Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 36


__ADS_3

Setidaknya jika gagal aku telah mencobanya


Aku tak akan menyesal karena pernah melakukannya.


~~


Sejak tadi Filla menatap lurus Singapore Plyer jauh didepan sana, sekarang ia benar-benar berada di kota ini, negara yang menjadi tujuannya saat ini seperti yang papanya minta. Sesaat ia berfikir sudah sejauh ini ia melangkah, sudah setegar ini ia sendiri, tak pernah ia bayangkan akan sendiri di negara ini.


Setidaknya ia bersukur ada Rangga yang akan menemaninya. Airmatanya melesak keluar mengingat betapa sedih hidupnya sekarang, andai dulu ia bukan anak pembangkang, anak kurang ajar. Andai dulu dia penurut tentunya semua tak akan seteragis ini. Pikirnya.


"Banyak yang berkata hidup itu untuk sukses agar bahagia menikmati hasilnya, tapi untuk apa sukses? Ketika bahagia tak ada lagi dalam kadarnya," ucap Filla pelan ingin terdengar oleh dirinya sendiri.


"Beo," kejut Rangga, tadi memang Rangga pergi untuk membeli minuman. Entah sejak kapan panggilan Beo itu dimulai. Intinya sekarang Rangga sering memanggil Filla dengan sebutan itu.


Sudah seminggu mereka di Singapura, mereka diantar oleh bunda dan ayah sampai di Bandara, ayah sudah mengurus semuanya dengan beres, ya disini mereka sekarang, ditempat asing ini mereka harus menimba ilmu.


"Lo nangis?" tanya Rangga saat melihat Filla sibuk menghapus airmatanya.


Filla tersenyum melihat kearah Rangga, "Hmm, nggak, kelilipan gue," kilah Filla. "Minuman gue mana?" tanya Filla mengalihkan perhatian Rangga.


Rangga hanya mengangguk tak memperpanjang karena ia tahu alasan kenapa Filla menangis, "Ni," ucap Rangga sambil menyodorkan minuman pada Filla. "Gimana udah dapet kerjaan?" tanya Rangga akhirnya.


Filla menggeleng dengan wajah lesunya.


"Semangat dong, kan lo yang katanya mau semangat," ucap Rangga sambil mengepalkan tangannya.


"Iya semangat," jerit Filla tak kalah semangatnya.


Rangga dengan cepat menutup mulut Filla dengan tangannya, "Nggak teriak juga kali," ucap Rangga karena sudah banyak orang yang memperhatikan mereka.


Filla memamerkan deretan gigi rapinya saat terlepas dari bekapan Rangga.


Rangga mengacak rambut Filla, "Dasar Beo," ucapnya sambil tertawa.


******

__ADS_1


Filla berlari mendekat pada Rangga yang terlihat duduk di bangku dekat pohon pinggir jalan, dia sedang asik dengan earphonenya entah musik apa yang sekarang ia dengar, Filla masih dengan senyum sumrigah berdiri tepat didepan Rangga.


Rangga mendonggak sadar dengan kehadiran Filla, dengan wajah punuh tanda tanya ia tatap Filla yang memasang senyum sempurna.


"Kenapa?" tanyanya sambil melepas earphonenya.


"Rangga," ucap Filla lalu menarik Rangga cepat dan memeluknya. "Gue dapet kerjaan, akhirnya setelah begitu banyak tempat yang gue lamar ada satu yang berhasil," serunya dengan semangat yang berkobar dan tak tertinggal senyum lebarnya.


Rangga melepas pelukan Filla menjauhkannya, "Serius?" tanya Rangga meyakinkan.


Filla mengangguk senang.


"Selamet," ucap Rangga ikut gembira dengan keberhasilan Filla. "Dimana?" tanyanya sambil mengajak Filla untuk duduk.


"Di salah satu kafe deket kampus, dan gajinya lumayan Ngga, gue bisa bayar kuliah dan kebutuhan sehari-hari gue," jelas Filla semangat.


"Alhamdulillah, sekarang lo harus pinter bagi waktu, gimana nanti lo harus kerja sambil kuliah, itu memang bukan perkara mudah tapi liat semangat lo, kayaknya bisalah," canda Rangga sambil mencolek dagu Filla.


"Ih," Filla menampar tangan Rangga yang sangat suka mencolek dagunya.


Begitulah Rangga selalu punya hal yang akan membuat Filla kesal, tapi kehadirannya sangat Filla syukuri karena berkat Rangga ia tak sendiri sekarang, ada tempat untuknya curhat, berbagi kesedihan dan kebahagiaan.


******


Terlihat Rangga sedang berkutat dengan alat masak didapur Apartemen Filla, sudah jadi kebiasaan jika Rangga yang akan memasak setiap sarapan ataupun makan malam karena sudah diketahui pasti jika mereka makan diluar akan menambah biaya hidup mereka dan jangan ditanya jika mengapa Rangga yang akan datang ke Apartemen Filla dan memasak, tentunya karena Filla yang tidak bisa masak sedikitpun, bahkan pernah sekali Filla mencoba menggoreng telur, alhasil telur itu menghitam. Daripada terjadi lagi akhirnya Ranggalah yang memasak untuk Filla dan dirinya.


Rangga memotong cabai, bawang, dan wartel, sekarang menu utamanya adalah nasi goreng, "Fill belajar masak kek, gue mulu yang masak," celetuk Rangga yang melihat tingkah Filla bukannya menolongnya malah sibuk memainkan ponselnya di meja makan.


Filla mengalihkan pandangannya pada Rangga dengan malas, "Mau makan nasi goreng gosong?" tanyanya malas.


"Itu mah alasan, kalau belajar pasti bisa, nggak selamanya gue harus masakin lo, ada saatnya nanti lo harus bener-bener mandiri, masak kerja di kafe nggak bikin lo bisa masak apa-apa?" ucap Rangga masih sibuk dengan memotong wartel.


"Fue pelayan lo Ngga, bukan Chef, bisa bedain kan?" sindir Filla masih sibuk dengan smartphonenya. "Bilang aja kalau lo males masakin buat gue," celetuk Filla.


"Sekarang gini ya Fill, lo mau mandiri, masa masak aja harus gue setiap pagi dan malem dateng ke Apartemen lo, ya walaupun nggak jauh amat tapi gue juga males kali. Sekali-kali lo yang masak kek," jawab Rangga sebal.

__ADS_1


"Seenggaknya bantuin biar lo nggak buta-buta amat masalah dapur," sindir Rangga.


Filla meletakkan smartphonenya, lalu berjalan malas kearah Rangga, "Iya, iya, mana yang perlu gue bantu?" tanya Filla malas setelah berdiri disebelah Rangga.


"Nah gitu dong, ni panasin minyak dalam wajan terus masukin wartel, bawang sama cabe ini," ucap Rangga sambil memberikan beberapa bahan yang telah ia potong.


Filla langsung menuruti perintah Rangga.


"Apinya kecilin, nggak usah gede-gede entar jadi item lagi," sindir Rangga yang membuat Filla mempautkan bibirnya. "Kalau masak tu mukanya yang enak diliat jangan cemberut entar rasanya juga nggak enak," tambah Rangga.


"Iya, ni senyum," jawab Filla sambil melebarkan senyumnya paksa, terlihat jelas ia sebal dengan celotehan Rangga sejak tadi, sudah jadi rutinitas Rangga akan ngomel ala ibuk-ibuk kalau sudah di Apartemennya, yang baju disuruh cucilah, Apartemen beresinlah, Rangga sudah seperti ibu rumah tangga bila menceramahi Filla.


"Yang ikhlas," sindir Rangga. Rangga tak bisa berhenti tersenyum melihat sikap Filla yang kekanak-kanakan. "Sekarang masukin nasinya," perintah Rangga yang langsung dituruti Filla. "Masukin garam secukupnya aja, udah tingal kamu aduk sampai mateng."


"Gampang banget," celetuk Filla. "Ini mah kecil, besok juga bisa gue bikin kayak gini tanpa bantuan lo," seru Filla sambil menekankan setiap kata pada Rangga.


"Jangan bacot deh, lakuin," Rangga menyentil kening Filla yang membuat Filla mengaduh dan menggosok keningnya yang terasa sakit.


"Apaan sih Ngga?" Dengan cepat Filla mengambil sendok dan menimpuknya dikepala Rangga mebuat Rangga juga mengaduh kesakitan.


"Niat amat mukulnya! SAKIT FILLA!" bentak Rangga sambil menggosok kepalanya.


Filla tertawa melihat kekesalan Rangga, "Makanya jangan jahil," ucap Filla lalu mematikan kompor dan memindahkan nasi goreng keatas piring.


"Kayaknya enak ni," ucap Filla sambil mencium aroma nasi goreng yang membuat perut mereka tambah keroncongan.


"Sini gue bawa ke meja, lo ambil kerupuk di Apartemen gue," perintah Rangga.


"Ogah," jawab Filla meniggalkan Rangga dan duduk dimeja makan.


Eangga menarik Filla agar berdiri, "Cepet, ambil kerupukya atau gue nggak kasih nasi goreng buat lo, ancam Rangga menatap tajam Filla.


Filla dengan menghentak-hentakan kaki memilih mengalah dan berjalan mengambil kerupuk yang dimaksud Rangga, kesal sekali ia dengan Rangga yang selalu berkuasa, lebih baik ia menuruti mau Rangga dari pada mati kelaparan. Dasar Filla lebay.


******

__ADS_1


__ADS_2