Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 53


__ADS_3

"Ambil jurusan apa Ngga?" tanya Filla saat mereka duduk menunggu antrian, Filla selalu menatap antusias pada Rangga, apapun yang dilakukan Rangga seolah memiliki daya tarik tersendiri.


Rangga melirik malas sekilas lalu membuang muka, "Bukan urusan lo," ucapnya singkat padat dan jelas. "Lagian bangku banyak tuh yang kosong, bisa nggak usah disebelah gue?" tanya Rangga sambil menunjuk banku kosong didepan mereka.


Filla memilih diam, berbicara dengan Rangga sama saja berbicara pada batu, tak ada ekspresi dan bikin sakit hati, namun bodohnya hati Filla seolah membiarkan semua itu dengan semestinya.


Tak lama mereka mengurus pendaftaran, cuma memakan waktu setengah jam, setelahnya mereka bisa pulang dan menunggu pengumuman selanjutnya, mereka memang memasuki Universitas Swasta. Ditambah urusan Universitas sudah diurus papa dan ayah jadi mereka tidak melakukan banyak hal.


Filla masih mengekori Rangga sejak mereka keluar dari gedung Universitas, ia tidak peduli dengan celetukan Rangga, seperti masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri, lebih tepatnya memilih tidak peduli.


"Kenapa masih disini?" tanya Rangga ketus dengan manik mata yang tepat menatap Filla, wajah Rangga sekarang sangat tidak enak dilihat, tapi Filla tetap saja tersenyum menatapnya, seperti orang bodoh.


"Udah gue bilang lo pulang sendiri," ucap Rangga tegas.


Filla menyadari posisinya, gadis bodoh dengan harapan kecil untuk diingat, setidaknya ia ingin berusaha, takdir yang akan menentukan bahwa apakah tepat ia terus berdiri didepan Rangga.


"Pulang barenglah, aku nggak tahu jalan, dan kamu satu-satunya orang yang bisa aku andelin," jawabnya sambil tersenyum tanpa gentar.


"Terserah," ucap Rangga akhirnya menyerah, karena berdebat dengan Filla membuang tenaga pikirnya.


Filla mentap sekitar, sepertinya ini bukan jalan pulang kerumah pikirnya, sejak tadi ia dan Rangga tidak ada yang bersuara, hening tercipta dengan sendirinya, "Ngga, kok nggak pulang?" tanya Filla.


Rangga memilih diam tak menggubrisnya sama sekali dan memilih tetap mengendarai motornya.


"Loh, ini dimana?" tanya Filla setelah turun dari motor Rangga yang sudah berhenti sejak beberapa detik lalu.


"Gue laper," ucap Rangga singkat dan berjalan meninggalkan Filla masuk kedalam restoran.


Filla berlari mengekori Rangga, "Aku ikut," ucapnya saat langkahnya sudah setara dengan Rangga. "Eh bentar," ucap Filla tiba-tiba sambil menarik lengan baju Rangga.


Filla berjalan menuju meja dibagian kanan kafe, menatap lekat orang yang sedang bercengkrama disana.


"Itu bukannya Kania?" tanya Filla sambil menunjuk perempuan yang menggendong anak dan seorang pria dihadapannya, mereka duduk dipojokan, tapi Filla dapat mengenali saat melihat bayi kecil dalam gendongan Kania, ya dia Rain.

__ADS_1


"Lo kenal?" tanya Rangga bingung.


Tanpa basa-basi Filla menarik Rangga mendekati mereka yang sedang bercengkrama.


"Hai, Kania," sapa Filla saat mereka berada dihadapan Kania dan keluarganya.


Kania dan Ryan menatap bingung pada Filla yang mereka tak kenal, sampai melihat Rangga, barulah Kania dan Ryan tersenyum.


"Eh Rangga dan ...," ucap Kania saat menunjuk Filla.


"Filla," jawab Filla sambil menjabat tangan Kania dan Ryan.


"Oiya Kania, Sorry kita ganggu," ucap Rangga sambil memegang tangan Filla dan beranjak pergi.


Filla menepisnya, matanya terfokus pada Rain yang juga melihatnya, "Bentar Ngga, aku mau lihat Rain," ucap Filla tanpa sadar.


Semua menatap Filla heran, dimana gadis ini bisa kenal mereka dan mengenal Rain untuk pertama kali bertemu ini aneh pikir mereka. "Kamu tahu nama dia Rain dari mana?" tanya Kania dengan alis mengkerut.


Filla membulatkan mata dan berusaha tersenyum menatap Kania dan Ryan, ia lupa kalau orang lain tak memiliki ingatan sepertinya, "Rangga yang cerita," celetuk Filla sambil menarik tangan Rangga, berharap Rangga membantunya.


"Kalian pacaran?" tanya Ryan memecahkan keheningan sambil tersenyum.


"Iya," jawab Rangga membuat Kania dan Filla menoleh serempak pada pria pemilik suara dingin itu.


Lalu Filla terdiam, Ya ia tahu Rangga hanya ingin memanas-manasi Kania, jika ingatannya tidak berubah dimasa sekarang, tentu Rangga dulu menyukai Kania. Filla tersenyum paksa mengingatnya. Dibuangnya pikiran itu lalu kembali menatap Rain yang sangat lucu.


"Boleh aku gendong dia? Abisnya gemes, aku suka nak kecil," ucap Filla memohon.


"Aku nggak yakin, dia biasanya nggak suka orang baru," ucap Kania khawatir. Tapi tetap memberikan Rain pada Filla.


Filla dengan senang hati menerima Rain dan menggendongnya, sekarang gadis kecil ini sudah sangat besar, umurnya hampir dua tahun, sangat manis menurut Filla, "Hai Rain, kamu udah gede banget, Kakak kangen," ucap Filla sambil mencium Rain yang terlihat senang dalam gendongannya dan berusaha meraih wajah Filla dengan tangan mungilnya.


kania dan Ryan menatap heran, tidak mudah membuat Rain nyaman dengan orang lain, tapi sekarang Filla bisa melakukannya, "Aku nggak nyangka dia mau loh, kamu gendong," ucap Kania.

__ADS_1


Rangga juga menatap heran Filla, ia seperti mengenal Rain sangat lama padahal baru kali ini menemuinya.


"Makasih lo, ini Rainnya, maaf ya ganggu kalian," ucap Filla menyerah karena sejak tadi Rangga sibuk mencubitnya, padahal ia sangat ingin berlama-lama menatap Rain. Tapi ia sadari ini pasti aneh kalau diteruskan, akhirnya ia menyerah.


"Iya sama-sama," jawab Kania dan menerima Rain kembali. "Gabung aja, nggak apa-apa, ya kan Yan?" tanya Kania yang meraih anggukan Ryan.


"Nggak usah, kalian pasti pengen quality time, yaudah kita kesana dulu," ucap Filla.


"Kita duluan," ucap Rangga kaku akhirnya.


Filla menghentikan langkahnya dianak tangga keempat melihat kearah Rain yang bercengkrama dengan Kania, suasana ini terasa asing, Rain bukan lagi gadis kecil yang dengan mudah ia gendong sekarang, kisahnya berubah dan Filla berada ditengah sandiwara yang perlu ia lakoni agar terlihat normal.


Sulit menjalani hari dengan ingatan yang hanya milik sendiri, kadang ada hal yang perlu diceritakan namun tertahan Karena keadaan, Filla harus terbiasa sekarang, menjadikan memori ini teredam.


"Sorry, sorry," ucap seseorang yang tanpa sengaja menabrak Filla. "Filla?" prempuan itu menutup mulutnya.


Filla mendonggak, ia terdiam ketika wajah yang ada dihadapannya adalah orang yang sangat ia kenal, "Ola," ucap Filla pelan hampir tak terdengar.


Rangga menatap Filla, merasa aneh dengan perubahan sikap Filla.


"Fill, lo sadar?" tanya Ola yang tak bisa membendung airmatanya, Ola menyentuh tangan Filla.


Filla dengan cepat menepis dan menarik Rangga Meninggalkan Ola yang masih mematung menatap kepergian Filla.


Filla melepas tangan Rangga dan mendudukan diri dikursi.


Rangga ikut duduk, menatap Filla yang memilih diam sejak menariknya, "Kenapa?" tanya Rangga memecahkan suasana.


Filla menoleh lalu melempar senyum pada Rangga, "Nggak," ucapnya sambil mengangkat kedua bahu.


Rangga menatap Filla bingung, Filla seolah melupakan kejadian beberapa menit lalu.


******

__ADS_1


******


__ADS_2