
"Please bantuin aku Kak, orang tuaku nggak ngizinin aku pulang sebelum Kak Vino mau tanggung jawab," ucap Salsa sambil meraup wajahnya, dapat Filla lihat betapa frustasinya Salsa sekarang.
Filla menghela napas, disini bukan haknya mencari siapa yang salah, namun tetap saja, pengkhinatan Vino adalah hal yang tidak pernah Filla bayangkan.
"Please Kak, setelah acara di kampus Kak Vino benar-benar ngeblokir semua akses buat aku bisa hubungin dia, aku nggak tahu lagi harus minta tolong sama siapa Kak," ucap Salsa sedikit memaksa.
Filla menarik tangannya dari genggaman Salsa, "Disini yang berbuat salah dan perlu bertanggungjawab kalian berdua, posisi gue juga sama sulitnya, Kak Vino menghancurkan kepercayaan gue dan keluarga gue," ucap Filla sedikit tegas, tentu saja hati nuraninya tergoyah ketika melihat Salsa berusaha memohon, tapi ada sebagian hati Filla ikut hancur menaruh kepercayaan lebih pada Vino.
Salsa menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan, "Aku minta maaf Kak, semua salahku, tapi aku mohon, orangtuaku benar-bener kecewa sama aku Kak," ucap Salsa masih dengan isak tangisnya.
Filla menghela napas, "Gue akan coba bicara sama Kak Vino," ucap Filla membuat Salsa mendonggak menatap Filla dengan tatapan penuh harapan. "Tapi gue nggak janji banyak untuk penyelesaian masalah ini, kembali lagi kalian berdua yang berbuat dan harus tanggung konsekuensinya," ucap Filla.
Salsa mengangguk, "Makasih Kak, makasih," ucap Salsa sedikit punya harapan. "Aku akan bales semua kebaikan Kakak, aku janji," ucap Salsa yakin.
Filla menatap mata Salsa, "Lo nggak perlu janji apapun sama gue, cukup jangan pernah tampakin wajah lo lagi di hadapan gue, dan inget, gue nggak membenarkan apa yang lo lakuin dengan Kak Vino."
Filla berjalan meninggalkan Salsa yang terdiam, setetes airmata jatuh diwajahnya, berbohong jika Filla mengatakan tidak berharap lebih pada Vino, Vino sudah Filla tempatkan pada harapan untuk Filla pergi dari bayangan Rangga, bahkan Filla berusaha keras menjadi yang terbaik untuk Vino dan menjaga hatinya.
*********
"Akhirnya kamu mau ketemu Kakak Fill," ucap Vino senang.
Mereka duduk disalah satu restoran di Bandung, Filla memang akhirnya membuka akses untuk Vino menghubunginya, entah berapa panggilan tak terjawab dari Vino selama 3 hari ini.
"Kakak minta maaf Fill, yang terjadi hanya sebuah kecelakaan, Kakak melakukannya nggak sadar dan nggak pernah pake hati," ucap Vino berusaha memegang tangan Filla.
Filla menarik tangannya, "Aku akan langsung pada intinya, mau Kakak pake hati atau nggak, Kaka udah ngerusak kepercayaan aku dan keluargaku," ucap Filla sambil menatap mata Vino.
"Aku mohon sayang, kasih aku kesempatan untuk jelasin," ucap Vino penuh harap.
Filla menghela napas, "Ya," ucap Filla.
__ADS_1
"Sebenernya Kakak ke Singapura karena perusahan disana diambang kebangkrutan, orang kepercayaan keluarga Kakak membawa kabur semua uang perusahaan lalu hilang, Kakak frustasi dan depresi dengan itu semua."
"Dan nggak pernah kasih tahu aku? Sebenernya tempat aku di kehidupan Kakak apa?" tanya Filla, dirinya sedikit terkejut dengan masalah besar yang Vino hadapi namun tidak pernah ia ketahui.
"Kakak cuma nggak mau kamu khawatir dengan urusan Kakak Fill."
Filla tersenyum miris, dirinya memilih diam atas ucapan Vino.
"Ini semua berawal saat Kakak memutuskan masuk kedalam cafe dan akhirnya mabuk disana, akhirnya dalam keadaan mabuk Kakak berhalusinasi bahwa Salsa adalah kamu Fill, lalu semua ini terjadi, tapi sumpah ini semua karena kekhilafan Kakak, Kakak minta maaf."
Filla memilih diam tak ingin menanggapi, rasanya terlalu sakit mendengar penjelasan dari Vino.
"Fill, kamu kenal aku, walau kita sempat nggak bertemu bertahun-tahun itu nggak ngerubah sama sekali tantang aku diingatan kamu, aku masih orang yang sama," ucap Vino.
Filla menghela napas, "Kakak bahkan bohongin aku soal kaki Kakak kan? Sejak kapan kakak memutuskan untuk bisa membohongi aku setelah begitu besar kepercayaan yang aku kasih buat Kakak? Nyatanya Kakak berkhianat apapun alasannya, Kakak harus tanggungjawab sama apa yang udah Kakak lakuin," ucap Filla tegas sambil menahan tangisnya.
"Fill please, aku bisa jelasin, semua itu cuma khilaf aku nggak akan pernah mau tanggungjawab!" ucap Vino tegas.
Vino mengusap kasar wajahnya, "Maksud kamu, aku harus nikahin dia? Nggak akan bisa Fill, aku cuma cinta sama kamu, sekarang dan selamanya, dan kalaupun aku nikah akan sama kamu," ucap Vino penuh penekanan.
"Nyatanya cinta Kakak buat aku nggak bisa bikin Kakak setia!" Filla tak bisa lagi menahan tangisnya. Filla mengalihkan pandangannya dari Vino lalu menghapus airmatanya, "Kakak ngerusakin semua kepercayaan yang udah aku kasih buat Kakak," ucap Filla lirih.
Vino bangun dari duduknya hendak mendekati Filla, namun Filla ikut berdiri lalu memundurkan langkahnya.
"Duduk atau aku pulang?" ancam Filla membuat Vino kembali duduk dalam kepasrahan.
"Aku tahu semua ini nyakitin kamu, aku juga nggak bisa apa-apa Fill, aku cintanya sama kamu, Salsa nggak pernah punya tempat, jadi aku mohon lupakan tentang Salsa, fokus sama hubungan kita," ucap Vino.
"Hubungan kita? Kakak masih bisa bilang kita punya hubungan?" tanya Filla.
Vino mengangguk, "Aku nggak akan pernah bisa lepasin kamu, semua ini cuma kesalahan kecilku Fill," ucap Vino.
__ADS_1
Filla tertawa miris, Ternyata benar yang mama ucapkan, harusnya Filla bersyukur di kasih unjuk semuanya sebelum terlambat, Vino bukan lagi sosok Kakak yang membuat Filla kagum sekarang, ucapan Vino seolah menggambarkan Vino adalah pria yang lari dari masalah.
"Aku mau kita sampai disini, jangan pernah hubungin aku dan keluargaku lagi, dan kalau Kakak masih mau aku respect sama Kakak, perbaikin semua kesalahan dan bertanggungjawab untuk semua yang udah Kakak lakukan."
"Fill!" teriak Vino saat Filla berjalan meninggalkannya.
Filla memantapkan langkahnya untuk benar-benar meninggalkan Vino, sekali lagi ia merasakan patah hati.
*********
Filla meronggoh ponselnya dan menghubungi nomor Reya saat dirinya berada di dalam mobil, setelah nada dering kedua, panggilannya terhubung dengan Reya.
"Hallo Fill, ada kabar apa ni?" tanya Reya dengan nada cerianya sepeti biasa.
"Rey," ucap Filla sambil terisak. "Gue nggak tahu harus cerita ke siapa, boleh gue kerumah lo?" tanya Filla.
"Kenapa Fill? Yaudah lo langsung ke rumah gue, gue juga sendiri di rumah," ucap Reya yang langsung merubah nada bicaranya.
"Hmm," ucap Filla lalu mematikan ponselnya. "Rumah Reya Pak," ucap Filla yang langsung meraih anggukan dari pak Mamat yang sejak tadi memperhatikan Filla dengan tatapan prihatin, karena dirinya sendiripun secara tidak langsung tahu apa yang sebenarnya dirasakan anak majikannya.
"Hallo Ma," ucap Filla menahan tangisnya, dirinya tidak ingin membuat orangtuanya khawatir.
"Iya sayang ada apa?" tanya mama dari seberang.
"Filla nginep rumah Reya ya Ma, Reya lagi sendirian di rumah," ucap Filla sedikit berbohong tentang alasannya.
"Yaudah, kalian jaga diri," ucap mama.
"Hmm, kasih tahu papa ya Ma."
"Iya sayang," ucap mama.
__ADS_1
********