
Filla dengan baju atasan biru dan celana jins tampak simpel menuruni tangga, dirinya menguncir rambut tanpa berniat berdandan lebih, Filla berjalan keluar dari dalam rumah, hari ini dirinya dan Rangga akan langsung ke Jakarta untuk foto free wedding, sebenarnya banyak sekali fotografer di Bandung, namun karena Rangga memiliki fotografer dan studio foto sendiri, tidak ada alasan untuk tidak memakai jasa mereka.
Mama, Papa dan Tita juga berada di Jakarta untuk menyelesaikan pekerjaan papa yang sempat terabaikan karena masalah Filla dan Rangga.
Rangga berdiri tepat didepan pintu dengan senyuman khasnya, "Berangkat sekarang?" tanya Rangga saat Filla membuka pintu.
Filla hanya mengangguk, "Bi Filla berangkat," ucap Filla pada bi Surti yang sedang membersihkan ruang tamu.
Bi Surti mengangguk, "Hati-hati Non, Den," ucap bi Surti sambil tersenyum.
Filla tanpa basa-basi melewati Rangga mendekati mobil, dirinya sangat canggung karena kejadian semalam, bagaimana bisa dirinya tanpa sadar memeluk Rangga, benar-benar kekonyolan yang membuat Filla malu.
Rangga tersenyum sambil menatap punggung Filla, dirinya cukup tahu bagaimana Filla dengan gengsinya yang tinggi.
Filla memasang sabuk pengaman diikuti Rangga.
Rangga mengambil sesuatu dikursi belakang "Buat kamu," ucap Rangga sambil menyodorkan buket bunga.
Filla mengerutkan keningnya, "Buat gue? Dalam Rangka apa?" tanya Filla heran menatap bunga dan Rangga bergantian.
"Buat kamu jatuh cinta lagi, kan aku udah janji akan berperan jadi kamu," ucap Rangga sambil tersenyum.
Begitu manis senyum Rangga membuat Filla terdiam, bagaimana tidak, Rangga yang dia kenal sejak dulu tidak pernah melakukan tindakan seperti sekarang, apalagi dengan senyuman lebarnya.
Filla mengambil bunga dari tangan Rangga, "Yaudah, gue akan berperan seperti lo," Filla menaruh bunga kembali pada kursi belakang.
Rangga mengerutkan kening, "Kenapa dibalikin?"
"Kan lagi berperan jadi lo, lo kan selalu balikin apapun yang gue kasih, atau buang di tong sampah, lebih parahnya lagi kasih ke orang lain didepan mata gue," ucap Filla santai.
Rangga menghela napas, "Oke, pilihan yang tepat daripada kamu kasih ke orang lain atau dibuang ditong sampah."
Filla mengangguk, lalu melipat tangannya didepan dada.
Rangga tersenyum miris, mau bagaimana lagi, karena semua ucapan Filla ada benarnya.
*********
"Kita sarapan dulu, ya? ajak Rangga saat memarkirkan mobil disalah satu restoran.
Filla mengangguk setuju, dirinya memang tak sempat memakan apapun pagi ini walau dimeja makan bi Surti sudah menyiapkan banyak makanan.
Notifikasi ponsel Filla terdengar membuat Filla meronggoh ponselnya sambil membuka sabuk pengaman.
__ADS_1
From Papa💕
Kak, setelah semua selesai langsung kerumah kita yang di Jakarta, jangan kemaleman dan macem-macem, papa udah peringatkan Rangga, tapi juga perlu memperingatkan kamu.
Filla menghela napas, "Ya, kenapa disuruh pergi berdua?" tanya Filla kesal pada dirinya sendiri membuat Rangga menoleh.
To Papa 💕
Iya.
Itu adalah pesan tersingkat yang Filla kirimkan untuk papa, biasanya Filla akan nyaman chatingan dengan papa karena papa yang humoris membuat Filla tak pernah bosan, namun untuk saat ini dirinya selalu menyudahi setiap obrolan bersama papa ataupun mama, karena pada dasarnya mereka hanya akan membicarakan pernikahannya dengan Rangga.
"Kenapa?" tanya Rangga penasaran melihat perubahan ekspresi wajah Filla.
"Di ingetin biar nggak macem-macem," jawab Filla sekenanya.
Rangga tertawa, "Kok kamu jadi sensi nggak disuruh macem-macem? Emang mau macem-macem sama aku?" tanya Rangga sengaja meledek.
"Nggak lucu, udah ah, gue mau turun, laper," Filla beranjak keluar dari mobil, diikuti Rangga yang masih tertawa melihat wajah memerah Filla.
Filla berhenti saat ikat rambutnya ditarik pelan oleh Rangga, membuat rambutnya yang tadi rapi dikuncir kembali tergerai, "Apasih? Balikin," ucap Filla saat berbalik dan mendapati Rangga mengantongi kuncirnya.
"Nggak," Rangga berjalan melewati Filla dengan wajah datarnya.
Rangga berbalik, "Kalau dirumah atau didalam mobil nggak masalah dikuncir, tapi kalau diluar nggak boleh."
"Kenapa coba? Aneh banget, gue lagi gerah," Filla berusaha meronggoh kantong Rangga.
Rangga menahan tangan Filla, "Karena kamu lebih cantik kalau dikuncir."
Filla menatap heran pada Rangga, "Yaudah bagus dong," Filla masih berusaha mengambil kuncirnya.
Rangga menahan tangan Filla lalu menatap mata Filla membuat wajah Filla memerah, "Aku nggak mau berbagi kecantikan kamu sama orang lain," Rangga menyampirkan rambut Filla ke belakang telinga.
"Nggak jelas," Filla melepas tangan Rangga dari wajahnya, lalu melewati Rangga masuk kedalam restoran, lebih lama merasakan perlakuan Rangga dirinya bisa-bisa luluh.
Rangga tersenyum lalu mengikuti Filla dibelakang.
*********
Mobil milik Rangga terparkir diparkiran RA Fotografi, studio foto milik Rangga yang sudah memiliki banyak cabang di Jakarta.
"Yuk," ajak Rangga.
__ADS_1
Filla mengikuti Rangga masuk kedalam RA Fotografi, beberapa karyawan menunduk hormat pada Rangga dan menatap heran pada Filla. Mungkin mereka bingung siapa sebenarnya wanita yang dibawa Rangga untuk pertama kalinya ke kantor.
Mereka berjalan lalu memasuki lift menuju lantai 3.
"Santai, setelah ini RA fotografi juga punya kamu," ucap Rangga sambil tersenyum.
Filla tak menggubris ucapan Rangga, dirinya lebih sibuk memainkan ponsel, banyak sekali email yang masuk dari rekannya di Milan, kabar bahwa Filla tidak akan kembali kesana mungkin cukup mengejutkan banyak orang, bagaimana tidak? Filla yang hanya berniat berlibur sebentar malah tidak akan kembali.
Lift terbuka Filla berjalan mengikuti Rangga masuk kedalam ruangan.
"Kamu mau minum apa?" tanya Rangga saat mereka duduk di sofa.
Kantor Rangga cukup besar, terbilang nyaman dan rapi, mungkin faktor Rangga yang juga jarang bekerja di Jakarta.
"Air putih aja," Filla masih fokus dengan ponselnya.
"Ada apa? Aku perhatiin kamu sibuk sama ponsel terus?" Rangga meletakkan sebotol air mineral dimeja depan Filla.
Filla menghela napas lalu mengambil minuman yang Rangga siapkan, "Balesin chat dari Milan," jawab Filla jujur.
Rangga menghela napas, lalu mengambil botol minuman Filla dan membuka tutupnya lalu memberikan kembali pada Filla.
Filla menatap heran lalu mengambil botol minuman itu dan meminumnya.
"Aku nggak apa-apa kalau setelah nikah, kita ke Milan," ucap Rangga serius.
Filla mengerutkan kening, "Buat apa?" tanya Rangga balik.
"Kalau kamu nyaman disana, ya nggak apa-apa, kita bisa tinggal disana."
Filla menatap Rangga, dan tidak menemukan kebohongan sama sekali, Rangga benar-benar membuat Filla bingung dengan tindakannya, seolah Rangga bukan orang yang dirinya kenal , Rangga terlalu banyak berubah, bahkan rela berkorban demi dirinya.
Filla menggeleng, "Di Jakarta aja, kerjaan lo juga di Jakarta."
"Kerjaan kamu? Aku nggak mau kamu berkorban karena pernikahan ini."
Filla menghela napas, "Informasi aja nih, gue banyak tawaran disini kalau soal kerjaan, tinggal pilih, jadi nggak ngaruh mau tinggal dimana aja," ucap Filla sombong.
Rangga tertawa, "Kamu lama-lama ngegemesin," Rangga mengacak rambut Filla gemas.
Sekali lagi wajah Filla merona karena tingkah Rangga.
******
__ADS_1