
"Astagfirullah," ucap bunda saat membuka pintu kamar, didalam sana terlihat Rangga dan Filla berbaring diatas kasur dengan posisi saling berhadapan.
"Ada apa Bun?" tanya Ayah yang menyusul bunda dan ikut berdiri diambang pintu. Tak juga meraih jawaban dari bunda, ayah mengikuti arah pandang bunda. "Rangga!" Ayah langsung menarik selimut yang menyelimuti Rangga dan Filla.
Filla mengerjabkan mata, ia tak kalah terkejut dengan keberadaan Rangga yang tepat disebelahnya, dirinya memundurkan tubuh, disusul Rangga yang ikut terkejut dengan situasi apa yang terjadi sekarang.
Keduanya menyadari akan ada kesalahpahaman melihat kilat mata marah milik ayah dan bunda.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya ayah geram.
Filla dan Rangga saling tatap.
"Yah, Rangga bisa jelasin, ini nggak seperti apa yang ada dipikiran ayah," ucap Rangga yang juga mulai panik.
"Kamu kenapa disini Rangga? Harusnya kamu di kamar Aza," ucap bunda tak habis pikir dengan keberadaan anaknya dikamar ini dan bahkan tidur tepat disebelah Filla.
Filla hanya diam, tak mampu berkata, dirinya juga sama terkejut dengan keadaan Rangga tidur disebalahnya. Baru kali ini Filla melihat ayah marah besar, membuatnya tak bisa berkutik.
"Ayah tunggu penjelasan dari kalian secepatnya!" ayah berjalan keluar dengan menahan emosinya, dirinya sempat menendang pintu menimbulkan suara nyaring yang membuat Rangga ataupun Filla memejamkan mata karena terkejut.
Bunda menatap Filla dan Rangga bergantian, lalu memilih keluar dari kamar mengikuti ayah.
Filla memegang kepalanya dengan kedua tangan, lalu menatap Rangga, "Lo kenapa bisa tidur disini Rangga? Lo bilang akan pergi setelah lampu nyala," ucap Filla frustasi.
Rangga menghela napas, "Aku juga nggak tahu, semalem aku ketoilet dan lampu masih mati, kayaknya aku lupa kalau ada kamu dikamar ini, dan refleks tidur di kasur," jelas Rangga mencoba mengingat.
"Lo nggak ngapa-ngapain gue kan?" tanya Filla parno sambil menyilangkan tangan didepan tubuhnya.
"Kita masih pake baju lengkap Fill, ngayalnya jangan kejauhan," ucap Rangga sambil menggeleng.
"Terus sekarang gimana? Mereka pasti salah paham."
Rangga mengangkat kedua bahunya membuat Filla kembali mengacak rambutnya sendiri.
*******
Filla tak bisa menutupi ketegangan saat ini, bahkan entah bagaimana ceritanya papa dan mama sekarang berada dihadapan mereka, dirinya dan Rangga seolah disidang oleh para orangtua.
Sejak pagi ayah dan bunda memang mendiami Filla dan Rangga, tidak ada obrolan seperti biasanya, dan sekarang Filla lebih dikejutkan dengan tatapan dingin dari papa dan mama.
"Hubungan apa yang kalian punya sampai bisa tidur dalam satu kasur, kalian berdua sudah cukup paham hal itu dilarang," ucap ayah membuka pembicaraan.
__ADS_1
Filla dan Rangga hanya menunduk, tidak berani menatap.
"Kami nggak perlu mengulang pertanyaan, jawab," ucap papa menambahi.
Filla sadari situasi ini sama seperti saat papa membentaknya dulu.
"Rangga cuma nemenin Filla semalem Yah, Pa, karena mati lampu," jawab Filla pelan.
"Nemenin harus tidur satu ranjang?" tanya Ayah sambil membentak Rangga.
"Rangga juga nggak tahu Yah, awalnya Rangga nemenin Filla sambil tiduran di sofa, karena gelap Rangga lupa kalau ada Filla didalam kamar dan akhirnya ikut tidur di kasur," jawab Rangga.
Papa dan Ayah menghela napas. Sejak tadi bunda dan mama lebih berperan menahan amarah ayah dan papa.
"Ayah kecewa sama kalian berdua, apapun alasannya, kalian sudah melanggar," ucap ayah.
"Mama tanya, kalian berdua saling suka?"
Rangga dan Filla memilih diam dan menunduk, tak tahu harus menjawab apa, saat seperti ini entah mengapa mulut mereka terkunci.
"Kalau begitu, kalian harus menikah, itu konsekuensi yang harus kalian tanggung," ucap papa membuat Rangga maupun Filla mendonggak serentak menatap terkejut pada papa.
"Ayah setuju, bagaimanapun kalian melakukan kesalahan, bertanggung jawablah jangan buat kami tambah kecewa."
Filla menghela napas, situasi seperti apa yang sebenarnya terjadi sekarang, bagaimana bisa dirinya akan dipaksa menikahi Rangga. Pria yang hanya memilih diam saat situasi seperti ini.
"Mama juga setuju, ini lebih baik, Kamu nggak perlu balik ke Milan," ucap mama.
Filla menatap mama tak percaya, disaat seperti ini mama bahkan tidak membelanya sedikitpun, "Ma," Filla menatap mama penuh harap tapi mama malah memalingkan wajahnya.
"Umur kalian juga sudah pantas untuk menikah," ucap bunda sambil menenangkan ayah yang napasnya naik-turun karena emosi.
"Kita anggap permasalahan ini selesai, tunjukkan rasa tanggungjawab kalian, Ayah kasih waktu 3 minggu untuk mengurus pernikahan, paham?"
Filla dan Rangga hanya bisa pasrah, membantah sekarang sama saja dengan bunuh diri.
********
Filla menghela napas, setelah pembicaraan malam itu, mau tidak mau Filla harus mengikuti alur dari keterpaksaan yang dibuat para orangtua.
Sekarang Filla dan keluarga duduk dimeja makan sambil menyantap sarapan, seminggu berlalu dan Filla tak bisa menyamankan diri dengan situasi yang ada.
__ADS_1
Dirinya dan Rangga harus menyiapkan persiapan pernikahan setiap harinya, mulai dari makanan, gedung dan lainnya.
"Kak untuk gaun pernikahan, serahin dibutik kamu tinggal kasih tau keinginan kamu," ucap mama membuka pembicaraan.
Filla hanya mengangguk pasrah, dirinya tak tahu harus bersikap seperti apa sekarang.
Papa menghela napas, "Rangga pria yang baik Kak, Papa juga nggak akan ngelepas kamu untuk sembarang orang."
Filla menatap papa, "Tapi kenapa harus gini Pa? Kalian tahu Filla berusaha hidup tanpa Rangga selama ini, tapi kalian malah nyuruh Filla nikah sama dia," Filla akhirnya mengeluarkan keluh kesah yang ia pendam terlalu lama.
"Justru itu, Mama nggak mau ngeliat kamu memisahkan diri dari keluarga cuma gara-gara memaksakan diri melupakan Rangga yang sebenernya kamu cinta," ucap mama.
Filla menghela napas, "Filla berangkat sekarang, Assalamualaikum," Filla menyalami papa dan mama tanpa menatap, dirinya tak ingin terlibat percakapan ini lebih lama. Karena percuma ujung-ujungnya dirinya tetap harus menikah dengan Rangga.
"Waalaikumsalam, hati-hati Kak," ucap mama khawatir.
Filla berjalan keluar tanpa menoleh lagi, airmatanya perlahan membasahi wajah, Filla dengan cepat menghapusnya.
"Ayo," ucap Filla ketika berpapasan dengan Rangga.
"Aku pamit dulu," Rangga hendak melewati Filla untuk masuk kedalam. Namun tangannya ditahan oleh Filla.
"Sekarang Rangga!" Filla sedikit membentak lalu meninggalkan Rangga, berjalan mendekati mobil.
Rangga menghela napas, lalu akhirnya mengikuti keinginan Filla.
Mereka masuk kedalam mobil, dan hanya keheningan yang ada, Filla lebih memilih menatap kaca jendela mobil tanpa berniat membuka suara.
"Pakai Sabuk pengamannya," ucap Rangga, Rangga tahu sekarang Filla berusaha menutupi tangisnya.
Filla memilih diam tak menggubris ucapan Rangga.
"Kamu marah boleh, tapi keselamatan nomor satu," ucap Rangga sambil mendekat pada Filla dan menarik sabuk pengaman, memasangkan untuk Filla.
Filla menatap Rangga geram, "Harusnya lo berusaha nolak malem itu, bukan cuma diem!" Filla tak bisa menahan tangisnya lagi sekarang.
Rangga menatap kilat marah pada mata Filla, ia paham bagaimana Filla begitu kesal dengan situasi sekarang, Rangga menarik Filla dalam pelukannya, "Aku nggak bisa nolak, disaat aku begitu bahagia ketika dipaksa hidup sama kamu," ucap Rangga.
Filla malah tambah menangis, namun kali ini dirinya membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Rangga.
*******
__ADS_1