
"Kakak hati-hati, kabarin aku kalau sudah sampai Singapura," ucap Filla.
Vino mengangguk sambil tersenyum, "Iya sayang, pasti, Kamu beneran nggak apa-apa pulang sendiri nanti?" tanya Vino.
Vino memang akan melakukan perjalanan bisnis ke Singapura, Filla sudah mengetahui sejak satu minggu yang lalu, Vino akan menghabiskan satu minggu disana.
"Aman Kak, harusnya Kakak langsung ke Bandara, nggak perlu nganter aku kayak sekarang," ucap Filla.
Vino mendekat lalu mencium puncak kepala Filla, "Harus dong, Kakak bakalan pergi lama, jangan kangen ya," ucap Vino sengaja menggoda Filla.
Filla tersenyum, "Kakak yang hati-hati kangen sama aku," ucap Filla.
"Itu mah udah pasti," ucap Vino sambil tersenyum.
"Udah sana, entar ketinggalan pesawat," ucap Filla sambil mendorong Vino masuk kedalam mobil.
"Pulang jangan kemaleman, hubungi Mama," ucap Vino.
"Iya bawel," ucap Filla sambil menutup pintu mobil Vino.
Vino malah menurunkan kaca jendela, "Kakak pergi ya," ucap Vino yang meraih anggukan Filla.
Mobil Vino melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan, Filla berjalan masuk kedalam restoran tempatnya janjian dengan Reya.
Filla masuk kedalam restoran dengan gaya minimalis, dirinya memilih meja kosong di bagian kanan ruangan.
Beberapa menit berlalu, lemon tea yang ia pesan sudah tersaji diatas meja. Filla memainkan sedotan sambil menunggu kedatangan Reya.
"Fill, sorry gue telat, gue tadi ngurusin semua persyaratan sebelum wisuda," ucap Reya yang langsung duduk dihadapan Filla.
"Makanya, jangan mepet ngurusin nya."
"Baru sempet, gue mah mumet Fill, banyak banget yang perlu dilengkapi, tapi udah, mari kita makan dan lupakan urusan kampus," ucap Reya sambil menggeleng jika mengenang berapa banyak pekerjaan yang ia kerjakan hari ini.
"Lo ada rencana liburan sambil nunggu panggilan widuda?" tanya Filla sambil membuka buku menu.
"Ada, paling liburan bareng keluarga aja sih, males juga jalan-jalan jauh."
Filla mengangguk, "Mbak," panggil Filla pada salah satu pelayan restoran.
"Ya Mbak silahkan," ucap pelayan tersebut dengan ramah.
"Steak satu," ucap Filla sambil menunjuk gambar di buku menu. "Lo apa Rey," tanya Filla sambil membalik lagi buku menu ditangannya.
"Gue samain aja," ucap Reya yang diangguki oleh Filla.
"Jadi 2 ya mbak, saya juga pengen somaynya juga mbak satu porsi aja," ucap Filla yang meraih anggukan dari pelayan tersebut, setelahnya kembali kebelakang.
__ADS_1
"Kalau lo, liburan?" tanya Reya.
"Iya, biasa kumpul-kumpul sama keluarga bunda juga," ucap Filla.
"Hati-hati cinlok loh sama Rangga, mana Kak Vino lagi nggak ada lagi," ledek Reya sambil menyenggol bahu Filla.
"Apaan dah?" ucap Filla dengan wajah malas.
"Liburan dimana?" tanya Reya.
"Bangka Belitung, sahabat mama dan papa yang udah kayak keluarga, banyak yang stay disana."
Reya mengangguk, "Gue juga pengen banget ke sana, pantainya itu loh," ucap Reya.
"Gue juga baru pertama kali," ucap Filla.
"Permisi Mbak," ucap pelayan yang mengantar makanan Filla dan Reya. Dengan hati-hati diletakkannya di atas meja.
"Makasih Mbak," ucap Filla sambil tersenyum diikuti Reya
"Selamat menikmati," ucap pelayan tersebut, setelahnya meninggalkan Reya dan Filla.
"Emang kapan berangkatnya?" tanya Reya sambil memotong daging steak miliknya.
"Minggu ini, cuma kayaknya gue nyusul, soalnya kan kita masih ada dokumen yang perlu dilengkapi, untuk bagian terakhir."
Filla meletakkan gelasnya diatas meja, "Di sana langsung dijemput gue, santai."
Reya mengangguk, "Oiya, Kak Vino berapa lama di Singapura?"
Filla menyampirkan rambutnya kebelakang telinga, "Satu minggu," jawab Filla seadanya karena sedang mengunyah steak miliknya.
"Gue mau nanya deh Fill, tapi jangan marah," ucap Reya sambil membenarkan posisi duduk menghadap Filla.
Filla mengangguk, "Serius amat."
"Lo beneran suka sama Kak Vino?" tanya Reya hati-hati.
Filla menatap Reya, "Iyalah suka, nggak mungkin gue pacaran sama Kak Vino tapi nggak suka sama dia."
"Bukan suka sebagai kakak-adik Fill, tapi sebagai pasangan," ucap Reya sambil memotong steak-nya.
Filla terdiam sejenak, pertanyaan Reya sedikit membekas pada hatinya, "Suka," ucap Filla singkat.
"Gue cuma mau ingetin, jalanin yang lo mau, lo sutradara untuk hidup lo sendiri Fill."
Filla mengangguk, "Makasih Rey, selalu ada."
__ADS_1
*******
"Berangkat bareng Rangga?" tanya Filla pada kedua orang tuanya yang sekarang malah mengangguk yakin.
"Nggak ada pilihan lain Fill, para orangtua berangkat dulu, kamu nyusul sama Rangga, lagian kalian bisa ngurus keperluan kampus sama-sama," ucap mama.
"Emang nggak bisa aku berangkat sendiri aja?" tanya Filla hati-hati.
"Nggaklah, walaupun Papa nggak terlalu suka sama Rangga, Papa lebih tenang kamu berangkat sama dia daripada sendiri," ucap Papa Filla.
Belum sempat pergi pun, Filla sudah membayangkan bagaimana hidupnya bersama dengan Rangga nantinya.
"Mau ya?" tanya mama dengan wajah memelas.
Filla akhirnya mengangguk, ia hanya perlu menguatkan diri untuk tidak jatuh pada perasaan lamanya lagi.
Setelah mengobrol banyak dengan mama dan papa, Filla berjalan masuk kedalam kamar lalu menutup pintunya, Filla menguap saat dirinya menghempaskan diri diatas kasur.
Filla meraih ponsel yang ada dimeja samping kasurnya, sudah dua hari Vino belum mengabari Filla, bahkan chat yang Filla kirim belum juga dibaca oleh Vino.
Ada rasa khawatir yang hinggap, karena Vino tidak biasanya seperti itu, dirinya tidak pernah mengabaikan pesan dari Filla.
Sekali lagi Filla mengetikkan sapaan pada Vino lalu mengirimnya, bagaimanapun dirinya harus memberitahu Vino kalau dirinya berangkat dengan Rangga, namun sepertinya ia masih akan menegak kekecewaan.
"Mungkin Kak Vino sibuk," ucap Filla menenangkan pikirannya.
Merasa tidak puas menghubungi Vino dengan chat, Filla akhirnya menelpon Vino, namun ponsel Vino dimatikan, "Fiks dia sibuk, nanti juga ngehubungin," ucap Filla sambil meletakkan kembali ponselnya diatas meja.
Filla memejamkan matanya mencoba tidur.
*******
Dua hari yang lalu para orangtua sudah berangkat ke Bangka Belitung, kali ini bunda dan ayah seperti pasangan anak muda, tanpa membawa para adik-adik panti yang sudah memiliki beberapa pengurus.
Ayah dan bunda memang memutuskan untuk memperkerjakan beberapa karyawan, karena anak-anak panti yang cukup ramai membuat bunda sedikit kewalahan.
Begini Filla sekarang, duduk didalam mobil disebelah Rangga dengan pak Diman sebagai sopir pribadi papa akan mengantar mereka sampai di Bandara. Sejak mereka berangkat banyak keheningan yang tercipta, hanya mengobrol seperlunya.
Tanpa menunggu waktu lama,.mereka sampai di Bandara dan akhirnya tinggal berdua setelah pak Diman pamit pulang.
Filla berniat mengangkat kopernya dan menaiki beberapa anak tangga.
"Sini biar gue aja," ucap Rangga yang langsung mengangkat koper Filla dan tentu juga koper miliknya.
"Makasih," ucap Filla.
Seperti sebelum-sebelumnya, Rangga tetap Rangga, pria dingin yang hemat bicara.
__ADS_1
*******