Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 81


__ADS_3

Filla menatap lurus dua orang yang bercanda dibawah pohon, entahlah sudah satu minggu adegan itu terus ia lihat, Rangga dan Kania kembali akrab terlepas dari ketidaktahuan Filla tentang hubungan mereka.


Filla meraih bukunya diatas meja taman, seperti biasa ia harus menyudahi menonton tiap adegan yang akan membuatnya sakit hati.


Filla menguatkan diri melewati Rangga dan Kania yang sibuk bercanda, ia selalu merutuki diri mengapa hanya ada satu jalan yang harus ia lewati dan itu membuatnya harus bertemu dengan Rangga dan Kania.


"Filla," panggil Kania yang langsung berjalan menghampiri Filla yang berusaha tak terlihat.


Filla memghembuskan napasnya, mencoba memaksa senyumannya, "Iya Kania," jawab Filla sambil menanyakan maksud Kania memanggilnya dengan tatapan matanya.


"Bisa fotoin kita? Dari tadi pengen minta tolong tapi nggak ada yang lewat," ucap Kania sambil memegang ponselnya penuh harap pada Filla.


Filla mengangguk walau terasa berat.


Kania tersenyum lalu berlari menghampiri Rangga, menempatkan diri duduk disebelah Rangga.


Filla memposisikan diri mencari posisi yang tepat agar foto mereka terlihat bagus nantinya, walau jauh didalam hatinya adegan ini sangat melukai.


"Gue foto ya, satu, dua, tiga," Filla memotret adegan yang hampir membuat airmatanya tak terbendung, Kania dengan cepat mencium pipi Rangga membuat Rangga juga ikut menoleh, walau akhirnya tersenyum.


Filla mengedarkan pandangannya, menatap lebih lama hanya akan membuatnya lemah dan menangis sekarang.


"Filla sekali lagi boleh?" tanya Kania.


Filla hendak mengangguk namun rangkulan tangan dibahunya membuat Filla menoleh cepat.


"Kak Vino?" Filla mengerjapkan matanya, meminimalisir cahaya yang menyilaukan wajah Vino.


Vino menunduk menatap Filla karena tingginya, Ia tersenyum, "Fillanya gue pinjem boleh?" tanya Vino.


Kania tersenyum, "Boleh, makasih ya Filla," ucap Kania malu-malu.


Vino menaikkan kedua alis sambil tersenyum lalu memberikan posel Kania yang ada ditangan Filla pada Kania.


Filla tanpa berkedip mendonggak menatap Vino yang sekarang merangkulnya kuat meninggalkan Rangha dan Kania.


Vino mengajak Filla duduk di kursi penonton lapangan futsal kampus, "Kamu kenapa mau dek digituin? Kalau kamu nggak nyaman nggak usah ikutin permintaan mereka," ucap Vino menatap Filla lembut.


"Bentar, ini beneran Kak Vino?" tanya Filla masih tak percaya.


Vino tertawa, "Aku pikir kamu lupa, emang aku nggak berubah?" tanya Vino.


Filla tersenyum, lalu mengangguk, walau ia akui pasti jika tidak bertemu Vino dalam mimpi ia akan pangling seperti sebelumnya.


Filla kembali memeluk Vino, "Kangen banget sama Kakak," ucap Filla.


"Sama Filla," Vino mengusap puncak kepala Filla.

__ADS_1


"Kakak bisa di Bandung? Bukannya kakak buka bisnis di Singapura?" ucap Filla.


Vino menatap Filla heran, "Kamu tahu darimana kakak buka bisnis di Singapura?" ucap Vino dengan wajah penuh tanya.


"Nebak aja," Filla cengengesan. "Kan waktu kecil Kakak pernah bilang mau buka bisnis di Singapura," ucap Filla berbohong.


Vino mengangguk, "Kakak Alhamdulillah buka 2 cabang Fill, cuma kayaknya bakalan fokus di cabang Bandung, sekalian lanjutin S2 disini," ucap Vino.


Filla membulatkan mata, "Kakak beneran kuliah disini?" tanya Filla antusias.


Vino tertawa, "Kok kamu yang jadi semangat?" ucap Vino meledek.


"Iyalah, secara Kakak menghilang lama banget, aku kan butuh sosok abang," ucap Filla sambil melipat kedua tangannya.


"Kamu nggak berubah," ucap Vino sambil mengusap puncak kepala Filla.


******


"Kak, masuk dulu, mama pasti seneng banget ketemu kakak lagi," Filla menarik tangan Vino memaksanya masuk.


Vino hanya mengikuti tanpa membantah.


"Akak, malem banget ulangnya, Tita ndak ada temen main," ucap Tita dengan wajah cemberutnya yang sangat gemas.


Filla mencubit gemas pipi Tita, lalu menyamaratakan tingginya dengan Tita, "Hmm, maaf deh nggak lagi-lagi janji," ucap Filla menawarkan jari kelingkingnya.


Tita melepas pelukannya pada Filla lalu mendonggak menatap Vino heran, "Ciapa Akak," tanya Tita menatap Filla.


Filla tersenyum, "Kenalin dulu kalo gitu, itu Kak Vino," ucap Filla menunjuk Vino.


Vino melambaikan tangan dan tersenyum, "Hai, namanya siapa?" tanya Vino sambil mengusap puncak kepala Tita.


Tita tanpa segan memeluk perut Vino, "Akak Anteng," ucapnya sambil tertawa.


"Yaampun Tita, tau darimana kayak gitu?" Filla menarik Tita dan mencubit pipi Tita gemas. "Sini," ucap Filla membawa Tita didepannya dengan memeluk Tita dari belakang. "Kak Vino nanya tuh, siapa namanya?" ucap Filla.


Tita membungkuk memberi salam pada Vino, "Nama saya Tita Agatha," ucap Tita sambil tersenyum.


Sekarang Filla dan Vino yang tak bisa menahan tawanya, entah adegan Film apa yang Tita lihat, terlihat jelas Tita sedang memperaktekkannya sekarang.


"Lucu banget sih," ucap Vino gemas mengacak puncak kepala Tita yang hanya setinggi pinggangnya.


"Loh ada tamu Kak? Kok depan pintu aja?" tanya mama yang mendatangi mereka.


Filla menyalami mamanya, "Baru nyampek Ma, ni bocil bikin ulah," ucap Filla sambil mencubit gemas pipi Tita.


Vino ikut tertawa, lalu menyalami tangan mama, "Apa kabar tante?" ucapnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik," Mama menatap Filla dengan mata mengisyaratkan tanyanya.


"Oiya, Ma ini Kak Vino, Mama inget nggak?" tanya Filla.


Mama mengerutkan alisnya sebentar, "Vino Bimantara?" tanya mama antusias.


"Nah, iya tante," ucap Vino sambil tersenyum, senyum yang terasa teduh bila dipandang.


"Yaampun, udah lama banget nggak lihat kamu Vino," ucap mama sambil menepuk bahu Vino. "Gimana ceritanya bisa di Bandung?" tanya mama. "Yaudah yuk duduk dulu sambil cerita," ucap mama mengajak mereka duduk dikursi tamu.


"Tita, Mama minta tolong dong, kasih tahu Bi Surti buat bikin minuman." ucap mama.


"Ciap bos," ucap Tita yang sudah berlari, lalu berjalan ketika mata mama menatapnya, sesimpel itu Tita memang sangat penurut dengan mama, padahal mama tidak pernah memarahinya sedikitpun tapi Tita tetap takut dengan tatapan mama.


"Jadi gimana bisa di Bandung?" tanya mama antusias.


Vino tersenyum, "Baru 3 hari sih Tante, perusahaan buka cabang di Bandung, dan aku sambil lanjutin S2 disini," ucap Vino.


Mama mengangguk, "Kalian sekeluarga pindah kesini?" tanya mama tambah antusias.


Vino menggeleng, "Cuma aku sendiri Tan, soalnya mama sama papa masih stay di Paris," ucap Vino. "Bisa dibilang kangen Indonesia," ucap Vino sambil tertawa.


Bi Surti dengan nampan ditangannya meletakkan minuman untuk Vino, "Silahkan Den," ucap Bi Surti.


"Makasih Bi," ucap Vino tersenyum ramah.


"Makasih Bi, Tita mana ya?" tanya mama mengedarkan pandangan mencari Tita.


"Biasa Bu, Tita main sama ikan yang batu bapak beli," ucap Bi Surti.


Filla dan mama tertawa, Tita memang hampir 3 hari selalu bermain ditaman belakang semenjak ikan peliharaan papa ada dikolam ikan taman belakang.


"Kamu mandiri sekali Vino, diminum Vino," ucap mama, saat kembali menatap Vino.


"Masih belajar Tante," Vino meraih minuman didalam gelas didepannya lalu menyesapnya perlahan.


"Kamu main kesini aja ya, kalau bisa makan malam atau sarapan disini aja, bareng Filla juga, Tante tahu tuh kalau hidup sendiri bisa-bisa kamu makan mie instan terus," ucap mama bercanda.


Semua tertawa termasuk Vino, "Tente bener banget," ucap Vino. "Yaudah Tan, Fill, Aku mau pamit dulu, ada urusan dikantor," ucap Vino.


Filla mengangguk, "Hati-hati Kakak, sering-sering main kesini," ucap Filla.


Vino mengangguk lalu mengusap puncak kepala Filla, "Iya, yaudah Tante Vino pamit dulu ya," ucap Vino sambil menyalami tangan mama.


"Hati-hati Vino nyetirnya," ucap mama.


Vino mengangguk, Filla dan mama berdiri didepan pintu melihat keperpergian Vino dengan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2