
Rangga membawa Filla dalam dekapannya bergerak naik ke permukaan, Filla tenggelam cukup dalam membuat Rangga perlu sedikit waktu lebih lama berenang membawanya.
"Rey bantuin," ucap Rangga dengan menngangkat badan Filla keatas jembatan.
Filla terbatuk sambil memegang dadanya, terasa sesak yang teramat, Filla seperti kehilangan oksigen yang ada disekitarnya.
"Fill," ucap Reya panik, Reya menggosok pelan punggung Filla yang terduduk dengan batuk yang belum reda.
Rangga ikut naik dan duduk disebelah Filla, "Fill nggak apa-apa kan?" tanya Rangga khawatir.
Filla masih mengatur napasnya yang tak kunjung terasa nyaman, sesekali ia memegang dahinya.
"Tangan lo Fill!" ucap Reya terkaget melihat tangan Filla yang penuh dengan darah, pergelangan tangan yang tadi pagi terbalut perban putih berubah warna merah.
Rangga ikut tersentak dan memegang tangan Filla, "Kita kerumah sakit sekarang," ucap Rangga tegas.
Rangga dan Reya membantu Filla berdiri tapi belum sempat mereka melangkah Filla kehilangan kesadaran.
"Filla!" teriak Vino yang berlari menghampiri mereka, "Filla kenapa?" tanya Vino pada Reya.
Reya menggeleng, "Bantuin kak," ucap Reya frustasi, melihat Filla seperti ini ada sebagian hatinya terasa sesak.
Vino dengan cepat menggendong Filla sampai tangannya ditahan Rangga.
"Biar gue yang gendong," ucap Rangga tegas dan siap menggendong Filla.
Vino mendorong Rangga menjauh, "Bukan saatnya berantem dalam situasi kayak gini," ucap Vino dengan kilat marah terlihat jelas dimatanya. Vino berjalan cepat dengan menggendong Filla ala bridal style diikuti Reya tanpa memperdulikan Rangga yang meneriakinya.
******
Rangga berlari dikoridor rumah sakit setelah bertanya pada resepsionis tentang keberadaan Filla, dan benar Filla disini, Rangga mengelus dadanya menahan kecemasannya. Terlihat Reya sedang menangis dan Vino yang berdiri dengan wajah cemasnya diujung pilar sambil menatap ruang UGD. Rangga mendekati mereka.
Reya berdiri, "Ini semua gara-garo lo Ngga, kalau lo percaya sama kita nggak mungkin Filla kayak gini," ucap Reya sambil menangis.
Vino dengan cepat menahan Reya yang mulai lepas kendali, "Ini rumah sakit, Filla butuh doa kita bukan siapa yang salah atas kejadian ini," ucap Vino dengan sikap dewasanya.
"Gimana keadaan Filla sekarang?" tanya Rangga cemas menatap Reya dan Vino bergantian.
__ADS_1
Reya tertawa miris, "Gue pikir lo cuma bisa ngurusin tuh nenek sihir dan nggak peduli sama Filla," sindir Reya tepat dihadapan Rangga, ia benar-benar muak melihat wajah Rangga jika mengingat sikap Rangga tadi.
"Gue salah Rey, Vebi menyusun semuanya untuk menjauhkan Filla dari gue," jelas Rangga. "Tolong kasih tahu gue, Filla kenapa?" tanya Rangga lagi penuh harap.
Reya menghembuskan napas pasrah, berdebat dengan Rangga tak akan menyelesaikan masalah pikirnya.
"Belum ada kabar dari dokter, kita tunggu sama-sama, semoga Filla baik-baik aja," ucap Vino menengahi.
Rangga duduk disalah satu kursi tunggu, menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan sambil menunduk, menyesali semua ucapan dan tidakannya terhadap Filla.
"Tangan Filla kenapa? Gue nggak percaya kena pintu," ucap Reya setelah mampu menguasai emosinya.
"Pintu?" tanya Rangga bingung.
Vino memilih menyimak pembicaraan Reya dan Rangga, walau ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, jika menyangkut Filla semua terasa perlu ia ketahui.
"Semalem gue ditodong preman dan Filla nolongin, preman itu mau nusuk gue pake pisau tapi Filla yang nahan pake tangannya," jelas Rangga kembali mengingat kejadian semalam, hatinya jadi terenyuh, Filla bahkan membelanya, menyelamatkannya tapi apa? Dia malah berlaku sebaliknya terhadap Filla.
"Bodoh! Filla tu bener-bener bodoh, mau aja nyelametin orang kayak lo, ketahuan banget dia punya rasa buat lo," ucap Reya kesal.
Vino membulatkan mata, menatap adakah kebohongan diwajah Reya yang sangat ia harapkan untuk sekarang.
Pintu ruang UGD terbuka, lalu keluar seorang Dokter yang selesai menangani Filla. Rangga, Vino dan Reya berhambur menghampiri Dokter dengan cemas.
"Gimana Dok keadaannya?" tanya Rangga menatap cemas pada Dokter.
Dokter bernapas pasrah, "Pasien mengalami drop akibat kelelahan, dan luka yang ada ditangannya cukup serius, mengakibatkan pasien banyak kehilangan darah, pasien dinyatakan koma untuk sekarang," ucap Dokter. Seketika ucapan Dokter seperti tancapan kuat pada Vino, Reya dan Rangga, mereka tak menyangka akan separah itu.
"Astagfirullah," ucap Rangga pelan. Ia tak menyangka akan seserius ini keadaan Filla, gadis dengan tubuh mungil itu sekarang terbaring lemah karena ulahnya, gadis yang selama ini selalu tertawa dan ceria sekarang pucat dan terdiam, Rangga terdiam dalam waktu yang lama ia terduduk saat mendengar Filla koma.
"Dok lakukan yang terbaik untuk Filla," ucap Vino sambil menepuk bahu dokter pelan.
"Kita berdoa untuk kesembuhannya, saya akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan pasien, saya permisi," ucap Dokter meninggalkan mereka yang terdiam.
Reya duduk disamping Rangga, ia juga tak menyangka akan seserius ini, Filla hanya mengatakan lukanya tidak serius, "Kalau aja tadi gue bersikeras bawa Filla kerumah sakit mungkin Filla nggak akan koma," Reya menunduk menangis mendengar keadaan sahabatnya.
"Nggak ada yang salah, semua udah terjadi jangan saling menyalahkan, lebih baik kita berdoa," ucap Vino yang duduk tak jauh dari Reya dan Rangga.
__ADS_1
Reya mengangguk setuju.
Rangga juga hanya bisa diam, semuanya terasa membuatnya tak bisa berucap, Filla bahkan menolong Vebi dan tadi dia membentaknya, benar-benar bodoh. Rangga membenamkan wajahnya dikedua telapak tangannya. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang.
******
Rangga menggenggam tangan Filla, sejak lima hari yang lalu Filla sudah dipindahkan diruang rawat, dia belum juga melewati masa kritisnya, sekarang hanya mereka diruangan ini, Reya dan Vino sudah Rangga paksa untuk pulang karena ia akan menjaga Filla.
Ruangan terasa sangat sepi hanya suara monitor disebelah Filla. Rangga meraih tangan Filla dan menggenggamnya. Melihat Filla terbaring lemah membuat sebagian hatinya sakit, Filla dengan wajah pucat tak menggubrisnya sama sekali, semua ucapan Rangga seperti angin lalu, Filla seolah mendiaminya sekarang, tanpa memberikan kesempatan untuk termaafkan.
"Filla maafin gue, gue bener-bener bodoh, maaf," ucap Rangga untuk kesekian kalianya, Rangga benar-benar merasa bersalah karena tak mempercayai Filla.
"Filla, lo nggak bosen cuma diemin gue, gue tahu lo sekarang seneng kan udah bikin gue jadi cowok cengeng, pasti lo ngejekin gue kalau lo tahu gue nangis. Nggak papa Fill, ketawa sepuasnya, tapi bangun gue mohon," seru Rangga sambil membenamkan wajahnya ditangan Filla.
Sudah lima hari Rangga mengajak Filla berbicara, tapi Filla masih betah dengan diamnya. Sepertinya Filla senang mendiami Rangga. Memberikan pelajaran yang setimpal untuk Rangga yang sudah mengecewakannya.
Rangga bangkit setelah lama menunduk diatas kasur Filla, "Fill, ayolah bangun, gue nggak bisa lihat lo lebih lama kayak gini, gue sedih Fill, hati gue sakit, gue nggak tahu kenapa," ucap Rangga sambil mengusap dadanya yang terasa sesak melihat keadaan Filla.
Filla menggerakkan tangannya lemah, menatap sekelilingnya yang didominasi warna putih, "Ngga," ucapnya pelan hampir tak terdengar.
Rangga yang mendengar Filla memanggilnya menatap penuh harap dan benar Filla membuka matanya. Ia tak berhenti bersyukur Tuhan mengabulkan doanya, "Filla, Filla lo sadar, Alhamdulillah, Fill ini gue Rangga. Gue panggil Dokter," ucap Rangga sambil hendak beranjak tapi tangannya ditahan Filla dengan lemah, Ia kembali duduk. "Kenapa?" tanyanya heran.
"Nggak usah," jawab Filla pelan.
Rangga menggeleng, "Maaf Fill, lo masih marah sama gue karena kejadian didanau dan kejadian malam itu? Maaf, gue salah," ucap Rangga merasa bersalah terhadap Filla.
Filla menggeleng, "Aku udah maafin kamu," seru Filla.
Rangga manatap Filla lekat, tak ada kebohongan disana, ucapan Filla benar adanya. Hati Rangga bergetar, ini kali pertamanya Filla menyebutnya kamu bukan lo seperti bisanya, ada getaran yang beda mendengar Filla mengucapkannya, "Kamu mau apa?" tanya Rangga mengikuti cara bicara Filla.
Filla memegang dadanya gang terasa sesak, "Ng-ga," ucapnya terbata.
"Iya Fil, kamu kenapa?" tanya Rangga cemas. "Aku panggilin Dokter ya?" bujuk Rangga cemas melihat Filla yang kesulitan bernapas.
Filla menggeleng dengan susah payah, "A-ku cin-ta ka-mu," ucap Filla terbata sambil mengeluarkan setetes airmatanya.
Rangga menatapnya tak percaya, "Fill," serunya pelan. Rangga memeluk Filla lalu mencium puncak kepalanya. "Aku juga cinta kamu," ucap Rangga serius dengan hatinya.
__ADS_1
Seketika semuanya terang dan terus terang seperti membawa mereka jauh, mereka seperti terlempar untuk pergi ke suatu tempat yang teramat jauh, keduanya tak tahu apa yang terjadi, lalu semuanya gelap.
******