
"Kak Illa," teriak gadis kecil berumur 5 tahun berlari dari belakang Rangga sambil berteriak memanggil nama Filla.
Filla refleks menatap gadis kecil itu dan kaget dengan reaksi anak itu yang memanggilnya, ya dia Tita, gadis kecil yang dulu sangat sering ia ajak bermain, kenapa gadis kecil itu kenal dengannya.
Tita berlari menuruni anak tangga dan berakhir memeluk erat Filla, "Kak Illa, temana ja? Kan Tita angen," ucapnya sambil menatap Filla dan kembali memeluknya.
Filla membalas pelukan Tita erat, semua orang menatap heran, bagaimana bisa seorang Tita yang bahkan tidak pernah melihat Filla atau kenal dengan Filla sebelumnya bisa memeluk Filla sekuat itu, termasuk mama dan papa juga tertegun dengan kejadian itu.
"Tita kenal sama kakak?" tanya Filla saat melepas pelukan Tita dan menatap mata yang yang sangat indah.
"Kenal, kak Illa, kakaknya Tita," jawab Tita polos.
"Tita," ucap Filla kembali memeluk Tita, ini memang aneh, tapi setidaknya ada satu orang yang mengenalnya, gadis kecil ini mengenalnya, entah seperti apa dan bagaimana formulanya, intinya Tita mengenalnya, setidaknya ia tidak gila dengan kenangan ini.
Bunda mendekati Tita, "Kok bisa kenal kak Filla, Tita kan nggak pernah ketemu sama kak Filla?" tanya bunda yang sejak tadi bingung dibuatnya. "Dan Filla juga kenal Tita?" tanya bunda.
Filla menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Oh iya Bun, aku pernah ketemu sama Tita, waktu aku jalan-jalan ke Bandung, aku pernah nggak sengaja lewat sini dan ketemu Tita," jelas Filla, entah dari mana ia sepasih itu merangkai kata, membuat alasan yang bahkan langsung muncul diotaknya.
"Oh sangka Bunda gimana-gimana, aneh gitu," celetuk bunda.
Rangga yang sejak tadi juga mematung menyaksikan Tita dan Filla beranjak duduk disebelah ayahnya, ia sedikit bingung, terlihat jelas Filla mengarang semua kisah menurutnya, apa yang sebenarnya gadis itu sembunyikan pikirnya.
Lama Filla menghabiskan waktu dipanti asuhan, berkenalan lagi dengan adik-adik panti yang sebenarnya sangat ia kenal, semua sama, Anton dengan gaya joroknya, Rafi dengan sikap Coll dan menawan seperti biasanya.
Untung Filla mengenal karakter mereka jadi gampang untuk mendekatkan diri kembali kepada mereka. Setidaknya ada Tita yang ingat semua tentangnya, Filla kaget setelah tahu Tita memiliki memori sama dengannya, memori yang ia pikir hanya miliknya, ternyata ada pada otak gadis kecil ini, Filla hanya berharap satu, andai Rangga juga ingat, mungkin kebahagiaannya akan sangat lengkap.
******
"Hai Ngga," sapa Filla dengan senyumannya. Ia sejak tadi sudah memperhatikan Rangga yang mencuci motor barunya dari balkon kamar, dan akhirnya ia memberanikan diri untuk turun dan menyapa Rangga. "Rajin amat, nyuciin motor baru," celetuk Filla sambil mengalihkan perhatian Rangga yang seperti tak menganggap kehadirannya.
Rangga melempar lapnya keatas motor, "Jangan sok kenal, berhenti deketin gue, karena gue nggak akan pernah maafin lo!" bentak Rangga tepat diwajah Filla.
__ADS_1
Filla menghembuskan napasnya, terdengar menyakitkan, tapi ia berusaha menahannya dan kembali tersenyum seperti tak ada apa-apa.
"Panik amat pagi-pagi, santai dong Ngga, entar cepet tua loh, sini aku bantuin," ucap Filla sambil mengambil lap yang Rangga lempar dan membersihkan motor Rangga.
"Lo nggak tahu malu banget sih, jadi cewek kok doyan deketin cowok, lo jangan karena merasa bersalah deketin gue, anggep aja kita nggak pernah kenal, lagian ngapain sih lo sama keluarga lo pindah kesini? Bikin muak gue liat muka lo tiap hari."
Filla melempar senyum pada Rangga, seperti telinganya sudah kebal dengan celotehan Rangga, "Sabar Ngga, hati-hati tiap hari liat mukaku loh, entar jadi suka," ledek Filla.
Rangga geram dibuatnya, "Pergi, gue beneran muak liat muka lo, dasar kepedean!" bentak Rangga, terlihat jelas ia kesal dengan ucapan Filla.
"Yaudah kalau nggak mau dibantu, oiya Ngga siang ini kamu daftar Universitas kan? Aku ikutan ya, mau daftar juga, nebeng boleh dong?" ucap Filla tak peduli dengan tatapan kesal Rangga padanya.
"Nggak ada acara nebeng-nebengan nggak sudi gue boncengin lo, entar rusak lagi motor gue, lo kan bawa sial," ucap Rangga pedas.
"Lihat aja, aku jamin bisa nebeng sama kamu," ucap Filla lalu meleletkan lidahnya pada Rangga dan berlalu dengan iringan umpatan Rangga padanya. ia hanya bisa tersenyum walau sedikit hatinya tergores dengan perkataan kejam Rangga. Kamu berubah, tapi aku yakin kamu masih Rangga yang aku kenal, ucapnya dalam hati.
******
Jika nanti semua berakhir begitu saja, setidaknya aku sudah berusaha bertahan.
~~
Filla dari tadi duduk dikursi teras depan Panti, sejak tadi ia sibuk melihat arloji dipergelangan tangannya, menimbang-nimbang kapan Rangga akan keluar dari dalam rumah, sejak tadi bunda sudah bolak balik memanggil Rangga karena masih betah dalam kamarnya.
"Kenapa lo disini?" Suara familiar itu berhasil membuat Filla menoleh cepat.
Filla seperti biasa masih dengan senyuman manisnya menatap Rangga, "Kan mau berangkat bareng," ucapnya tanpa ragu.
Rangga hanya tersenyum sinis menatap Filla yang menurutnya tak tahu malu.
"Udah siap Ngga? Itu Filla udah nungguin dari tadi," ucap bunda yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
"Aku nggak ngerasa ada janji buat bareng Bun," jawab Rangga masih dengan wajah dinginnya.
Bunda menepuk bahu Rangga, "Pergi Ngga, Filla udah nunggu dari tadi," ucap bunda tegas tanpa mau ditolak.
Filla hanya tersenyum, ya dia tahu kalau bunda sudah tegas Rangga tidak akan berani menolak, seperti dulu, beruntung Filla tahu jelas semua ini, jadi bisa dijadikan batu loncatan untuk mendiamkan Rangga.
"Cepetan kalau mau nebeng," ucap Rangga sebal.
Senyum Filla tambah mengembang, "Makasih Bun," ucap Filla yang meraih dua jempol dari bunda.
Rangga dengan langkah cepat meninggalkan Filla dibelakangnya, "Awas aja lo!" ucapnya pelan tepat ditelinga Filla.
Filla menaikkan bahu tanda tak peduli.
Rangga sengaja mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, berharap Filla akan histeris dan kapok diboncengi olehnya, tapi lihat sekarang Filla malah berteriak kegirangan dan menyuruh Rangga menambah kecepatannya, bukan histeris seperti dalam bayangan Rangga.
"Asik, akhirnya nyampe," celetuk Filla saat motor Rangga terparkir diparkiran kampus. "Keren Ngga, tingkatkan lagi," ucap Filla sambil menepuk bahu Rangga.
Rangga menjauhkan tubunya dari Filla, "Dasar cewek aneh, dimana-mana cewek tu takut kalau dibawa naik motor kayak tadi, bukan malah kegirangan," ucap Rangga sambil melepas helem yang ia kenakan.
Filla juga melepas helemnya, "Makanya, aku kan beda," celetuk Filla lalu memberikan helemnya pada Rangga.
"Apaan ni? Lo pulang sendiri, jadi bawa helem lo sendiri, jangan titip sama gue," icap Rangga lalu berjalan menjauh.
Filla dengan cepat menaruh helemnya diatas motor Rangga dan mengejarnya cepat, "Yaelah Ngga, nebeng boleh kali, kan aku nggak tahu daerah sini," bujuk Filla.
Rangga tak menggubrisnya sama sekali, malah ia menambah kecepatan langkahnya berharap Filla lelah mengejarnya dan berhenti, tapi Filla tetap saja Filla, mengikutinya sampai mereka sampai ditempat pendaftaran.
******
“
__ADS_1