Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 72


__ADS_3

"Loh, ini mana yang sakit? Kaki apa tangan?" tanya bunda yang bingung saat Filla memapah Rangga.


Filla melepas rangkulan Rangga darinya, "Tangan Bun, Rangganya aja manja," ucap Filla.


"Nggak ikhlas?" tanya Rangga sambil mencolek dagu Filla.


Filla menatap sengit Rangga, "Apasih Ngga?"


"Udah, itu kenapa Bang tangannya?" tanya bunda khawatir sambil memeriksa tangan Rangga yang sudah dililit perban.


"Maaf Bun, tadi Rangga nolongin Filla waktu ketumpahan sup panas, Rangga yang ngelindungin, alhasil Rangga yang kena," jelas Filla merasa bersalah.


Bunda mengangguk, "Bagus Bang," ucap bunda menepuk bahu Rangga. "Kalau Rangga diem aja baru bunda marah," ucap bunda menambahi.


"Iyalah Bun, Rangga mah laki banget," ucap Rangga bangga.


"Laki banget tapi cemen minta dipapah padahal tangan tuh yang sakit nggak seberapa," celetuk Rafi yang mendudukan diri disofa ruang keluarga.


"Sakit beneran woy," ucap Rangga tak terima sedangkan Rafi hanya melambai malas pada Rangga membuat bunda dan Filla tertawa.


"Yaudah Bun, Filla pulang dulu," ucap Filla sambil menyalami bunda.


"Oiya Kak Filla lupa," ucap Rafi menepuk jidatnya. "Tunggu dulu," Rafi berlari menuju kamarnya dilantai atas.


Mereka yang dibawah hanya menatap Rafi sambil menggeleng.


Rafi berlari menuruni tangga.


"Bang pelan-pelan," ucap bunda membuat Rafi menggantikan larinya dengan berjalan.


"Nih Kak," ucap Rafi sambil menyodorkan sekotak cokelat pada Filla.


Filla menatap Rafi sambil mengambil cokelatnya, "Dari siapa?" tanya Filla penasaran.


"Dari siapa sih? Jangan bilang dari lo," ucap Rangga menatap tajam Rafi.


Rafi menatap Rangga malas, "Itu temen Rafi yang nitip katanya buat kak Filla."


"Temen SMAmu?" tanya Filla penasaran.


Rafi mengangguk, "Kayaknya dia naksir kakak," ucap Rafi santai.


Filla tertawa, "Yaudah kasih tahu sama temenmu makasih," ucap Filla tersenyum menatap coklat ditangannya.


"Nggak usah seneng kek gitu, itu juga bukan cokelat kesukaan lo," ucap Rangga kesal.


"Semua cokelat kesukaan gue," ucap Filla sambil mengulum senyum.


Rangga menatap sengit Filla.


"Yaudah Fi, makasih ya, bilang makasih juga sama temen kamu," ucap Filla tulus.

__ADS_1


Rafi mengangguk sambil hormat pada Filla.


"Yaampun Kakak jadi idola berondong," olok bunda membuat Filla dan Rafi tertawa tapi tidak dengan Rangga. "Santai atuh Bang," ucap bunda menepuk bahu Rangga.


"Yaudah Filla pulang dulu," ucap Filla akhirnya.


"Cepet amat, lo nggak mau ngobatin gue dulu gitu?" tanya Rangga.


Filla menggeleng, "Kan barusan diobatin dokter, yaudah gue pulang dulu," ucap Filla sambil menepuk bahu Rangga lalu melangkah keluar dari rumah bunda.


******


Filla duduk dibagian jendela kafe, menatap jalanan yang cukup ramai aktivitas, ia hari ini menepati janjinya menemani Rafael.


"Udah lama?" tanya Rafael saat dirinya berdiri dihadapan Filla.


Filla tersenyum, "Baru kok Kak, Sorry ya waktu itu nggak jadi," ucap Filla tak enak.


Rafael mengangguk sambil tersenyum, "Santai aja, cuma mau cari buku kok," ucap Rafael.


Filla mengangguk, "Nggak apa-apakan kita makan dulu? Laper," Filla memamerkan gigi rapinya.


Rafael ikut tersenyum, "Iya, aku juga laper."


Filla menyesap jus alpukat yang duluan ia pesan saat menunggu kedatangan Rafael, "Oiya Kak mau pesen apa?" tanya Filla. "Aku juga mau pesen," Filla membuka buku menu dan mulai memilih menu makan siangnya.


Rafael melakukan hal yang sama pada buku menu didepannya.


Filla terdiam saat mengenali seseorang yang duduk menghadap kearahnya namun agak jauh, Filla tahu pasti itu Kania, namun yang Filla herankan sekarang Kania bersama pria lain, ia sangat yakin itu bukan suami Kania yang Filla temui beberapa waktu lalu.


Sepertinya mereka membicarakan hal yang cukup serius.


"Fill," panggil Rafael sambil melambaikan tangan berulang dihadapan Filla.


"Eh, iya kak?" Filla menatap Rafael.


"Lihat apa?" tanya Rafael yang ikut celingak-celinguk mencari apa yang membuat Filla tak fokus untuk beberapa saat.


"Nggak kok Kak, pikirku tadi teman lamaku tapi ternyata bukan," ucap Filla tak ingin memperpanjang.


Kania terkejut saat mata mereka bertemu, Filla tahu pasti Kania berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik laki-laki yang membelakangi Filla, Filla akhirnya mencoba untuk tidak memperdulikan.


"Gimana kelas Fashion desainer? Menyenangkan?" tanya Rafael sambil memotong steak yang sejak tadi sudah berada dihadapannya.


Filla mengangguk, "Lumayan Kak, soalnya Fashionku memang disitu jadi suka aja jalaninnya," jawab Filla sambil mulai memakan makanannya.


"Kenapa kakak suka fotografi?" tanya Filla.


Rafael menyesap minumannya, "Motret adalah salah satu hal yang nggak buat aku bosen, lagi iseng aku motret, sedih aku motret, bisa dibilang aku suka mengabadikan momen," jelas Rafael tulus, sepertinya motret dan Rafael adalah dua hal yang terikat.


Filla mengangguk, "Mata Kakak berbinar saat ngomongin motret, kadang aku suka iri sama orang yang tahu apa yang dia mau," ucap Filla.

__ADS_1


"Kamu juga berbinar saat ngomongin fashion, berarti kamu juga tahu apa yang kamu mau."


Filla mengangguk, "Bersyukurnya ada satu aku tahu apa yang aku mau," ucap Filla sambil tersenyum.


"Nggak semua hal perlu kamu rencanakan, biarin dia berjalan sebagaimana mestinya," Rafael menaikkan kedua alisnya.


Filla tersenyum, lalu mengangguk.


******


"Aku kesana ya kak?" Filla menunjuk rak buku fiksi yang berada dipojokan kanan saat mereka sampai di Gramedia salah satu Mal di Bandung.


Rafael mengangguk, seperti tujuannya Rafael langsung berbaur dengan buku-buku berbau fotografi.


Filla menatap rak buku yang tingginya jauh darinya, ia melihat setiap punggung buku yang menampilkan judul-judul novel penulis terbaik sepanjang masa.


Filla mengambil beberapa buku yang menarik perhatiannya. Filla berbalik saat dua tangan seseorang menguncinya, ia mendonggak.


"Rangga," Filla membulatkan mata atas kehadiran Rangga.


Rangga memundurkan tubuhnya dari Filla, "Ngapain disini?" tanya Rangga. "Sama siapa?" Rangga menatap sekeliling.


Filla membenarkan bajunya, "Sama Kak Rafael," jawab Filla santai.


"Kalian janjian?" tanya Filla yang wajahnya berubah total.


"Iyalah, masak langsung kesini nggak ada omongan."


Rangga menghembuskan napas pelan, "Kenapa nggak kasih tahu aku?"


Filla mengerutkan keningnya, "Harus?" tanya Filla.


"Fill, udah ketemu," ucap Rafael sambil tersenyum dan membawa 2 buku ditangannya.


"Aku juga mau beli," ucap Filla sambil menunjukkan buku ditangannya.


"Aku?" ucap Rangga pelan lalu Rangga memutar bola mata malas.


"Rangga, udah lama disini?" tanya Rafael ramah.


"Lumayan," ucap Rangga dengan senyum paksanya.


Rafael melihat sekeliling, "Masih ada yang mau dibeli?" tanya Rafael.


Filla menggeleng, "Cukup Kak, kalau lebih lama lagi disini bisa nggak tahan buat beli novel," jawab Filla.


Rafael tertawa, "Yaudah yuk," ajak Rafael. "Rangga mau bareng?" tanya Rafael.


"Rangga masih ada kerjaan Kak, yuk," Filla menarik tangan Rafael meninggalkan Rangga.


Rangga menatap sengit Filla yang sekarang menjulurkan lidah mengoloknya.

__ADS_1


******


__ADS_2