
Filla menghela napas, "Kayaknya nggak adil lo nyalahin gue yang nggak pernah mau dikejar sama suami lo, dan lagi, lo pikir gue nggak merasa terganggu? Apalagi lo dateng bawa anak lo buat jadi sebuah alasan."
Salsa menatap tajam Filla, "Lo yang salah, sejak ada lo, Kak Vino berubah dan sering pulang malem dalam keadaan mabuk, dia nggak perduli sama anaknya sendiri."
Filla menghela napas, "Mau lo apa? Gue nggak punya waktu buat ngurusin masalah rumah tangga lo," ucap Filla tegas, dirinya tak habis pikir degan jalan pikiran Salsa.
"Pergi dari sini, terserah mau lo kuliah atau apapun diluar negeri jangan pernah balik ke Indonesia," ucap Salsa.
Filla tertawa sinis, "Nggak paham gue apa yang lo maksud, gue mau di Indonesia atau diluar negeri pun nggak ada hubungannya sama lo, itu pilihan gue, lo cuma perlu inget, bawa aja Kak Vino tanpa menganggu hidup gue," ucap Filla.
"Apa susahnya Fill, keluar dari Indonesia biarin gue hidup tenang sama keluarga gue?"
"Nggak tahu malu banget sih, sumpah baru kali ini gue ketemu manusia kayak lo, belum kenal pun darah gue udah mendidih," bentak Iren yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
Salsa sedikit terkejut, "Nggak ad urusannya sama lo," ucap Salsa.
"Terus Filla ada hubungannya sama rumah tangga lo yang akan hancur itu?" tanya Iren memanas.
Salsa berdiri, "Nggak akan hancur, jaga ucapan lo."
"Lo yang jaga mulut sampah lo itu, dateng kerumah orang nggak pake sopan santun, lo yang plakor dari awal, jangan berusaha buat jadi korban," ucap Iren tegas.
"Ren udah," Filla menarik tubuh Iren kebelakangnya.
"Gini aja ya Sa, gue tekenin nggak pernah punya hubungan apapun sama Vino setelah penghianatan yang kalian lakuin, gue juga punya harga diri buat apa terima bekas orang lain kayak lo?" ucap Filla membuat Iren tersenyum.
Salsa menatap mata Filla, "Maksud lo gue yang terima bekas?" tanya Iren.
"Lo nilai sendiri diri lo, gue udah bilang setalah kedatangan lo terakhir kali ke rumah gue, jangan pernah injekin kaki lagi disini, terlepas dari apapun konsekuensi yang lo dapet karena perbuatan lo sendiri jangan pernah limpahin ke gue, harusnya lo mikir kenapa tiga tahun nggak bisa bikin Vino pilih lo."
"Mam, akut," ucap anak Salsa.
Filla sebenarnya sangat kasian dengan anak kecil tersebut, namun melihat sikap Salsa, Filla tak bisa hanya diam.
"Gue cuma minta lo pergi Filla," ucap Salsa lemah.
__ADS_1
"Basi banget," gerutu Iren yang berada dibelakang Filla.
"Lo nggak punya hak ngatur hidup gue, masalah rumah tangga lo, selesaikan sendiri, gue nggak akan ikut campur, lo bisa pergi sekarang, ini kali terakhir gue lihat muka lo, sampai lo kesini lagi, gue nggak segan-segan laporin polisi," ucap Filla tegas, lalu menarik Iren dan menutup pintu, meninggalkan Salsa masih berada disana.
Filla duduk diruang tamu lalu menghela napas.
Iren ikut menghela napas, "Bukan salah lo, jadi berhenti nyalahin diri sendiri," ucap Iren.
Filla menoleh, dirinya benar-benar dipertemukan dengan sahabat yang selalu paham dengan perasaannya tanpa diberitahu.
"Kak, perlu Mama minta Pak Hafidz buat usir dia?" tanya mama.
Filla menggeleng, "Biarin pergi sendiri Ma, kasian anaknya," ucap Filla membuat mama mengangguk.
"Lo baik banget Fill," ucap Iren.
Filla menangkup wajahnya, "Kenapasih hidup gue melelahkan banget, gue capek," ucap Filla tak bisa menahan tangisnya.
Iren merangkul tubuh Filla lalu mengusapnya pelan, "Kenapa lo nangis sih?" tanya Iren yang ikut menangis melihat Filla, walau mengenal Filla belum cukup lama, Iren tahu seperti apa susahnya Filla melewati hari-harinya.
Filla menghapus airmatanya, "Capek, nggak habis pikir aja, semua nyalahin gue, perasaan gue yang disakiti," ucap Filla jujur.
Iren mengangguk, "Jangan salahin diri sendiri karena kesalahan orang lain Fill, mereka cuma orang yang nggak tahu diri yang bersikap sebagai korban," ucap Iren.
*********
Malam masih sama seperti biasanya, hanya sejuk yang Filla rasakan saat terpaan angin malam mengapa tubuhnya, membiarkan geraian rambutnya terombang-ambing terbawa angin.
"Masuk yuk, dingin," ajak Iren sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Filla tersenyum, "Lo duluan aja, gue masih mau disini," ucap Filla.
Iren mengangguk, "Gue duluan, inget jangan lama-lama, entar masuk angin tambah repot," ucap Iren mengingatkan.
"Iya," ucap Filla.
__ADS_1
Iren masuk kedalam kamar membiarkan Filla tetap berada di balkon dengan semua pikirannya.
Filla menatap langit lalu memejamkan matanya, merasakan hembusan angin, membiarkan tubuhnya istirahat sejenak, melupakan semua masalah yang sebenarnya tidak perlu membuatnya kembali terpuruk.
"Akhirnya, ada kamu."
Filla menoleh pada sumber suara, seperti tebakannya Rangga berdiri dibalkon kamarnya, "Maksudnya?" tanya Filla.
Rangga tersenyum, "Ya, setelah lama aku cuma sendirian di balkon dan nunggu kamu, akhirnya kamu kembali," ucap Rangga.
Filla mengangguk, "Sama berarti, dulu juga gue nunggu sendiri di balkon cuma buat berharap lo akan buka pintu itu," ucap Filla menunjuk pintu kamar yang menghubungkan balkon dan kamar Rangga.
Rangga tersenyum, "Kayaknya gue kena karma," ucap Rangga.
Filla ikut tersenyum, "Makasih bikin gue tersenyum," ucap Filla tanpa menoleh.
Rangga dengan cepat menoleh, ia tahu Filla punya masalah yang membuatnya murung sejak tadi, "Masalah apa?" tanya Rangga to the point.
Filla menghela napas, "Nggak tahu, rasanya nggak ada hari tanpa masalah di hidup gue," ucap Filla.
"Hidup emang nggak selamanya lurus," ucap Rangga. "Tapi kita punya hak buat milih menikmatinya atau berusaha menyelesaikan masalah itu," ucap Rangga sambil menyodorkan coklat kesukaan Filla.
Filla menoleh pada coklat yang Rangga sodorkan.
"Jangan ditolak, aku yakin kamu butuh ini," ucap Rangga.
Tanpa berpikir panjang Filla mengambilnya, "Makasih," ucap Filla.
Rangga tersenyum, "Lebih baik kamu istirahat, nanti masuk angin, tapi kalau masih mau disini," Rangga melempar jaketnya membuat Filla menangkapnya dengan refleks. "Pake itu, aku masuk duluan," ucap Rangga yang langsung meninggalkan Filla.
Filla masih berdiri mematung, lalu menatap jaket Rangga ditangannya, sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman.
Kamu punya cara buat aku kembali tersenyum, tapi aku lupa caranya untuk kembali, batin Filla.
Filla berjalan masuk kedalam kamarnya, Iren sudah terlelap membuat Filla duduk perlahan di kasurnya tidak ingin menganggu tidur Iren.
__ADS_1
Filla menatap jaket dan coklat dari Rangga, lalu tersenyum, Filla membuka laci disebelah tempat tidurnya dan menaruh jaket dan coklat itu disana.
********