
"Lo kok nggak ngabarin kita kalau masih di Bandung? Kita kan bisa nongkrong rame-rame," ucap Ola diangguki yang lain.
Filla tersenyum menatap layar laptopnya, "Gue juga mendadak, bulan depan gue balik ke Milan, itung-itung ngabisin jatah cuti gue tahun ini," ucap Filla sambil merapikan beberapa bukunya diatas meja lalu kembali menatap layar laptop yang menampilkan keempat sahabatnya.
"Harusnya lo kabarin kita, tapi apa yang bikin lo nunda keberangkatan?" tanya Iren.
"Gue menepati janji, kemarin Kak Rafael ngundang gue ke acara grand opening perusahannya."
"Rafael?” tanya semua serentak.
Filla mengangguk.
"Kak Rafael, kating kita dari jurusan fotografi?" tanya Reya menebak, menambah rasa penasaran yang lain.
Filla kembali mengangguk, sambil sesekali membenarkan rambutnya yang tergerai sempurna.
"Kalian bahas siapa sih? Rafael siapa? Kok gue nggak tau?" tanya Ola.
"Gue juga," ucap Iren dan Caca.
"Pokoknya waktu gue sama Filla kuliah S1, kampus pernah digemparkan kedatangan Kak Rafael sang mahasiswa pujaan hampir semua mahasiswi ke kelas kami cuma buat nyamperin Filla."
"Lebay lo Rey, kan cuma balikin kamera," sanggah Filla membela diri.
"Kalau cuma sebatas ngembaliin kamera, kok lo bisa diundang keacaranya?" tanya Reya menyelidik.
"Ya karena dia kenal sama gue."
Reya melipat kedua tangannya, "Dia juga kenal gue, nggak ada tuh inisiatif ngundang."
"Berarti dia nggak berpikiran sama kayak lo Rey, mungkin dia emang nggak inget sama lo," ucap Caca menimbang.
"Nggak usah dipertegas juga Ca!" ucap Reya kesal membuat yang lain tertawa termasuk Filla.
"Udah ah jangan bahas itu lagi, katanya mau ketemuan."
"Boleh tuh, kapan aja gue kosong," ucap Ola yang diangguki Reya dan Caca.
"Lo Ren? Gimana bisa?" tanya Ola memastikan.
Iren menghela napas, "Kayaknya nggak bisa deh guys, kalau dalam waktu dekat gue mau cari kerja."
Keempat sahabatnya mengerutkan kening mendengar ucapan Iren.
"Kerja? Bukannya lo udah terima tawaran salah satu perusahaan di Jakarta Ren?" tanya Filla bingung, karena yang ia tahu sepulang dari Bandung, Iren bahkan sudah menerima banyak tawaran pekerjaan sampai akhirnya memilh satu diantaranya.
"Iya, tapi nggak betah, gue nggak suka kerja disini, nggak nyaman aja ngejalaninnya."
"Baru juga semingguan Ren, wajar kalau belum nemu nyamannya."
"Iya Rey, tapi gue nggak mau kerja ditempat yang gue sendiri nggak nyaman dari awal. Salah gue sendiri sih menerima tawaran pekerjaan ini tanpa berpikir panjang."
__ADS_1
Filla menghela napas, "Kita dukung apapun keputusan lo Ren, jadi semangat, gue yakin lo akan dapet tempat kerja yang bikin lo nyaman bahkan dari awal kerja," ucap Filla yakin membuat yang lain mengangguk mantap.
"Iya, kita selalu dukung lo, lo pasti tau yang terbaik untuk hidup lo," ucap Ola.
"Iya Ren, semangat!"
"Makasih semuanya, jadi merasa lebih tenang sekarang, gue mumet mikirinnya dari kemarin, melepas pekerjaan yang sekarang tentu ada konsekuensi yang akan gue tanggung, tapi gue tambah yakin setelah bicara sama kalian."
"Peluk virtual nih," ucap Caca membuat mereka semua tertawa.
********
"Kak, Mama boleh minta tolong?" tanya mama dengan wajah seriusnya.
Filla tersenyum, lalu memegang kedua tangan mama, "Boleh Ma, ada apa?" tanya Filla.
"Jadi gini Kak, klien Mama suka banget sama karya-karya kamu dan minta tolong untuk wedding dress-nya kamu yang ngerjain, dia lihat artikel tentang kamu lalu mendatangi Mama."
Filla mengerutkan kening, "Bukannya nggak etis Ma, pergi ke butik Mama tapi minta aku yang bantuin, desain Mama lebih bagus dari punyaku."
"Sebenernya dia anak temen Mama Kak, dia juga baru tahu kalau kamu anak Mama, dia suka sama desain baju bikinan kamu, Mama juga nggak enak nolaknya, dan bisa jadi pengisi waktu senggang kamu juga Kak, kamu bisa mencoba bekerja sebentar disini," mama menatap Filla dengan tatapan penuh harap.
Filla menimbang sebentar, "Mama serius nggak apa-apa aku gantiin? Padahal ini kerjaan Mama."
"Ya nggak Kak, Mama malah seneng kalau kamu mau," ucap mama antusias.
Filla tersenyum, "Tapi cuma kali ini ya Ma, Filla nggak mau mendahului Mama."
Filla tersenyum lalu mengangguk.
*******
Filla menyesap es cappucino yang sudah ada diatas meja sejak 5 menit lalu, sesekali dirinya melihat arloji dipergelangan tangannya.
Sudah lewat 10 menit dari janji temu yang direncanakan klien mama padanya tadi pagi.
"Mbak Filla?" tanya seseorang perempuan sambil tersenyum.
Filla mengangguk lalu ikut tersenyum, "Lina?"
Lina mengangguk antusias, "Maaf Mbak, tadi jalanan macet," ucap Lina merasa bersalah, lalu duduk dikursi kosong depan Filla.
Filla mengangguk lalu tersenyum, "Iya nggak apa-apa."
"Makasih banget lo Mbak mau merancang wedding dress-ku, aku suka banget sama rancangan Mbak Filla."
"Iya sama-sama."
Mereka berbincang cukup lama, Lina menjelaskan semua yang ia inginkan dalam gaun pernikahannya nanti, dirinya lebih bersemangat karena Filla dapat memahami langsung keinginannya.
"Jadi kamu pengen 3 desain, dengan konsep Santai, formal dan wedding dress."
__ADS_1
"Iya Mbak bener banget, aku percayakan semuanya sama Mbak Filla."
"Oke Lina, aku usahain yang terbaik," ucap Filla sambil menutup buku catatannya.
"Assalamualaikum," ucap seseorang membuat Filla dan Lina menoleh.
"Rangga?" Filla sedikit tersentak mendapati Rangga berdiri disebelahnya.
"Mas Rangga, duduk Mas," ucap Lina.
Rangga mendudukkan diri disebelah Filla.
"Kok lo bisa disini?" tanya Filla heran.
"Mbak Filla belum dikasih tahu sama Tante Rahmi?" tanya Lina membuat Filla menggeleng. "Jadi Mbak, Mas Rangga ini fotografer buat foto prewed aku nanti."
Sepertinya Filla memang harus terkejut setiap harinya dengan semua situasi yang datang dihidupnya.
Rangga menaikkan kedua alisnya lalu tersenyum, sedangkan Filla memalingkan wajahnya.
"Seperti yang aku bicarakan dengan Mbak Filla tadi, aku pengen kalian berdua bekerja sama buat menyesuaikan antara tempat dan gaun yang aku gunakan bersama pasanganku."
"Maksud kamu aku harus kerja sama dengan Rangga?" tanya Filla memastikan.
Lina mengangguk antusias, "Aku pengen semua persiapan ini terasa istimewa. Aku percayakan semuanya sama kalian," ucap Lina semangat.
********
"Lo tahu tentang ini semua?" tanya Filla saat dirinya dan Rangga tinggal berdua dimeja, setelah Lina pergi.
"Tau," ucap Rangga santai sambil memotret beberapa sudut ruangan didalam restoran.
"Dan lo nggak ada inisiatif buat kasih tahu gue?" tanya Filla tak habis pikir.
"Buat apa? Kamu akan tahu sendiri."
"Gua akan batalin," ucap Filla lalu meraih tasnya dan berdiri.
Rangga menahan tangan Filla, "Kenapa? Segitu nggak maunya kerja bareng aku?" tanya Rangga menatap mata Filla dalam.
"Iya," ucap Filla tegas. "Lo tahu alasannya, jadi please jangan buat semuanya jadi rumit," ucap Filla menghempas genggaman Rangga.
Rangga mempererat genggamannya pada pergelangan tangan Filla, "Kamu yang bikin semua ini rumit Filla, aku tahu kamu masih cinta kan sama aku? Kenapa harus selalu menghindar?"
Filla menghempas tangannya kuat sampai genggaman Rangga terlepas, "Kenapa semuanya terlalu mudah buat lo Ngga? Ini semua terlalu sulit untuk gue, jadi tolong jangan bikin gue jatuh pada lubang yang sama, untuk kesekian kalinya."
Rangga berdiri lalu menahan tangan Filla.
"Lepas atau gue nggak akan mau ketemu sama lo lagi?" ucap Filla.
Rangga menatap mata Filla, dirinya menemukan keseriusan dalam ucapan Filla, seperti janjinya sejak awal, dirinya tak akan memaksa apapun terhadap Filla, Rangga melepas genggamannya membiarkan Filla berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
********