Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 74


__ADS_3

"Boleh kan?" tanya Kania lagi penuh harap.


Rangga memegang tangan Filla, "Sorry Kania, kita berdua ada urusan, kita duluan ya," Rangga menarik tangan Filla meninggalkan Kania.


Kania mengangguk lalu berbalik melihat mereka berjalan menjauh.


Rangga mengajak Filla keparkiran, "Itu yang terjadi?" tanya Rangga saat mengingat hal buruk yang membuatnya penasaran pagi tadi.


Filla mengangguk dengan wajah datarnya, padahal jika tidak ada Rangga ingin sekali Filla berjingkrak riang ketika Rangga tidak mengulang hal menjengkelkan yang Filla takuti.


"Nggak akan," ucap Rangga sambil menatap Filla lalu mengusap puncak kepala Filla pelan. Rangga naik keatas motor sambil tangan kirinya masih memegang tangan Filla. "Yuk cari makan," ajak Rangga membuat Filla mengangguk.


Filla menempatkan diri dibelakang Rangga, ia tak bisa menyembunyikan senyumnya yang ia tahan sejak tadi, Rangga sungguh membuatnya tak bisa menyerah dengan perasaan yang hampir ia tutupi dalam-dalam.


******


"Makan disini ya?" ajak Rangga saat motornya berhenti disalah saru warung lamongan pinggir jalan.


Filla mengangguk, Makanan seperti ini yang ia suka, "Udah lama banget gue nggak makan disini," ucap Filla sambil tersenyum.


Filla mengikuti Rangga yang masuk kedalam tempat makan tersebut, seperti biasa tempat ini hanya berupa warung kecil yang dilindungi oleh spanduk dengan meja dan kursi memanjang, suasana yang sudah lama tidak Filla jumpai, sejak bangun dari koma, ia hanya menyibukkan diri belajar dan mengejar hidupnya yang tertinggal, tanpa sempat jalan-jalan atau makan diluar seperti sekarang.


"Duduk disini," ucap Rangga saat berada disalah satu meja dipojok kanan, sambil menunjuk kipas angin yang berputar diatasnya. "Adem," tambah Rangga.


Filla mengangguk sambil tersenyum, rasanya jika diingat-ingat Rangga dan kipas angin angin adalah satu kesatuan.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pasanan mereka sampai di atas meja.


Filla membuka instagramnya melihat beberapa instastory teman satu kelasnya atau teman SMAnya dulu, "Ngga lihat deh Reya masak ke pasar dandanannya gini, minta dihujat," ucap Filla sambil tertawa memperlihatkan layar ponselnya.


Rangga tertawa, bagaimana tidak Reya yang terpampang dilayar ponsel Filla sekarang dengan dandanan super menor membawa keranjang belanjaan, "Dia tuh sadar nggak si?" tanya Rangga sambil tertawa.


Filla juga tak bisa menghentikan tawanya, "Nggak tahu, lihat deh banyak yang ngedislike, nggak seimbang banget sama yang like."


"Lo jangan dislike juga entar nambah," celetuk Rangga sambil tertawa.


"Udah gue dislike," Filla memperlihatkan kembali layar ponselnya.

__ADS_1


"Wah parah temen sendiri," ucap Rangga menggeleng.


"Ngga lihat dia ngamuk," ucap Filla yang membiarkan Rangga mendengar voice note dari Reya yang merutuki dirinya.


Mereka tertawa dengan kekesalan Reya, yang Filla tahu pasti sekarang mengumpatnya disana.


"Filla, bisa ngomong?"


Filla menghentikan tawanya saat wajah Ola berdiri tepat disisis kirinya, Filla membuang pandangannya, walau pernah bertemu Ola beberapa waktu lalu tidak membuatnya bisa menerima keberadaan Ola yang terkesan tiba-tiba.


"Fill please, gue udah cari lo kemana-mana, please kali ini kasih gue waktu," ucap Ola penuh harap.


Filla meraih tasnya yang tergeletak dikursi kosong sebelahnya, tanpa pikir panjang Filla meninggalkan Ola dan Rangga tanpa kata.


Rangga dengan cepat mengejar Filla yang sudah berdiri dipinggir jalan mencoba menghentikan taxi.


Rangga menarik tangan Filla, "Filla tunggu," ucap Rangga.


Filla menoleh, "Ngga lepasin, gue mau pulang," ucap Filla.


"Filla tenangin diri dulu," Rangga meraih bahu Filla dengan kedua tangannya. "Bisa tenang?" tanya Rangga pelan.


Rangga menggeleng, "Gue udah biarin lo kabur dari masalah beberapa kali, tapi kali ini lo nggak boleh lari lagi, selesein," ucap rangga yakin.


Sekarang Filla yang menggeleng, "Gue nggak bisa, gue belum siap ketemu salah satu diantara mereka," ucap Filla.


"Lo nggak akan pernah siap kalau lo selalu kabur, sekarang temui dia selesein masalahnya, denger dulu dia mau apa, kalau lo nggak mau maafin nantinya itu keputusan lo, gue nggak akan ikut campur."


Filla diam sejenak mencerna ucapan Rangga.


"Gue yakin lo bisa, lo bukan Filla yang lemah kan?" Rangga menepuk pelan bahu Filla.


Filla menghembuskan napasnya lalu mengangguk.


Rangga mengajak Filla kembali masuk menghampiri Ola yang duduk dikursi milik Rangga tadi.


Ola berdiri cepat ketika Filla duduk dihadapannya, "Filla," ucap Ola senang.

__ADS_1


Rangga menatap Filla, meyakinkan Filla lewat tatapannya, Rangga berjalan kemeja kosong yang sedikit jauh dari Filla dan Ola membiarkan mereka berbicara secara pribadi.


"Fill, makasih bersedia kasih gue waktu," ucap Ola dengan wajah leganya.


"Langsung ke intinya aja," ucap Filla tanpa mau membalas tatapan Ola.


Ola menunduk sebentar, "Gue tahu lo benci sama kita semua, maaf Fill, hari itu gue nggak punya pilihan lain, oke gue paham itu terdengar seperti alasan."


Ola berhenti sejenak, sedangkan Filla hanya menatap lurus gelas didepannya tanpa mau memperdulikan tatapan Ola.


"Sejak hari itu gue selalu pengen ketemu samo lo, gue ngerasa bersalah banget pas gue tahu lo koma," Ola tak bisa menahan tangisnya.


Filla menarik napas, tidak ingin terlihat lemah jika ada airmata nantinya.


"Maaf Fill, gue selalu nyamperin lo kerumah sakit selama dua tahun belakangan, tapi gue nggak diizinin masuk dan terakhir lo sama keluarga lo pergi tanpa kabar dari Jakarta, gue tahu gue salah Fill, tapi please jangan benci gue," ucap Ola.


Filla akhirnya memberanikan diri menatap mata Ola walau hanya diam.


Ola menatap Filla dalam, "Sorry," ucapnya pelan sambil menghapus airmatanya.


"Gue nggak pernah benci lo, gue kecewa," ucap Filla. Filla menghapus airmatanya yang perlahan membasahi pipinya.


Ola menunduk, "Gue kehilangan kalian semua, Caca pergi gitu aja keluar negeri, lo nggak biasa gue temui dan Novi-,"Ola tak mampu melanjutkan ucapan karena tangisnya.


Filla menunggu kelanjutan ucapan Ola, walau ia kecewa dengan mereka bertiga tapi Filla tak pernah membenci siapun atas semua kejadian yang ia alami, bagaimanapun mereka pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup baik maupun buruknya.


"Novi, ditangkap polisi Fill, sekarang dia dipenjara setelah membunuh mamanya," Ola tak bisa menahan tangisnya, ia menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan.


Filla juga tak bisa menahan tangisnya, Berita tentang Novi yang baru ia dengar sekarang benar-benar membuatnya syok.


"Maafin gue Filla, maafin kita semua," ucap Ola dengan isak tangisnya.


Filla berjalan mendekat pada Ola lalu memeluknya erat, "Maafin gue juga La," ucap Filla.


Ola berbalik dan memeluk Filla erat, menumpahkan semua kesedihan yang ia pendam sendiri selama ini, "Lo nggak salah Fill, gue yang salah," ucap Olla.


Filla mengusap punggung Ola berulang, tidak bisa ia pungkiri Ola adalah salah satu orang yang membuatnya nyaman selama ini.

__ADS_1


******


__ADS_2