Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 139


__ADS_3

Filla berpikir sejenak, bagaimana bisa mama meminta Rangga untuk mengecek keadaannya padahal mama tahu Filla tidak berhubungan baik dengan Rangga.


"Tapi semalem gue udah izin ke mama, nggak ada alasan buat dia khawatir," ucap Filla dengan tatapan menyelidik.


Rangga menghela napas, "Kamu disini karena Vino kan?" tanya Rangga.


Filla mengerutkan keningnya heran, "Lo tahu darimana?" tanya Filla menatap dalam mata Rangga, mata yang selalu membuat Filla tak bisa lepas.


"Semalem dia kerumah cari kamu, mama sama papa kamu menolak untuk Vino masuk kedalam rumah, akhirnya terjadi perdebatan antara Vino dan papamu."


"Perdebatan? Maksudnya Kak Vino dan Papa berkelahi?" tanya Filla tak percaya.


Rangga mengangguk, "Sekarang Tita dirumah sakit," ucap Rangga to the point.


Filla terbelalak, "Lo jangan bercanda Ngga, gimana bisa Tita masuk rumah sakit? Kemaren dia baik-baik aja," ucap Filla khawatir. "Kita kerumah sakit sekarang," ucap Filla sambil berlari keluar.


Rangga dengan cepat mengejar Filla lalu menarik tangan Filla, Rangga menghela napas, "Kamu tenang dulu, panik nggak akan menyelesaikan masalah."


"Gimana bisa tenang, Adek gue masuk rumah sakit Rangga!" ucap Filla tegas.


"Aku paham, tapi dengan kamu kayak gini apa bisa membuat semuanya berubah? Malah tambah runyam nanti," ucap Rangga tegas.


Filla menghela napas, "Gue harus gamana? Tenang seperti nggak terjadi apa-apa? Gitu mau lo?" tanya Filla kesal.


Rangga melepas tangan Filla lalu manatap mata Filla, "Kamu yakin akan pakai baju kayak gini ke rumah sakit?" tanya Rangga sambil menunjuk piyama Reya yang Filla kenakan.


Filla ikut melihat tubuhnya, benar kata Rangga, ia tak mungkin keluar dengan piyama pendek milik Reya.


"Oke lo tunggu disini, anterin gue kerumah sakit," ucap Filla yang langsung berlari masuk kedalam rumah Reya.


Rangga hanya mengangguk sambil menyenderkan tubuhnya pada mobil.


*********


"Jadi kenapa Tita sampai bisa masuk rumah sakit?" tanya Filla tak sabaran, saat mereka dalam perjalanan.


"Bentar," ucap Rangga sambil melihat kedepan, ternyata ada seekor kucing yang menghalangi jalanan.


Rangga mencoba mengklakson beberapa kali namun kucing putih tersebut enggan beranjak.


"Aku pinggirin kucing dulu, kamu tunggu disini," ucap Rangga sambil keluar dari mobil.


Filla melihat Rangga yang dengan hati-hati mengangkat kucing tersebut dan memindahkannya ke pinggir jalan, Mata Filla tak bisa berpaling dari Rangga, saat Rangga mengeluarkan sebuah sosis dari kantongnya dan memberikannya pada kucing tersebut.

__ADS_1


Filla tertegun, Rangga kembali seperti Rangga yang ia kenal dulu, terasa hangat walau terbungkus dengan wajah dinginnya. Please jangan pernah lagi, batin Filla.


Filla mengalihkan pandangannya ke jendela kaca saat Rangga kembali masuk kedalam mobil.


"Kita lanjut jalan," ucap Rangga sambil memasang sabuk pengaman.


Filla mengangguk tanpa menoleh.


Rangga menjalankan kembali mobil milik ayah, "Tenang aja, Tita nggak kenapa-kenapa," ucap Rangga tanpa menoleh.


Filla menoleh, benar saja pertanyaannya pada Rangga belum meraih jawaban, "Jadi kenapa Tita bisa masuk rumah sakit?" tanya Filla.


"Karena papamu dan Vino berdebat semalem, Tita kebangun dan langsung memeluk papamu saat tahu mereka berdebat di depan rumah, tanpa sengaja Tita ke dorong dan kepalanya terbentur di pintu," jelas Rangga.


Filla menutup matanya, menyesali pilihannya untuk tidak pulang semalam, "Terus keadaan Tita sekarang?" tanya Filla penuh harap.


Rangga menatap mata Filla, "Kamu tenang aja, Tita bahkan bisa pulang hari ini," ucap Rangga.


Filla menghela napas, "Alhamdulillah," ucapnya bersyukur. Filla tak habis pikir dengan Vino yang berubah total, Vino seperti orang yang tidak Filla kenal sekarang, sikap dan ucapannya berubah.


******


Filla berjalan cepat di koridor rumah sakit diikuti Rangga dibelakangnya.


Filla terhenti saat melihat Vino yang duduk di depan ruangan Tita.


Rangga melihat keberadaan Vino lalu memegang bahu Filla, "Dia biar aku yang urus," ucap Rangga yakin.


"Gue bisa sendiri," ucap Filla yang langsung berjalan menghampiri Vino.


"Dek, maafin Kakak, Tita nggak sengaja ke dorong," ucap Vino yang langsung berdiri saat mendapati Filla.


Filla menatap Vino, "Kakak maunya apa sih? Berhenti berkeliaran dihidupku atau keluargaku, Kakak lebih baik pikirin Salsa dan anak kalian," ucap Filla tegas.


"Filla, kita udah omongin ini, aku nggak akan tanggungjawab atau menikahi Salsa, aku punya kamu buat apa ada dia?" ucap Vino sambil memegang tangan Filla.


Filla berusaha melepas namun genggaman Vino terasa kuat, "Lepas!" ucap Filla tegas, namun Vino malah menggenggam lebih kuat.


Rangga memegang pergelangan tangan Vino, "Lepas!" ucap Rangga tegas.


"Gue nggak ada urusan sama lo, jangan ikut campur," Vino menatap Rangga tajam.


"Sebelum lo lepasin tangan dia, itu jadi urusan gue," ucap Rangga, yang langsung menarik tangan Filla dan menghempaskan tangan Vino, lalu mendorong Vino kebelakang. "Satu lagi jangan jadi pengecut!" ucap Rangga lalu membawa Filla masuk kedalam ruangan.

__ADS_1


"Sial!" ucap Vino sambil meninju tembok.


"Tita," Filla langsung memeluk Tita yang terbaring di ranjang rumah sakit.


"Akak," ucap Tita. "Tita nggak bisa peluk," ucap Tita sambil menunjuk infus ditangannya.


Filla tersenyum, "Iya nggak apa-apa, ada yang sakit?" tanya Filla sambil memeriksa tubuh Tita.


Tita menggeleng, "Sekarang nggak ada, semalem kepala Tita udah diobatin dokter," ucap Tita dengan bangga.


Filla tertawa lalu mengacak rambut Tita.


"Kamu kemana aja Kak? Kenapa nggak bisa ditelpon?" tanya mama.


Filla langsung menyalami papa dan mama, "Maaf Ma, ponsel Filla mati, Filla lupa cas," aku Filla.


"Yaudah nggak apa-apa asal kamu baik-baik aja," ucap mama yang diangguki papa.


"Makasih ya Ngga," ucap papa sambil merangkul bahu Rangga.


"Iya Ngga, makasih banget," ucap mama membuat Rangga mengangguk.


"Yaudah, Rangga pamit pulang dulu, kalau ada apa-apa langsung hubungi Rangga," ucap Rangga yabg meraih anggukan dari papa dan mama.


Mama mengangguk, "Hati-hati Ngga," ucap mama yang meraih anggukan Rangga.


Setelah Rangga berjalan keluar mama mengajak Filla duduk di sofa sedangkan papa mengupas apel untuk Tita.


"Mama nggak habis pikir sama Vino Kak," ucap mama.


Filla mengerutkan kening, "Sebenernya apa yang dilakukan kak Vino sampai jadi kayak gini?" tanya Filla.


"Semalem Vino cari kamu, papa sama mama udah bilang kalau kamu nggak ada dirumah, tapi dia nggak percaya dan malah memaksa masuk," mama menghela napas. "Sampai dia sedikit berdebat sama papa dan akhirnya Tita kena imbasnya," ucap mama.


Filla geram mendengar cerita mama, ia tidak menyangka sifat seperti apa yang ada didalam diri Vino, "Filla nggak bisa diem gini Ma, dia yang berbuat salah dan bikin hubungan kami berakhir, bisa-bisanya nyelakain Tita," Filla berdiri namun tangannya ditarik oleh mama.


"Udah Kak, nanti tambah runyam, ini rumah sakit, jangan diladeni dulu," ucap mama membuat Filla kembali duduk walau menahan kesal.


"Untung semalem ada Rangga, kalau nggak Mama nggak tahu akan terjadi apa lagi selanjutnya."


Filla terdiam mendengar nama Rangga yang kembali disebut oleh mama.


**********

__ADS_1


__ADS_2