Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 168


__ADS_3

Filla langsung masuk kedalam rumahnya, dirinya harus meminta penjelasan langsung dari mama tentang Rangga.


"Udah pulang Kak?" tanya bi Surti yang sedang merapikan ruang tamu.


Filla mengangguk lalu tersenyum, "Udah Bi, Mama masih dibutik?"


"Ada di dapur Kak, lagi bikin kue habis belajar dari bu Dira."


Filla mengangguk, "Yaudah Bi, Filla samperin Mama dulu," Filla berjalan meninggalkan bi Surti setelah meraih anggukan.


Filla berdiri diambang pintu, terlihat mama yang sibuk dengan acara bikin kuenya tidak menyadari kehadiran Filla, bahkan saat Filla berdiri disebelahnya.


"Ma," panggil Filla pelan, sedikit berhati-hati, karena mama selalu marah ketika Filla datang dan mengangetkannya, namun masih sama seperti sebelum-sebelumnya, sepelan apapun Filla memanggil akan tetap membuat mama terkejut saat dirinya terlalu fokus.


"Kakak, ngagetin, kan Mama udah bilang jangan keseringan ngagetin," ucap mama sedikit kesal.


"Udah paling hati-hati dan pelan ini Ma, Filla manggilnya."


"Masih ngagetin itu," bantah mama tak mau mengalah.


Filla menghela napas, "Mama lebih mengagetkan Filla, kenapa ada Rangga di project ini?" tanya Filla tanpa basa basi.


Mama berbalik lalu memasang wajah tersenyumnya, "Mama lupa kasih tahu, maaf," ucap mama.


Filla melipat tangan didepan dada, "Filla nggak mau lanjutin kalau gitu," ucap Filla sambil mendudukkan diri dikursi.


"Yah Kakak, jangan gitu dong, maaf deh, kan Mama lupa," ucap mama dengan wajah penuh harapnya.


"Mama kan tahu Filla nggak mau berhubungan sama Rangga."


Mama memegang kedua pundak Filla, "Apa salahnya Kak? Lagian mau sampai kapan kalian berdua canggung? Ini bisa jadi perantara buat memperbaiki hubungan kalian."


Filla menatap mama, "Nggak ada yang mau Filla perbaiki Ma."


"Hubungan bukan hanya tentang cinta Kak, temenan juga bisa atau malah kayak keluarga, lagian kita sama keluarga Rangga emang sedeket itu, masak kamu sama Rangga nggak bisa menyelesaikan masalah kalian sendiri?"


Filla menghela napas, "Tapi cuma kali ini ya Ma, Filla nggak mau lagi kedepannya kayak gini lagi," ucap Filla akhirnya menyerah.


Mama mengangguk antusias, "Makasih Kak," mama mencium pipi Filla gemas.


"Mama, lipstik Mama nempel ini," ucap Filla pura-pura kesal.


"Udahlah Kak, nikmati aja."


"Mau cobain," ucap Filla sambil menyendok kue buatan mama.


Mama menatap Filla pasrah, "Belum selesai Kak, masih mau dihias," ucap mama mulai kesal.


Filla tertawa, "Udah sih Ma, gini aja enak nggak perlu hiasan," Filla menyendok sekali lagi kue buatan mama kedalam mulutnya."


"Udah Kak, Astagfirullah," ucap mama membuat Filla tambah tertawa.


"Iya-iya, yaudah Filla ke kamar dulu."

__ADS_1


"Enak ya? Habis berantakin kue Mama kamu kabur," ucap mama berkacak pinggang.


Filla tertawa sambil melambaikan tangan pada mama, dirinya memang suka membuat mama kesal.


Filla masuk kedalam kamar lalu menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Dirinya meronggoh ponsel didalam tas.


"Pawang Beo? Apaan coba?" ucap Filla berbicara pada dirinya sendiri.


Filla mengerutkan kening lalu menepuk jidatnya sendiri setelah mengingat apa sebenarnya alasan dibalik pawang beo yang Rangga maksud.


"Jadi itu," ucap Filla mengangguk-angguk, dirinya baru ingat, saat didalam mimpi selama koma, Rangga memang suka memanggilnya Beo saat mereka kuliah di Singapura, mengingatnya Filla seolah masuk kembali kedalam kenangan tersebut.


Filla mengibaskan tangannya sendiri kedepan mukanya, "Sadar Filla, nggak ada gunanya inget masa lalu," ucap Filla tegas, lalu mengetik pesan singkat untuk Rangga.


To Pawang Beo


Gue mau lanjutin project ini sama lo, kapan mau mulai?


Tanpa menunggu waktu lama suara notifikasi terdengar. Filla langsung membuka pesan dari Rangga.


From Pawang Beo


Tumben nggak mikir lama?


Filla menghela napas membaca pesan dari Rangga.


To Pawang Beo


Serius Ngga, mau mulai kapan?


From Pawang Beo


Filla menggeleng membaca pesan dari Rangga, "Nggak bisa serius ni anak," ucap Filla mulai geram.


To Pawang Beo


Besok ketemu di taman jam 8 pagi.


To Pawang Beo


Iya calon istri, siap


Tanpa Filla sadari, sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman.


*******


"Rangga?" Filla menutup pintu, lalu berbalik pada Rangga. "Kenapa disini? Langsung ke Taman aja."


Rangga tersenyum, "Biar bisa jalan berdua sampai taman," ucap Rangga tanpa beban.


Filla menghela napas, "Terserah deh, kalau gitu nggak usah ketemuan ditaman, langsung ketemu Lina aja," ucap Filla.


Rangga mengangguk.

__ADS_1


"Yaudah sana balik, bawa motor lo, ketemu di Restoran aja."


"Nebeng," Rangga mengambil kunci mobil Filla lalu masuk kedalam mobil tanpa menunggu izin dari Filla.


Filla mengerutkan kening, "Rangga!"


"Cepetan, kita perlu ngobrol berdua dulu kan? Sebelum ketemu Lina," ucap Rangga sedikit lebih keras dari dalam mobil.


Filla menggenggam tangannya kuat, "Sabar," ucapnya menyemangati diri sendiri. Filla berjalan masuk kedalam mobil, "Udah nebeng, bukannya nyetir malah enak-enakan cuma duduk," sindir Filla sambil melepaskan tas dan buku desain, menaruhnya dikursi belakang.


Rangga menyenderkan diri disenderan kursi, "Aku mau nebeng, bukan jadi supir."


Filla menoleh sebentar pada Rangga yang terpejam lalu menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah. "Daripada lo cuma numpang tidur, tuh lihat sketsa desain gue."


Rangga membuka matanya lalu beranjak dari senderan, dirinya menoleh kebelakang dan meraih buku yang Filla maksud.


"Sesuai permintaan Lina, dia mau konsep gaun dan tempat preweddingnya selaras, lo udah punya rekomendasi tempatnya?"


Rangga memperhatikan desain yang Filla buat, "Ini kayaknya cocok buat tempat ini," Rangga meronggoh ponselnya didalam kantong celana, lalu memperlihatkan pada Filla foto tempat yang ia rekomendasikan.


Filla mengangguk, "Boleh, menurut gue juga cocok."


"Oke, kita langsung survey tempat sore ini," Rangga memasukkan kembali ponselnya didalam kantong.


"Filla melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya, "Harus sore ini?"


Rangga mengangguk mantap, "Aku nggak terima alasan apapun, tolong profesional," ucap Rangga sambil melipat tangan didepan dada.


Filla menghela napas, "Iya," Filla mengendarai mobilnya memasuki parkiran restoran.


**********


Satu jam berlalu mereka habiskan dengan membahas semua konsep yang diinginkan Lina dan calon suaminya Roni.


"Makasih banyak Mas Rangga dan Mbak Filla, semoga tidak memberatkan," ucap Roni sambil tersenyum.


"Nggak apa-apa santai aja, namanya juga pengen yang perfect untuk acaranya," ucap Filla sambil merapikan buku sketsanya.


"Keren banget loh Mbak Filla, desain gaunnya, padahal baru 3 hari yang lalu kita ngobrol mau konsep apa, udah jadi aja sketsanya," ucap Lina antusias.


Filla hanya tersenyum menanggapi ucapan Lina.


"Yasudah kalau gitu, kami pamit dulu," ucap Roni.


Mereka berjabat tangan sambil tersenyum, sampai Roni dan Lina pergi meninggalkan Rangga dan Filla.


Filla menyesap jusnya yang masih setengah.


"Yuk," ucap Rangga sambil mengalungkan kameranya dan beranjak.


Filla ikut beranjak mengikuti langkah Rangga, menuju parkiran, "Lo yang nyetir, nggak mau tau," ucap Filla sambil memberikan kunci mobilnya ditangan Rangga.


Rangga tersenyum sambil menggeleng saat Filla sudah masuk kedalam mobil meninggalkannya.

__ADS_1


*********


__ADS_2