
Terpaan angin membuat Filla menyampirkan rambutnya kebelakang telinga, dirinya dan Vino masih saling bertukar candaan di taman samping rumah dengan sesekali mengayunkan ayunan yang mereka duduki.
"Rencana Kakak setelah lulus S2 apa? Balik ke Paris atau tetep di Bandung?" tanya Filla sambil menoleh kearah Vino disebelahnya.
Vino terlihat berpikir sejenak, "Tetep di Bandung, Kakak mau besarin perusahaan di Bandung dengan usaha Kakak sendiri," ucap Vino sambil tersenyum.
"Semangat Kak!" Filla mengepalkan tangan memberi semangat pada Vino.
"Kakak mau tanya, tapi kalau nggak mau jawab lupain," ucap Vino membuat kening Filla berkerut.
Filla mengangguk lalu memposisikan diri menyerong menghadap Vino.
"Alasan kamu mutusin untuk lanjutin pendidikan ke Milan, apa salah satunya karena Rangga?" tanya Vino menatap Filla serius.
Filla membuang muka, ia terdiam sejenak, lalu kembali menatap Vino, "Iya," ucap Filla mencoba jujur.
Vino megangguk lalu menyenderkan kepalanya pada senderan ayunan dengan tanganya sebagai bantal.
"Aku harus berusaha lupain Kak, dengan selalu melihat dia, rasanya hal yang mustahil bisa lupain," ucap Filla ikut bersandar seperti Vino, Filla menatap langit yang tanpa dihiasi bintang.
"Kamu serius mau lupain? Udah yakin?" tanya Vino.
Filla mengangguk dengan mata yang masih terfokus pada bulan sabit diatas sana, "Capek Kak berharap pada sesuatu yang terasa bukan untuk kita," ucap Filla.
Vino tersenyum, "Ya," ucap Vino menertawai dirinya sendiri.
Filla menoleh kesamping mendapati wajah Vino yang tersenyum sambil menatap lurus ke depan, "Ini maksudnya apaan? Jangan bilang Kakak senasib sama aku?" ucap Filla menyadari jawaban aneh Vino.
Vino mengangkat kedua bahunya.
Filla menatap dengan wajah antusiasnya, "Siapa Kak ceweknya, gila sih kalau dia nggak peka," ucap Filla sambil tertawa.
Vino mengangguk.
"Ceritain," ucap Filla sambil mengguncang tangan Vino.
"Dia bener-bener orang yang polos bahkan saat seperti ini masih belum paham," ucap Vino sambil menoleh pada Filla.
Filla mengerutkan keningnya, "Aku kenal orangnya?" tanya Filla penasaran. "Siapa Kak?" tanya Filla.
__ADS_1
"Bahkan hampir 10 tahun Kakak suka, dia masih belum paham," ucap Vino.
Filla terdiam, ia tak mengenali tatapan Vino padanya sekarang, tatapan yang belum pernah Filla lihat seserius sekarang, "Maksud Kakak," Filla menunjuk dirinya sendiri. "Aku?" tanya Filla hati-hati.
Vino terdiam menatap Filla dalam lalu memberanikan diri mengangguk, Vino mengalihkan tatapannya kembali pada langit, menenangkan hatinya yang akan menerima setiap kata yang akan ia dengar dari Filla hari ini, terasa lega mengungkapkan setelah menyimpan perasaan terlalu lama.
Filla masih tetap setia menatap Vino, ia menghapus air mata yang jatuh di pipi kanannya, Filla menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Vino dengan cepat menoleh mendengar isak pelan Filla, "Fill," panggil Vino khawatir sambil memegang kedua bahu Filla, ia tak menyangka reaksi Filla akan menangis setelah pernyataannya.
Filla diam, masih setia dengan posisinya.
"Fill, maafin Kakak, Kakak tarik deh ucapan Kakak tadi, nggak ada maksud apa-apa dan nggak berharap kamu notice kok."
Filla mengangkat wajahnya lalu menghapus air mata yang menggenang, "Maaf," ucap Filla pelan.
Vino menggeleng, "Kakak yang minta maaf, lupain aja," ucap Vino sambil menghapus air mata Filla dengan ibu jarinya.
"Pasti sulit kan Kak, maafin aku yang nggak sadar, dan dengan jahatnya curhat sama Kakak tentang dia," ucap Filla merasa bersalah.
"Bukan salah kamu Fill," ucap Vino menenangkan. "Lagian Kakak cuma jawab pertanyaan kamu aja, nggak ada maksud, jadi lupain," ucap Vino.
Vino mengusap puncak kepala Filla dan menciumnya, ia menyukai aroma shampo Filla yang sangat manis menurutnya, "Nggak usah merasa bersalah, perasaan bukan kita yang atur," ucap Vino menenangkan.
Sekarang Filla paham, bahwa bukan hanya dirinya yang terabaikan bahkan dirinya sendiri berperan mengabaikan.
*******
Rangga masih betah menatap kearah kaca yang memperlihatkan Filla dan Vino, obrolan yang diciptakan para orang tua tidak membuatnya tertarik, apalagi setelah melihat Filla berada di pelukan Vino.
"Ngga, kamu nggak mau ikutan ke Milan?" tanya bunda sambil memakan bolu buatan mama.
"Ngapain juga Rangga ke Milan, kamu ada-ada aja," ucap mama sambil menepuk pelan bahu bunda.
"Sambil jagain anak perempuanku dong," ucap bunda.
"Filla bisa jaga diri, lagian kalau Rangga ikut Filla, sampai kapan Filla bisa lupain Rangga? Rangga juga udah punya pacar," ucap mama.
Bunda diam, bener kata sahabatnya, tentu tidak mudah untuk Filla, dirinya yang terkesan tidak ikut campur tentu saja paham apa yang terjadi diantara anak-anaknya.
__ADS_1
"Udah, urusan anak muda jangan pada ikut campur," ucap papa yang diangguki ayah, mereka sejak tadi bermain catur, berusaha untuk tidak kalah pada masing-masing diri.
Rangga yang menjadi bahan obrolan hanya diam tanpa menyimak, pikirannya bercabang setelah mendengar kata mama tentang Filla yang berusaha melupakannya, untuk sepersekian detik ia menolaknya.
Jangan gila, lo cinta Kania, batin Rangga.
"Pa, Ma, Vino balik ya, Ada telpon dari kantor, dan sepertinya Vino harus segera kesana," ucap Vino saat berdiri didekat ruang keluarga diikuti Filla dibelakangnya.
"Nggak nginep Vin?" tanya mama dengan nada sedikit kecewa.
Vino tersenyum, "Kapan-kapan deh Ma," ucap Vino.
Akhirnya mama mengangguk, "Yaudah hati-hati," ucap mama.
Vino lalu menyalami satu persatu pada orangtua dan memberikan senyuman pada Rangga yang berwajah datar.
"Itu Kenapa hidung Kakak merah?" tanya papa tiba-tiba membuat semua orang menatap Filla serentak.
"Nggak," ucap Filla sambil menggeleng cepat.
"Kirain Papa nangis karena Vino pulang," ucap papa meledek.
"Papa."
Vino tertawa, "Yaudah Vino pamit ya," ucap Vino yang diangguki pada orang tua.
Setelah kepergian Vino, Rangga menatap Filla yang duduk disebelah mamanya, mendengar ucapan papa tadi, Rangga sama penasarannya, apa yang sebenarnya terjadi, Rangga tahu pasti Filla habis menangis, tapi dengan cepat ia membuang semua pikirannya tentang Filla.
"Kak Illa, Lihat Shopianya ada dua ternata," ucap Tita yang baru saja membuka kotak kado lain dari Vino yang ia abaikan tadi.
Filla menoleh, dan benar saja, Vino membelikan dua boneka Shopia untuk Tita, "Yang ini bagus," ucap Filla.
Tita mengangguk, "Abang Vino kelen," ucap Tita sambil mengacungkan dua jempolnya.
"Apa Dek?" tanya mama yang mendengar ucapan Tita
"Abang Vino kelen, Tita dikasih dua Shopia," ucap Tita bangga sambil menunjukkan boneka Shopia yang diberikan Vino pada dirinya.
Rangga masih sama menatap pada Filla yang tak menoleh padanya sedikitpun, bukan seperti biasanya Filla akan dengan gamblang selalu melihat kearah Rangga, tanpa Rangga sadari ia merasa ada yang hilang.
__ADS_1
*******