
Filla memencet bel saat berada didepan pintu rumah Reya, yang Filla butuhkan sekarang adalah tempat untuknya bercerita, dan Filla rasa Reya adalah orang yang tepat.
"Fill," Reya langsung membawa Filla dalam pelukannya saat melihat Filla diambang pintu, Reya bisa merasakan bertapa frustasinya Filla sekarang.
"Maaf Rey ganggu lo malem-malem, tapi gue nggak tahu harus cerita ke siapa lagi," ucap Filla lirih, dirinya menyembunyikan wajahnya pada bahu Reya.
Reya mengusap punggung Filla, "Yaudah yuk masuk dulu," ucap Reya sambil membawa Filla masuk kedalam rumahnya. "Kita langsung ke kamar gue," ucap Reya yang diangguki Filla.
Filla dan Reya menaiki anak tangga menuju lantai atas, seperti kata Reya, rumahnya sekarang sangat sepi, hanya ada beberapa ART yang sudah tidur.
Walau dirinya dan yang lain sering bertamu, namun ini pertama kalinya Filla menginap di rumah Reya, walau sudah lama kenal, Filla memang tipe orang yang lebih suka tidur di kamarnya sendiri.
"Lo minum dulu," ucap Reya sambil menuang air putih kedalam gelas yang sudah tersedia didalam kamarnya.
Filla mengangguk, mengikuti ucapan Reya.
"Lo bisa cerita pelan-pelan," ucap Reya sambil tersenyum.
Filla meraup wajahnya, "Gue bingung Rey, kenapa hidup gue selalu rumit, lo tahu sendiri apa yang udah gue lewatin selama ini, dan lagi-," ucap Filla terhenti, dirinya menarik napas berusaha menetralkan rasa sesak didalam sana.
Reya menggosok pelan lengan kanan Filla, berusaha memberi ketenangan.
"Kak Vino benaran hamilin Salsa Rey, Mereka melakukannya di Singapura," ucap Filla sambil terisak. "Lo tahu kan bertapa susahnya gue berusaha buka hati buat Kak Vino tapi kepercayaan gue malah dirusak gitu aja," ucap Filla.
Reya mengangguk, dirinya tentu saja ikut sakit melihat sahabatnya disakiti, Reya menarik Filla dalam pelukannya, "Lo yang sabar Fill, semua pasti ada hikmahnya, hidup lo bukan rumit, tapi lebih istimewa dari orang lain," ucap Reya lalu menatap Filla memberi semangat.
"Gue nggak tahu Rey harus gimana, Salsa datengin gue dan memohon untuk membujuk Kak Vino untuk tanggungjawab sedangkan Kak Vino menolak keras dan mau lanjutin hubungan kami," Filla memegang keningnya.
"Sumpah nggak tahu diri tuh Salsa, seenaknya dia minta lo bantu padahal dia berkhianat sama lo," ucap Reya tak habis pikir. "Nggak usah diurusin Fill, nggak guna juga, dasar pelakor nggak punya hati," ucap Reya kesal sambil melipat tangannya. "Dan lagi Vino sok kegantengan pake selingkuh," ucap Reya.
Filla tak bisa menahan tawanya mendengar ocehan Reya yang tak mau kalah darinya, "Rey yang harus marah gue, kok jadi lo," ledek Filla sambil menghapus airmatanya.
__ADS_1
Reya ikutan tertawa, "Alhamdulillah, setidaknya gue bisa bikin lo sedikit tersenyum," ucap Reya lalu memeluk Filla. "Lihat mata gue," ucap Reya sambil memegang bahu Filla. "Yang salah mereka, jangan biarin hidup lo yang kacau gara-gara mereka, lo Filla yang cantik, pinter, dan punya segalanya, mereka nggak punya tempat buat nyakitin lo," ucap Reya.
Filla mengangguk, ucapan Reya entah mengapa membuat Filla lebih tenang, benar kata Reya, mereka yang salah dan Filla tidak punya kewajiban untuk memikirkan konsekuensi perbuatan mereka.
Filla tersenyum walau wajahnya sedikit sembab, "Makasih ya Rey, lo selalu bisa nenangin gue, walau dengan cara-cara yang nggak masuk akal," ucap Filla.
"Gue yang harus bilang makasih, lo cari gue saat seperti ini membuat gue seneng banget, lo menempatkan gue diposisi ini, gue harap kita bisa selalu saling peduli," ucap Reya sambil tersenyum.
Filla mengangguk, "Satu lagi yang belum gue cerita," ucap Filla sambil membenarkan duduknya.
Reya menatap Filla penasaran.
"Sebenernya Rangga inget semua kejadian dalam mimpi selama koma," ucap Filla.
Reya membulatkan mata, "Berarti mimpi kalian beneran terkait gitu?" tanya Reya penasaran, Reya mendekatkan duduknya didepan Filla.
Filla mengangguk, "Gue juga nggak nyangka Rangga punya ingatan yang sama persis dengan gue."
"Terus tanggapan dia?"
"Ya bagus, kenapa lo harus sedih? Itu artinya lo dan dia emang punya sesuatu yang belum selesai," ucap Reya.
"Nggak bagus buat hati gue Rey, Gue nggak bisa bohong kalau gue juga udah mulai cinta sama Kak Vino, hidup gue serumit ini Rey, gue nggak tahu dosa seperti apa yang gue lakukan dimasa lalu sampai gue harus ngejalanin semua ini."
"Gue nggak bisa ngomong banyak, karena gue nggak pernah berada di posisi lo, cuma sebagai orang yang perduli sama lo, gue cuma mau bilang, lo harus ikutin kata hati lo, karena hati nggak pernah bohong," ucap Reya.
Filla memejamkan matanya sebentar, "Kalau gue memilih untuk kembali pada Rangga, nggak akan ada yang bisa ngejamin gue nggak akan kembali patah hati Rey."
Reya mengangguk, "Ya, tapi ada peluang dia benar-benar tulus Fill, sikap dia kemarin karena dia nggak pernah inget lo, bukan karena dia benar-benar pria yang jahat, awalnya gue juga nggak suka sama Rangga, namun yang kita lihat buruk nggak selamanya buruk, begitupun sebaliknya, Kak Vino adalah penilaian terburuk yang pernah gue buat," ucap Reya.
********
__ADS_1
"Fill," teriak Reya yang langsung masuk kedalam kamar.
Filla yang baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian Reya terkejut, "Apa sih Rey? Pagi-pagi teriak."
"Rangga dibawah," ucap Reya sambil menunjuk kebawah.
Filla terbelalak, "Kok bisa? Buat apa?" tanya Filla heran.
Reya mengangkat kedua bahunya, "Lo temuin biar tahu," ucap Reya.
Filla menggeleng, "Bukan saat yang tepat Rey nemuin dia sekarang," Filla mendudukkan diri di kasur.
Reya mengikuti Filla lalu berkacak pinggang, "Terus gimana? Harus gue gitu yang nemuin dia?" tanya Reya lalu duduk disebelah Filla.
Sekarang giliran Filla yang mengangkat kedua bahunya.
Reya menghela napas, "Temuin dia atau dia yang gue bawa ke sini," ancam Reya yang langsung keluar dari kamarnya.
"Reya!" teriak Filla, namun Reya tak menghiraukan dan malah berjalan turun kebawah. Filla mengacak rambutnya kesal, "Resek," ucap Filla.
Filla akhirnya menuruni anak tangga menuju ke bawah, dan benar Rangga sedang duduk di ruang tamu, sedangkan Reya mengisyaratkan Filla untuk menemui Rangga dari meja makan.
"Resek," bisik Filla sedangkan Reya hanya memajukan bibir bawahnya lalu kembali memakan sarapan paginya.
Filla berjalan mendekati Rangga, "Ngga," panggil Filla lalu duduk di sofa depan Rangga.
Rangga membenarkan posisi duduknya, "Mama kamu suruh aku cek keadaan kamu," ucap Rangga to the point.
Filla mengerutkan keningnya, "Mama bisa telpon gue atau Reya, kenapa harus minta tolong sama lo?" tanya Filla heran.
"Ponsel kamu dan Reya nggak bisa dihubungin sejak semalam."
__ADS_1
Filla melihat kelantai atas lalu menepuk jidatnya, bagaimana bisa dihubungi jika ponselnya dalam keadaan mati sejak semalam dan dirinya lupa mengisi daya baterai.
*********