Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 152


__ADS_3

"Gue nggak bisa komen apapun, karena yang ngejalanin lo, lo tahu mana yang terbaik untuk lo jalanin," ucap Filla menepuk bahu Reya.


Reya tersenyum menatap Filla, "Lo nggak marah karena gue nggak kasih tahu lo sebelumnya?" tanya Reya.


Filla tersenyum, "Buat apa, kita udah sama-sama dewasa buat nyikapin satu hal, overthinking cuma bikin hidup tambah rumit."


"Kalau lo? Masih belum bisa lupain Rangga sampai sekarang?"


Filla menatap Reya lalu tersenyum, "Lebih sulit dari yang gue bayangin."


Reya menghela napas, "Gue mau jujur sama lo," ucap Reya.


Filla menoleh pada Reya dengan tatapan penasaran.


"Sebenernya selama ini, Rangga masih berharap banyak sama lo Fill, gue nggak bermaksud bikin lo dilema atau semacamnya, hanya kalau gue simpen terus rasanya nggak nyaman."


Filla menguatkan hatinya untuk tidak membuat ucapan Reya adalah sebuah harapan dan menyia-nyiakan usahanya selama ini.


"Rangga selalu nanyain tentang lo, gue pikir itu sementara karena dia kaget kehilangan lo secara mendadak, tapi hampir 3 tahun nggak pernah sehari pun Rangga absen nanyain tentang lo ke gue."


Filla menghela napas, "Kenapa lo kasih tahu ini ke gue?"


Reya menoleh pada Filla, "Ini bukan tentang Rangga, tapi tentang lo Fill, tiga tahun adalah waktu yang lama, dan lo masih nyimpen dia dalam hati, tadinya gue mau rahasiain ini, tapi gue pikir lo harus tahu, bukan cuma lo yang masih berdiri ditempat yang sama."


"Gue nggak mau kecewa lagi Rey, capek," ucap Filla.


Reya mengangguk, "Gue cuma mau bilang, kalau lo nggak bisa menghapus tentang Dia sampai sekarang, artinya ada sesuatu yang belum selesai," ucap Reya yakin.


********


Filla menghempaskan tubuhnya pada kasur, ucapan Reya terlalu berbekas untuk dirinya.


Notifikasi pesan membuat Filla menatap ponselnya yang tergeletak disebelahnya.


From Iren


Segini aja gue udah kangen sama lo, lo pake pelet Fill?


Filla tertawa membaca pesan dari Iren, dirinya mengetik beberapa kata membalas pesan Iren.


To Iren


Bilang aja kangen, malah nuduh lagi.


Tanpa menunggu lama Filla mendapat panggilan vidio call dari Iren, Iren memang tipe orang yang malas mengetik panjang jika mengobrol, dirinya lebih sering menelpon setelah berbasa-basi sebentar.


"Assalamualaikum," ucap Filla saat wajah Iren memenuhi layar ponselnya.

__ADS_1


"Waalaikumslam, ada apa nih sampai vidcall?"


Filla menatap malas Iren, "Lo yang ngajak vidcall jangan mulai deh amnesia akut lo," ucap Filla.


Iren tertawa, "Lo nggak kangen sama gue? Udah dua hari loh kita nggak ketemu," ucap Iren.


"Lebay ***, baru kemaren vidcall."


Iren kembali tertawa, "Lo masih hutang cerita sama gue, gimana perjalanan Jakarta-Bandung sama doi? Apakah benih cinta tumbuh lagi?"


"Nggak usah resek deh, gue udah move on," ucap Filla walau dihati terdalamnya pun belum bisa mengatakan dengan tegas mampu berdekatan dengan Rangga tanpa rasa deg-degan.


"Terdengar nada-nada kebohongan," ucap Iren dari seberang. "Oiya, tadi pagi gue udah cek gedung buat acara, tinggal dikit lagi selesai, lo ke Jakarta tanggal berapa?" tanya Iren antusias.


Filla berpikir sejenak, "Mungkin 3 atau 2 hari sebelum acara, kita juga udah persiapan lama."


Iren mengangguk, "Gue tunggu pokoknya," ucap Iren. "Yaudah Fill, mau desain baju dulu, lanjutin sketsa kemaren," ucap Iren.


Filla mengangguk, "Jangan dipaksain nggak lucu lo sakit waktu acara udah deket," canda Filla.


"Siap bos," ucap Iren. "Lo juga, istirahat aja dari status jomblo lo itu," ledek Iren.


"Kampret lo."


"Daripada kena amuk, da.. mimpi indah temen kosan," ucap Iren membuat Filla tertawa.


Filla meletakkan ponselnya setelah sambungan vidcall Iren selesai.


"Kak udah tidur?" tanya mama sambil mengintip dibalik pintu.


Filla tersenyum, "Belum Ma, masuk aja," ucap Filla.


Mama tersenyum lalu melangkah masuk ke kamar Filla, "Gimana tadi ketemuannya? Seru?" tanya mama yang duduk di pinggir kasur Filla.


Filla mengangguk, "Biasa Ma, nggak ada yang berubah, masih pada suka bercanda kayak dulu. Cuma udah pada nggak bisa nongkrong lama aja karena pasangannya pada ngantri diparkiran," ucap Filla lalu tertawa.


Mama ikut tertawa, "Wajar kalau itu Kak," mama mengambil buku Filla yang tergeletak diatas meja. "Boleh Mama lihat?" tanya mama.


Filla mengangguk.


"Bagus banget Kak, emang ya beda kalau udah jadi lulusan luar negeri," ucap mama sambil membuka lembar demi lembar sketchbook milik Filla.


"Biasa aja Ma, Filla masih perlu banyak belajar," ucap Filla.


"Kamu emang turunan Mama Kak," ucap mama dengan bangga.


Filla tertawa, "Udah pasti dong kalau itu."

__ADS_1


Mama meletakkan sketchbook kembali keatas meja, "Besok kamu mau sarapan apa?" tanya mama.


Filla tampak berpikir sejenak, "Nasi uduk," ucap Filla antusias. "Udah lama banget Filla pengen makan itu."


Mama mengangguk, "Yaudah nanti Mama beliin di pasar."


Filla mengangguk, "Makasih Ma," ucap Filla yang meraih senyum dan anggukan mama.


"Yaudah, sana kamu tidur, Mama juga mau tidur," ucap Mama lalu beranjak dan berjalan keluar dari kamar setelah mencium kening Filla.


Ponsel Filla berdering membuat layar ponselnya menyala, Filla meraih ponselnya dan memfokuskan pandangan menatap notifikasi pesan dari nomor tak dikenal di layar ponselnya.


From 08xxxxxxxxxx


Ini aku Rangga, Fill.


Filla mengerutkan keningnya lalu berusaha memfokuskan penglihatannya membaca ulang pesan yang ia terima.


Filla melempar ponselnya keatas kasur membiarkan layarnya menyala, "Dia dapet nomor aku dari mana?" tanya Filla pada dirinya sendiri.


Yang tertera dilayar ponselnya sekarang adalah pesan dari seseorang yang hampir tiga tahun tidak pernah muncul.


Filla mengatur napasnya lalu perlahan meraih ponselnya, "Oke tenang Filla, cuma pesan biasa, paling minta save nomor," ucap Filla menenangkan dirinya sendiri.


To 08xxxxxxxxxx


Iya, ada apa Ngga?


Tanpa menunggu lama, kembali ada pesan yang dikirim Rangga, seolah memang Rangga sedang menunggu balasan dari Filla.


From 08xxxxxxxxxx


Kamu udah sampai rumah?


Filla mengerutkan keningnya, ia hanya tak habis pikir bagaimana Rangga tahu dirinya keluar rumah hari ini.


To 08xxxxxxxxxx


Iya udah, ada apa?


From 08xxxxxxxxxx


Nggak, cuma mau cek kamu udah pulang dengan selamat atau belum, yaudah, good night.


Kali ini Filla benar-benar melempar ponselnya dengan kencang keatas kasur, "Gimana bisa move on coba? Apaan sih?" Filla mengacak rambutnya dengan sebal.


Filla membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut, sesekali dirinya melihat ponsel yang tergeletak agak jauh darinya, lalu bergidik ngeri, namun terus berulang seolah dirinya penasaran apakah masih ada pesan baru dari Rangga.

__ADS_1


"Filla sadar," ucapnya sambil menampar pipinya sendiri," lalu menarik selimut sampai menutupi kepalanya, meninggalkan semua rasa penasarannya tentang Rangga cukup sampai disini.


********


__ADS_2