
Rangga mendekati Filla dengan khawatir, "Fill," panggilnya lalu ikut menggenggam tangan Filla.
"Ayo kerumah sakit sekarang," ajak Rangga panik sambil memapah Filla.
Filla dengan cepat menjauh dari Rangga, "Nggak usah, gue bisa sendiri," ucap Filla masih menggenggam tangannya menahan sakit yang terus ia rasakan.
"Fill, lupain pertengkaran kita dan obatin luka lo dulu, berhenti kekanak-kanakan," bujuk Rangga.
Filla tersenyum mengejek, "Entar jadi nyusahin dan ngebebanin lo, biar gue urus hidup gue sendiri,”dan maaf kalau gue kekanakan," ucap Filla lalu meninggalkan Rangga menuju apartemennya.
Rangga dengan cepat mengejar Filla.
Filla dengan cepat masuk ke apartemennya dan mengambil kotak obatnya, perih yang ia rasakan, untung lukanya tidak terlalu dalam, kalau tidak bisa-bisa ia mati karena terlalu bahaya luka dipergelangan tangan.
Filla menatap sekilas saat mendengar pintu apartemennya terbuka, siapa lagi kalau bukan Rangga yang menerobos masuk.
Rangga dengan napas terengah menghampiri Filla yang mengobati lukanya sendiri, "Sini biar gue yang obatin," bujuk Rangga.
Filla tak memperdulikan sedikitpun kehadiran Rangga.
Rangga bernapas kasar, "Fill, ayolah nggak usah kekanakan saat situasi seperti ini," ucap Rangga frustasi.
"Maaf karena gue kekanakan, tenang aja mulai hari ini gue nggak akan menyusahkan lagi, keluar sekarang gue nggak mau liat muka lo!" bentak Filla tak kalah keras dengan Rangga.
Rangga menatap Filla kesal, walau hatinya terenyuh melihat Filla mengusirnya, baru kali ini ia melihat Filla benar-benar marah, biasanya Filla tak akan seperti ini dalam keadaan semarah apapun, tapi kali ini Rangga melihat Filla yang benar-benar benci dan muak menatapnya, Rangga akui perkataannya benar-benar menyakiti hati Filla tapi dia tak menyangka Filla akan semarah ini dan mengusirnya.
"Fill, maaf kalau kata-kata gue tadi nyakitin lo, tapi gue cuma mau lo madiri nggak maksud lebih dari itu," bujuk Rangga yang tak digubris Filla sedikitpun.
"Keluar Ngga," ucap Filla pelan. Lalu duduk menekuk kaki dan menyembunyikan wajahnya dilututnya.
Hati Rangga seakan tergores mendengar dan melihat Filla seperti ini, ia tak menyangka kata-katanya berdampak besar bagi Filla, "Oke gue keluar tapi lo obatin luka lo dan jangan biarin tangan lo kenapa-kenapa," ucap Rangga lalu berjalan meninggalkan Filla walau terasa berat.
__ADS_1
******
Sekarang aku sadar bahwa kita adalah dua orang
Yang berdekatan tapi memiliki jarak yang begitu jauh.
~~
Filla dengan wajah pucat tetap memaksakan diri untuk berangkat kuliah, karena baginya kuliah itu penting dan dia harus menepati janji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah meninggalkan kuliah dengan alasan apapun.
Saat ia keluar dari apartemennya, Filla tak sengaja menendang sesuatu, dilihatnya ada sebuah kotak makan yang sepertinya sengaja ditaruh di depan pintu apartemennya, diambilnya kotak makan itu dan menatapnya sekilas, sudah jelas kotak makan itu dari Rangga.
Filla berjalan dan meninggalkan kotak nasi itu didepan pintu apartemen Rangga kemudian memilih pergi ke kampus meninggalkan kotak nasi itu tanpa kata ataupun senyumam diwajah pucatnya. Tanpa ia ketahui dari kejauhan seseorang menatapnya dan bernapas pasrah saat melihat kotak bekal yang ia siapkan ditinggalkan begitu saja, rasa khawatir mendominasi dirinya karena melihat jelas wajah pucat Filla.
Filla sampai dikampus dengan langkah gontai, terlihat di taman Reya sedang duduk dan membaca majalah kesukaannya. Filla tersenyum menatap Reya lalu berjalan mendekat menghampiri Reya dan duduk didepan Reya.
Reya mendonggakkan wajahnya menatap Filla, "Lo kenapa?" tanyanya dengan kening berkerut. "Sakit?" Reya mendekat dan menempelkan punggung tangannya pada dahi Filla. "Kok panas? Sekarang kerumah sakit, ayo Fill," ajak Reya dengan wajah khawatir.
"Dan ini kenapa?" tanya Reya saat melihat perban ditangan Filla.
Filla mengangkat tangannya menunjukkan pada Reya, "Cuma kegores ganggang pintu aja," ceritanya berbohong pada Reya, ia tak ingin Reya melabrak Rangga jika tahu kejadian aslinya, karena sudah tahu pasti ia dengan sifat sahabatnya yang sangat menghawatirkan dirinya.
"Seriusan? Lo nggak lagi bohong kan sama gue?" tanya Reya menyelidik yang meraih anggukan dari Filla. "Yaudah, kalau lo ngerasa pusing atau nggak kuat, lo harus bilang sama gue dan kita akan kerumah sakit," ucap Reya serius.
"Oke, bawel," celetuk Filla yang meraih timpukan dikepala oleh Reya yang kesal.
"Lain kali lo harus bisa bagi waktu Fill, biar nggak sakit," ucap Reya.
Filla mengangguk paham tanpa mau membantah, "Eh itu Vebi kan?" tanya Filla sambil menunjuk Vebi yang sepertinya tenggelam dan meminta tolong di danau dekat taman.
Reya berdiri dan mengikuti arah pandangan Filla, "Mungkin," jawab Reya santai lalu duduk kembali. "Terserah deh Fill, penting amat lo ngurusin dia, dia kan jahat banget sama lo," ucap Reya kesal.
__ADS_1
"Rey, lo nggak boleh gitu, orang minta tolong, siapapun dia kita harus tolongin, ayo," ucap Filla panik sambil menarik Reya paksa. Filla berlari diikuti Reya dibelakangnya, Vebi masih berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, sepertinya tak ada orang disekitar danau itu karena ditutupi pagar yang agak tinggi dan kebanyakan orang duduk agak jauh dari danau.
"Vebi, sini gue bantu," ucap Filla sambil mengulurkan tangannya.
Vebi mengapai tangan Filla dengan susah payah. Melihatnya Reya juga ikut menolong Filla menarik Vebi keatas jembatan.
Filla menahan sakit teramat dipergelangan tangan kanannya, ia berusaha menahan sekuat tenaga dan menolong Vebi. Berkat usahanya dan Reya, Vebi berhasil naik keatas jembatan dan mulai terbatuk-batuk.
Filla menepuk punggung Vebi tapi dengan cepat Vebi menepisnya, bukan mengucapkan terimakasih, Vebi malah mendorong Filla sampai Filla terduduk.
"Nggak tahu terimakasih banget sih lo!" bentak Reya kesal.
"Nggak usah ikut campur, jangan cari muka," ucap Vebi menatap Filla.
Filla merasakan geram didadanya, entahlah apakah manusia didepannya ini masih cocok disebut manusia, "Bilang makasih kek, gue susah nolongin lo," bentak Filla karena kesal yang sudah tak bisa ia tahan.
"Filla ...!" teriak Rangga yang mendengar Filla membentak Vebi dengan keadaan Vebi yang masih terbatuk-batuk, Rangga berjalan cepat diikuti Sinta dibelakangnya.
Filla tersenyum sinis, sepertinya ia paham situasi seperti apa yang Vebi rencanakan, kehadiran Rangga dan Sinta seperti sudah diatur sedemikian rupa.
"Apaan sih?" tanya Rangga sambil mendorong Filla kasar sampai Filla terdorong kebelakang, dan dia malah memapah Vebi agar berdiri. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Rangga, terlihat jelas kekhawatiran terpancar dari wajahnya.
Vebi menggeleng dengan wajah yang menurut Filla memuakkan, "Iya, aku nggak tahu salah aku apa tapi dia dorong aku," adu Vebi pada Rangga.
Filla dan Reya membulatkan matanya mendengar ucapan Vebi yang bertolak belakang dengan apa yang sudah mereka lakukan, "Eh uler, lo gila kali ya, fitnah kita yang udah susah-susah bantuin lo!" bentak Reya sambil mendorong bahu Vebi sampai Vebi dan Rangga terdorong kebelakang.
"Udah gue bilang Fill, jangan nolongin ni orang, Nggak tahu terimakasih," bentak Reya kesal.
"Cukup Reya!" bentak Rangga. "Dan lo Fill, gue nggak nyangka lo sejahat itu, kenapa sih nggak bisa sekali aja baik sama Vebi? Dia nggak pernah jahatin lo Filla!" bentak Rangga menatap Filla yang sejak tadi menatap tak percaya pada Vebi.
******
__ADS_1