
Arloji dipergelangan tangan Filla menunjukkan pukul lima sore, seperti janji Rangga, tanpa terlambat sudah memarkirkan mobilnya didepan butik untuk menjemput Filla.
Mereka sekarang sudah setengah perjalanan, seperti biasa mereka akan selalu bertukar cerita selama perjalanan pulang, hubungan Filla dan Rangga perlahan menghangat entah dimulai sejak kapan, namun semua berjalan begitu saja.
Rangga sambil menyetir menyampirkan rambut Filla sedangkan Filla fokus menatap layar ponselnya, memeriksa beberapa pesanan desain baju, "Sibuk banget?" tanya Rangga membuat Filla mengangguk tanpa menoleh.
"Iren udah kasih tahu kamu sama Sam kan tentang mbak Karin yang mau pake jasa foto preewed dikantor kamu?"
Rangga berpikir sejenak, "Udah, kemaren Sam udah ngomong."
Filla mengangguk, masih fokus dengan layar ponselnya.
"Kamu jangan kerja terus, ntar sakit, istirahat bentar nggak akan bikin kerjaan nggak selesai tepat waktu," ucap Rangga mengingatkan.
Filla memasukkan ponselnya kembali kedalam tas, lalu mengangguk, dirinya memang tipe orang yang gemas dengan pekerjaan, jika belum selesai akan selalu kepikiran, berbeda dengan Rangga yang selalu bisa mengatur waktunya.
"Pinter," Rangga mengusap rambut Filla berulang.
Mobil yang Rangga kendarai masuk melewati pagar rumah, seperti biasa pak Andre yang merupakan satpam baru dirumah mereka menyambut kedatangan mereka dengan senyuman.
"Bukannya itu Mama sama Papa?" tanya Rangga membuat Filla mengangkat wajahnya.
Filla mengerutkan kening heran, "Kok nggak bilang ya Mama sama Papa dateng?"
Rangga mengangkat kedua bahu berbarengan, "Aku juga nggak dikasih kabar," Rangga memarkirkan mobil di garasi rumah.
"Mama, Papa?" Filla langsung mencium punggung tangan papa dan mama bergantian, diikuti oleh Rangga dibelakangnya.
"Pas banget kalian datang," ucap Mama yang langsung memeluk Filla sedangkan Papa dan Rangga juga melakukan hal yang sama.
"Kok kalian nggak ngasih tahu bakalan dateng?" tanya Filla.
"Iya Ma, Pa, kan kita bisa jemput."
"Kami berdua cuma mampir Nak, Papa sama Mama ada kerjaan disini, jadi sekalian cek keadaan kalian," ucap papa menjelaskan.
Rangga mengangguk, "Masuk dulu Pa, Ma, lanjut ngobrol didalam."
"Akak," Tita dengan mata yang masih memerah sepertinya baru saja bangun dari tidurnya mendekati Filla.
"Iya sayang, ya ampun ngantuk ya?" Filla langsung mengandeng Tita masuk kedalam rumah mengikuti Rangga yang sudah memandu papa dan mama duduk diruang tamu.
__ADS_1
"Duduk sini dulu ya," ucap Filla sambil mengusap puncak kepala Tita yang mengangguk. "Filla buatin minum dulu Ma, Pa," Filla beranjak dari duduknya setelah diangguki mama dan papa.
"Rumah kalian bagus Ngga, nyaman," ucap mama sambil mengedarkan pandangan melihat setiap sudut rumah.
Rangga tersenyum, "Alhamdulillah Ma."
Papa memegang bahu Rangga, "Gimana kerjaanmu?" tanya papa.
"Alhamdulillah lancar Pa, sekarang Rangga sama Filla juga kerjasama."
Papa mengangguk, "Kamu memang hebat, Nggak salah Papa milih mantu, kan enak buat dipamerin ke temen-temen Papa," ucap papa lalu tertawa membuat Rangga ikut tertawa.
"Nih minum dulu, kalian mah curang dateng nggak ngasih tahu, aku kan nggak siapin apa-apa kalau gini," ucap Filla sambil meletakkan gelas berisi teh diatas meja, lalu duduk disebelah mama.
"Kita cuma mampir buat ganggu kalian bentar," ucap Mama.
"Bohong Akak, Mama tuh kangen sama Akak dan Abang," ucap Tita yang masih setengah sadar membuat yang lain tertawa.
Filla mencubit pelan pipi Tita, "Ini nih makin hari makin gembul," benar saja, beberapa bulan Filla tak melihat Tita, Filla dapat melihat seberapa banyak Tita berubah, terutama dibagian pipi yang semakin cubby.
"Akak," tegur Tita geram.
"Tita mah gitu, nggak bisa jaga rahasia," ucap mama ikut mencubit pipi Tita.
Rangga dan papa ikut tertawa melihat tingkah Tita yang menggemaskan dan pintar semakin hari.
"Kalian nginep sini kan?" tanya Rangga.
"Kami udah sewa hotel Ngga, nggak mau ganggu kalian, besok juga balik ke Bandung, emang cuma bentar disini."
"Yah Mama, apa salahnya nginep sini, Filla kan kangen, lagian ngapain nyewa hotel segala."
"Iya Ma, Pa, Tita juga kangen sama Akak dan Abang," Tita memasang wajah memelasnya berharap mama dan papa akan menyetujui keinginannya.
Papa menghela napas, "Nggak ganggu kalian?" tanya papa.
"Nggak lah Pa, kita punya dua kamar kosong kok, nginep sini aja, kasian juga Filla masih kangen sama kalian."
Papa akhirnya mengangguk, "Yasudah kalau gitu."
Tita yang tadi lesu kembali antusias, dirinya malah berdiri dan melompat kegirangan, "Nonton film korea bareng ya Akak," ucap Tita semangat.
__ADS_1
Filla mengerutkan kening, "Film korea? Kamu nonton itu?" tanya Filla.
Tita menggeleng, "Belum sih Akak, Tita emang nunggu nonton sama Akak, Gabriel juga nonton sama kakaknya," Tita membicarakan Gabriel teman sebangkunya disekolah.
"Gabriel?" tanya Filla seolah minta jawaban.
"Itu Kak, temen sebangkunya Tita disekolah," ucap mama menambahi.
Filla mengangguk, "Ta, film korea itu bukan tontonan buat anak-anak, harusnya kamu nonton kartun."
"Akak mah jadul, kartun itu sangat kekanakan," ucap Tita sambil melipat tangannya didepan dada.
Rangga tertawa melihat tingkah Tita dan ekspresi yang ditampilkan Filla frustasi menyikapi ucapan adiknya sendiri.
"Tita makin hari nggak dengerin Akak, kan jadi sedih," ucap Filla pura-pura merajuk.
Tita menghela napas, "Iya deh," Tita memeluk Filla membuat mama dan papa tertawa.
"Denger tuh Dek, Mama kan udah bilang nggak boleh nonton film korea, kamunya ngeyel," ledek mama membuat Tita mempautkan bibir.
Mereka mengobrol banyak hal, seperti biasa jika sudah bertemu, obrolan antara papa dan Rangga hanya akan seputar pekerjaan.
Sedangkan Filla, mama dan Tita akan membahas banyak hal, mulai dari sekolah Tita sampai kejahilan teman-teman Tita disekolah, semuanya tentu saja akan seputar Tita jika masih ada Tita didalam obrolan itu.
**********
Setelah berbincang banyak dengan papa dan mama, akhirnya Filla dan Rangga kembali kekamar sejak satu jam yang lalu.
Filla merancang busana sambil menyender di senderan kasur, dirinya hanya membuat sketsa sederhana jika mendapatkan ide mendadak, setidaknya menuangkan idenya agar tidak lupa.
Filla menutup bukunya lalu melihat Jam yang menempel didinding dalam kamar lalu menatap pintu yang menghubungkan kamar dengan ruang kerja Rangga, belum ada tanda-tanda Rangga akan kembali kekamar setelah mengatakan ingin menyelesaikan sedikit pekerjaannya sejak satu jam yang lalu.
Diletakkannya buku didalam laci lalu beranjak dari atas kasur, Filla membuka pintu dan mendapati Rangga terlelap dengan wajah diatas meja.
Filla mendekat lalu menunduk melihat wajah Rangga, tangannya mengusap rambut Rangga pelan, berusaha tidak membangunkan Rangga, Filla masih saja terpanah dengan ketampanan Rangga, tidak membuatnya berubah pikiran sedikitpun tentang Rangga walau sudah berusaha melupakan Rangga hampir tiga tahun lamanya.
Sudut bibir Filla tertarik membentuk senyuman, memandang wajah Rangga yang terlelap masih membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
"Sampai kapan terpesona sama wajah suami sendiri?" ucap Rangga dengan mata terpejam membuat Filla terbelalak.
Rangga membuka matanya lalu tersenyum menatap wajah Filla yang terkejut karena ulahnya.
__ADS_1
*******