Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 65


__ADS_3

"Mama, kakak pulang," ucap Filla setelah menutup pintu, sekarang Filla memang terbiasa menyebut dirinya kakak, semenjak Tita sudah tinggal bersama keluarganya.


Persyaratan untuk mengadopsi Tita masih terus diperoses namun tidak merubah apapun, mereka tetap menganggap Tita adalah bagian terpenting sekarang.


"Akak," teriak Tita sambil merentangkan tangan dan berakhir memeluk kaki Filla.


Filla berjongkok menyemaratakan tinghjnya dengan Tita, "Gima sekolahnya?" tanya Filla, sambil memeluk Tita erat, menikmati aroma khas anak kecil ditubuh Tita yang membuatnya nyaman.


"Tita dapet selatus, kata ibu gulunya Tita pintel," ucap Tita dengan gaya bahasa anak kecil.


"Pinter," Filla mengusap puncak kepala Tita sambil tersenyum.


"Eh Kak, udah pulang?" tanya mama dengan tas yang sudah bertengger dibahunya.


Filla mengangguk lalu menciun tangan mamanya, "Mau ke butik?" tanya Filla.


"Iya nih, nggak apa-apakan Mama tinggal?" tanya mama dengan wajah bersalahnya, sudah jadi kebiasaan mama merasa tidak enak ketika meninggalkan Filla demi pekerjaan. "Atau kamu mau ikut ke butik?"


Filla menggeleng, "Nggak dulu deh Ma, Filla ada tugas dan capek banget," ucap Filla manja.


"Yaudah, Mama beranhkat sama Tita, kamu jangan lupa makan, Mama udah siapin makananmu, kalau dingin tinggal kamu angetin," jelas mama.


"Siap Bu bos," Filla memberikan hormat membuat Filla tertawa melihat tingkahnya. "Ini satu cium dulu," Filla mencium kedua pipi Tita bergantian. "Jangan nakal ya dek," ucap Filla mengingatkan.


"Ciap Akak," jawab Tita sambil menirukan hormat Filla, membuat mama dan Filla tertawa dengan tingkah lucu Tita.


Filla memeluk Tita, terasa nyaman jika menyembunyikan wajah ditengkuk kecil Tita, Filla sangat menyayangi Tita.


"Oiya Kak, nanti malem Bunda dira bakalan ngerayain anniversary pernikahannya, jadi mereka akan adain acara kecil-kecilan," ucap mama.


Filla mengangguk, "Yaudah nanti Filla kerumah Bunda buat bantu-bantu persiapan juga."


Mama mengangguk, lalu mengajak Tita berangkat setelah pamit dengan Filla.


Filla berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya, rumah terasa sepi setelah kepergian bunda dan Tita, seperti biasa papa tidak akan ada dirumah sebelum jam 7 malam.


Filla melepas tasnya lalu menghempaskan tubuh ketika menemui kasur. memejamkan mata, memilih beristirahan walau sebentar.


******


Filla berjalan menuju rumah bunda, sampai langkahnya melambat ketika mendapati Rangga sedang asik mencuci motornya.


Filla menggeleng cepat, ia tak boleh menghindar sekarang, ia tak akan menyerah untuk melupakan.


"Filla," Panggil Rangga ketika Filla hampir melewatinya.


Filla berhenti dan menoleh, "Kenapa?" tanyanya santai walau jantung tak bisa berkompromi, ia hanya berharap Rangga tak mendengar suara jantungnya.


"Nggak, lo mau ketemu bunda?"


Filla mengangguk.


"Bunda lagi bikin kue," jelas Rangga tanpa diminta.


Filla mengangguk lalu berjalan meninggalkan Rangga tanpa kata.


"Bunda," sapa Filla saat melihat bunda dengan celemeknya sibuk menghias kue.

__ADS_1


"Eh Kakak."


Filla berdiri disebelah bunda, "Ada yang bisa Filla bantu?" tanya Filla sambil memegang buat tomat didepannya.


"Pas banget Kak, Kakak bantuin Bunda angkat kue dari open," ucap bunda masih menghias kue buatannya.


"Siap Bun," Filla melaksanakan printah bunda dengan antusias.


"Kakak nggak kuliah?" tanya bunda sambil mengangkat kue menuju meja makan yang terhubung dengan dapur.


"Udah pulang Bun, tadi matakuliahnya cepet selesai," jawab Filla sekenanya.


Bunda mengangguk, "Fill bisa panggilin Rangga, Bunda mau kekamar dulu, kasih tahu Rangga ambil daging yang Bunda pesen buat nanti malem."


Filla mengangguk walau terasa berat berbicara dengan Rangga, akan sangat tidak aman untuk hatinya yang memang belum bisa melupakan Rangga.


Rangga sepertinya selesai dengan acara cuci motornya, terlihat ia memasukkan motor kedalam garasi.


"Ngga, Bunda minta kamu ambilin daging," ucap Filla sedikit keras dari pintu depan.


Rangga menoleh, "Hah? Nggak kedengeran," teriak Rangga.


"Bunda minta ambilin daging," teriak Filla lebih kencang.


"Nggak kedengeran," teriak Rangga.


Filla jadi kesal sendiri, dia tahu pasti Rangga mengerjainya sekarang, jarak mereka tidak terlalu jauh sampai harus membuat Rangga tidak mendengar suaranya.


"Bolot," ucap Filla kesal sambil melangkah mendekati Rangga daripada suaranya serak.


Rangga menahan tawanya meluhat wajah kesal Filla.


Rangga tak bisa menahan tawanya, "Iya puas, Temenin," ucap Rangga mantap sambil berbalik memasang kami motornya.


"Nggak mau," ucap Filla sambil melangkah maauk kedalam rumah diikuti Rangga dibelakangnya.


"Bunda," teriak Rangga saat menjumpai bunda yang keluar dari kamar.


"Nggak usah teriak Bang, Bunda masih bisa mendengar dengan baik," ucap bunda.


Rangga cengengesan, "Bun kayaknya Rangga bakal kesulitan deh kalau bawa dagingnya sendiri, secara kan banyak banget," ucap Rangga.


Filla menoleh kearah Rangga sengan tatapan penuh selidik, ia tahu paati arah pembicaraan Rangga.


"Terus mau gimana?" tanya Bunda bingung.


"Filla kan ada," celetuk Rangga sambil berjalan lalu membuka kulkas dan menuangkan air putih digelasnya.


Filla menatap sengit kearah Rangga yang malah membalas tatapannya dengan santai.


"Filla bisa nggak? Bunda minta tolong," ucap bunda menatap Filla penuh harap.


Filla menghela napas, "Iya Bun," ucap Filla akhirnya, tak mungkin ia menolak permintaan bunda yang menatapnya seperti itu.


"Makasih, Kak," ucap bunda sambil mengusap rambut Filla pelan. "Yaudah Bunda mau terusin bikin kue," ucap bunda lalu melangkah menuju dapur.


Filla menatap Rangga dengan tatapan kesal, sangat kesal dengan sikap Rangga yang terasa ambigu.

__ADS_1


"Yang ikhlas," celetuk Rangga sambil mencolek dagu Filla saat berjalan menuju kamarnya.


"Resek!" Filla menghentakkan kakinya.


"Gue ganti baju dulu," ucap Rangga sedikit keras sambil melangkah menuju kamarnya dilantai dua.


Filla hanya menatap pasrah punghung Rangga yang perlahan menghilang. Sepertinya hari ini akan terasa lebih sulit.


******


"Cepetan," ucap Rangga yang berjalan mendahului Filla.


"Tolongin kalau mau cepet, jadi cowok nggak pengertian amat lo, gue semua yang bawa barangnya," keluh Filla dengan kesal.


Sekarang ia membawa beberapa kilo daging ditangan kanan dan kirinya, sedangkan Rangga berjalan santai dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana.


Rangga malah terus berjalan tanpa memperdulikan ocehan Filla.


suara nada dering pknsel Filla mengalun, "Pegangin," ucap Filla sambil menyerahkan bawaannya pada Rangga tanpa menunggu persetujuan.


Rangga menatao malas, walau tetap menenteng belanjaan.


"Halo Rey," ucap Filla setelah menerima panghilan dari Reya.


"Filla Kak Rafael minta nomor lo, gue kasih boleh nggak?" tanya Reya dari seberang.


"Kasih aja," ucap Filla.


"Lagian kalian udah ketemuan masak belum tukeran nomor pknsel sih, kan gue yang repot," ucap Reya dengan nada kesal yang ia buat-buat.


"Nggak sempet kemaren," jawab Filla sambil tertawa mendengar kekesalan Reya.


"Terserah lah, yaudah dah," ucap Reya lalu mematikan sambungan teleponnya.


Filla memasukkan ponselnya kedalam saku celana.


Rangga langsung menyodorkan belanjaan pada Filla.


Filla melipat tangan didepan dada, tak bernian mengambil kembali belanjaan ditangan Rangga, "Bawa aja sendiri, gue mah ogah," Filla berjalan meninggalkan Rangga.


"Woy, Filla, bawa ini!" teriak Rangga yang hanya meraih lambaian tangan dari Filla.


"Filla," ucap seseorang yang sangat Filla kenal.


Filla terdiam tak mampu berucap, Caca berdiri didepannya, setelah pertemuannya dengan Ola beberapa bulan lalu, Filla tetap belum bisa bertemu salah satu dari mereka lagi, tapi sekarang Caca didepannya.


"Filla, lo di Bandung?" tanya Caca antusias.


Filla berjalan meninggalkan Caca, bertemu salahsatu dari mereka sekarang akan membuatnya mengingat semua hal pahit yang ia rasakan, lebih baik menghindar pikirnya.


Belum sempat melangkah lebih jauh, Filla terhenti ketika tarikan tangan Caca ia rasakan. Filla berbalik dan menoleh kearah Caca.


"Filla maafin gue, maafin yang lain juga, kita nggak bermaksud bu-," ucapan Caca terhenti.


"Cukup, gue nggak mau bahas apa-apa, please jangan pernah lagi kalian nemuin gue," ucap Filla memberanikan diri.


"Fill," ucap Caca tak mampu berucap.

__ADS_1


Filla meninggalkan Caca dalam diamnya, Rangga menoleh pada Caca lalu mengejar Filla, ia sejak tadi hanya memperhatikan perubahan raut wajah Filla setelah menemui Caca.


*****


__ADS_2