Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 110


__ADS_3

Tatapan Rangga sejak tadi tentu saja terasa mengusik untuk Filla, apalagi Reya selalu memberikan isyarat.


Filla memberanikan diri untuk menoleh, dan benar ia mendapati Rangga yang dengan cepat mengalihkan pandangan setelah Filla menoleh.


Filla kembali menatap buku catatannya, lebih baik ia fokus pada seminar yang sedang berlangsung, hatinya belum cukup kuat untuk merasa baik-baik saja atas sikap Rangga.


"Assalamualaikum, permisi Pak," ucap seorang pria sambil mengetuk pintu, membuat perhatian semua siswa beralih padanya.


"Waalaikumsalam, ada apa Satrio?" ucap Pak Buhori sebagai dosen didalam kelas.


"Saya diminta ketua prodi untuk memanggil mahasiswa bernama Filla Agatha," ucap Satrio.


Reya yang mendengar nama sahabatnya disebut tentu saja langsung menyenggol Filla, "Ada apa?" tanya Reya penasaran.


Bukan hanya Reya yang penasaran, semua mahasiswa didalam kelas melihat kearah Filla.


Filla mengangkat kedua bahunya.


"Ya, silahkan yang bernama Filla selesaikan urusan bersama ketua prodi," ucap Pak Buhori sambil menatap para mahasiswa yang belum ia hafal satu persatu namanya.


Filla mengangkat tangan, "Baik Pak," Filla membereskan mejanya dengan memasukkan buku dan alat tulis lainnya kedalam tas. "Saya permisi Pak," ucap Filla sambil berjalan mendekati Pak Buhori.


Pak Buhori mengangguk, membuat Filla langsung meninggalkan kelas yang akan selesai dalam 20 menit.


*******


Rangga menatap punggung Filla yang perlahan menjauh dan akhirnya tak terlihat, tentu saja dirinya penasaran mengapa Filla sampai dipanggil ketua prodi jurusannya.


Dua puluh menit berlalu, "Baiklah, terimakasih atas waktunya, saya permisi, Assalamu'alaikum," ucap Pak Buhori.


"Waalaikumsalam," ucap semua yang didalam ruangan.


Rangga membereskan semua barang-barangnya, memasukkannya kedalam tas lalu memakai jaketnya yang sengaja ia lepas dan letakkan di sandaran kursi.


Putra menepuk bahu Rangga, "Langsung balik?" tanyanya sambil menggulung lengan kemeja kirinya.


"Iya nih," jawab Rangga seadanya.


"Nggak mau nongkrong dulu," tanya Samuel dengan menenteng tasnya mendekati Rangga dan Putra.


"Kayaknya next time, gue lagi males," ucap Rangga.


"Lo lagi kenapa? Gue perhatiin dari pagi lo uring-uringan, dan lo selalu menatap Filla, ada apa?" tanya Putra sambil menepuk bahu Rangga.


Rangga mengangkat bahunya, "Entahlah gue bingung," ucap Rangga mencoba jujur.


Samuel merangkul Rangga, "Udahlah, Jangan buat semua jadi rumit, lo udah memilih, jadi jalani."


Rangga menoleh pada Samuel, "Lo pikir gue mau kayak gini?" tanyanya. Rangga melepas Rangkulan Samuel lalu melangkah keluar tanpa berucap.

__ADS_1


Rangga menyusuri koridor, menatap lapangan basket disebelah kirinya, beberapa mahasiswa tentu saja beradu mengeluarkan keringat bermain di lapangan.


BRAAAAK...


"Sorry gue nggak sengaja," ucap Rangga sambil membantu seseorang yang ia tabrak mengumpulkan buku yang berceceran.


"Rangga?" ucap Filla.


Rangga mendonggak mendapati suara yang ia kenal, "Filla?" Rangga terdiam sejenak, sampai Filla kembali mengumpulkan bukunya. "Sorry gue nggak sengaja Fill," ucap Rangga.


Filla berdiri diikuti Rangga, Filla mengambil buku yang disodorkan Rangga, "Makasih, Salah gue juga yang jalan nggak liat-liat," ucap Filla.


"Gue bantuin?" ucap Rangga sambil meraih beberapa buku ditangan Filla berniat berbagi, melihat Filla cukup kesusahan membawanya.


Filla memundurkan langkahnya, "Nggak apa-apa gue bisa sendiri," ucap Filla. "Gue duluan," Filla melangkah melewati Rangga tanpa menunggu jawaban Rangga.


Rangga berbalik, melihat kepergian Filla yang selalu Rangga sesali karena terasa berbeda dari sebelumnya.


*******


Rangga meletakkan tasnya diatas sofa, lalu duduk disebelah Rafi.


"Udah pulang Bang?" tanya Rafi sambil menonton acara berita disalah satu cenel televisi.


"Nih gue duduk disebelah lo, kalau belum pulang gue nggak disini," ucap Rangga malas sambil menyenderkan punggungnya pada senderan sofa.


"Sensi amat Bang," ucap Rafi lalu kembali menonton tanpa memperdulikan Rangga.


Rafi tampak mengingat, "Mungkin 3 Minggu lalu," ucap Rafi lalu mengangguk yakin.


Rangga kembali menghela napas.


Rafi menoleh pada Rangga, "Kenapa emang? Bukannya lo nggak suka Kak Filla main?" tanya Rafi heran.


"Tau ah," ucap Rangga lalu meraih tasnya dan melangkah menaiki tangga.


"Nggak jelas," Rafi kembali menonton Televisi tanpa memperdulikan Rangga yang sudah masuk kedalam kamarnya.


Rangga mendekati jendela dan menyingkap tirai, benar saja seperti biasa Filla dan Vino turun dari mobil, dan masih menjadi tanya besar untuk Rangga, apa hubungan diantara keduanya.


Terlihat dibawah sana Filla dan Vino saling melambai, layaknya perpisahan biasanya, Rangga masih menatap Filla yang berjalan memasuki rumah, sampai Filla tak terlihat Rangga masih betah berdiri disana melihat halaman rumah Filla.


Rangga tak mengerti perasaan apa yang menghantuinya selama beberapa hari, ia hanya merasa ini bukan hal yang benar menurut hati, tapi tidak dengan logikanya.


Cekklek...


Seseorang mencoba membuka pintu kamar Rangga, membuat Rangga menoleh, "Bun," Rangga berbalik dan duduk di kasurnya. "Ada apa Bun?" tanya Rangga sambil meletakkan jaketnya di senderan kursi.


"Kamu tolong ambil baju Bunda di tukang jahit ya Ngga," ucap Bunda yang berdiri didepan Rangga.

__ADS_1


Rangga mengangguk, "Emang baju apa Bun?" tanya Rangga.


"Itu buat acara ultah Filla," ucap Bunda sambil merapikan buku Rangga yang berserakan diatas meja, sudah menjadi kebiasaan Bunda, selalu beberes setiap masuk kedalam kamar anak-anaknya.


Rangga mengerutkan kening, "Ultah Filla?" Rangga baru ingat hari ini adalah tanggal ulang tahun Filla, tentu saja ia bisa melupakan itu karena selama ini ia tidak peduli dengan hal itu sama sekali.


"Kebiasaan, lupa melulu, sesekali kasih la Ngga Filla kado, apa nggak bisa bersikap sebagai temen?" ucap bunda mengingatkan.


Rangga membaringkan tubuhnya, "Kalau inget," ucap Rangga, padahal ia sedang berpikir keras kado untuk Filla.


Rangga menghela napas, "Jangan lupa baju Bunda," ucap bunda lalu keluar dari kamar Rangga.


Rangga langsung meronggoh ponselnya didalam saku, mengetik sesuatu di kolom pencarian googlenya, beberapa saat ia tersenyum sambil menjentikkan jari


*******


Filla dengan dress selutut berupa perpaduan atasan putih dan bagian rok berwarna navy bermotif bunga putih tampak elagan ditemani high heels cream dan tas selempang pink.


Sejak satu jam yang lalu ia sudah duduk di sebuah cafe ditemani secangkir capuccino yang akhirnya ia pesan setelah 3 kali seorang pelayan menanyai pesanannya.


Filla melihat arloji putih yang melingkar dipergelangan tangannya, entah sudah berapa kali ia menghembuskan napas sebal sejak dirinya belum melihat adanya tanda+


-tanda kehadiran ketiga sahabatnya.


Filla menatap layar ponselnya, belum ada balasan dari ketiga sahabatnya, bahkan ia sudah menelpon mereka beberapa kali.


Menurut rencana seharusnya mereka sudah ada di cafe sejak satu jam yang lalu, namun yang Filla dapati adalah duduk sendiri selama satu jam didalam cafe dengan wajah kesal yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.


Filla mencoba menelpon Ola kembali, terdengar nada sambung membuat Filla sedikit meraih harapan.


"Hallo Fill, sorry banget kayaknya kita nggak jadi kumpul deh," ucap Ola dengan nada merasa bersalah.


"Kalian semua nggak bisa dateng?" tanya Filla.


"Iya, gue lupa ada kerjaan, dan Reya sama Caca dipanggil ke kampus."


Filla menghela napas, jika ditanya bagaimana rasa kesalnya, maka Filla yakin sudah sampai ke ubun-ubun, "Kalian loh yang ngajak, kok batalin gitu aja?" tanya Filla sabar.


"Sorry Fill, mau gimana lagi?"


"Terus kenapa sama sekali belum ngehubungin gue? Gue nunggu hampir satu jam," ucap Filla sedikit kecewa.


"Gue lupa Filla, maaf banget, udah ya, gue ada urusan," Ola menutup hubungan telepon secara sepihak.


Sekali lagi Filla menghembuskan napas kesal, ia menyenderkan punggungnya ke senderan kursi, mencoba menetralkan perasaannya.


Ponsel Filla berdering, dengan malas Filla mengambilnya dan menempelkannya ke telinga tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Hallo," ucap Filla seperti biasanya membuka percakapan.

__ADS_1


"Maksudnya? Kak Vino kecelakaan?" tanya Filla panik. "Iya Filla kesana sekarang, Mama share lock aku tunggu," Filla menutup panggilannya lalu mengambil tasnya dan berlari menuju parkiran.


*******


__ADS_2