
"Rangga," teriak Filla saat Rangga melangkah cepat keluar dari kampus. "Nebeng ya?" ucap Filla saat mereka tepat didepan motor Rangga.
"Terserah, emang kapan lo nggak nebeng? Dasar nggak ada malunya, gue males marah-marah, terserah lo mau nebeng atau apa," ucap Rangga yang menyerah karena walau ditolak, Filla tetap akan naik keatas motornya.
Filla tersenyum senang, "Makasih Rangga, Rangga baik banget," ucap Filla sambil menggandeng tangan Rangga.
"Lepas!" ucap Rangga membentak dan menghempas tangan Filla.
Rangga berjalan meninggalkan Filla yang terus mengikutinya.
Dari kejauhan terlihat Rasti yang melihat Filla bersama Rangga, "Lihat aja, gue bakalan bikin lo kalah, mantan queen," ucap Rasti pelan, hanya terdengar untuk dirinya sendiri.
Filla memberanikan diri memegang jaket Rangga saat diperjalanan, ia tersenyum sendiri ketika tanggannya menyentuh punggung Rangga.
Rangga dengan celat menepis tangan Filla lalu menarik jakaetnya kedepan.
Filla menjauhkan tanggannya dari Rangga, "Gini rasanya ditolak," ucap Filla pelan hampir tak terdengar karena bisingnya jalanan.
Rangga dan Filla akhirnya sampai dirumah.
"Ngga, makasih ya udah dianterin," ucap Filla sambil tersenyum.
Rangga tetap saja bersikap dingin, "Gue nggak ngerasa nganterin lo pulang," ucap Rangga lalu mengendarai motornya ke parkiran rumahnya.
Filla masih berdiri mematung melihat Rangga yag mulai menghilang didalam garasi, ia tersenyum dengan sikapnya sendiri, "Lo nggak capek Fill?" tanyanya pada diri sendiri. Kemudian memilih masuk kedalam rumah.
"Filla, kamu masih aja nebeng sama Rangga?" tanya mama yang mendatangi Filla saat Filla masuk kerumah.
Filla mengangguk malas.
Mama hanya bernapas pasrah, "Kamu nggak capek? Mama lihat dia selalu berkata kasar, kamu harus sadar Fill, dia nggak akan berubah kayak yang kamu harapin, kamu harus terima itu," ucap mama sambil memeluk Filla.
"Filla hanya berusaha Ma,”seenggaknya Filla udah coba, gimanapun hasilnya nanti Filla nggak akan nyesel," jawab Filla sambil tersenyum terpaksa.
"Kalau kamu lelah, berhentilah Nak, masih banyak orang diluar sana yang menghargai kamu," ucap mama sambil mengusap puncak kepala Filla.
"Iya Ma, aku janji, kalau aku capek, aku akan berhenti," janji Filla.
__ADS_1
******
Filla terfokus pada buku yang ia pegang, sejak tadi Matakuliahnya sudah selesai tapi ia tak juga berniat untuk pulang, ia terlalu asik menikmati bacaannya sampai lupa waktu, sejak tadi juga ia tak melihat Rangga keluar dari kampus setelah tadi mampir di kantin, itu juga menjadi alasan utamanya, ingin pulang bersama Rangga.
"Rangga, gue boleh nebeng lo?" Suara yang cukup keras itu mengalihkan perhatian Filla dari bacaannya.
Terlihat Rasti sedang berbicara dengan Rangga, tepat didepan Filla yang duduk dianak tangga, Filla masih diam menunggu jawaban Rangga, yang Filla tahu pasti Rangga sadar akan kehadirannya.
"Boleh ya," bujuk Rasti, ya sejak tadi Rasti memanas-manasi Filla dengan mendekati Rangga. "Lo nggak pulang bareng siapa-siapa kan?" tanyanya lagi melanjutkan karena Rangga juga tak merespon.
Rangga menengok kebelakang melihat Filla lalu kembali melihat Rasti, "Boleh, nggak ada yang pulang bareng gue," ucap Rangga sambil menekankan setiap kata yang ia ucapkan, sengaja ingin terdengar oleh Filla.
Filla membulatkan matanya, ia tahu kalau Rangga pasti sadar kalau ia menunggu Rangga sejak tadi, tapi kenapa Rangga menerima permintaan Rasti, itu yang membuatnya tak habis pikir, Rangga juga tak mengenal Rasti tepatnya.
"Ayo, makasih lo," ucap Rasti senang sambil menarik Rangga.
Filla dengan cepat menepis tangan Rasti dari pergelangan tangan Rangga dan menarik Rangga menjauh dari Rasti menuju parkiran. Sampai diparkiran Rangga menghempas tangan Filla kencang sampai terlepas.
"Apaan sih?" tanya Rangga kesal.
"Kamu kan tahu aku yang mau nebeng, setiap hari juga gitu," jawab Filla.
"Ya nggak sama tu cewek juga, kamu kan tahu aku nggak suka dia," ucap Filla sambil menatap dalam manik mata Rangga.
Rangga melipat kedua tangannya didepan dada, "Kan lo yang nggak suka, jangan ngatur gue buat bersikap sama siapapun, lo bukan siapa-siapa," tekan Rangga benar-benar tegas.
Filla bernapas pasrah, "Oke, aku nggak akan ngatur atau apapun lagi tapi please jangan pernah deket sama tu cewek, dia itu nggak punya hati, nggak sebaik yang kamu kira."
"Siapa lo? Gue harus percaya semua omongan lo? Jangan harap, baik menurut lo belum tentu baik menurut gue, lagian ngaca kenapa orang nggak suka sama lo," ucap Rangga yang benar-benar menyakiti hati Filla.
"Kenapa kamu segitu bencinya sama aku? Aku salah apa?" tanya Filla lemah sambil menatap dalam mata Rangga.
"Lo tahu alasannya, jangan pura-pura nggak tahu!" Rangga menaiki motornya dan menghidupkannya, berusaha meninggalkan Filla yang terus menariknya.
"Ngga, please dengerin aku," pinta Filla yang tak digubris Rangga.
Rangga pergi meninggalkan Filla yang terdiam ditempatnya.
__ADS_1
Tanpa Filla ketahui dari kejauhan Rasti tertawa senang.
******
"Gimana? perasaan semua orang emang nggak ada yang suka sama lo," ucap Rasti yang sudah berdiri disamping Filla.
Filla menoleh kearah Rasti. Filla hendak meninggalkan Rasti sampai tangannya ditahan oleh Rasti.
"Mau kenamana?" tanya Rasti sambil menaikkan kedua alisnya.
Filla menatap Rasti kesal, "Mau lo apa? Gue nggak mau ribut, berhenti cari masalah," ucap Filla tegas sambil menghentakkan tangannya sampai terlepas dari genggaman Rasti.
"Waw, tenaga orang hampir mati ternyata kuat," ucap Rasti mengejek.
Filla tak memperdulikan Rasti yang menertawakannya, ia berjalan masuk kembali kedalam lingkungan kampus.
Filla duduk dan menangkupkan wajahnya diatas meja, kesal dengan semua hal yang ia lalui hari ini.
"Fill belum balik?" tanya Reya yang tiba-tiba menepuk pelan bau Filla.
Filla mengangkat wajahnya lalu menghembiskan napas, "Gue kesel banget Rey," ucap Filla jujur, setetes airmatanya jatuh kepipi.
Reya dengan cepat menempatkan diri duduk disamping Filla, "Kenapa Fill?" tanya Reya sambil menggosok bahu Filla.
"Gue nggak ngerti Rey, kenapa sih orang-orang nggak suka sama gue? Gue pernah buat salah apa?" tanya Filla.
Reya memegang bahu Filla, "Lo nggak salah, mereka yang nggak normal," ucap Reya sambil tersenyum, memberi semangat pada Filla.
Filla diam, ingin membuat ucapan Reya adalah satu-satunya hal yang ia percayai namun tetap saja perasaannya tetap kacau.
"Gue tuh nggak bisa kayak gini terus, gue paham gue bodoh banget Rey, masih ngejer2 Rangga, gue tahu omongan diluarsana ngejelek-jelekin gue." ucap Filla kesal. "Gue mau berhenti tapi nggak bisa."
Reya menarik Filla kedalam pelukannya, menggosok pelan punggung Filla, Reya berusaha menenangkan.
"Masalah Rangga belum selesai, dateng lagi Rasti, gue capek Rey, kenapa harus berurusan sama orang kayak dia lagi?"
"Lo tenangin diri dulu, gue paham ini sulit, tapi lo harus kuat, jangan jadikan semua ini batu loncatan lo buat nyerah Fill."
__ADS_1
Reya menatap Fila, ia tahu betul perasaan Filla, menjadikan Filla seorang sahabat membuat Reya paham betul semua yang Filla alami.
******