
Filla berjalan mendekati Vino, masih dengan senyumannya, Vino tampak sangat tampan dengan sweeter biru yang ia kenakan.
"Kakak," ucap Filla ketika berada dihadapan Vino.
Vino ikut tersenyum melihat Filla yang begitu bersemangat, "Selamat ulang tahun sayang," ucap Vino lalu mencium puncak kepala Filla.
Tentu saja diperlakukan seperti itu pipi Filla memerah, "Makasih," ucap Filla sambil menunduk.
Melihatnya Vino tak bisa menyembunyikan senyum, "Kenapa nunduk?" tanya Vino sambil mengangkat dagu Filla agar Filla menatapnya.
"Abisnya malu," ucap Filla.
Vino tertawa, "Nih," Vino mengeluarkan buket bunga dan sebuah kotak kado yang sejak tadi ternyata ia sembunyikan dibelakang tubuhnya.
Filla tersenyum, "Dengan Kakak siapin semua ini aja, aku udah seneng banget, Kakak malah masih kasih kado dan bunga, tapi makasih," ucap Filla sambil meletakkan kado dari Rangga diatas meja, Lalu menerima kado pemberian Vino.
"Suka?" tanya Vino sambil mengusap puncak kepala Filla.
Filla mengangguk, "Kakak belajar romantis dari mana coba? Aku nggak dikasih napas dulu udah diromantisin lagi, atau Kakak sering berbuat kayak gini sama cewek ya?" tanya Filla sambil menunjuk Vino.
Vino tertawa, "Nggak ada yang lain, cuma kamu," ucap Vino serius.
Filla tersenyum, "Cuma bercanda Kak," ucap Filla.
"Sana gih makan dulu, setelahnya baru lanjut sapa temen-temenmu, jangan buat perut kamu kosong, nanti sakit," ucap Vino.
"Nah kan, belum juga napas, udah mulai lagi," ucap Filla sambil menepuk bahu Vino pelan.
Vino mengerutkan keningnya, "Emang tadi romantis?" tanya Vino.
"Tau ah gelap," ucap Filla membuat Vino tertawa. "Yaudah, temenin makannya, boleh kan?" tanya Filla.
Vino mengangguk, lalu mereka berjalan menuju salah satu meja kosong dengan Vino merangkul Filla dan sesekali menyampirkan rambut Filla ke belakang telinga.
Rangga berdiri mematung ditempatnya sejak Filla begitu saja meninggalkan, baru ia ketahui rasanya tidak punya tempat untuk seseorang, Rangga sering sekali melakukan hal tersebut pada Filla, dan kali ini ia tahu rasa sakitnya.
********
"Kamu mau makan apa? biar Kakak ambilin," ucap Vino setelah membiarkan Filla duduk.
"Aku ambil sendiri aja Kak, Kakak mau makan juga?" Filla berdiri setelah meletakkan tasnya.
"Samain kayak kamu aja," ucap Vino akhirnya, lalu dirinya duduk setelah diminta oleh Filla.
__ADS_1
Filla mendekati beberapa makanan yang sudah tersaji, lalu mengambil dua piring untuknya dan Vino.
"Cie yang berduaan mulu," ucap Ola sambil menyenggol bahu Filla.
"Lo sendiri kapan nggak berduaan sama Jiel," ucap Filla ikut meledek.
"Ye, baperan," ledek Ola sambil menyendok salad buah.
"Hai Fill, happy birthday," ucap Kania mendekati Filla dan Ola.
Filla tersenyum, sedangkan Ola membuang muka, "Hai, makasih udah sempetin dateng," ucap Filla ramah.
Kania tersenyum, "Rangga yang maksa sebenernya gue harus jagain Rain, tapi demi Rangga gue dateng," ucap Kania.
Filla hanya tersenyum, sudah terbiasa dengan ucapan Kania, "Oiya, gimana kabar Rain? Udah lama gue nggak lihat dia," ucap Filla seketika teringat Rain, mungkin Rain sekarang sudah berumur 5 tahun, dan hampir 4 tahun Filla tidak pernah melihatnya lagi, karena Kania tidak pernah membawa Rain kemanapun dia pergi setahu Filla.
"Dia anak 5 tahun yang perkembangannya pesat, pinter, lucu," ucap Kania bangga.
Filla tersenyum, "Jadi kangen gue sama Rain," ucap Filla jujur.
"Dia kayaknya udah lupa sama lo," ucap Kania santai.
Ola menghela napas, "Fill gue duluan ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan panggil gue, gue ada dibarisan paling depan buat baku hantam," ucap Ola menyindir, lalu pergi setelah mendapat anggukan dari Filla.
Filla hanya tersenyum tanpa berniat menjawab, karena tanpa menjawab pun harusnya Kania paham maksud ucapan Ola.
"Oiya, Rain juga udah sering nyebut Rangga Ayah," ucap Kania sengaja untuk pamer pada Filla.
Filla mengangguk sambil tersenyum, "Baguslah," ucap Filla walau tidak bisa ia pungkiri masih ada rasa sakit saat mendengar ucapan Kania.
"Hallo Filla," ucap Paman Sam. Paman Sam adalah salah satu rekan bisnis papa yang sudah seperti keluarga.
"Paman," ucap Filla lalu menyalami paman Sam sambil tersenyum. "Bukannya kata Papa paman lagi di Milan?" tanya Filla.
Paman Sam tertawa, "Paman bisa pulang kapan saja Filla," ucap Paman Sam.
Filla ikut tertawa, "Tau deh yang bos besar," ucap Filla bercanda, dirinya dan paman Sam memang sudah sangat dekat sejak Filla masih sangat kecil, paman Sam tipikal pria yang gila dalam berbisnis karenanya paman Sam belum juga mendapat pasangan sampai sekarang namun paman Sam adalah orang yang sangat penyayang.
"Bisa saja kamu, Kata papamu kamu tertarik kuliah di Milan?" tanya paman Sam.
Filla mengangguk, "Tapi belum tahu juga sih Paman, masih bingung," ucap Filla.
"Fill gue ke sana dulu ya," ucap Kania yang merasa tidak enak terabaikan.
__ADS_1
Filla mengangguk, "Makasih ya, jangan lupa makan," ucap Filla masih sangat ramah.
"Pilihan yang bagus Filla, paman bisa jamin pendidikan disana akan sangat bagus untuk kamu," ucap paman Sam. "Dan jangan sungkan-sungkan, selama disana Paman juga keluargamu," ucap paman Sam.
Filla mengangguk, "Terimakasih banyak Paman," ucap Filla.
"Yasudah Paman ke sana dulu, oh iya selamat ulang tahun Filla," ucap paman Sam sambil menepuk bahu Filla.
Setelah paman Sam bergabung dengan para orangtua lagi, Filla membawa piring yang sudah terisi, kembali pada Vino, ia sudah meninggalkan Vino cukup lama.
"Kak Sorry, lama banget ya? Tadi aku ngobrol sama paman dulu," ucap Filla sambil meletakkan makanan didepan Vino.
Vino tersenyum, "Iya sayang," ucap Vino sengaja menjahili Filla.
"Kakak," Filla memukul pelan bahu Vino.
Vino tertawa, "Makin suka Kakak panggil kamu sayang," ucap Vino.
"Jangan Kakak," Filla pura-pura kesal pada Vino.
"Iya," ucap Vino masih dengan tawanya. "Makan gih," ucap Vino.
Filla mengangguk, lalu menikmati beberapa makanan yang ia ambil.
*******
"Ngga, balik aja yuk, disini semua orang sombong, aku nggak suka, mending kita makan malem diluar," ucap Kania sambil bergelayut manja pada tangan Rangga.
Rangga menghela napas, "Kamu yang pengen dateng Kania, please lah jangan suka berubah-ubah," ucap Rangga malas.
"Kamu kenapasih, sekarang kamu bersikap dingin, dan kamu pikir aku nggak tahu kamu selalu merhatiin setiap pergerakan Filla," ucap Kania tegas membuat beberapa orang disekitar mereka menatap.
"Bisa nggak usah kenceng-kenceng kalau ngomong? Kita di acara orang, malu," ucap Rangga kesal.
"Kamu yang mulai, kamu berubah," ucap Kania tak bisa menahan amarahnya.
"Stop Kania, aku malu," ucap Rangga lalu berjalan keluar meninggalkan Kania.
Kania mengikuti Rangga dibelakang, "Ngga," panggil Kania sedikit pelan ketika melihat beberapa orang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Rangga tidak memperdulikan Kania dan memilih terus berjalan keluar.
*******
__ADS_1