Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 94


__ADS_3

Malam terasa lebih dingin dari biasanya, Filla mengambil jaketnya lalu keluar dari kamar menuju ruang keluarga dimana yang lain sudah berkumpul disana.


"Ma, pergi sekarang?" tanya Filla sambil mendudukan diri disebelah mama yang memangku kepala Tita di pahanya.


Tita langsung mendudukan diri dengan antusias, "Pergi sekalang aja," ucap Tita sambil menatap penuh harap pada Filla.


Filla tertawa sambil mengusap puncak kepala Tita.


Malam ini mereka akan merayakan ulang tahun Rafi, memang sudah menjadi kebiasaan, ayah dan bunda akan merayakan ulangtahun setiap anggota keluarga di panti.


"Kamu sakit Kak?" tanya mama sambil memegang dahi Filla. "Tapi nggak panas, kenapa pucet?"


Filla tersenyum menenangkan, "Nggak Ma, hari pertama dapet, jadinya agak sakit," ucap Filla menjelaskan.


Mama mengangguk paham, "Kamu bisa? Kalau lemes nggak apa-apa istirahat."


Filla mengangguk.


"Yaudah kalau ngerasa lemes pulang aja ya Kakak," pinta mama yang meraih anggukan Filla. "Yaudah yuk berangkat, Bunda udah chatin Mama dari tadi, nggak sabaran dia, padahal baru tadi sore Mama nolongin masak kesana."


Filla tersenyum, "Yaudah yuk," ajak Filla.


Mereka berjalan keluar dari rumah menuju rumah bunda yang berada tepat disebelah, tidak butuh banyak tenaga untuk kesana tentunya.


"Assalamualaikum," ucap papa sambil melepas sandalnya diikuti yang lain.


"Waalaikumsalam," jawab bunda dan ayah berbarengan.


Filla menyalami mereka berdua, ia sempat melirik kearah ruang keluarga, dimana Rangga dan adik-adik yang lain ikut duduk disana.


"Ngga, ada Filla ni," ucap ayah memanggil Rangga.


Rangga berjalan mendekat, menyalami papa dan mama. Lalu kembali menuju ruang keluarga tanpa menyapa Filla, Filla sudah biasa akan hal itu, sudah menjadi rahasia umum jika sikap Rangga selalu membuatnya sesak.


"Kita langsung ketaman belakang aja ya," bunda membawa beberapa peralatan BBQ, berjalan kearah belakang diikuti mama dan yang lain.


Filla memegang perutnya, ia memang tipe orang yang berubah lemah saat datang bulan, bahkan kadang Filla bisa demam sampai 3 hari lamanya.


"Kenapa Kak," tanya Fida yang menyadari wajah pucat Filla.


Filla tersenyum, "Biasa Dek, lagi dapet," jawab Filla.


Fida mengangguk, "Didepan ada Kak Kania, aku kurang suka sebenernya," ucap Fida sambil menunduk.


Filla terdiam, ia sempat dengar dari mama jika acara kali ini hanya akan mengundang sesama keluarga, keberadaan Kania membuat Filla memikirkan banyak hal. Biasanya bunda akan mengajak teman-teman Filla, tapi kali ini bunda tidak mengajak siapun, namun kehadiran Kania terasa menyesakkan.

__ADS_1


"Kak, kok diem?" tanya Fida sambil menatap Filla mencari jawaban.


Filla menggeleng lalu tersenyum, "Nggak, Kakak cuma aneh aja, bukannya acara ini nggak ngajak orang luar? Katanya cuma kuta-kita," tanya Filla akhirnya.


"Kak Kania kan pacar Bang Rangga, pasti diundang," ucap Fida.


"Fida kenapa murung?" tanya Filla, sedikit bingung ketika Fida menceritakan Kania, ia akan menampilkan wajah murungnya.


"Nggak suka aja," ucap Fida.


Filla memegang bahu Fida membuat Fida menghadap padanya, "Dek, Kamu nggak boleh kayak gitu, kita harus selalu baik sama orang walaupun kita nggak suka, dan lagi, nggak perlu murung kalau kita nggak suka sama orang itu, balas pakai senyuman aja, lebih nyaman rasanya," saran Filla sambil tersenyum.


Fida mengangguk tanpa membantah.


"Filla," sapa Kania yang berjalan mendekat kearah Filla.


Filla tersenyum, "Iya Kania," jawab Filla seadanya.


"Yaudah, aku ke bunda dulu," ucap Kania diikuti Rangga dibelakangnya.


Filla menatap punggung Kania dan Rangga, mereka bejalan mendekati bunda dan mama yang sibuk menyiapkan pesta BBQ.


Filla sempat melihat bagaimana bunda senang saat mendapati Kania, dan lagi rasa sesak yang membuat Fila muak hadir lagi, melihat bunda yang lebih akrab dengan Kania membuat Filla menyalahkan dirinya sendiri.


"Kak sini," panggil bunda pada Filla sambil melambaikan tangan.


"Rangga jangan pacaran aja, bantu Bunda nih," celetuk bunda sambil menyerahkan nampan berisi paprika yang harus dipotong-potong.


Filla duduk disebelah Mama, membantu Mama menusuk daging untuk dijadikan sate.


Rangga mengikuti perintah bunda, memotong beberapa paprika.


"Kak, Rangga dikampus gimana?" tanya bunda tiba-tiba sambil menatap Filla.


Filla mendonggak, sedikit membulatkan mata mendengar pertanyaan bunda, "Biasa aja Bun, rajin juga," jawab Filla sekenanya.


"Pinter kok Bun, dan lagi Rangga selalu jadi yang terbaik didalam kelas, banyak yang bilang," ucap Kania menambahi. "Mungkin Filla kurang tahu karena nggak selalu sekelas sama Rangga, aku aja tahu walau nggak selalu sama Rangga," tambah Kania sambil tersenyum.


Entahlah menurut Filla rasanya Kania menjatuhkan jawabannya. Tapi Filla memilih ikut tersenyum dan mengangguk.


"Kania juga pinter, Rain jadi anak pinter disekolah karena didikan Kania," ucap Rangga sambil tersenyum.


Sepersekian detik mereka saling tatap menyalurkan perasaan.


Dan Filla, ditempatkan didepan mereka berdua rasanya ingin segera menjauh, "Ma Filla pulang ya," ucap Filla setengah berbisik.

__ADS_1


Sekarang bukan cuma perutnya yang sakit tapi hatinya juga, rasanya ia ingin cepat pergi dari tempat ini.


"Kenapa? Perutnya makin sakit?" tanya mama khawatir.


Filla mengangguk, "Filla mau minum obat dulu, nanti kalau agak mendingan balik lagi," ucap Filla menyakinkan.


Mama mengangguk, "Mama ikut pulang juga kalau gitu," ucap Mama hendak bangun dari duduknya.


Filla menahan, "Nggak Ma, Mama disini aja, Filla sendiri bisa kok," ucap Filla.


Mama akhirnya mengangguk walau terlihat masih khawatir, karena mama tahu pasti bagaimana Filla jika sedang datang bulan.


Filla berjalan mendekati bunda yang sudah berkumpul bersama ayah dan papa yang sibuk menyiapkan panggangan.


"Bun, Filla pulang ya, Filla mau minum obat," ucap Filla.


Bunda langsung melepas nampan ditangannya, "Kenapa Kak? Sakit?" tanya bunda khawatir.


Filla tersenyum, "Biasa Bun hari pertama dapet," ucap Filla.


Bunda mengangguk, "Yaudah, pulang aja Kak istirahat."


Filla mengangguk, "Rafi mana ya Bun, Filla belum ketemu dari tadi," tanya Filla sambil melihat sekeliling.


"Rafi didepan Kak, tadi ada temennya."


"Oh yaudah, sekalian kedepan, Filla pulang ya Bun," Filla meyalami bunda, lalu berjalan setelah meraih anggukan kepala dari bunda.


Baju Filla basah karena air dalam gelas Kania tiba-tiba tersiram kearahnya, "Aw," ucap Filla saat merasakan dingin karena air es yang dibawa Kania memenuhi bajunya.


"Maaf Fill nggak sengaja," ucap Kania sambil berusaha membantu Filla membersihkan tangannya dengan sapu tangan yang ia ronggoh dalam tas.


Filla tanpa berkata, berjalan meninggalkan Kania. Filla berlari keluar dari rumah Rangga sampai badannya menubruk Rafi.


"Kak, kenapa basah?" tanya Rafi penasaran.


Filla mendonggak lalu tersenyum, "Eh, nggak kok dek, tadi nggak sengaja ketumpahan air," jawab Filla sekenanya.


Rafi menatap wajah Filla, "Muka Kakak pucet banget," ucap Rafi.


Filla tersenyum, "Enggak kok, nggak make up aja," jawab Filla menyakinkan agar Rafi tidak khawatir.


Rafi menagngguk.


Filla menepuk jidatnya, "Oiya, dek selamat ulang tahun, doa terbaik untuk adek," ucap Filla sambil tersenyum. "Dan ini, semoga suka," ucap Filla antusias walau menahan sakit perutnya sejak tadi, ditambah badannya yang terasa mengigil karena tersiram oleh Kania.

__ADS_1


"Makasih Kak," ucap Rafi tulus.


******


__ADS_2