
Butuh 5 menit akhirnya papa berani membuka suara, setelah berdebat tatap bersama mama, "Iya, Fanny adik kamu Fill," ucap papa berusaha menenangkan diri.
Filla terisak, mengetahui kebenarannya langsung dari mulut papa membuatnya tak bisa berucap.
"Fanny berumur 5 tahun waktu itu, kalian selalu berdua kemanapun, kamu sayang sama Fanny lebih dari apapun, kamu harus inget itu," ucap papa.
Filla mengadah wajahnya menahan airmata yang membuat pandangannya buram.
"Hari itu semua salah Papa, Papa telat jemput kalian berdua dan kalian ...," papa mengatur napasnya. "Kalian berjalan keluar dari gerbang sekolah dan Fanny berlari kejalanan tanpa diketahui siapapun," ucap papa berusaha kuat menahan tangisnya.
Mengingat Fanny setelah menguburnya lama dalam ingatan menciptakan beberapa luka yang bahkan belum sembuh kembali terasa ternganga.
"Kecelakaan itu terjadi, kalian berdua ditabrak mobil dan...,"
Papa mengusap bahu Mama yang bergetar karena tangisnya, "Tangan kamu nggak pernah lepas dari Fanny, Papa yakin disaat terakhir Fanny dia nggak kesepian karena kamu," ucap papa yang ikut terisak.
Filla menangkupkan wajahnya, ia tak bisa menahan tangisnya lagi, tubuhnya naik turun karena tangisnya.
Filla berusaha menghapus arimatanya dan menatap nanar pada mama dan papa, "Terus kenapa kalian nggak pernah kasih tahu Filla, kejadian itu udah 14 tahun kalian sembunyiin dari aku," Filla menoleh kekanan menghapus airmatanya.
Filla ingat tangan Fanny yang ia genggam, terasa dingin, ia ingat wajah Fanny yang begitu pucat terbaring diaspal didepannya, Filla ingat terakhir kali menatap airmata Fanny yang keluar dari sudut matanya.
"Hari itu kalian berdua dibawa kerumah sakit, kamu selamat tapi Fanny yang masih kecil kehilangan banyak darah," ucap mama sambil terisak, mengingat wajah pucat Fanny dihadapannya waktu itu.
"Hal ini jadi teroma besar buat Mama, Papa terlebih buat kamu Fill, kamu merasa bersalah atas semua kejadian, kami berusaha mencari dokter terbaik untuk membuat kamu pulih, sampai akhirnya kamu bangun dan kembali ceria seperti tidak terjadi apapun, kamu menghapus Fanny dalam ingatan kamu, dan kami bersyukur akan itu walau selalu merasa bersalah berusaha melupakan Fanny," ucap mama lalu kembali menghambur kepelukan papa, menumpahkan tangisnya.
Filla menangkup wajahnya dengan kedua tangan, napas Filla terasa sesak, ia memegang dadanya menahan sesak didalam sana.
"Fill, tenang," ucap Vino mengetahui keadaan Filla.
"Ini semua salah aku," ucap Filla dengan isak tangisnya.
Mama menghampiri dan membawa Filla dalam pelukannya, "Bukan salah kamu Kak, nggak ada yang salah," ucap mama sambil mengusap rambut Filla, ia takut Filla akan kembali merasa bersalah seperti 14 tahun silam.
"Andai aku bisa tarik tangan Fanny waktu itu, Fanny pasti masih ada sama kita Ma," Filla menumpahkan tangisnya dipelukan mama.
__ADS_1
"Bukan salah kamu Filla, bahkan Fanny pasti tahu seberapa kamu sayang sama dia, Papa bersyukur saat kami tidak berada disisi Fanny waktu itu, kamu menggantikannya menemani Fanny disaat terakhirnya," ucap papa.
Filla melepas pelukan mama, "Filla mau sendiri," ucap Filla lalu berlari menaiki tangga masuk kedalam kamarnya.
"Filla, Filla," Mama hendak mengejar Filla namun tangan papa menahannya. "Pa, Mama nggak mau terjadi sesuatu sama Filla," ucap mama menatap mata papa dalam.
Papa menarik mama dalam pelukannya, "Filla baik-baik aja, Papa yakin Filla hanya butuh waktu sendiri sekarang, Filla kuat, dia pasti bisa menerima semua ini," ucap papa menenangkan mama.
******
Filla terduduk didepan pintu kamarnya setelah mengunci pintunya, rasa bersalah terus mendominasi pikirannya, wajah Fanny yang kesakitan berputar dalam otaknya.
Filla menarik rambutnya kesal, Ia melupakan Fanny dalam 14 tahun, bahkan demi dirinya Papa dan Mama ikut berusaha melupakan Fanny, ia merasa bersalah yang teramat.
Filla mengangkat wajahnya menatap jendela yang tertutup tirai tapi masih memancarkan bias cahaya matahari sore.
Filla menatap lekat kotak musik yang sepertinya Tita sembunyikan semalam, Filla berjalan menuju mejanya dan meraih kotak musiknya.
Kaki Filla terasa lemas tak mampu menopang berat badannya. Filla terduduk sambil memeluk kotak musik milik Fanny yang selama ini selalu disembunyikan darinya.
"Fanny maafin Kakak, Kakak lupain kamu," Filla memeluk erat kotak musik milik Fanny dan menumpahkan tangisnya, ia seolah memeluk Fanny lewat kotak musik tersebut.
"Kakak jahat sama kamu," Filla menumpahkan tangisnya, Filla memukul kepalanya kesal, 14 tahun ingatannya terkunci dan menjalani hidup dengan baik-baik saja, Filla merasa bersalah atas Fanny.
Perlahan Filla mambuka kotak musik tersebut menatap komedi putar yang dengan indah bergerak sambil mengeluarkan musik pengantar tidur.
Filla menutup mulutnya menahan tangis, "Fanny," ucapnya sambil menyentuh pelan komedi putar yang bergerak pelan.
*******
"Dek, kamu nggak ngampus?" tanya Vino didepan pintu kamar Filla.
Mama dan Papa berdiri dibelakang Vino dengan tatapan khawatir, sejak kemarin Filla belum keluar dari kamarnya, bahkan mereka meminta Vino menghubungi Filla, namun tetap saja Filla mengunci diri didalam kamar tanpa mau melakukan apapun.
"Fill, Kakak masuk paksa kalau kamu masih kekeh buat ngunciin diri," ancam Vino berharap Filla mau membuka pintu kamarnya. Namun tetap sama, Filla tak menggubris.
__ADS_1
"Tante, Paman, Vino boleh pinjem kunci duplikatnya?" tanya Vino yang langsung meraih anggukan mama.
Papa membuka laci didepan kamar Filla, lalu meronggoh kunci didalamnya, papa memberikannya pada Vino.
"Aku akan coba ngomong sama Filla, izinin aku ngomong berdua sama dia," ucap Vino meminta izin.
Papa dan Mama yang berharap pada Vino hanya mengangguk menyetujui, walau rasa khawatir menggerogoti mereka sampai tak tidur sejak kemarin, mereka takut Filla kembali pada rasa bersalahnya sampai berpengaruh pada kesehatannya.
Vino membuka pintu lalu masuk kedalam kamar Filla setelah menutup pintu, "Dek," panggil Vino, namun tetap tak ada jawaban dari Filla.
Vino menatap pintu balkon yang terbuka dengan tirai yang bergerak diterpa angin, Vino berjalan menuju balkon, yakin Filla berada disana, benar saja Filla melamun menatap langit, terlihat jelas banyak yang Filla pikirkan melihat mata sembabnya.
"Fill," panggil Vino sambil memegang bahu Filla.
Filla berbalik dengan wajah menahan tangisnya.
Vino langsung membawa Filla kedalam pelukannya, "Kamu boleh nangis, tapi janji setelah ini jangan pernah nangis lagi," ucap Vino sabil mengelus puncak kepala Filla yang sekarang terisak dalam pelukannya.
"Aku merasa bersalah Kak," ucap Filla dengan airmata yang membasahi wajahnya, entah berapa banyak airmata yang sudah ia keluarkan sejak kemarin, bahkan matanya terlihat lelah.
"Bukan salah kamu Dek, Ajal, maut itu ditangan Allah, berarti Allah sayang sama Fanny makanya Fanny pergi lebih dulu dari kita, Fanny juga pasti bangga punya Kakak kayak kamu," ucap Vino menenangkan.
Filla masih terisak dalam pelukan Vino.
Vino melepas pelukannya dari Filla lalu memegang kedua bahu Filla, "Lihat Kakak."
Filla mengangkat wajahnya menatap Vino.
Vino menghembuskan napasnya, ada rasa sakit yang juga ia rasakan melihat Filla begitu rapuh, "Dengan kamu terus merasa berasalah, Fanny juga akan terbebani Fill, ikhlasin dia, berusaha hidup lebih baik biar dia tetep bangga punya kakak kayak kamu," ucap Vino memberi kekuatan pada Filla dengan ucapan dan tatapan seriusnya.
Filla mengangguk, ia menghapus airmatanya, benar kata Vino, Fanny akan terbebani dengan rasa bersalahnya.
Vino mengusap puncak kepala Filla lalu tersenyum, "Kamu Kaka yang hebat," ucap Vino tulus.
Filla menghambur kedalam pelukan Vino yang terasa menenangkan, dada bidang Vino adalah tempat ternyaman menumpahkan perasaannya, ucapan Vino membuatnya merasa lebih baik sekarang.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari sejak tadi Rangga memperhatikan mereka dari rumahnya, sepersekian detik ia melempar spons cuci motornya kasar lalau masuk kedalam rumah.
******