
Filla mengerjabkan matanya saat mendengar suara langkah kaki Rangga, "Lo mau kemana?" tanya Filla yang langsung duduk ketika mendapati Rangga berusaha turun dari ranjangnya.
Rangga hanya memamerkan gigi ratanya, "Aku udah berusaha nggak bangunin kamu," ucap Rangga.
Filla menghela napas, "Kenapa nggak bangunin gue aja, entar kalau lo jatoh tambah masalah lagi," ucap Filla sambil menyingkirkan selimut yang entah sejak kapan menyelimuti tubuhnya.
"Nggak usah, aku bisa sendiri, kamu tidur aja."
"Udah sini, nggak usah ngeyel," ucap Filla sambil memegang tangan Rangga dan infus.
Rangga tersenyum, dirinya merangkul Filla.
Sedikit kesusahan tentu saja untuk Filla, tubuh Rangga yang sangat proposional membuat Filla sedikit kewalahan menopang tubuh Rangga, namun kesulitan terbesarnya bukan hanya itu, tapi jantungnya yang berdetak tidak seperti biasanya, Filla hanya berharap Rangga tidak mendengarnya.
"Pelan-pelan," ucap Filla saat mereka masuk kedalam toilet.
Filla melepas rangkulan Rangga lalu sedikit mundur, "Kenapa?" tanya Filla saat mendapati Rangga menatapnya.
"Kamu tetep disini?" tanya Rangga sambil menatap Filla dengan tatapan yang sulit Filla terjemahkan.
Filla membulatkan mata, lalu merutuki kebodohannya yang tidak langsung keluar, "Ya nggaklah, ya kali gue disini," Filla memberikan kantong infus pada Rangga lalu berjalan cepat keluar.
Rangga hanya tersenyum mendapati sikap Filla.
Selang beberapa menit Rangga keluar dari toilet.
"Udah?" tanya Filla yang langsung menaruh tangan Rangga melingkari lehernya saat meraih anggukan kepala dari Rangga.
"Sekarang jam berapa?" tanya Rangga sambil menunduk melihat Filla yang tingginya sebahu Rangga.
Filla melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, "Waw," ucap Filla spontan terkejut saat arlojinya menunjukkan pukul 3 dini hari. "Jam 3, gue kira udah pagi," ucap Filla.
"Kan jam 3 emang pagi," celetuk Rangga.
"Maksudnya pagi jam 6 atau jam 7, bukan pagi buta kek gini," ucap Filla.
Rangga tertawa, "Iya."
"Lo ramah gini gue jadi aneh," ucap Filla saat mereka berjalan menyusuri koridor menuju ruangan Rangga.
Rangga hanya tersenyum tanpa berniat menjawab ucapan Filla.
Filla membantu Rangga kembali pada ranjangnya, "Aman?" tanya Filla setelah menempatkan kantong infus kembali pada tempatnya.
"Hmm," ucap Rangga. "Kamu tidur lagi sana," Rangga menarik selimutnya menutupi sampai dada.
Filla mengangguk lalu kembali menempatkan diri di sofa, "BTW, siapa yang ngasih selimut?" tanya Filla sambil mengangkat selimut yang tadi ia gunakan.
"Tadi suster yang kasih," ucap Rangga. "Makasih udah bantu ke toilet."
__ADS_1
Filla hanya mengangguk, dirinya berbalik memunggungi Rangga, Filla menghela napas, sepertinya pilihan untuk menemani Rangga malam ini akan membuatnya tambah sulit menjaga hati.
********
"Makasih Kak udah jagain Rangga semalem," ucap bunda yang duduk dikursi sebelah ranjang Rangga.
Filla hanya mengangguk sambil tersenyum, dirinya duduk di sebelah ayah dengan Tita yang berbaring di pangkuannya.
Tita memang memaksa untuk ikut dengan ayah dan bunda, Filla hanya tersenyum saat mengetahui Tita rindu padanya walau ditinggal semalam, hanya saja Tita selalu gengsi mengatakannya membuat Filla selalu merasa gemas dengan Tita.
"Akak, semalem bunda buat kue, nyesel Akak nggak pulang," ucap Tita.
Filla tertawa, "Pasti Mama sisain buat Akak," ucap Filla tak mau kalah.
"Iya sih," ucap Tita dengan wajah cemberut membuat ayah tertawa sambil mengacak rambut Tita.
"Assalamualaikum," ucap Kania yang langsung masuk kedalam ruangan membuat semua menoleh padanya.
"Waalaikumsalam," ucap semua serentak.
Tita bangun dari pangkuan Filla, "Males," ucap Tita setelah menempatkan diri disebelah Filla.
"Adek," tegur Filla sambil berbisik, sedangkan Tita malah masih memasang wajah tidak sukanya.
"Eh Kania, masuk," ucap bunda ramah.
"Rangga kamu kenapa?" tanya Kania yang langsung memeluk Rangga.
"Kania," tegur Rangga sambil menjauhkan Kania dari tubuhnya.
"Kamu kok nggak ngabarin?" tanya Kania dengan nada khawatirnya.
Tidak ada jawaban dari Rangga, hanya helaan napas yang terdengar dari Rangga.
"Rangga nggak apa-apa, cuma butuh istirahat," jawab bunda.
"Akak ayo pulang," ajak Tita sambil bergelayut ditangan Filla.
"Tita kenapa?" tanya ayah yang langsung mengusap puncak kepala Tita.
"Mau pulang," ucap Tita tegas.
Filla mengangguk, "Yaudah ayo, tapi jangan gitu bicara baik-baik," ucap Filla membuat Tita mengangguk lalu menunduk. "Anak baik," ucap Filla sambil memegang pelan pipi gembul Tita.
"Kenapa Kak?" tanya bunda.
"Kita mau pamit pulang Bun," ucap Filla.
"Loh, bukannya mau pulang bareng-bareng?" tanya bunda.
__ADS_1
Filla tersenyum, "Aku sama Tita balik duluan nggak apa-apa kan Bun?"
Bunda akhirnya mengangguk, "Yaudah, Bunda telpon Mang Gani aja," ucap bunda sambil meronggoh ponselnya.
"Nggak usah Bun, ada Pak Mamat kok didepan," ucap Filla. "Yaudah Filla sama Tita pamit dulu," ucap Filla sambil menyalami ayah diikuti Tita.
Tita lebih dulu mendekati bunda, "Bunda, Tita pulang dulu," Tita menepuk pelan kaki Rangga. "Bang Tita pulang, cepat sembuh," ucap Tita membuat Rangga tersenyum.
"Bun pamit ya," ucap Filla sambil menyalami bunda.
Bunda mengangguk sambil tersenyum, "Hati-hati Kak," pesan bunda.
Filla mengangguk, "Ngga gue balik, cepet sembuh," ucap Filla.
Rangga tersenyum, "Makasih Fill."
Filla mengangguk, "Kania gue balik duluan," ucap Filla.
"Ya," jawab Kania singkat.
"Tita nggak salim sama Kak Kania?" tanya bunda saat melihat Tita yang langsung melewati Kania.
Tita menggeleng, "Nggak mau Bun," ucap Tita sambil bersembunyi dibelakang Filla.
Kania menatap malas pada Tita.
"Dek, nggak boleh gitu," ucap Filla sambil menatap Tita.
Tita akhirnya mengangguk lalu menyalami Kania walau hanya diujung tangannya.
Filla tersenyum, "Yaudah Bun, Filla duluan," ucap Filla lalu meninggalkan ruangan Rangga setelah meraih anggukan dari ayah dan bunda.
Filla dan Tita masuk kedalam lift menuju lantai bawah, hanya mereka berdua didalam sana.
"Dek, tadi kenapa gitu? Kalau Mama tahu Tita gitu pasti bakalan kecewa, Tita kan janji jadi anak baik," ucap Filla berusaha menasehati.
Tita diam sambil menunduk tak berani menatap mata Filla.
Filla menarik pelan dagu Tita, "Dek, lihat Akak, Akak nggak akan marah jadi jangan takut, emang Akak pernah marah?" tanya Filla.
Tita menggeleng, lalu memberanikan diri menatap Filla, "Tita nggak suka sama Kak Kania, dia jahat, bang Gio juga nggak suka," ucap Tita mengeluarkan unek-uneknya.
"Oke," ucap Filla sambil mengelus rambut Tita. "Tapi Adek harus inget, nggak boleh benci sama orang lain, bagaimanapun dia jahat, dia tetep lebih tua dari kamu, harus sopan," ucap Filla sambil tersenyum.
Tita mengangguk, "Iya Akak maaf," ucap Tita.
Filla tersenyum lalu mencium pipi Tita, "Asal kamu nggak ngulangin," ucap Filla yang meraih anggukan dari Tita.
********
__ADS_1