
Selama hampir 15 menit Rangga duduk dibalkon kamarnya ditemani jus jeruk yang dibuat oleh bunda, matanya menatap balkon sebelah yang sekarang tidak pernah lagi terbuka pintunya, biasanya dirinya yang enggan duduk santai di balkon, lebih tepatnya menghindari Filla yang selalu menunggunya disebelah.
Rangga masih terfokus menatap pintu balkon kamar Filla, alam bawah sadarnya berharap Filla akan terlihat sore ini, seperti biasa ia lakukan.
CEKLEK…
Rangga dengan cepat menyembunyikan diri dipagar balkon yang memang sepinggangnya, "Kenapa gue sembunyi coba?" ucap Rangga pada dirinya sendiri, tapi tetap saja dia berusaha tidak terlihat oleh Filla yang berdiri dibalkon kamarnya.
Rumah mereka memang sangat dekat, bahkan jika Filla bersuaran di balkon, Rangga dapat mendengarnya dengan jelas.
Ponsel Filla berdering, nada dering yang selalu Rangga dengar, menunjukkan bertapa Filla menyukainya tanpa berniat mengganti, "Hmm, La," Terdengar suara Filla membuat Rangga memasang telinganya berusaha agar suara Filla terdengar.
"Hari ini? Bukannya besok ya?"
Rangga mengintip dari sela-sela pagar, terlihat Filla menyenderkan tubuhnya pada pagar dengan menghadap kearah kamarnya, membelakangi jalanan.
Merdengar tawa Filla, tawa yang sudah jarang Rangga lihat beberapa minggu ini, Filla lebih berniat menciptakan jarak darinya, hal yang selalu Rangga tunggu, namun ia tidak begitu senang sekarang ketika semuanya terjadi.
Filla menyampirkan rambutnya yang tergerai kebelakang telinga, "Harusnya sih, lo bakalan ajak Jiel? Jangan deh, ada yang mau gue omongin, tapi kita berempat aja," ucap Filla. "Hmm, da," Filla terlihat memasukkan ponselnya kedalam saku dan kembali berbalik menatap jalanan.
"Apaan lagi ini?" Rangga merapatkan tubuhnya ke pagar saat mendapati cicak yang berniat mendekatinya. "Hus," Rangga berusaha mengusir namun tetap saja cicak itu malah mendekati kakinya.
BRAKKK…
Rangga tanpa sengaja menyenggol kursi didebelahnya sampai bergeser, "S*al," ucapnya, dia tahu pasti Filla sedang menatap kearahnya. Tanpa basa-basi Rangga berdiri dan benar saja mendapati Filla sedang menatap heran kearahnya.
"Hai," ucap Rangga sambil mengangkat tangannya. "Gue kebetulan lagi ...," Rangga menatap sekeliling, mencari sesuatu yang dapat dijadikan alasan. "Lagi bantuin bunda pindahin pot bunga," ucap Rangga menjelaskan tanpa dimintai.
Filla mengangguk tanpa berniat menanggapi lebih lama ucapan Rangga, "Hmm, gue duluan," ucap Filla.
Rangga menatap Filla yang perlahan menghilang saat pintu balkonnya tertutup, Sikap yang tidak pernah Rangga dapati, jika Filla tahu dirinya berada dibalkon biasanya Filla akan bersikap sangat antusias, tapi kali ini Rangga sedikit kecewa, "Ini yang lo mau," ucap Rangga berbicara pada dirinya sendiri.
******
Filla melambaikan tangan pada ketiga sahabatnya yang datang lebih dulu darinya, "Sorry telat," ucap Filla lalu duduk didepan Caca.
Reya meletakkan secangkir capucino dingin miliknya diatas meja, "Kita juga belum lama kok."
Filla menanggapi dengan senyum, ia meletakkan tasnya dikursi kosong disebelahnya, "Gimana perkembangan kuliah kalian?" tanya Filla.
"Mumet gue, buat dapetin gelar Magister Hukum di belakang nama gue sama susahnya kayak gue ketemu bias," ucap Ola.
__ADS_1
Filla dan Reya tertawa melihat tingkah Ola yang mencakar rambutnya.
"Sabar La, lo enak diumur segini udah mau dapet gelar Magister, lah gue, lulus S1 aja belum," ucap Filla sambil mengaduk jus yang ia pesan dengan sedotan.
Ola tersenyum, "Jangan gitu lah, asal lo sungguh-sungguh pasti bisa ngejer kita yang seberapa ini kok," ucap Ola.
"Iya Fill, lagian Ola nggak pinter-pinter banget kok," ucap Caca.
"Resek banget sih lu, nggak usah dipertegas juga kali," ucap Ola lalu menampar bahu Caca, membuat Caca menggosok bahunya.
Filla tertawa, "Nggak bisa insecure gue kalau sama kalian," ucap Filla.
"Udalah, masalah umur dan sebagainya tuh cuma cover doang, kita yang jadi pemeran utama cerita hidup kita sendiri, buat apa pusingin hal-hal kayak gitu," ucap Reya.
Mereka semua tertawa.
"Iya anak kecil," ucap Ola sambil mengacak rambut Reya.
Reya dengan cepat menepis tangan Ola, "Resek banget, siapa bilang gue anak kecil?" ucap Reya tak terima.
Melihat wajah Reya yang cemberut membuat yang lain tertawa termasuk Filla, "Iya, lo paling tua deh," ucap Filla menengahi.
"Nggak tua juga kali," ucap Reya masih tak terima dan memanyunkan bibirnya.
Reya berbalik, dan benar saja beberpa pria dimeja belakang mereka sedang tertawa sambil menunjuk ke meja yang mereka tempati, Reya dengan arogannya melambaikan tangan membuat suara gaduh bersorak disana.
Ola bergidik, "Dasar centil," ucap Ola.
"Iri bilang bos, gue cantik," ucap Reya membuat yang lain tertawa.
Lagu yang diputar di cafe membuat kedamaian, instrumen musik santai menemani mereka mengobrol banyak hal.
"Jadi apa yang mau lo bilang sama kita?" tanya Reya tak sabar menunggu Filla.
Filla membenarkan letak duduknya, "Gue sidang," ucap Filla sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, menyembunyikan senyum senangnya.
"Oh sidang," ucap Ola dengan santai. Saat menyadarinya Ola menganga, "Sidang?" tanyanya hampir berteriak.
Waaaa…
Teriak mereka sambil memeluk Filla, ikut senang dengan keberhasilan salah satu diantara mereka.
__ADS_1
"Selamet Fill," ucap Ola sambil memeluk Filla tanpa peduli dengan semua orang yang ikut memandang ke meja mereka karena teriakannya.
"Makasih," ucap Filla tak kalah senangnya.
"Lo teraktir kita hari ini," ucap Caca antusias.
Filla menagguk sambil tersenyum, "Siap, niat gue emang gitu," ucap Filla.
"Bangga gue sama lo Fill," ucap Reya yang langsung memeluk Filla.
Sedikit merasa bersalah pada Reya, Filla merasa harusnya ia memperhatikan perasaan Reya, apalagi mereka berjanji akan lulus bersama, "Maafin gue Rey, nggak bisa tepatin janji," ucap Filla sambil memeluk Reya erat.
Ola dan Caca duduk dengan pelan, mereka terlalu bahagia dan lupa dengan Reya.
Reya melepas pelukan Filla, lalu tertawa.
"Kok lo malah ketawa, gue serius," ucap Filla tambah merasa bersalah.
"Maafin gue juga, karena baru kasih tahu," ucap Reya sambil menunjukkan sebuah amplop yang ia ambil dari dalam tas.
Filla mengerutkan keningnya, tapi tetap menerimanya dan membuka amplop sesuai permintaan Reya, Filla menutup mulutnya saat membaca surat didalamnya, "Lo juga sidang?" tanya Filla terkejut tapi hanya mendapat anggukan dan senyum dari Reya.
Filla langsung membawa Reya dalam pelukannya, "Kita lulus bareng," ucapnya sambil menghapus airmata.
"Kok lo nangis sih? Seneng dong," ledek Reya membalas pelukan Filla.
"Gue terlalu seneng," ucap Filla.
"Ini lagi bahas apa sih?" tanya Caca heran melihat Reya dan Filla berpelukan apalagi melihat Filla yang menangis.
Ola memutar bola matanya malas, beban percakapan mulai terasa kembali tentu saja jika Caca mulai lemot, "Caca, nikmati aja suasananya ya," ucap Ola.
"Tapi ...," ucapan Caca terhenti saat jari telunjuk Ola menempel dibibirnya.
"Capek gue Ca!" ucap Ola tak bisa menahan kekesalahnya, membuat Reya dan Filla tertawa sambil menghapus airmata bahagia yang membasahi pipi mereka.
"Lah kok ngamok?" ucap Reya.
"Tau, ngamok mulu lo tu La," ucap Caca tanpa dosa.
"Maafin gue Caca," ucap Ola sambil menahan kekesalannya, tentu saja terlihat lucu membuat Reya dan Filla hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua yang tidak pernah absen saat mereka berkumpul.
__ADS_1
********