
"Buk, ada obat demam buat anak kecil umur setahun lebih Nggak?" tanya Filla dengan napas ngos-ngosan saat berada didepan ibu penjaga Apotek.
"Ada, siapa yang sakit Nak?" tanya ibu itu sambil mencari obat yang Filla maksud.
"Adek saya Buk," jawab Filla sekenanya.
"Ini sirup, kasih 3 kali sehari ya, setelah makan," ucap ibu itu dengan senyum.
"Berapa Buk?" tanya Filla.
"Tiga puluh ribu, nak," jawab Ibu itu Ramah.
"Makasih Buk," ucap Filla lalu bergegas menuju rumah.
Sesampainya dirumah, Fila heran dengan mobil panti yang sudah terparkir dihalaman rumah, setahunya bunda dan yang lain akan pulang jam sepuluh malam nanti. Dengan cepat Filla berlari masuk kedalam rumah.
Filla langsung masuk kedalam rumah dan melihat bunda dan yang lain sudah duduk diruang keluarga melihat keadaan Rain yang ada digendongan bunda, "Assaamualaikum," ucap Filla.
"Waalaikumsalam," jawab semua dengan serempak.
Filla menyalami bunda dan ayah bergantian, "Kok udah pulang?" tanya Filla heran pada bunda.
"Iya Kak, acaranya ternyata nggak sampe sore, jadi bisa pulang," jawab bunda. "Lagian Bunda khawatir sama kalian, sampe jagain mereka semua," ucap bunda sambil mengelus puncak kepala Filla.
"Untung deh Bun, soalnya kita juga bingung Rain tiba-tiba panas," ucap Filla sambil melihat Rain yang terihat tenang digendongan bunda.
"Iya, tadi Rangga kayak kebakaran jenggot, narik-narik Bunda biar lihat Rain," ucap bunda menyindir Rangga yang sudah menonton TV sok Cool.
"Beneran Bun?" tanya Filla sambil mengulum senyum. "Bunda tahu nggak? Pas tadi Rain nangis masak disuruh sumpel pake saputangan Bun," celetuk Filla membuat Rangga menoleh cepat kearah Filla.
Semua orang tertawa mendengar celetukan Filla.
"Ember banget sih? Kan gue panik," eak Rangga lalu kembali menonton TV setelah menatap tajam Filla yang hanya memeletkan lidahnya, membuat Rangga tambah kesal.
"Oiya Bun, tadi aku beli obat buat Rain di Apotek," ucap Filla sambil memperlihatkan obat yang ia tenteng.
"Yasudah, Kakak taruh dikamar Bunda ya," pinta bunda.
"Siap Bun," Filla dengan cepat menuju lantai atas menaruh obat dikamar bunda. "Oiya Bun, Filla langsung kekamar nggak apa-apa ya, Filla mau ngerjain PR soalnya," ucap Filla yang berhenti ditangga.
"Iya Kak, nggak apa-apa, Kakak kerjain aja PRnya," ucap bunda. "Oiya Bang, Abang nggak ngerjain PR?" tanya Bunda yang melihat Rangga, sibuk menonton TV.
"Gampang Bun, Fillanya aja lebay, soalnya gampang semua kok," celetuk Rangga.
"Abang kok santai gitu? Kalau ada PR dikerjain Bang," ucap bunda menasehati.
__ADS_1
"Biarin Bun, entar kalau gampang Filla nyontek aja," canda Filla sambil berlari menuju kamarnya.
"Enak aja," teriak Rangga membuat semua orang tertawa.
******
Kau memang sering bertingkah menyebalkan
Tapi aku tak pernah membencimu.
Karena ku tahu kamu adalah salah satu jejak dalam langkahku.
~~
"Harus gitu gue temenin lo ke acara pameran itu?" gerutu Rangga saat setelah Filla dengan mata berbinarnya menceritakan kejadian tadi siang, dimana ia diundang Bintang anak kelas IPA 2 untuk menghadiri pamerannya malam ini.
Filla memasang muka masam. "Gitu banget sih lo Ngga," celetuk Filla sambil menampar punggung Rangga kuat.
"Aw ...! Sakit kali!" Rangga menggosok punggungnya. "Terus, maksudnya apa? Pake cerita sama gue," tanya Rangga.
Ini sifat Rangga yang super nyebelin menurut Filla, sifatnya yang tak memikirkan oranglain saat ia berbicara.
Filla kembali memasang senyum terbaiknya, "Ya gue minta anterinlah, gue bisa minta Bintang jemput tapi nggak enak lah sama Bunda, makanya gue minta tolong sama lo. Itung-itung juga lo nggak sendirian dirumah dimalam minggu ini," ucap Filla penuh harap.
Rangga mendekatkan wajahnya pada Filla, "Ogah!" ucapnya lalu kembali memainkan ponselnya.
"Nggak peduli," celetuk Rangga tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.
"Pelit banget sih," ucap Filla lalu beranjak dari duduknya, berjalan menuju lantai atas, tanpa memperdulikan Rangga lagi. "Dasar pelit," ucap Filla saat ia berada didalam kamar. Diambilnya bantal guling dan menggigitnya geram. "Dasar hati es," ucapnya dengan kesal. "Terserah deh, gue nggak butuh lo," ucapnya dengan kesal.
"Kenapa teriak-teriak sih Kak? Sampai kedengeran loh di bawah," tanya bunda yang tiba-tiba masuk kekamar Filla.
Filla membuang rasa sebalnya dan tersenyum kearah bunda, "Nggak Bun, lagi kesel aja sama Rangga, diminta tolong susah banget," adu Filla sambil mengerucutkan bibirnya.
"Minta tolong apa emangnya?" tanya bunda penasaran.
"Itu Bun, Filla diajak nonton pameran sama temen, maksudnya ngajak Rangga juga sambil aku bisa nebeng gitu, eh dianya nggak mau," jelas Filla dengan kesal.
"Yaudah nanti Bunda bujuk deh," ucap bunda.
"Nggak usah Bun, males jadinya, daripada hilang mood baik aku naik taxi online aja deh," ucap Filla.
Bunda langsung mengeleng, "Nggak Kak, nanti pulangnya naik taxi juga? Bahaya Kak, pasti kalian pulangnya agak malem," ucap bunda khawatir.
"Tenang Bun, kalau masalah pulang entar Filla nebeng sama temen deh," bujuk Filla memasang mata yang berbinar.
__ADS_1
"Kak-," ucapan bunda langsung terputus karena Filla.
"Aku bisa jaga diri Bun, kalau nggak sekarang? Kapan lagi aku bisa mandiri?" ucap Filla dengan yakin.
"Yaudah, tapi janji ya, nanti nebeng sama temen atau sama Rangga deh," ucap bunda menatap Filla penuh khawatir.
"Tentu Bun, tapi yang pasti nggak sama Rangga," celetuk Filla sambil tersenyum.
"Kalian ini emang suka berantem sih," ucap bunda sambil menyentil hidung Filla.
"Dia yang mulai," ucap Filla sambil tertawa.
******
Terihat Filla dengan setelan baju polos biru muda dan celana jins menunggu taxi onlinenya diteras rumah. Sesekali ia melihat arojinya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sebenarnya ia masih punya banyak waktu, cuma daripada menemui Rangga yang super nyebelin, lebih baik berangkat sendiri.
Filla berjongkok dan membenarkan tali sepatunya yang terepas.
"Cepetan kalau mau nebeng sekalian gue juga berubah pikiran dan memutuskan untuk ikut," ucap Rangga dingin saat lewat disebelah Filla dengan membawa helem.
Filla hanya meliriknya geram lalu kembali duduk dibangku dengan tatapan tak perduli.
"Gue tinggalin kalau lo lama," teriak Rangga karena jarak mereka yang agak jauh.
"Anda siapa ya? Jangan sok kenal deh," ucap Filla menatap tajam Rangga.
Rangga menggeleng. "Mulai deh lebaynya," celetuk Rangga. "Cepetan, mau naik apa lo kalau nggak nebeng sama gue?" oceh Rangga.
"Sok kenal, sok deket banget sih, maaf ya saya tidak butuh anda," ucap Filla dengan nada yang sengaja ia buat semenyindir mungkin.
Rangga duduk diatas motornya dengan gaya yang sok ganteng menurut Filla, sesekali ia tersenyum licik melirik Filla yang masih memasang wajah datar padanya, "Marah ni?" tanya Rangga sambil tertawa.
Lihat saja saat Filla sedang sekesal-kesalnya ia masih sempat tertawa, benar-benar pria sok imut menurut Filla.
"Beneran nggak mau nebeng? Gue tinggal ni," ancam Rangga sambil memakai helem dan menghidupkan motornya.
Filla beranjak dari duduknya dan berjalan keluar rumah.
"Apa gue bilang, jangan gengsi deh, kalau mau nebeng mah jangan jual mahal," ucap Rangga.
Sampai Ia heran melihat Filla yang melewatinya, ditariknya tangan Filla agar berhenti.
"Masih mau jual mahal gitu? Minta dibujuk, nggak akan!" ucap Rangga menekan setiap kata yang ia ucapkan.
Filla melepas tangannya dari pegangan Rangga dengan pelan tapi pasti. Lalu menatap Rangga dan menunjuk taxi yang sudah terparkir didepan rumah tanpa Rangga sadari, "Maaf anda siapa? Jangan sok kenal," celetuk Filla lalu berjalan masuk kedalam taxi. Tanpa Rangga ketahui Filla hampir tak bisa menahan tawanya melihat wajah bodoh Rangga.
__ADS_1
******