
"Gue juga tertarik mau bikin butik sendiri, walaupun banyak tawaran kerja, gue ngerasa nggak cocok aja."
"Udah, kita buka butik aja, mulai dari nol sama-sama, kite realisasikan omongan kita waktu pertama kali ketemu."
Filla tertawa, "Lo masih inget? Itukan udah lama banget, dan kita masih sama-sama nggak tahu banyak hal waktu itu."
"Gue tiba-tiba inget waktu lo bilang mending bikin usaha sendiri, kita pernah bercanda untuk bisa kerja bareng, kita wujudtin aja yuk," ucap Iren antusias.
Filla mengangguk, "Gue punya tabungan buat modal awal."
"Gue juga, oke, kita deal kerja sama," Iren tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
Filla tertawa lalu menyambut tangan Iren, "Bismillah kita bisa," ucap Filla yang langsung meraih anggukan Iren.
*******
Filla begitu bersemangat setelah bertemu Iren, sejak meninggalkan pekerjaannya di Milan, jujur dirinya bingung ingin melakukan apa.
Laptop yang Filla gunakan hampir tiga jam lamanya dibiarkan Filla beristirahat, dirinya juga merenggangkan tubuhnya.
Filla menatap jam dinding dikamar, sudah hampir jam setengah delapan malam dan belum ada tanda-tanda Rangga akan pulang.
"Hujan?" tanya Filla pada dirinya sendiri saat menyadari suara hujan yang sejak tadi ia abaikan. Filla berjalan mendekati jendela, jalanan dibawah sana basah total, menandakan hujan turun dalam waktu yang lama.
Filla mengedarkan pandangan ke jalanan, dirinya cukup khawatir sekarang, "Rangga kan pake motor," Filla melipat kedua tangan didepan dada memperhatikan tiap orang yang lewat dengan jas hujan yang melindungi tubuh mereka.
Filla terbelalak saat mendapati Rangga dengan keadaan basah kuyup turun dari motornya dan mendorong pagar, tanpa menunggu lama Filla berlari keluar dari kamar. Dirinya bahkan tidak memperhatikan langkahnya sendiri, menuruni anak tangga dengan cepat.
Ditariknya pintu depan dengan cepat, benar saja sekarang Rangga berdiri didepan dengan mengibaskan tubuhnya yang basah kuyup.
Rangga tersenyum, "Kenapa keluar? Masuk gih entar basah," ucap Rangga.
Filla terdiam, bahkan sekarangpun Rangga masih mementingkan dirinya diatas apapun. Filla berjalan masuk kedalam rumah, kemudian kembali dengan handuk yang ia bawa.
"Makasih," ucap Rangga.
"Masuk dulu, Kamu basah kuyup," Filla membantu Rangga mengibas bahunya.
Rangga tersenyum, "Pengen hujan-hujanan terus biar bisa lihat kamu peduli sama aku," ucap Rangga.
Filla menampar bahu Rangga, "Nggak usah bercanda," Filla membantu Rangga mengeringkan rambut dengan handuk.
Sedangkan Rangga memilih diam dengan manjanya, membiarkan Filla dan malah memperhatikan wajah Filla yang begitu dekat.
"Ayo masuk."
__ADS_1
"Entar kotor," Rangga menunjuk lantai rumah.
"Entar aku yang pel, sekarang masuk, langsung mandi," Filla mendorong Rangga sekuat tenaga.
"Iya," Rangga berjalan masuk diikuti Filla dibelakangnya.
********
Filla bersandar di senderan kasur, dirinya setengah duduk sambil memainkan ponsel, mengecek sosial medianya yang masih saja dipenuhi ucapan selamat atas pernikahannya dan Rangga.
Ceklek...
Filla menoleh saat pintu kamar terbuka. Rangga yang hanya mengenakan handuk dibagian bawah terlihat segar setelah mandi.
"Rangga!" Filla menutup matanya dengan bantal. "Nggak bisa apa pake baju dulu."
Rangga tersenyum, "Gimana pake baju? Aku nggak punya baju kering."
"Ketok pintu dulu kalau gitu, baru masuk kamar," Filla masih menyembunyikan wajahnya dengan bantal.
Rangga tersenyum jahil, dirinya malah mendekati Filla, "Aku udah pake baju," ucap Rangga.
Filla perlahan menurunkan bantal dari wajahnya, dirinya kembali terbelalak melihat roti sobek milik Rangga yang tepat didepan wajahnya. "Gila!" pekik Filla yang langsung kembali mengambil bantal dan menyembunyikan wajahnya. "Lo gila!"
"Mulai ya Fill nggak sopan sama suami," Rangga malah memeluk Filla. "Ini hukuman karena kamu bicara pake lo-gue."
"Minta maaf dulu," Rangga malah mempererat pelukannya ditubuh Filla.
"Iya maaf, puas?" Filla masih berusaha meloloskan diri, tapi. kekuatan Rangga tidak bisa ia kalahkan.
"Yang bener minta maafnya," Rangga masih memeluk Filla, malah makin ia eratkan.
Filla menghela napas, "Iya Maaf," ucapnya berusaha lembut, walau sebal sudah memuncak dikepalanya.
Rangga melepas pelukannya dari Filla, "Jangan diulangi lagi, atau kamu akan dapat hukuman lebih dari itu," Rangga berbalik, dirinya tak bisa menahan tawa melihat wajah Filla yang merona. Rangga berjalan menuju lemarinya.
Filla mengatur napas, Rangga benar-benar membuatnya gila hari ini.
"Aku mau bikin kopi dibawah, kamu mau?" tanya Rangga yang sudah memakai kaos dan celana, tidak seperti tadi, membuat Filla tak bisa bernapas jika melihatnya.
Filla menggeleng.
"Susu?" tanya Rangga sekali lagi.
"Aku buat sendiri aja nanti."
__ADS_1
Rangga akhirnya mengangguk lalu berjalan keluar dari kamar.
******
Rasa kantuk mulai Filla rasakan, dirinya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam, Filla mengerutkan kening, sudah hampir satu jam Rangga pamit ke dapur, tapi belum ada tanda-tanda kembali sedikitpun.
Filla menyingkirkan selimut dan laptopnya, dirinya memakai sandal lalu berjalan keluar dari kamar. Filla menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai bawah.
"Ngga, ngapain disitu bukannya balik ke kamar?" tanya Filla saat mendapati Rangga duduk di sofa membelakanginya.
Tidak ada jawaban dari Rangga, membuat Filla berjalan mendekat, Filla terbelalak saat mendapati Rangga dengan wajah pucat dan mata terpejam.
"Ngga, kamu sakit?" tanya Filla yang langsung memegang wajah dan dahi Rangga yang terasa panas. "Panas banget, Rangga!" Filla berusaha memanggil Rangga, dirinya begitu cemas, tidak pernah melihat Rangga sepucat ini.
"Hmm," Rangga berdehem pelan. "Aku ketiduran," ucapnya sambil tersenyum.
"Ketiduran apaan? Kamu tuh sakit."
Rangga hanya tersenyum.
"Ayo kekamar, aku bantu," Filla berusaha memapah Rangga naik kelantai atas.
Rangga berusaha berjalan walau tubuhnya lemas, dirinya memang cepat demam jika memaksa untuk menerobos hujan
"Kamu kenapa nggak panggil aku aja tadi Rangga? Kalau aku nggak inisiatif turun, bisa sampai pagi kamu dibawah," ucap Filla saat mereka menaiki satu persatu anak tangga.
"Ini cuma karena tadi nekat nerobos hujan," ucap Rangga pelan. "Istirahat bentar juga sembuh."
Mereka sampai didalam kamar, Filla langsung membawa Rangga untuk berbaring diatas kasur, "Kenapa hujan-hujanan kalau udah tahu sering sakit?"
"Aku nggak mau kamu sendirian dirumah, kalau mati lampu gimana?"
Filla terdiam, demi dirinya bahkan Rangga rela menerobos hujan, "Nggak usah alasan, kamu aja yang udah tau bakalan sakit kalau nerobos hujan, masih aja dilakuin."
Rangga hanya tersenyum.
"Tunggu sebentar, aku mau ambil kain buat kompres kamu," Filla berjalan cepat kedapur, mengambil baskom lalu mengisinya dengan air.
"Mendingan sakit kalau kamu perhatian kayak gini," ucap Rangga sambil tertawa saat Filla meletakkan kain kompres pada keningnya.
Filla menampar perut Rangga.
"Aduh," Rangga memegangi perutnya.
"Bercanda aja terus," ucap Filla sebal.
__ADS_1
"Aku nggak bercanda."
********