
Terlihat Filla dan mama berjalan di dalam mal, melihat-lihat beberapa baju, mereka memang menyempatkan untuk jalan-jalan berdua sebelum nantinya mama akan kembali ke Bandung.
"Tadi kenapa Tita nggak mau ikut Ma?" tanya Filla sambil melihat berapa jaket jins.
"Itu Kak, dia ketemu temen baru, anak cowok yang tetangga kalian itu, karena besok pagi-pagi udah mau balik ke Bandung, jadi katanya mau perpisahan."
Filla tertawa, "Anak jaman sekarang udah ngerti aja perpisahan," ucap Filla.
"Biasa kak, adekmu kecil-kecil gitu kadang bikin Mama suka geleng-geleng liat tingkahnya."
Filla tertawa, bisa ia bayangkan bagaimana mama menghadapi Tita yang tanpa terasa semakin cepat besar.
"Ma seriusan besok pulang? Nggak mau lama-lama gitu disini aja?" tanya Filla manja.
"Kakak kan tahu Papa sibuk, di Bandung sekarang kerjaannya numpuk karena beberapa hari disini."
Filla mempautkan bibirnya, "Iya deh, mau gimana lagi."
"Kakak kan udah ada Rangga, makanya cepetan kasih Mama cucu, sekalian buat temen kamu, apalagi kalau Rangga harus kerja diluar kota."
Filla diam sejenak, dirinya teringat lagi dengan ucapan Rangga minggu lalu, Rangga membicarakan ini jauh-jauh hari tentang dirinya yang akan mengurus beberapa cabang fotografinya di Yogyakarta.
"Kakak nggak mau ikut aja? Rangga juga pasti seneng kalau Kakak ikut," ucap mama yang masih sibuk memilih sepatu untuk Tita.
Filla hanya bisa menggeleng melihat mamanya yang selalu menyempatkan diri membeli sepatu untuk Tita ataupun dirinya, pantang jika ada yang menarik, mama tanpa segan membelinya walau sepatu mereka bahkan sudah tidak punya tempat.
"Filla nggak bisa ninggalin butik Ma, lagi sibuk-sibuknya, kasian Iren," ucap Filla.
Mama mengangguk, "Tapi nggak apa-apa biar misah bentar," ucap mama gemas.
"Ma," panggil Filla pelan.
"Hmm," Mama hanya berdehem pelan tanpa menoleh.
"Mama pernah ditinggal Papa kerja diluar kota?" tanya Filla ragu-ragu.
Mama menoleh, "Kenapa? Kamu takut nggak tahan nggak ketemu babang Ranggamu itu?" ledek mama.
"Apasih Ma? Filla serius!" gerutu Filla kesal, lebih tepatnya bercampur rasa malu.
"Ya pernah Kak, tapi percaya deh, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya untuk pertama kali itu berat." Mama masih saja membuat Filla kesal dengan ledekannya.
"Salah nanya orang Filla," celetuk Filla membuat mama tertawa puas.
********
__ADS_1
Filla menghapus makeup-nya didepan meja rias, dirinya sempat menoleh ketika Rangga masuk kedalam kamar.
"Kemana aja sama Mama tadi sayang?" tanya Rangga sambil mendekat kearah Filla.
Filla menoleh sebentar, "Cuma ke Mal, biasa Mama selalu beli sepatu untuk Tita, suka geregetan katanya kalau lihat model terbaru."
Rangga tertawa, dirinya paham betul bagaimana nantinya wajah Tita akan cemberut mendapati sepatu baru lagi, bukan apa-apa, Rangga saja hanya bisa menggeleng melihat rak sepatu milik Tita dan Filla dirumah.
"Lama-lama rumah udah kayak toko sepatu itu."
"Makanya, percuma juga Mama dikasih tahu, kalau udah gemes susah dikontrol," ucap Filla.
Rangga tertawa lalu mencubit gemas pipi Filla, makanya sama kayak kamu kalau udah gemes aku susah kontrol." ucap Rangga.
Seperti biasa wajah Filla memerah, "Apasih Ngga?" ucap Filla membuat Rangga tambah tertawa. "Kamu nggak mandi? Tadi kan olahraga sama Papa."
"Masih panas, bentar lagi aja," ucap Rangga yang mendudukkan diri disofa sebelah kasur.
Filla hanya mengangguk, lalu menyusun kembali skin care miliknya dengan rapi, "Oiya tadi aku beliin kamu jam tangan, bosen aku lihat kamu pake jam tangan itu mulu," ucap Filla sambil berjalan menuju paper bag di walk in closet-nya.
"Wah," Rangga menerima paper bag yang disodorkan Filla, "Bagus," ucap Rangga sambil tersenyum saat melihat jam tangan bermerek dari Filla. "Makasih," Rangga mengusap puncak kepala Filla.
Filla hanya mengangguk, semua perlakuan Rangga belum bisa terasa biasa untuk dirinya.
"Kamu mau apa? Nanti aku beliin," ucap Rangga.
"Kamu beneran nggak bisa ikut ke Jogja? Entar kamu kangen lagi sama aku."
"Ih ngarep, nggak akan kangen," ucap Filla.
Rangga menghela napas, "Yah, kangen dong, pura-pura juga nggak apa-apa," ucap Rangga dengan wajah memelas.
Filla menampar pipi Rangga pelan, "Apasih? Udah ah aku mau mandi," Filla beranjak dari duduknya namun langkahnya terhenti saat Rangga menarik tangannya.
Filla kehilangan keseimbangan dan terduduk dipangkuan Rangga, dirinya dengan cepat berusaha berdiri namun terlambat, Rangga malah memeluknya erat.
"Mandi bareng aja yuk," ajak Rangga.
"Rangga! Nggak usah gila deh, lepas aku mau mandi," tidak usah ditanya bagaimana keadaan jantung Filla sekarang, degupnya bahkan bisa Filla pastikan terdengar ditelinga Rangga bagaimanapun dirinya berusaha menyembunyikan.
"Mandi bareng kalau gitu," Rangga malah melingakarkan tangannya lebih erat ditubuh Filla, seolah tak memberikan kesempatan jarak tercipta diantara mereka.
Filla akhirnya mengalah, membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Rangga, "Emang kamu berapa lama disana?" tanya Filla.
Rangga tersenyum mendapati tidak adanya penolakan dari Filla, "Seminggu, kamu jangan kangen ya."
__ADS_1
Filla tersenyum, "Kamu kali yang kangen, aku mah biasa aja," ucap Filla santai.
Rangga menghela napas, "Fill, peluk aku dong," ucap Rangga manja.
Filla tertawa, "Apasih? Manja banget, mana Rangga yang terkenal dingin kayak batu es, bisa-bisa fans kamu ilang kalu liat kamu kayak gini."
"Biarin, manja sama istri sendiri juga," Rangga memeluk Filla erat membuat Filla tersenyum.
Filla memberanikan diri melingkarkan tangannya dileher Rangga, melakukan permintaan Rangga untuk memeluknya, entahlah kali ini Filla ingin membuang rasa gengsinya.
Mendengar tentang rencana pekerjaan Rangga diluar kota sebenarnya membuat Filla merasa ada suatu yang hilang walau belum terjadi. Sepertinya Filla sudah sangat bergantung dengan kehadiran Rangga.
"Aku udah beli lampu otomatis, kalau nanti ada pemadaman listrik biar kamu nggak ketakutan," ucap Rangga. "Aku udah minta Bi Tika buat nginep sini kok biar nemenin kamu selama aku nggak ada."
Filla mengangguk, Rangga bernar-benar memberikan yang terbaik untuknya membuat Filla berbunga, "Makasih," ucap Filla pelan.
*******
"Kalian hati-hati," ucap Filla sambil memeluk papa dan mama bergantian.
"Kalian juga, jaga kesehatan disini, sering-sering main ke Bandung, tengokin kita," ucap papa pada Rangga dan Filla.
Rangga mengangguk sambil tersenyum.
"Akak," Tita memeluk Filla, walaupun tingginya hanya sepinggang membuat Filla tersenyum.
"Jangan nakal ya Ta, belajarnya yang rajin, nanti kesini lagi," ucap Filla sambil memeluk Tita.
Tita mengangguk lalu mencium pipi Filla.
"Abang," Tita juga memeluk Rangga, "Kalian jangan sering berantem ya," ucap Tita sambil mengangkat kelingkingnya didepan Rangga membuat yang lain tertawa.
Rangga tersenyum lalu mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Tita, "Iya adik ipar," ucap Rangga lalu mengacak rambut Tita.
"Yasudah kita masuk ke ruang tunggu dulu, kalian pulangnya hati-hati."
Filla dan Rangga mengangguk, mereka melambaikan tangan saat perlahan papa, Tita dan mama berjalan masuk.
"Yuk," ajak Rangga sambil merangkul Filla.
Filla mengangguk, mereka berjalan menuju parkiran.
"Kita sarapan dulu ya sebelum pulang," ajak Rangga yang diangguki oleh Filla saat mereka telah menjalankan mobil meninggalkan bandara.
Rangga sambil menyetir menggenggam tangan Filla dengan tangan kirinya membuat Filla menoleh namun membiarkan tangan mereka saling menggenggam.
__ADS_1
********