Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 33


__ADS_3

Sekarang mereka sedang sarapan pagi bersama, sejak tadi bunda tak mengeluarkan suara seperti bisanya, Filla merasa bersalah disini, bahkan Rangga juga menatapnya sengit, walau sering ditatap Rangga seperti itu tapi rasanya berbeda kali ini. Hanya Ayah yang sejak tadi mengajak Filla berbicara tentang ujiannya yang sudah dimulai hari ini. Filla sesekali menatap bunda yang sibuk menyuapi Rain tanpa memperdulikannya.


"Assalamualaikum, Ayah dan Bunda," Sapa seorang wanita yang tiba-tiba masuk dari arah ruang tamu, siapa lagi kalau bukan Kania, sumber dari segala masalah yang sekarang ada, sekarang itu pikir Filla.


"Waalaikumsalam Nia, yuk ikut sarapan," ucap bunda yang padahal sejak tadi memilih diam, tapi setelah Kania ada, sikap bunda kembali layak biasanya.


Bunda langsung memeluk Kania, Filla merasa sedih bahkan bunda terlihat baik pada Kania, sedangkan padanya bunda mendiaminya sejak semalam, apa bunda semarah itu padanya. tak mau berlama-lama dan akhirnya terlihat lemah disana, Filla memilih pamit.


"Ayah, Bunda, Filla berangkat ya, Filla mau belajar dikelas aja," pamit Filla.


"Ayah mengangguk, Nggak bareng Rangga?" tanya ayah saat Filla menyalaminya, sedangkan bunda tak mengubris.


Filla menggeleng lalu meninggalkan meja makan yang membuatnya tak nyaman sejak tadi.


"Segitunya banget ngebela Kania," ucap Filla geram sambil menghapus airmatanya yang sejak tadi menetes dengan sendirinya. "Nggak usah cengeng Fill, banyak hal yang udah lo lewatin dan ini bukan apa-apa buat ditangisin," ucap Filla sambil mempercepat langkahnya menuju sekolah.


******


"Ngga, kantin yuk," ajak Freya salah satu teman dekat Filla juga di sekolah. sudah biasa mereka akan menghabiskan waktu istirahat bersama.


Rangga menggeleng, "Gue ke kantin sedirian," ucap Rangga sambil berlalu dengan wajah menunjukan rasa tak sukanya pada Filla.


"Kenapa tu anak? Kalian berantem?" tanya Freya setelah menyadari sikap Filla yang juga terasa aneh.


"Nggak, biasalah Rangga kan suka gitu," ucap Filla sambil tersenyum. "Yuk kekantin gue laper," ucap Filla sambil menarik tangan Freya.


Freya menahan, membuat Filla menoleh, "Fiks kalian berantem, mana pernah seorang Filla kalem," celetuk Freya dengan wajah penuh selidik.


"Ya, ya terserah deh Frey, laper!" Setidaknya Filla bisa melupakan sikap Rangga karena Freya.


"Bianca tuh Fill, liatin lo terus," ucap Freya saat mereka sudah memasuki area kantin.


Filla menoleh kearah yang disebut Freya, benar kata Freya, Bianca dan gengnya menatap sengit kearah Filla.


"Udalah, terserah mereka," Filla menarik Freya menuju tempat pemesanan.


"Kayaknya belom kapok mereka Fill," ucap Freya saat mereka sudah mengantri didepan tempat pemesanan.


"Mungkin," jawab Filla dengan mata terus menatap Rangga yang sedang mengobrol dengan beberapa anak laki-laki, walau tatapan mereka bertemu tetap saja Rangga seperti orang yang menaruh dendam pada Filla.

__ADS_1


"Fill, besok ikutan yuk nonton," Sekarang giliran mereka memesan dan menunggu makanan siap.


"Jam berapa?" tanya Filla sambil berjalan menuju salah satu meja kosong disudut kanan kantin diikuti Freya.


"Seriusan mau ikut?" tanya Freya heran.


"Lo yang ngajakin," ucap Filla heran.


"Iya sih, tapi seorang Filla punya semua jurus menolak dengan alasan jaga adek-adek," Freya mulai memakan bakso pesanannya.


Filla tertawa, "Bukan alasan Frey, emang bener adanya gitu," ucap Filla membela diri, "Mau ikut gue, sekali-sekali," jawab Filla akhirnya.


"Asyik, personil lengkap nih," ucap Freya kegirangan karena keikutsertaan Filla adalah momen langka, biasanya ia dan Dinda yang selalu keluar bersama dan Filla selalu memilih absen.


"Emang Dinda bisa besok?" tanya Filla karena hari ini seperti yang mereka ketahui Dinda tidak masuk sekolah.


Freya mengangguk cepat, "Bisa, dia cuma jemput papanya hari ini."


Filla mengangguk paham.


******


Sebesar apapun rasa sayangmu pada orang itu


Tak akan merubah sebuah takdir.


~~


Filla berjalan menyusuri trotoar, sejak tadi tak ada satupun kendaraan yang lewat, hari ini hatinya kacau, untung dia masih bisa menyelesaikan soal ujian dengan cukup baik jika tidak tentunya ia akan tambah kacau hari ini.


Sejak pagi Rangga tetap mendiaminya sampai dikelas pun masih sama. Bahkan tak menegurnya sama sekali. Sekarang Filla tahu apa dampaknya mencampuri urasan orang lain walaupun ia yakin ia benar.


"Jalan kaki?" tanya seseorang dari kejauhan pada seorang gadis yang Filla yakini ia mengenalnya.


"Kania?" tanya Filla pelan pada dirinya sendiri, sekarang ia memilih bersembunyi dibalik dinding halte. "Sama siapa dia?" tanya Filla pelan.


Terdengar percakapan antara Kania dengan pria itu, "Apaan sih Yan, gue nggak ada hubungan lagi sama lo!" bentak Kania kesal pada pria itu.


"Nggak ada hubungan? Setelah semua ini, kamu bilang kita nggak ada hubungan?" tanya pria itu dengan geram sambil menggenggam erat tangan Kania.

__ADS_1


Kania dengan kuat menghentakkan genggaman pria itu pada tanggannya sampai tangan Kania terlepas dari genggamannya, "Lo yang nggak mau tanggung jawab, dan sekarang dateng setelah semuanya selesai, cukup Yan gue udah nggak butuh lo," ucap Kania dengan nada tinggi membuat orang yang berlalu lalang menatap mereka.


"Gue bukannya nggak mau tanggung jawab, tapi gue nggak siap," ucap pria itu melemah.


Kania tersenyum sinis, "Lo nggak siap? Heh lucu banget lo!" bentak Kania sambil berjalan hendak meninggalkan pria itu.


"Tunggu dulu, gue udah siap sekarang, gue yakin dan gue udah kasih tahu Nyokap sama Bokap gue, yah awalnya mereka marah tapi mereka merestui kita," Pria itu lalu menarik Kania kedalam pelukannya, dan tak ada penolakan dari Kania.


Filla hanya mengerutkan kening dari persembunyiannya, "Bukannya dia suka Rangga? Terus?" tanya Filla bingung sambil menunjuk kearah mereka lalu melanjutkan acara ngupingnya. Benar-benar penasaran ia dibuatnya.


"Lo yakin?" tanya Kania yang sepertinya senang.


Pria itu mengangguk dan mereka kembali berpelukan, "Sekarang anak kita dimana?" tanya pria itu dengan semangat.


Filla dalam persembunyiannya hanya bisa menutup mulut mendengar percakapan itu, "Anak kita? Jadi mereka udah punya anak?" tanya Filla pada dirinya sendiri lalu menatap lekat Kania dan pria itu.


"Dia baik-baik aja, dia aku taruh dipanti asuhan," jawab Kania sekenanya.


Pria itu melotot mendengar jawaban Kania, "Maksud kamu? Kok kamu tega masukin dia ke panti asuhan?" tanya pria itu sedikit menaikkan volume suaranya.


"Maaf, aku juga nggak tahu harus gimana lagi, tapi tenang dia ditempat yang aman, aku kemaren liat dia, dan dia baik-baik aja, banyak orang yang menyayanginya disana. Namanya Rain," ucap Kania semangat begitupun pria itu mendengarnya.


Filla meneteskan airmatanya, entah apa yang ia rasakan kali ini hatinya berteriak mengetahui bahwa bayi yang ia temukan dengan keadaan kedinginan dan ia sayangi selama ini adalah anak Kania, yang dengan teganya meninggalkan bayi tak berdosa diteras rumah saat hujan.


Flla sudah tak kuat untuk bersabar dipercepatnya langkah menghampiri Kania dan pria itu, "Lo gila?" tanya Filla dengan nada tinggi.


Kania terkejut menatap Filla, "Lo, kenapa disini?" tanya Kania dengan gugup.


"Dia siapa?" tanya pria disebelah Kania.


"Tega banget sih lo, ninggalin anak lo sendiri di teras panti saat hujan, lo mikir nggak kalau dia sampai kedinginan, dasar nggak punya otak!" bentak Filla kasar.


Kania hanya bisa diam mendengar Filla membentak dengan keras, sampai banyak orang yang memperhatikan mereka.


"Dan lo masih mau ambil dia setelah lo dengan teganya cubit dan tampar dia kemaren? Lo nggak berhak ambil Rain, lo busuk!" ucap Filla lalu berlalu dan menghantam keras bahu Kania dengan bahunya.


Filla lari meninggalkan kedua orang tak berhati itu, "Tenang Rain kamu nggak akan sama mereka," ucap Filla disela tangisnya.


******

__ADS_1


__ADS_2