Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 197


__ADS_3

"Apasih Ngga? Aku cuma mau bangunin kamu biar pindah ke kamar," ucap Filla sedikit canggung.


Rangga menarik tangan Filla membuat tubuh Filla tak berjarak darinya tentu saja mata Filla membulat sempurna atas perbuatan Rangga.


"Rangga," Filla berusaha melepas tangan Rangga yang melingkar di perutnya sekarang, Rangga memeluknya dari belakang sambil duduk.


Bukannya melepas tangan yang melingkar diperut Filla, Rangga malah menyenderkan kepalanya pada pinggang Filla, "Nyaman," ucap Rangga singkat sambil memejamkan mata.


"Lepas Ngga, ayo tidur dikamar," ucap Filla masih berusaha melepas tangan Rangga dari tubuhnya.


Rangga membalik tubuh Filla agar menghadapnya, "Mau sampai kapan gengsinya hah?" Rangga mencubit gemas hidung Filla.


"Rangga!" Filla menampar lengan Rangga cukup kuat. Rangga malah menatapnya membuat Filla salah tingkah merasa diperhatikan, "Woy, pindah kamar," Filla mengibaskan tangan didepan wajah Rangga.


Bukannya bergeming Rangga malah tertawa, "Suka aku lihat pipi kamu merah, kenapa? Kamu kangen aku peluk makanya nggak bisa tidur sendiri dikamar?" tanya Rangga sengaja meledek Filla.


Filla memutar bola mata malas, "Bukannya apa-apa nih, aku nggak mau aja entar dimarahin mama sama papa karena biarin kamu terlantar diruang kerja."


Rangga tertawa, "Aku harus selesaikan pekerjaan malam ini," ucap Rangga sambil mengumpulkan beberapa dokumen dimejanya.


"Kan kamu yang bilang, kalau pekerjaan jangan sampai menyita waktu istirahat, nih kamu sendiri yang langgar," Filla melipat tangan sambil menyender pada lemari disebelah meja kerja Rangga.


"Iya sayang."


"Geli Ngga, jangan panggil gitu," ucap Filla bergidik ngeri.


Rangga tertawa, "Awas aja nanti kangen dipanggil sayang."


"Nggak akan!" ucap Filla yakin.


Sepersekian detik keheningan menyelimuti mereka berdua, Rangga yang mencari dokumen dan Filla berperan memperhatikan akhirnya sama-sama tidak membuka percakapan.


"Satu jam lagi, abis itu janji aku tidur," ucap Rangga sambil tersenyum.


Filla menghela napas, dapat dirinya akui bahwa tidur sendiri didalam kamar benar-benar membosankan, Filla merasakan ada sesuatu yang kurang, menyadari pemikirannya Filla refleks menepuk kepalanya sendiri membuat Rangga menoleh.


"Kenapa nyakitin diri sendiri gitu?" tanya Rangga heran.


Filla menaikkan kedua alisnya lalu tersenyum, menyadari tindakannya lalu menggeleng, "Nggak," ucap Filla mengelak.


"Aku nggak suka ya kamu pukul kepala kayak gitu."


"Kepala-kepalaku kok kamu yang sewot," ucap Filla santai.


Rangga menatap Filla tajam membuat Filla menghela napas.


"Iya-iya," ucap Filla mengalah, tidak bagus untuk dirinya jika terus mendapati tatapan tajam Rangga seperti tadi. "Mau aku bikinin kopi?" tanya Filla.

__ADS_1


Rangga mengangguk, "Makasih istriku."


Filla langsung berbalik, sudah cukup mempermalukan diri sendiri jika terus berada dihadapan Rangga dengan wajah memerah, "Tunggu," Filla berjalan meninggalkan Rangga yang menahan senyumnya melihat Filla salah tingkah.


Tidak membutuhkan waktu lama, Filla membawa segelas kopi dan beberapa cemilan diatas nampan.


"Asik, kopi buatan istri," ucap Rangga antusias sambil menyingkirkan beberapa barang diatas meja agar Filla bisa menaruh nampan didepannya.


"Kayak nggak pernah dibikin kopi aja," celetuk Filla sambil meletakkan segelas kopi dan sepiring cemilan didepan Rangga.


"Kan emang nggak pernah," ucap Rangga.


Filla menggaruk tengkuknya yang tak gatal, benar ucapan Rangga, ini kali pertamanya Filla membuat Rangga minuman setelah mereka menikah. "Jujur amat," celetuk Filla.


Rangga tertawa, "Makasih ya," Rangga meraih gelas berisi kopi dan mulai menyesapnya, "Enak, ini jadi kopi kesukaanku kedepannya," ucap Rangga yakin.


Filla mendudukkan diri dikursi depan Rangga.


"Kamu nggak ke kamar? Tidur gih, udah malem," ucap Rangga mengingatkan.


Filla menggeleng, "Aku belum ngantuk dan dikamar bosen, aku mau bantu kamu aja," ucap Filla yakin.


Rangga menaikkan kedua alis, "Mau bantu? Nggak usah nanti kamu capek."


"Daripada aku bosen, ayolah Ngga, kerjaan yang mudah juga nggak apa-apa," ucap Filla penuh harap.


Filla mempautkan bibir, hal yang sangat membuat Rangga merasa gemas melihatnya, "Meremehkan, belum tau aja aku bisa lakukan apapun," ucap Filla yakin.


Rangga mengangguk, "Ngilangin gengsi belum tuh, katanya bisa ngelakuin apapun," ledek Rangga.


Filla menampar lengan Rangga, "Beda konsep! Ayo cepetan aku harus ngapain?"


Rangga menghela napas, "Yaudah, kamu bantu aku pilih foto-foto yang bagus," ucap Rangga sambil memberikan laptopnya pada Filla.


"Gampang," tanpa menunggu lama Filla mulai mengerjakan perintah Rangga membuat Rangga tersenyum melihat keseriusan Filla.


*******


"Beres," ucap Filla sambil merenggangkan tubuhnya.


Rangga ikut mendonggak melihat kearah Filla, "Udah?" Tanya Rangga membuat Filla mengangguk.


Filla berjalan mendekati Rangga dengan membawa laptop, "Ada lagi?" tanya Filla.


Rangga menggeleng, "Makasih ya," Rangga menutup laptopnya lalu beranjak. "Sekarang waktunya istirahat."


Filla mengangguk setuju, rasa kantuk juga mulai menyerangnya sekarang.

__ADS_1


Mereka masuk kedalam kamar beriringan, Filla langsung menempatkan diri dikasur bagian kiri, mulai menarik selimut menutupi tubuhnya. Rangga juga melakukan hal yang sama disebelah Filla setelah meletakkan ponselnya diatas nakas.


Filla memunggungi Rangga, sampai tangan kanan Rangga melingkar diperutnya, Rangga memeluknya dari belakang, dan perlakuan Rangga masih saja membuatnya merona.


Rangga menyusup dilekukkan leher Filla, dirinya teramat menyukai aroma shampo milik Filla.


"Rangga," ucap Filla pelan saat merasakan deru nafas Rangga.


"Hmmm," Rangga hanya berdehem tanpa merubah posisi, malah tambah mempererat pelukannya, hanya Filla yang membuatnya nyaman.


"Aku nggak bisa tidur kalau gini," ucap Filla jujur.


Rangga tersenyum lalu membawa tubuh Filla agar menghadapnya, "Gini aja kalau gitu," ucap Rangga saat Filla berada dihadapannya dengan mata terpejam.


Jarak mereka begitu dekat, tanpa dipisahkan guling seperti biasanya, Filla terdiam melihat wajah Rangga dihadapannya.


Jangan ditanyakan bagaimana keadaan jantungnya sekarang, dirinya hanya berharap Rangga tidak mendengarkan detak jantungnya.


Rangga mengambil tangan Filla dan menempelkannya didada bidangnya, "Aku juga sama deg-degannya," ucap Rangga.


Filla meneguk saliva-nya, Rangga benar-benar membuatnya tak bisa berkutik, yang Filla syukuri sekarang hanya mata Rangga yang masih terpejam, dirinya tak bisa membayangkan menatap manik mata Rangga dalam jarak dekat seperti sekarang.


Sudut bibir Rangga tertarik membentuk senyuman tipis, lalu perlahan Rangga membuka matanya membuat Filla memundurkan wajahnya refleks, Rangga malah kembali mendekatkan wajahnya pada Filla.


"Harusnya aku sadar lebih cepat, kalau kamu orangnya," ucap Rangga pelan.


Filla terdiam, dirinya sulit bereaksi sekarang, selain membulatkan mata, Filla tak bisa melakukan apapun, otaknya tiba-tiba enggan berpikir.


Rangga mendekatkan wajahnya pada Filla, deru napas mereka berdua beradu, keduanya sama-sama merasakan debaran itu.


Tubuh Filla seakan membeku mendapati wajah Rangga yang semakin mendekat.


Suara pintu terbuka membuat Rangga dan Filla tersadar, "Akak!" panggil Tita dari ambang pintu, sontak Rangga dan Filla menjauhkan diri satu sama lain.


"Kalian ngapain?" tanya Tita polos.


"hmm," dehem Filla pelan, sedangkan Rangga mengatur napasnya.


"Aku mau ajak Kakak tidur di kamar sebelah, aku takut," ucap Tita.


Baik Rangga ataupun Filla saling pandang.


"Aku temenin Tita ya Ngga," ucap Filla pelan, dirinya merasakan canggung sama seperti Rangga.


Rangga mengangkat kedua alisnya lalu mengangguk, dirinya benar-benar salah tingkah.


Setelah Filla beranjak mengajak Tita kembali ke kamar tamu, Rangga mengepal tangannya, "Tita!" ucapnya pelan penuh kekesalan, Rangga pasrah kembali membaringkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan bantal.

__ADS_1


*******


__ADS_2