Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 199


__ADS_3

"Kamu hati-hati dirumah, jangan lupa kabarin aku," ucap Rangga entah untuk keberapa kalinya.


"Kamu udah ngomong itu sejak kemarin Ngga, aku belum pikun," ucap Filla gemas karena sejak kemarin Rangga hanya berucap seputar itu saja.


Rangga menekan pelan puncak kepala Filla, "Kamu kalau nggak diingetin suka lupa, makanya harus rajin ngingetinnya," ucap Rangga.


Filla menghela napas lalu mengangguk, percuma berdebat dengan Rangga sekarang pikirnya.


"Kalau nanti kamu kangen aku, aku udah siapin baju digantungan, jangan di cuci biar aroma aku masih ada," ucap Rangga sambil menaikkan kedua alisnya.


"Palingan pas kamu pergi langsung aku masukin mesin cuci," ucap Filla santai.


"Jangan gitu dong, kalau kamu kangen aku bakalan sulit nantinya, aku tipe ngangenin jangan salah," ucap Rangga dengan PD.


Filla mendorong tubuh Rangga, "Udah sana berangkat, Sam juga udah nungguin kan?"


Rangga malah berbalik dan memeluk Filla, mencium puncak kepala Filla, hal yang sangat ia sukai sekarang, "Jaga diri," ucap Rangga pelan.


Filla membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Rangga, dirinya mengangguk dan mulai membalas pelukan Rangga, "Kamu juga jaga diri, makan jangan telat, kesehatan dijaga," ucap Filla.


Rangga mengangguk lalu melepas pelukannya pada tubuh Filla, "Kamu pulangnya hati-hati,"


Filla mengangguk paham tanpa membantah.


"Pak, anterin istri saya selamat sampai rumah," ucap Rangga pada supir pribadi mereka.


Setelah meraih anggukan dari Pak Ahmad Rangga sedikit lebih tenang.


"Udah kali, cuma seminggu doang, dasar penganten baru," ledek Samuel yang sejak tadi duduk di kursi panjang tidak jauh dari mereka.


"Iri bilang aja Sam," ledek Filla, membuat Sam menghela napas.


"Belum berangkat aku udah kangen," ucap Rangga manja.


Filla memutar bola mata, Rangga memang rajanya gombal sekarang, orang diluar sana mungkin akan menganggap Filla halu jika menceritakan tingkah Rangga yang berbanding terbalik dengan image-nya dimata umum.


Rangga mencium kening Filla membuat Filla diam tak berkutik, dirinya merasakan ketulusan Rangga lewat ciuman itu, dan keadaan jantungnya masih sama, berdetak lebih cepat.


"Udah sana berangkat, entar ketinggalan pesawat."


Rangga mengangguk, lalu mendekat pada Filla membuat Filla terdiam karena tingkahnya, Rangga meletakkan jari jempolnya dibibir Filla lalu mengecup jempolnya sendiri membuat Filla terbelalak.


"Ciuman pertamanya nanti kalau aku udah pulang, nanti jangan nolak lagi ya," Rangga mengacak rambut Filla.


Filla masih tidak bisa mencerna perlakuan Rangga, hampir saja tadi mereka berciuman jika jari Rangga tidak menjadi penghalang.


Rangga tersenyum melihat Filla melamun, "Aku berangkat," ucap Rangga.


Filla tersadar langsung salah tingkah, "Hmm, hati-hati," ucap Filla akhirnya.

__ADS_1


Rangga mengangguk lalu berjalan meninggalkan Filla masuk kedalam bandara, diikuti Samuel dibelakangnya.


Filla menatap punggung Rangga yang perlahan menjauh, lalu menghela napas, kepergian Rangga membuatnya merasakan rindu bahkan saat Rangga masih berada dalam jarak pandangnya.


*********


Iren memilih beberapa baju untuk dipisahkan, "Rangga udah berangkat?" tanya Iren.


Filla mengangguk, dirinya sibuk didepan laptop, "Udah, tadi gue nganterin sampai bandara," jawab Filla sekenanya.


"Kenapa lo nggak mau ikut coba? Padahal gue udah kasih tahu kalau gue bisa handle."


"Kasin lo dibutik sendiri, masak gue ninggalin lo seminggu dengan kerjaan numpuk kayak gini?"


Iren menghela napas, "Terus lo tahan ditinggal Rangga seminggu? Gue lihat-lihat sejak pagi lo udah lesu aja."


"Biasa aja, lagian cuma seminggu, gue udah misah dari Rangga tiga tahun aja bisa," ucap Filla bangga.


"Ya bisa, tapi ujung-ujungnya tetep kembali ke titik nol kan? Fase move on yang gagal."


"Terus aja diingetin kalau move on gue gagal, emang cuma lo sahabat luknut."


Iren tertawa puas mendengar ucapan Filla.


*********


Filla menatap jam dinding di kamar lalu kembali menatap layar ponselnya, tidak ada notifikasi apapun dari Rangga sejak berangkat pagi tadi.


padahal baru saja ditinggal 12 jam tapi Filla sudah merasakan kehilangan, sepertinya ucapan Rangga telah menjadi sugesti untuk Filla merindukannya.


"Telpon aja la, bodoh amat," Filla menekan tombol hijau, lalu melempar ponselnya diatas kasur, menunggu Rangga mengangkat telponnya.


"Iya sayang?" ucap Rangga dari seberang, dengan suara khasnya.


"Kamu udah nyampe?" tanya Filla.


"Iya, udah dari jam sebelasan tadi," jawab Rangga santai.


Filla menghela napas, "Kok nggak ngasih kabar?"


"Kenapa? Kamu nungguin?" ucap Rangga antusias dari seberang.


"Kamu PD banget, aku cuma mau tau aja," ujar Filla sekenanya.


"Nungguin juga nggak apa-apa sayang," Rangga tertawa membuat Filla ikut tersenyum dalam diam. "Tadi aku langsung kerja jadi lupa ngabarin kamu, maaf ya," ucap Rangga.


Filla diam sejenak, "hmmm, kamu udah makan?"


"Seneng aku kamu perhatian banget, kalau gini tiap hari aja aku keluar kota, aku udah makan sayang, tadi makan sama Sam dan klien."

__ADS_1


"Syukurlah," ucap Filla, Filla diam menunggu Rangga menanyakan pertanyaan yang sama untuknya, namun Rangga malah ikut diam.


"Yaudah sayang, aku lanjut tidur ya, soalnya ngantuk banget, besok pagi-pagi harus ada yang diurus juga."


Filla menjauhkan ponselnya lalu menghela napas, dirinya sedikit kecewa, Rangga terkesan dingin walau berusaha menghangat, tetap saja rasanya Filla kecewa karena Rangga menyudahi obrolan mereka. "Yaudah, good night," ucap Filla.


Rangga langsung mematikan sambungan telponnya dengan Filla membuat Filla menatap layar ponsel yang sejak tadi menempel ditelinganya.


"Kok nyebelin sih?" ucap Filla geram lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Belum berapa menit Filla kembali menyingkirkan selimut yang menutupi wajahnya, Dirinya kembali menatap ponsel tapi tetap saja yang diharapkan tidak memunculkan tanda-tanda apapun.


"Padahal tadi manis banget, masak beda kota sikapnya berubah," ucap Filla pada dirinya sendiri.


Filla menendang kesal pada kasurnya, dirinya menatap sofa yang biasanya ditempati Rangga bermain game, sepertinya Filla benar-benar rindu dengan Rangga tanpa dirinya sadari.


"Non?" suara ketukan pintu membuat Filla menoleh pada sumber suara.


"Masuk Bi," ucap Filla.


"Non mau dibikinin apa? Susu atau yang lain?" tanya Bi Salamah.


Filla berpikir sejenak, "Nggak usah Bi, Bibi istirahat aja, nanti kalau Filla mau bisa ambil sendiri aja di dapur."


"Baik Non," ucap bi Salamah lalu menutup kembali pintu kamar Filla.


Filla terdiam saat mendapati jaket milik Rangga yang menggantung digantungan baju dalam kamar, Rangga benar-benar menepati ucapannya menyisakan baju miliknya untuk Filla melepas rindu.


Filla beranjak mendekati jaket milik Rangga lalu meraihnya, benar saja aroma Rangga masih melekat pada jaket itu.


Sudut bibir Filla tertarik membentuk senyuman, Filla membawa jaket itu menuju kasur, Filla memeluk jaket tersebut sambil menarik selimut.


Tiba-tiba dirinya teringat ucapan Rangga, "Nanti kamu pasti akan kangen pelukanku," dulu mungkin Filla akan gengsi mengakuinya, namun setelah merasakan rindu pelukan Rangga, rasanya Filla ingin mengakuinya.


Kadang memang kita menyadari semua yang kita lalui adalah keistimewaan saat hal tersebut tak bisa dilakukan lagi.


*******


Makasih udah baca, semoga suka sama bab kali ini....


Jangan lupa tinggalin jejak ya semuanya, like, comment dan vote dari kalian bener-bener bikin semangat..


Jadi makin banyak jejak dari kalian semakin semangat buat update heheh.


Jangan jadi Silent Readers ya semuanya, biar aku bisa tahu kalian suka atau nggak sama ceritanya...


Makasih🙏


Salam hangat

__ADS_1


Penulis MCR


__ADS_2