Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 179


__ADS_3

"Kalian yang akur ya selama disini," ucap papa sambil menikmati makan malamnya.


Filla menatap papa sebentar lalu mengangguk.


"Iya Pa, laksanakan," ucap Rangga.


"Nah gini baru mantu Papa," ucap papa membuat yang lain tertawa.


"Kalian jadi besok ke Jakarta?" tanya ayah.


Setelah berbicara banyak hal tiga hari yang lalu, akhirnya Filla dan Rangga memutuskan untuk tinggal di Jakarta awalnya Filla juga terkejut ketika mengetahui Rangga sudah menyiapkan rumah untuk mereka tinggali di Jakarta.


"Jadi Yah, mungkin jam sembilan pagi kami berangkat."


"Yasudah, kalian hati-hati disana, jangan lupa selalu kabari kami disini," ucap bunda yang meraih anggukan Filla dan Rangga berbarengan.


"Iya Kak, kamu juga jangan lupa selalu telpon mama," ucap mama sambil memegang tangan Filla.


Filla tersenyum lalu mengangguk, "Iya Ma, pasti."


Mereka menghabiskan makan malam sambil bercerita banyak hal, lebih tepatnya para orangtua memberi wajangan pada Filla dan Rangga.


Setelah selesai makan, Filla dan Rangga langsung pamit beristirahat dikamar hotel yang sudah disiapkan untuk mereka, mereka memang akan menginap satu malam dihotel.


Filla mengikuti Rangga dibelakang, tubuhnya benar-benar penat berdiri seharian di pelaminan, menyalami setiap tamu yang datang.


Saat masuk kedalam lift, ponsel Filla berdering. Siapa lagi kalau bukan dari Ola, si tukang kepo yang belum puas meledek Filla.


"Apa La?" tanya Filla to the point, dirinya sudah mulai geram dengan Ola dan chat-nya sejak acara resepsi selesai.


"Wei santai, gimana? Udah berduaan dikamar belom? Gue mau ngasih ilmu ni buat lo," ucap Ola dengan cekikikan-nya yang terdengar setiap selesai bicara.


Rangga sempat melirik lalu memundurkan tubuhnya agar berdiri tepat disebelah Filla.


Filla melirik namun tak menggubris Rangga, "Gue nggak butuh, udah ah, gue tutup," Filla hendak menurunkan ponselnya namun teriakan Ola membuatnya kembali menempelkan ponsel pada telinganya.


"Gue cuma mau bilang, selamat menikmati semua hadiah dari kita," ucap Ola lalu mematikan sambungan telepon membuat Filla mengerutkan kening.


"Kenapa?" tanya Rangga.


Filla mengangkat kedua bahu, "Nggak jelas," ucap Filla sekenanya.

__ADS_1


Rangga hanya mengangguk walau tak tahu arah pembicaraan Filla.


Mereka keluar dari lift , berjalan menyusuri lorong hotel.


"Mau kamu atau aku duluan yang mandi?" tanya Rangga sambil mengunci pintu.


Filla berpikir sejenak, "Gue duluan," Filla berjalan mendekati kopernya yang berada disebelah meja.


"Kamu nggak bisa rubah gue-elo pake aku-kamu lagi?" tanya Rangga.


Filla menggeleng, "Nanti kalau udah mood," jawab Filla seadanya.


Rangga menggeleng pelan mendengar jawaban Filla.


"Astaga!" Filla terduduk saat melihat isi dalam kopernya.


"Ada apa?" tanya Rangga yang langsung menghampiri Filla dengan raut khawatirnya. Rangga menelan Saliva saat melihat semua lingerie yang ada didalam koper milik Filla.


Filla dan Rangga saling tatap lalu kembali mengalihkan pandangan.


"Kamu yang bawa kok kamu yang kaget?" ucap Rangga.


"Lo gila? Gue nggak mungkin bawa ini lah, pasti ada yang nuker isinya. Pasti Ola," Filla mengepal tangannya geram.


"Nggak mau, gila kali pake ginian," Filla menghela napas. "Masak aku pake gaun ini?' Filla melihat gaun yang sedang ia pakai dengan wajah pasrah.


Rangga berjalan meninggalkan Filla menuju kopernya.


"Cari solusi kek Ngga, ih males," Filla mendudukkan diri dilantai, dirinya sedang menyusun ancang-ancang untuk membalas perbuatan Ola.


Rangga berjalan mendekati Filla, "Cuma ada ini, aku nggak bawa banyak baju," Rangga menyodorkan kemeja dan boxer miliknya.


Filla berpikir sejenak.


"Kalau nggak mau yaudah," Rangga hendak berbalik namun dengan cepat Filla menahan tangannya.


"Sabar, gue kan lagi mikir," Filla menarik kemeja milik Rangga lalu berdiri. "Pinjem," dirinya langsung berlari masuk kedalam kamar mandi.


"Jangan lari-lari, entar kamu jatoh," teriak Rangga saat Filla sudah mengunci pintu kamar mandinya.


"Tenang," ucap Filla pada dirinya sendiri sambil mengusap dada pelan. Bagaimana dirinya bisa tenang jika malam ini ia hanya akan berua bersama Rangga.

__ADS_1


*******


Filla keluar dari kamar dengan cepol handuk diatas kepalanya, Rangga yang sedang mengecek pekerjaannya di tablet, mengangkat pandangan, dirinya meneguk saliva-nya saat mendapati Filla berdiri didepan meja rias dengan mengenakan kemeja miliknya.


"Aku mandi dulu," ucap Rangga yang langsung dengan cepat masuk kekamar mandi, lebih baik menghindar lebih cepat dari pada terjadi hal lain.


Filla menghela napas saat Rangga menghilang dibalik pintu kamar mandi, dirinya langsung meloncat naik keatas kasur dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.


Teringat sesuatu Filla langsung mengambil guling dan menempatkan ditengah-tengah, berharap bisa menjadi pembatas antara dirinya dan Rangga nanti.


Filla memejamkan mata saat pintu kamar mandi terbuka, entah bagaimana dirinya memilih untuk pura-pura tidur daripada melihat Rangga nantinya, sangat tidak aman untuk jantungnya.


Jantung Filla berdetak lebih kencang saat merasakan kecupan dikeningnya, siapa lagi kalau bukan Rangga yang mencium keningnya cukup lama.


"Selamat tidur sayang," Filla berusaha keras untuk tidak bereaksi mendengar suara serak Rangga. Dirinya bisa merasakan deru napas teratur milik Rangga. Bisa Filla pastikan jarak wajahnya dan Rangga hanya tinggal 5 cm.


Filla sedikit lega saat Rangga mulai menjauh, Filla dapat merasakan Rangga perlahan naik keatas kasur dan menempatkan diri berbaring disebelahnya. Namun rasa lega Filla sepertinya harus tertunda lebih lama, sekarang dirinya bisa merasakan Rangga berjarak begitu dekat dengan memeluknya.


Entahlah dimana guling yang sempat Filla letakkan sebagai pembatas, Filla tak bisa memungkiri bahwa dirinya nyaman berada dalam dekapan Rangga, sampai perlahan dirinya terlelap.


*********


Filla mengerjabkan mata saat silau mentari mulai memasuki ruangan. Dirinya menutup mulut saat mengetahui jarak antara dirinya dan Rangga. Mereka berdua saling berpelukan selama tidur tanpa sadar.


Filla perlahan melepas dekapan Rangga pada tubuhnya.


"Hmm," Rangga berdehem pelan, lalu membuka mata. "Biarin kayak gini sebentar aja," Rangga mempererat pelukannya pada Filla.


"Rangga, lepas," Filla berusaha meloloskan diri.


"Kamu nggak mau aku peluk? Padahal semalem kamu sendiri loh yang minta dipeluk," ucap Rangga dengan mata terpejam.


"Ih apaansih, nggak ada ya, jangan ngarang cerita."


Rangga mengecup kening Filla membuat mata Filla terbelalak.


"Rangga apaansih?" Filla berusaha lepas dari pelukan Rangga, namun nihil, tenaga Rangga jauh lebih kuat.


"Aku akan buat kamu jatuh cinta lagi, pasti," Rangga mengecup sekali lagi puncak kepala Filla lalu beranjak dari kasur. "Aku kekamar mandi duluan oke," Rangga berjalan meninggalkan Filla yang menatapnya.


Filla memegang dadanya, bahkan debaran jantungnya dapat ia rasakan sekarang, "Bisa serangan jantung gue lama-lama," Filla kembali berbaring lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, Rangga bebar-benar membuatnya salah tingkah.

__ADS_1


*******


__ADS_2