Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 158


__ADS_3

"Bawa keluar Rangga," ucap Bunda yang ikut kesal dengan sikap Kania.


Rangga menarik Kania keluar dari sana walau Kania memberontak.


"Awas lo Fill, gue bales," teriak Kania disela kepergiannya.


"Gue tunggu!" teriak Filla masih dengan emosinya.


"Sabar Kak, tenang," ucap mama yang mengusap bahu Filla berulang.


"Ada apa Fill?" tanya Iren dan Reya yang berlari mendekati Filla.


Filla berjongkok menyamaratakan tingginya dengan Tita, "Maaf Dek," ucap Filla sambil memeluk Tita.


Filla tak bisa menahan tangisnya, ucapan Kania benar-benar menyakiti Filla, walau itu untuk Tita, Filla tak pernah menyangka ada orang setega itu, apalagi pada adiknya.


"Kakak kenapa minta maaf? Kakak nggak salah," ucap Tita memeluk Filla erat.


Filla menghapus air mata Tita, "Jangan dengerin ucapan sampah kayak gitu ya, kamu adik Kakak, nggak ada yang bisa rubah itu," ucap Filla membuat Tita mengangguk, Filla menarik Tita kembali dalam pelukannya.


Mama, bunda, Reya dan Iren ikut meneteskan airmata mendengar ucapan Filla, dan kasih sayang yang Filla berikan pada Tita.


"Udah, ayo masuk dulu," ucap papa.


Filla berdiri lalu menggandeng Tita, mereka masuk kedalam rumah, lalu duduk di sofa ruang tamu.


"Udah Akak jangan nangis," ucap Tita sambil mengusap airmata Filla.


"Iya Kak Filla, nenek sihir itu emang jahat," ucap Riko yang duduk disebelah Filla.


"Bunda juga nggak habis pikir ada manusia setega itu," ucap Bunda sambil mengusap dada.


"Dia juga pernah ngomong gitu waktu Tita main sama Riko, jadi udah biasa," aku Tita.


"Kamu kenapa nggak cerita sama Mama Dek? Astagfirullah," ucap mama juga ikut kesal.


Tita menunduk tak berani menjawab mama.


"Tita, kalau ada orang ngomong kayak gitu, jangan didengerin ya, yang terpenting kamu harus inget kamu anak papa, mama dan adik Kak Filla," ucap papa lalu mengusap puncak kepala Tita.


Tita mengangguk, "Tita nggak dengerin kok,"


"Pinter," ucap Reya sambil mengacungkan dua jempolnya dan tersenyum pada Tita. "Udah ah, Princess masak sedih, ini juga Kakaknya malah mewek," ledek Reya sambil menepuk bahu Filla.


Tita ikut tersenyum, "Tita memang pinter Kak Reya," ucap Tita dengan bangga.

__ADS_1


*******


"Semalem Rangga sweet banget ya?" ucap Iren sambil menyenggol bahu Filla.


Filla mengerutkan keningnya, "Sweet apaan?" Filla memasukkan baju yang di buat mama kedalam wardrobe.


"Pura-pura nggak tahu nih? Waktu dia belain lo, damage-nya dapet banget."


Filla tersenyum sambil menggeleng, "Lo aja gih sama Rangga, kalau emang terpesona."


Iren menghela napas, "Ucapan sama hati terdengar beda buk," ledek Iren.


Filla hanya mengangkat kedua bahu lalu duduk disebelah Iren sambil menggulir media sosialnya di ponsel.


From Rangga


Soal semalam aku minta maaf.


Filla menutup chat dan memilih membuka Instagram, membiarkan pesan dari Rangga terabaikan.


"Oiya Fill, kapan kita cari baju buat acara pernikahan Ola?" tanya Iren.


"Gampang, Mama yang siapin," ucap Filla.


Iren mengangguk, "Eh BTW gue udah lama penasaran tapi lupa nanya, alasan lo mau ambil fashion designer karena ikutin jejak mama lo?" tanya Iren.


"Ih PD amat lo, tapi gue cuma bingung aja sama lo, harusnya gampang buat lo bikin usaha disini kalau memang nggak mau kerja sama perusahan orang lain, tapi kenapa lo menolak keras buat menetap di Indonesia aja?"


Filla mengangkat kedua bahunya, "Lo kayak nggak ikhlas banget gue balik ke Milan."


Iren mengangguk, "Emang," ucap Iren jujur. "Gue sama lo hampir 3 tahunan Fill, dan gue rasa di Milan bukan tujuan utama lo buat berkarir, cuma karena menurut lo, lo nggak punya pilihan lain selain di Milan," ucap Iren jujur.


Filla menatap Iren dan hanya diam dirinya sendiri pun membenarkan ucapan Iren tanpa sadar.


Iren menepuk bahu Filla, "Jangan biarin hal lain menganggu masa depan lo, kalau hati lo udah memilih jangan pernah buat menolak," ucap Iren sambil tersenyum.


Filla mengacak rambut Iren lalu memeluknya, "Bilang aja, lo takut nggak punya teman kalau gue ke Milan," ledek Filla.


"Salah satu alasannya sih iya," jawab Iren sambil tertawa.


Suara ketukan pintu membuat mereka menoleh.


"Masuk," ucap Filla. "Eh Mama," Filla membenarkan duduknya.


"Kak, ada tamu dibawah," ucap mama dengan wajah yang sulit Filla artikan.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Filla sambil mengangkat kedua alisnya.


Mama diam sebentar lalu kembali menatap Filla. "Istri Vino," ucap mama pelan.


Filla menghela napas, "Yaudah aku turun sebentar lagi," ucap Filla.


Mama mengangguk, "Yaudah, Mama temenin dia dulu, Kak apapun dia omongin nantinya jaga emosi ya," pesan mama yang diangguki Filla.


Mama keluar dari kamar lalu menutup pintu.


"Mau apa tuh perempuan nemuin lo?" tanya Iren beranjak dari kasur mengikuti Filla keruangan wardrobe.


"Mungkin cuma mau silahturahmi," jawab Filla santai sambil memakai bajunya.


"Nggak laki, nggak bininya sama-sama ngerusuhin hidup orang," ucap Iren kesal. "Lo nggak harus nemuin dia menurut gue," ucap Iren.


Filla menatap Iren lalu tersenyum, "Kok lo yang kayak kebakaran jenggot? Santuy," ledek Filla.


Iren menghela napas, "Lo nggak harus pura-pura tegar Fill, ini pasti menganggu banget, apa perlu gue yang temuin?" tanya Iren.


Filla menggeleng, "Lo nggak ada hubungannya, kenal juga nggak, lo tunggu disini ya, gue mau selesaiin ini semua," ucap Filla.


Iren menghela napas, "Gue nggak janji akan diem aja kalau nanti udah kelewatan, gue mau nguping diruang tamu," ucap Iren.


Filla tersenyum, "Iya," ucap Filla membuat Iren juga ikut tersenyum akhirnya.


*******


Filla berdehem pelan saat berada di teras, Salsa dan anaknya yang duduk dipangkuan terlihat murung.


Anak Salsa sudah menginjak umur 2 tahun lebih, wajahnya mirip dengan Vino, Filla tersenyum melihat anak lelaki itu melambaikan tangan saat melihatnya.


"Kenapa nggak masuk aja?" tanya Filla.


Salsa menatap Filla, "Nggak usah, gue mau langsung ke intinya," ucap Salsa.


Filla lalu duduk di kursi depan Salsa.


"Gue akan langsung ke intinya," ucap Salsa.


Filla mengangguk.


"Kenapa lo harus balik lagi ke Indonesia? Hubungan rumah tangga gue baik-baik aja selama lo nggak ada, kenapa lo harus balik lagi?" tanya Salsa to the point.


Filla mengerutkan kening, "Terserah gue mau balik atau nggak ke Indonesia, disini tempat kelahiran gue, tempat gue pulang buat ketemu keluarga, kenapa lo ngatur?" tanya Filla tak habis pikir.

__ADS_1


"Tapi karena kehadiran lo, Kak Vino berubah, lo nggak kasian sama anak kami yang jadi imbasnya karena Kak Vino sibuk ngejar lo," tanya Salsa sambil menangis.


********


__ADS_2