Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 165


__ADS_3

Filla menghela napas saat melihat undangan yang diberi Rafael padanya kemarin.


"Kenapa Kak?" tanya Mama yang keluar dari wardrobe di kamar Filla. Seperti biasa mama selalu mengecek semua barang Filla, tidak membiarkan barang-barang Filla berantakan.


"Ini Ma, Kak Rafael kan ngundang aku, cuma minggu depan kan aku udah balik ke Milan," ucap Filla.


Mama berjalan mendekat lalu duduk disebelah Filla, "Yaudah kamu minta maaf nggak bisa dateng," ucap mama.


"Nggak enak Ma, Kak Rafael bela-belain ngasih Filla undangan, padahal udah nggak kontekkan dalam waktu yang lama."


Mama tersenyum, lalu memegang kedua bahu Filla, "Kalau gitu tunda aja berangkat ke Milan-nya, kamu masih bisa cuti kan?" ucap mama antusias.


Filla sedikit menimbang, "Bisa sih, Filla juga baru kali ini cuti."


"Oke, berarti berangkat ke Milan-nya dimundurin aja," ucap mama senang.


Filla tersenyum, "Kok Mama seneng banget?"


"Ya seneng Kak, berarti kamu lebih lama lagi disini, tapi Kak, Rafael sebenernya siapa sih? Sampai Kakak bela-belain buat tetep dateng, padahal kemaren-kemaren Mama udah bujuk, masih aja pengen balik ke Milan."


Filla menyampirkan rambutnya yang berantakan kebelakang telinga, "Hmm, Kakak tingkat Filla waktu kuliah semester 1 Ma, nggak kenal lama sih, karena dia menghilang setelah beberapa kali ketemu, ternyata dia pindah ke Jepang karena Papanya sakit."


Mama mengangguk, menyimak cerita Filla.


"Dulu kami pernah bercanda tentang pengen diriin perusahaan di Indonesia, dan akan saling kasih undangan grand opening pertama. Dan ternyata Kak Rafael yang wujudtin. Filla nggak nyangka sih dia masih inget," ucap Filla.


Mama tersenyum, "Pantesan kamu pengen dateng."


Filla mengangguk, "Seenggaknya, karena aku nggak bisa tepatin janji undang dia untuk grand opening perusahaanku yang emang nggak ada," Filla tertawa. "Aku harus dateng ke acaranya."


Mama menepuk bahu Filla, "Kamu bukan nggak bisa diriin usahamu sendiri Kak, kamu belum mau aja, jadi jangan berkecil hati oke?"


Filla tersenyum, mama memang orang yang akan tahu semua tentang perasaannya tanpa Filla harus berbicara.


********


Filla dengan dress selutut ditemani sneakers putih kesukaannya, menyampirkan tas di bahu.


"Kakak bawa mobil?" tanya mama menghampiri Filla.


Filla menggeleng, "Naik taxi aja kayaknya Ma, lagi nggak mood nyetir juga," Filla meraih tangan mama lalu menciumnya.


"Yaudah hati-hati," mama menyembunyikan senyumnya.


Filla mengerutkan alis, "Kenapa Ma?" tanya Filla penasaran lalu hanya tersenyum menanggapi mama yang hanya mengangkat kedua bahunya, "Filla berangkat dulu Ma."


Filla masuk kedalam taxi, "Rangga?" Filla memundurkan tubuhnya saat melihat keberadaan Rangga duduk disebelahnya.


"Hai," sapa Rangga sambil mengangkat tangan, ditemani senyuman santainya.


"Gue salah masuk taxi?" tanya Filla, lalu mengedarkan pandangan, berniat meraih knop pintu mobil.

__ADS_1


"Nggak salah," Rangga menahan tangan Filla.


"Terus lo kenapa disini?" tanya Filla.


"Jalan sekarang Mas?" tanya sopir taxi yang lumayan berumur.


"Iya Pak," jawab Rangga cepat tanpa memperbolehkan Filla membantah.


Filla menghela napas lalu menyenderkan tubuhnya, "Lo mau kemana? Nggak mungkin kan ngintilin gue?" sindir Filla malas.


"Emang lagi ngintilin kamu," ucap Rangga santai, lalu ikut bersender seperti Filla.


Filla menoleh pada Rangga, "Lo gila? Tiba-tiba ngikut, tau dari mana coba gue mau keluar hari ini?"


"Mama," jawab Rangga santai.


"Nggak mau tahu, lo turun dimana kek, intinya jangan ngikutin gue."


Rangga mengangkat kedua bahu lalu memilih memejamkan mata, mengabaikan Filla yang terdengar kesal.


"Kapan lagi lo balik, perasaan baru aja ke Jakarta, nggak punya kerjaan apa gimana?" tanya Filla kesal.


Sudut bibir Rangga tertarik mendengar ocehan Filla, "Kenapa kangen?" tanya Rangga mendekat pada Filla sambil menaikkan kedua alisnya.


Tanpa segan Filla mendorong wajah Rangga dengan kelima jarinya, "Nggak usah deket-deket."


"Buset galak amat," Rangga kembali memundurkan tubuhnya dari Filla. "Kamu harus pakai baju kayak gitu? Kurang bahan apa gimana? Kaki kok nggak ada yang ditutupin," ucap Rangga bergumam.


"Ide bagus dari pada kurang bahan," Rangga melipat kedua tangannya didepan dada.


"Mau lo apasih Ngga? Tiba-tiba ngikutin gue, risih tau nggak," ucap Filla kesal, keberadaan Rangga benar-benar membuat Filla terkejut sekaligus geram.


"Ya ngikutin aja," jawab Rangga santai.


Filla mendengus sebal, lalu memalingkan pandangannya kearah kaca mobil. Sedangkan Rangga kembali menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi.


Filla mengerutkan kening saat mendapati arloji dipergelangan tangan Rangga, arloji yang pernah ia berikan sebagai kado terakhir, Rangga masih menyimpan bahkan memakainya.


"Kenapa? Kagum liat ketampanan aku?" tanya Rangga dengan mata terpejam nya.


"Iya lutut lo yang tampan," sahut Filla malas.


Rangga menyembunyikan senyumnya, "Akhirnya kamu sadar, ketampanan ku bahkan sampai lutut," ucap Rangga dengan PD-nya.


Filla tersenyum sinis, "Nggak lucu!"


"Emang nggak mau jadi komedian sih."


"Tau ah Ngga, berisik."


*********

__ADS_1


Filla berbalik, tambah kesal melihat Rangga yang benar mengikutinya bahkan sampai saat mereka di parkiran perusahaan Rafael, "Lo seriusan bakalan ikutin gue sampai masuk kedalem?" tanya Filla.


Rangga mengangguk tanpa beban, "Ayo, entar telat," Rangga melewati Filla masuk kedalam gedung.


Filla menghentakkan kaki, "Sabar Filla, sabar," ucapnya menyemangati diri sendiri, lalu berusaha tersenyum dan berjalan dibelakang Rangga.


Didalam sudah cukup ramai para tamu, yang sudah Filla pastikan terasa asing.


"Filla, aku nungguin dari tadi," ucap Rafael yang langsung menghampiri Filla.


Filla tersenyum, "Selamet ya Kak," Filla mengulurkan tangannya, dan tentu saja dengan cepat Rafael menyambutnya.


Rafael menatap Rangga seolah menanyakan kepada Filla.


"Oiya Kak, ini Rangga, tetangga, nggak apa-apa kan dia ikut gabung?" tanya Filla.


"Boleh dong, hallo Bro," sapa Rafael berusaha akrab.


Rangga hanya mengangguk dan tersenyum tipis, "Selamat atas grand openning-nya."


Rafael mengangguk, "Makasih. Oiya Filla, duduk dulu yuk," ajak Rafael.


Filla mengikuti langkah Rafael menuju salah satu meja kosong.


"Kalian santai aja oke, hidangan disebelah sana," tunjuk Rafael pada sisi kanan gedung.


"Iya Kak, santai aja."


"Aku tinggal dulu ya Fill," Rafael mengusap puncak kepala Filla membuat Rangga sedikit melotot.


Filla hanya tersenyum kikuk, lalu bernapas lega saat Rafael berjalan meninggalkan mereka.


"Harus pakai elus kepala kayak gitu?" tanya Rangga sambil melipat tangan didepan dada.


Filla mengerutkan kening, "Suka-suka," ucap Filla santai.


Rangga menghela napas, lalu melepaskan jaketnya dan meletakkan jaketnya menutupi lutut Filla.


"Ngapain?" tanya Filla berusaha menolak.


"Udah aku bilang kan, baju kamu kurang bahan."


"Mana ada pakai dress cantik-cantik ditutupin kayak gini, nggak mau," Filla menyodorkan kembali jaket Rangga.


Rangga dengan cepat kembali menutup lutut Filla, "Pake," ucapnya tak mau dibantah.


"Nggak jelas!" Filla tak lagi membantah perlakuan Rangga, dibiarkannya jaket Rangga menutupi lututnya.


"Besok-besok pake baju yang bahannya cukup, bisa bikin baju sendiri, tapi punggung bolong, nutup cuma sampai atas lutut, baju kamu yang nggak jelas."


*********

__ADS_1


__ADS_2