Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 104


__ADS_3

Setelah berpisah dengan Ola, Vino mendudukan diri dikursi kemudi setelah menempatkan Filla disebelahnya, Vino menjalankan mobil miliknya dengan kecepatan sedang, tentu saja sejak tadi pikirannya ada pada Filla, sesekali ia mencuri pandang pada Filla yang memilih diam sambil memandangi jalanan dari kaca jendela disebelahnya.


"Fill," panggil Vino pelan.


"Hm," Filla menoleh pada Vino disebalahnya.


Vino tersenyum, "Udah tenang?" tanya Vino.


Filla menggangguk, "Lumayan," ucapnya sambil membenarkan duduk agar menghadap kedepan.


Vino mengangguk, "Dalam hidup bakalan ada banyak hal yang terjadi, semua itu akan membuat kita jadi tambah dewasa."


Filla mengangguk menyetujui ucapan Vino, setelah apa yang ia lalui, jika dipikir kejadian hari ini belum ada apa-apanya, tidak harus menjadi pengaruh besar dalam kehidupannya sekarang, Filla belajar banyak hal, bahwa setiap apapun yang terjadi tergantung bagaimana cara menyikapinya, menyalahkan diri sendiri tidak akan menyelesaikan masalah.


"Aku cuma bingung aja Kak, ternyata perbuatan baik menurut aku pun, belum tentu baik hasilnya," ucap Filla mengingat ucapan Kavi.


Vino mengusap kepala Filla dengan tangan kirinya, "Bukan nggak baik hasilnya, cuma tiap orang punya cara yang berbeda menyikapi suatu hal, bersyukur aja, kamu diberi pelajaran buat jadi pengalaman," ucap Vino sambil tersenyum.


"Kakak bijak banget sumpah," ucap Filla sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.


Vino ikut tertawa, "Bukan bijak, Kakak lebih banyak pengalaman daripada kamu makanya bisa ngomong gini," ucap Vino.


"Baiklah Suhu," ucap Filla sambil menunduk.


Vino yang melihat tingkah Filla tak bisa menahan tawanya.


CHIIIT….!


"Aw," teriak Filla saat Vino menginjak rem dengan mendadak, untung tangan Vino dengan sigap menahan tubuhnya yang terlempar kedepan.


Vino menghentikan mobilnya dipinggir, "Astagfirullah," ucapnya. "Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Vino melihat keadaan Filla yang masih terkejut.


Filla menggeleng, "Nggak apa-apa Kak," ucap Filla sambil menoleh kedepan, melihat apa yang sebenarnya terjadi. "Rangga?" ucap Filla saat melihat dari kejauhan Rangga dengan motornya melaju.


Vino menghembuskan napas lega lalu menyenderkan tubuhnya disenderan kursi, "Gila kali tu orang," ucap Vino kesal.


Filla juga tak habis pikir dengan tingkah Rangga yang sengaja menyalip mobil Vino secara tiba-tiba.

__ADS_1


Vino menyisir rambutnya kebelakang dengan kesal, "Untung kamu nggak apa-apa, sumpah nggak habis pikir Kakak sama orang kayak gitu, kekanakan!" ucap Vino tegas, membuat Filla hanya diam memerhatikan, belum pernah ia melihat Vino semarah itu.


"Kakak nggak apa-apa kan?" tanya Filla yang juga khawatir dengan keadaan Vino.


Vino menggeleng, Ia kembali menjalankan mobilnya, rasa kesal tentu saja masih ada melihat tingkah kekanakan Rangga, lebih mengesalkan lagi Rangga pergi tanpa kata ataupun permintaan maaf.


"Kak Sorry," ucap Filla merasa bersalah


Vino mengerutkan keningnya, "Kenapa jadi kamu yang minta maaf?" tanya Vino heran.


"Rangga pasti gitu karena marah setelah aku dan Ola bersikap kurang baik sama Kania tadi," ucap Filla.


"Bukan salah kamu Filla, berhenti menyalahkan diri sendiri padahal jelas orang lain yang salah," ucap Vino tegas.


Filla menggaruk keningnya yang tak gatal, "Iya," ucapnya pelan, ia tahu Vino bukan saatnya untuk dibantah melihat wajah Vino yang masih menahan amarah.


"Kekanakan, kamu dan Ola sudah bersikap sewajarnya dengan menyikapi omongan dari Kania, untung kakak memandang dia sebagai wanita kalau nggak, nggak cuma bentakan yang bakalan kakak lakuin," ucap Vino.


Filla mengangguk, membantah Vino saat ini sama saja menggali kuburan sendiri. "Kak, aku boleh cerita?" tanya Filla, rasanya ia ingin membagi sedikit masalah yang selalu ada saat berhubungan dengan Rangga, entah mengapa hanya Vino yang terasa tepat untuk menumpahkan cerita.


Vino menoleh lalu mengangguk.


Vino hanya diam menyimak, melihat Filla menunduk dengan mata berkacanya tentu saja membuat Vino ingin langsung membawa Filla dalam pelukannya, namun kali ini ia harus menahannya dan berusaha menjadi pendengar yang baik.


"Kakak pasti udah tahu tanpa harus aku cerita, aku suka dia hampir 6 tahun, banyak hal yang aku laluin bareng sama dia, tapi cuma aku yang inget, dia dengan mudahnya lupain semuanya, aku juga pengen lupa semuanya Kak, tapi nggak bisa," Filla menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Vino menggosok punggung Filla berulang.


"Aku minta maaf Kak, bahkan tanpa memikirkan perasaan Kakak aku dengan gampangnya cerita ini sama Kakak," ucap Filla sambil terisak.


Vino memberhentikan mobilnya dipinggir jalan, lalu membawa Filla dalam pelukannya, mengusap pelan puncak kepala Filla.


"Maaf Kak," ucap Filla pelan.


Vino membawa Filla menatapnya, "Denger Kakak," ucap Vino dengan wajah yang tak bisa Filla pungkiri selalu membuatnya nyaman.


Filla menghapus airmatanya lalu berusaha menatap Vino.

__ADS_1


"Bukan salah kamu, kita nggak bisa ngatur perasaan," ucap Vino. "Cuma kita bisa memilih untuk tetep berada diposisi ini atau berusaha mencari kehidupan baru, itu pilihan, kamu berhak memilih dan harus inget, kamu memilih langsung membawa konsekuensinya," ucap Vino sambil menghapus airmata Filla dengan ibu jarinya.


Filla menghambur kepelukan Vino, "Makasih Kak, selalu jadi orang yang ada saat aku terpuruk, maaf nggak bisa berlaku sama buat Kakak," ucap Filla.


Vino mengusap punggung Filla.


"Bantu aku Kak, buat lupain semua tentang dia," ucap Filla.


Vino membuat Filla menatapnya, "Kamu yakin?" tanya Vino.


Filla mengangguk, "Bantu aku buat cinta sama Kakak," ucap Filla.


Vino mengerutkan keningnya, "Maksud kamu?" tanya Vino belum bisa mencerna ucapan Filla yang mengejutkan untuknya.


"Aku mau berusaha mencintai Kakak," ucap Filla yakin. "Jadi bantu aku."


Vino menarik Filla dalam pelukannya, "Kita berusaha sama-sama," Vino tak bisa menyembunyikan senyumnya, ucapan Filla adalah hal yang selalu ia tunggu walau tak pernah dipaksakan.


Filla akhirnya memantapkan diri, Vino terlalu baik untuk diabaikan, ia akan berusaha untuk dirinya dan orang yang selalu ada tanpa ia sadari.


******


Tidak memakan waktu lama, mobil yang Vino kendarai sampai dihalaman rumah Filla, hari tentu saja semakin sore, terlihat disebelah bagian barat matahari perlahan terbenam meninggalkan warna jingga yang melukis beberapa bagian langit. Senja yang menjadi penantian banyak mata.


"Ma, maaf ya pulangnya kesorean," ucap Vino sambil menyalami mama yang sedang menyirami beberpa tanamannya.


"Nggak apa-apa, asal diantar dengan selamat Filla nya," canda mama membuat Vino tersenyum.


"Papa mana Ma?" tanya Filla sambil melirik kedalam rumah, karena biasanya papa akan menemani mama dengan duduk dikursi teras.


"Itu, dirumah Ayah Toni," ucap mama sambil menengok kerumah Bunda.


Filla mengangguk, "Kakak masuk dulu?" ucap Filla.


"Masuk dulu aja Vin, bentar lagi magrib, nggak enak magrib dijalanan," tawar mama.


Vino mengangguk, mereka berjalan masuk kedalam rumah beriringan dengan suara sholawatan yang terdengar merdu dari masjid terdekat.

__ADS_1


"Kakak mandi dulu aja," ucap Filla yang langsung berjalan menuju lantai atas tanpa menunggu jawaban Vino.


******


__ADS_2