Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 157


__ADS_3

Happy Birthday to you


Happy Birthday to you


Happy Birthday


Happy Birthday


Happy Birthday Tita....


Tepuk tangan memenuhi taman belakang rumah Filla, seperti yang sudah direncanakan pesta ulangtahun Tita dihadiri teman sekolah dan beberapa teman papa, mama dan Filla.


Dekorasi taman belakang sepenuhnya menjadi urusan Tita dan mama, yang sudah pasti akan mengangkat karakter kesukaan Tita, apalagi kalau bukan princess.


Tita tampak cantik dengan gaun princess Belle, sedangkan Filla disebelahnya mengenakan dress biru muda selutut membuatnya tampak anggun disebelah Tita.


"Potong kuenya Ta," ucap Filla saat setelah Tita meniup lilin. Filla membantu Tita memegang pisau pemotong kue, sekali lagi tepuk tangan dari teman-teman Tita terdengar.


Tita memberi kue pertama untuk mama dan papa membuat mama dan papa mengelus puncak kepalanya.


"Kue kedua untuk-," Tita tersenyum pada Filla. "Untuk Akak lah, siapa lagi?" ucap Tita yang langsung menyodorkan kue pada Filla.


Filla tersenyum, "Makasih sayang, semoga tambah pinter ya, sehat selalu," Filla mencium pipi Tita dengan gemas.


Setelah acara potong kue, semua orang mulai menikmati pesta, menikmati makanan yang tersedia, dan anak-anak sibuk memecahkan pinata berbentuk beruang, memperebutkan permen dengan semangat.


"Nggak nyangka gue Tita udah 10 tahun aja," ucap Reya sambil tertawa melihat Tita yang bermain bersama teman-temannya.


"Sama, padahal baru aja gue lihat dia masuk TK," ucap Filla.


"Eh iya, gimana nih yang sebentar lagi jadi istri?" tanya Caca sambil menyenggol Ola.


Ola tersenyum, "Doain ya guys," ucap Ola malu-malu.


"Ceelah," Reya menyenggol bahu Ola.


Filla memangku dagunya dengan kedua telapak tangan, "Kalian udah pada mau nikah aja, gue hilalnya aja belum keliatan," ucap Filla sambil tertawa.


"Tuh," Reya menunjuk kearah belakang Filla dengan isyarat matanya.


Filla menoleh, lalu mendapati Rangga yang sedang menyalami kedua orangtua Filla, Filla menghela napas lalu kembali menghadap kearah Reya.


"Tapi boleh juga tuh Fill, daripada nggak ada kan," ledek Iren lalu tertawa.


"Jangan resek deh Ren, lama-lama gue lihat lo kayak Mak comblang."


"Oh tenang, itu tujuan utama gue," Iren tertawa diikuti ketiga sahabatnya.


"Lanjutkan Ren," ucap Reya sambil mengangkat kedua jempol. "Kenapa nggak dicoba aja? Gue lihat Rangga tulus kok," ucap Reya to the point.


"Nggak semuanya yang tulus harus diperjuangin kan? Gue udah capek bersembunyi dibalik kata tulus cuma buat ngeyakinin hati," ucap Filla.

__ADS_1


"Woh, tenang, sejak kapan jadi Filla teguh?" ledek Iren sambil merangkul Filla membuat yang lain tertawa.


Rangga bersama kedua sahabatnya duduk di meja sebelah rombongan Filla.


"Ngapain juga duduk disitu? Perasaan banyak meja kosong," ucap Reya pelan.


Filla melirik sebentar, ia tahu pasti mengapa Reya merasa tidak nyaman, kali ini seperti dirinya, Reya mungkin tak ingin melihat Samuel yang selalu mencuri pandang padanya.


"Gue ke toilet dulu," ucap Reya beranjak dari duduknya lalu melangkah setelah mendapat anggukan dari keempat sahabatnya.


Samuel juga ikut beranjak, melangkah kerah yang sama menyusul Reya.


Ola menaikkan kedua alisnya membuat Caca menaikkan kedua bahunya.


"Kenapa?" tanya Iren yang belum tahu pokok permasalahan.


Filla menggeleng, "Biasa urusan hati," ucap Filla.


Iren mengangguk, tak ingin terlibat banyak sekarang.


******


Tepat pukul 10 malam acara selesai, hanya meninggalkan beberapa orang yang masih sibuk mengobrol dengan papa dan mama.


Tita masih bermain bersama Riko, malam ini mama memang membebaskan Tita untuk tidur lebih malam tidak seperti biasanya.


Filla bersama kedua sahabatnya mengumpulkan beberapa sampah diatas meja, menolong Bi Surti.


Filla dan Iren tertawa.


"Lo juga entar kalau udah nikah juga gitu," ucap Filla. "Oiya tadi ngobrol apa aja tuh sampai lama banget ke toiletnya?"


Iren mengangkat kedua bahu, "Hal yang nggak penting seperti biasa."


"Jangan galau," ucap Iren sambil menyenggol bahu Reya. "Masih banyak cowok di luar sana yang bisa lo gebet," ucap Iren sambil tertawa.


"Ye, Itu mah elu, jangan diturutin Rey, dia mah siapa aja di gebet, sangking banyaknya kadang lupa janjian sama siapa," ucap Filla.


"Eits, wajar dong, masih mencari, kalau udah nikah kan beda lagi," ucap Iren membela diri membuat Filla dan Reya tertawa.


"Tau ah, gue mau ambil kantong sampah lagi, kayaknya kurang," ucap Filla sambil berbalik. "Aw," ucap Filla saat kepalanya menabrak dada bidang Rangga.


"Eh sorry," ucap Rangga, "Gue cuma mau minta kantong sampah lagi."


Filla memundurkan tubuhnya, "Aw," Filla memegang rambutnya yang tersangkut di kancing kemeja Rangga.


"Eh," Rangga malah menarik Filla agar kembali mendekat.


"Nyangkut, tolongin," ucap Filla.


Iren dan Reya menahan tawa mereka.

__ADS_1


"Aduh Fill, kita cari kantong sampah dulu, da," ucap Iren yang langsung mengikuti Reya meninggalkan Filla dan Rangga.


"Iren, Reya!" teriak Filla.


Rangga menahan tubuh Filla yang hendak menjauh dari dadanya, "Sakit nanti, tenang dulu, biar aku coba lepas," ucap Rangga.


Filla menghela napas, ia hanya berharap rambutnya cepat terlepas dari baju Rangga, berada berdekatan seperti sekarang membuat jantung Filla berdetak lebih cepat dari biasanya, "Bisa nggak sih Ngga?" tanya Filla kesal.


"Sabar," ucap Rangga, Rangga tersenyum sambil berusaha melepas rambut Filla, aroma shampo Filla entah mengapa menjadi aroma yang Rangga sukai sekarang.


"Udah belum sih? Pegel," tanya Filla kesal.


Rangga tersenyum, dirinya sengaja ingin berdekatan dengan Filla lebih lama, membiarkan fakta bahwa rambut Filla sudah berhasil ia lepaskan.


"Apaan nih? Jadi gini Ngga? Bener kan kamu mutusin aku karena suka sama nih perempuan?" bentak Kania tiba-tiba, entah dari mana dirinya muncul.


Filla memundurkan tubuhnya dan terkejut saat rambutnya sudah terlepas, menatap heran pada Rangga.


"Lo kenapa bisa disini?" tanya Rangga heran.


Kania melipat tangan didepan dada, "Nggak usah ngalihin pembicaraan, kamu ketahuan berduaan sama Ni cewek murahan."


"Tutup mulut lo! Dia bukan cewek murahan," bentak Rangga, membuat nyali Kania sedikit menciut.


Filla juga menatap terkejut karena bentakan Rangga yang tidak pernah ia dengar, walau dulu Rangga pernah membentaknya.


"Murahan karena rebut kamu dari aku!" bentak Kania geram.


"Kita nggak ada hubungan apa-apa," ucap Rangga tegas.


"Kalian kalau mau berantem bisa nggak jangan dirumah orang?"


"Berisik lo Fill! Lo yang bikin Rangga berubah, kenapa lo harus balik sih? Pergi aja sana," ucap Iren kesal.


"Nenek sihir," teriak Riko sambil berlari.


"Tau, nenek sihir, jangan bentak Kakak aku," teriak Tita sambil memeluk pinggang Filla.


"Berisik lo anak pungut," ucap Kania.


Filla terbelalak, tanpa menunggu aba-aba Filla melayangkan tamparan kuat pada wajah Kania. membuat Rangga terkejut.


"Kak kenapa?" tanya mama yang berjalan mendekat diikuti papa, ayah dan bunda.


Kania menatap tak percaya, "Lo nampar gue?"


"Iya, apa hak lo ngomong gitu sama adek gue? Berhenti berkoar dengan mulut sampah lo itu, gue cukup sabar ngadepin cewek nggak tahu malu kayak lo, keluar dari rumah gue, karena lo nggak pernah diundang, paham!" Filla menatap tajam Kania.


"Lo-," Kania mengangkat tangannya hendak menampar Filla namun Rangga dengan sigap menahan tangan Kania dan membantingnya.


"Berani lo nyakitin dia, berhadapan sama gue."

__ADS_1


******


__ADS_2