Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 108


__ADS_3

Vino mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, "Dek foto ya?" ucap Vino.


Filla mengangguk, siap berpose didepan kamera ponsel Vino.


Vino memotret beberapa posenya bersama Filla, baik sama-sama tersenyum, atau saat Vino menatap Filla sedangkan Filla menatap pada layar ponselnya.


"Boleh Kakak posting?" tanya Vino sambil meletakkan ponselnya diatas meja.


"Boleh Kak, posting aja," ucap Filla sambil memulai kembali menikmati makan siangnya, sebenarnya dirinya sudah makan bersama ketiga sahabatnya, namun seorang Filla yang doyan makan akan tergiur melihat Vino memakan makanannya, alhasil Filla makan siang dua kali.


Vino memperlihatkan layar ponselnya pada Filla, "Ada yang mau kamu rubah?" tanya Vino.


Filla membaca caption yang ditulis Vino yang berada dibawah foto mereka berdua. @bimantara_vino : you are the apple🍎of my eye.


Perempuan mana yang tidak tersentuh ketika membaca caption sweet milik Vino.


Filla mengangguk.


"Bener ya boleh?" ucap Vino sambil tersenyum dan sekali lagi Filla mengangguk.


Baru tiga detik foto tersebut Vino posting, beberapa teman Vino sudah membanjiri kolom komentar.


@faiz_21 : @bimantara_vino Jomblo mah diam.


Vino tertawa membaca komentar Faiz teman dekatnya, "Lihat deh Fill, kapan-kapan kamu harus kenalan sama Faiz, kocak orangnya," ucap Vino sambil memperlihatkan komentar Faiz pada Filla.


Filla ikut tertawa, "Yang ini juga," ucap Filla sambil menunjuk komentar lainnya yang mulai memenuhi kolom komentar Instagram Vino.


*******


"Makasih ya Kak," ucap Filla sambil memeluk Vino, sudah menjadi kebiasaan pelukan adalah cara perpisahan yang mereka lakukan. "Seriusan nggak mau makan malem disini?" tanya Filla.


Vino tersenyum, "Next time aja dek, lagian kamu pasti capek, hampir seharian kita jalan-jalan," ucap Vino sambil mengusap puncak kepala Filla.


Filla tersenyum, "Hati-hati dijalan, jangan buru-buru juga nyetirnya, santai aja," pesan Filla.


Vino mengangguk, "Siap tuan putri, ini boleh cium nggak?" tanya Vino, sengaja membuat Filla malu.


"Kakak, jahil," ucap Filla.

__ADS_1


Vino tertawa, melihat Filla mempautkan bibirnya tentu saja membuat Vino gemas, "Kan nanya, nanti didorong kayak waktu itu," ledek Vino.


Filla tertawa sambil menutup mulutnya, "Udah ah, malu akunya," ucap Filla mencoba jujur.


Vino tak bisa menyembunyikan senyumnya, "Iya, yaudah Kakak balik dulu, langsung istirahat," ucap Vino lalu mencium puncak kepala Filla.


Masih sama seperti sebelumnya, Filla belum bisa mengontrol wajahnya yang memerah ketika Vino melakukan itu, padahal dulu merupakan hal yang biasa, "Hati-hati," ucap Filla.


Vino masuk kedalam mobil dan membiarkan kaca jendela mobilnya tetap terbuka, lalu melambaikan tangan saat mobilnya mulai keluar dari halaman rumah Filla.


Filla menunggu sampai mobil Vino tak terlihat didepan komplek, setelahnya barulah ia melangkah masuk kedalam rumah setelah menyapa Pak Hafidz scurity dirumahnya.


Filla sempat melihat Rangga yang duduk di balkon kamarnya, Filla sedikit terusik ketika Rangga yang bahkan enggan membuka pintu balkonnya sekarang malah sering duduk bersantai disana.


Rangga menatap kearahnya, tapi tetap berjalan dan masuk kedalam rumah, ia harus berusaha lebih keras agar apapun yang Rangga lakukan tidak membawa pengaruh untuk niatnya melupakan.


******


Tas yang seharian Filla sampirkan dibahunya ia lempar keatas kasur termasuk tubuhnya yang terasa butuh kasur untuk beristirahat.


Filla meronggoh ponsel didalam tas yang tergeletak disebelahnya, mendekatkan jari jempolnya pada finger print ponsel.


Sekali lagi Filla merasa senang melihat caption yang Vino tuliskan disana, dan beberapa komentar disana membuatnya tertawa.


Tanpa berpikir panjang Filla berniat melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Vino, ia memilih satu foto yang menurutnya terlihat manis, Vino menatap dirinya sambil tersenyum sedangkan Filla berpose memamerkan dua jari, pose sejuta umat.


"Caption-nya apa ya?" tanya Filla pada dirinya sendiri. Ia menimbang cukup lama sampai akhirnya memilih emote love. Hanya sesederhana itu, Filla memang tipikal orang yang tidak pernah mau berlama-lama memikirkan caption untuk postingannya, emoticon adalah jalan ninjanya.


Ia tersenyum saat fotonya berhasil di posting, Kolom komentarnya sudah dibanjiri notifikasi. Filla tertawa saat membaca komentar dari ketiga sahabatnya.


@ola_skr: OMG, go public nih, peluk jauh pokoknya @Filla_Agatha.


@rhm_Reya : Nggak mau tahu, pajak jadian harus ada dalam waktu dekat, tapi tentunya selamat menempuh hidup baru hahaha @Filla_Agatha.


@Lidia_Caca : @rhm_Reya Filla pacaran bukan nikah kan? Apa gue doang yang nggak diundang?😭.


@rhm_Reya :@Filla_Agatha gue pamit pulang nggak kuat, @ola_skr silahkan bawa pulang sahabat lo @Lidia_Caca, gue lelah.


Filla tertawa membaca komentar dari sahabat-sahabatnya yang selalu kesal dengan tingkah Caca. Filla menggulir layar ponselnya kebawah, sampai jarinya berhenti saat melihat postingan Kania, foto Rangga dan Kania tentunya.

__ADS_1


@Kania_khai : Masih dengannya.


Filla tentu masih merasakan sakit itu pada hatinya, tapi ia berusaha untuk tidak menjadikannya berlarut-larut, toh sudah sering ia melihat postingan seperti ini di akun Kania. Dan lagi, sekarang ia punya hati yang harus dijaga.


Filla berniat menggulir layar ponselnya kebawah namun ia tertegun saat ada notofikasi dari Rangga.


Foto yang Filla posting 3 hari yang lalu, Rangga memberikan tanda hati untuk fotonya, kening Filla berkerut heran, diantara semua foto yang Filla posting selama ini, foto itu menjadi foto pertama yang mendapat notifikasi dari Rangga.


Filla membuka postingannya tadi, dan tidak ada notifikasi apapun dari Rangga, harusnya jika Rangga memang ingin memberikan notifikasi maka foto terakhirlah yang harusnya.


Filla menutup akunnya. lalu melempar ponselnya diatas kasur, memejamkan mata, berusaha membuang pikiran yang akan membuat harapan nantinya.


Filla tertawa kecil, "Filla stop," ucapnya pada diri sendiri, ia tak akan membiarkan harapan itu ada lagi disaat banyak harapan yang dulu masih belum bisa ia hapus. "Itu hal yang biasa untuk dia, ya hal biasa," ucap Filla menyakinkan diri.


Filla merentangkan tangannya, merasakan sejuk pada selimut dikasurnya, "Bisa aja Rangga nggak sengaja," ucap Filla.


Filla beranjak dari kasur setelah meraih ponselnya dan membuka pintu balkonnya, mungkin dengan menghirup udara segar diluar akan membuatnya lebih tenang.


"Filla?"


Filla menoleh, Rangga duduk santai dibalkon kamarnya, benar-benar hal yang Filla ingin hindari, ia lupa jika tadi Rangga memang sudah ada disana. namun jika kembali masuk kedalam kamar, tentu saja terkesan menghindar.


"Oh, hai, Ngga," ucap Filla sambil melambaikan tangan. adegan terbodoh yang ia lakukan sepanjang hidup menurutnya. Filla melanjutkan langkahnya kemudian duduk di kursi. "Gue nggak berniat ganggu lo, jadi anggep aja gue nggak ada," ucap Filla sambil membuka ponselnya.


"Hmmm," ucap Rangga, lalu kembali membaca komiknya.


Filla tidak ingin merasa ke ge-er-an, tapi ia merasa Rangga mencuri pandang padanya beberapa kali.


Filla menghela napas, tidak baik untuk dirinya jika terus berada disana, berniat melupakan Rangga dengan mencari udara segar malah bertemu sekarang.


Filla beranjak dari duduknya, lalu berjalan masuk sampai suara Rangga menghentikan langkahnya.


"Udah mau masuk?" tanya Rangga.


Filla menoleh, "Banyak nyamuk, gue duluan," ucap Filla lalu masuk dan menutup pintu tanpa menunggu jawaban dari Rangga.


Cara terbaik melupakan adalah menjadikannya sebuah kekecewaan


Filla pernah mendengar kata itu dari Papa, dan bersama Rangga, Filla sudah cukup meneguk kekecewaan itu dalam waktu lama, tugasnya bersabar sampai mampu melupakan.

__ADS_1


*******


__ADS_2