadanya merasa lega, "Kakak pikir kamu marah."


Filla menggeleng, "Makasih ya Kak mau berusaha sama aku," ucap Filla sambil tersenyum.


Vino tersenyum lalu membawa Filla dalam pelukannya, "Makasih mau berusaha membalas cinta Kakak," Vino mencium puncak kepala Filla.


Filla mendorong Vino sampai mundur beberapa langkah darinya.


"Kenapa?" tanya Vino heran.


Filla dengan wajah memerahnya menunduk, "Kakak cium kepalaku," ucap Filla.


Vino mengerutkan keningnya, "Terus? Kan Kakak biasa ngelakuin itu," ucap Vino heran.


Filla menatap wajah Vino, "Tapikan itu sebelum aku tahu Kakak suka sama aku, sekarang kan beda," ucap Filla.


Vino tertawa, merasa gemas dengan Filla, "Kamu bikin Kakak nggak bisa tidur nih nanti malam," ucap Vino memcubit gemas pipi Filla.


"Kenapa?" tanya Filla.


Vino menarik Filla dalam pelukannya, "Mikirin kamu lah," ucap Vino sengaja membuat pipi Filla tambah memerah.

__ADS_1


"Kakak," Filla mendorong tubuh Vino, namun Vino manahannya.


*******


__ADS_2