Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 48


__ADS_3

Sebenarnya sulit menjalani semua ini


Berpura-pura tegar membuatku seperti wanita bodoh


Kuharap semua berakhir sempurna.


~~


Filla mengedarkan pandangannya kesegala penjuru, merasa asing dengan tempat ini, tapi bau khas rumah sakit memenuhi penciumannya meyakinkan keberadaannya saat ini.


"Filla, kamu bangun, Nak?" teriak Mama yang histeris mengetahui Filla sadar setelah 3 tahun koma karena kecelakaan. "Filla," ucapnya sambil menangis membawa Filla yang berbaring kedalam pelukannya.


Filla mengerjapkan matanya, ia menyadarkan dirinya tentang semua ini, apa sekarang ia hanya bermimpi karena rindu dengan orang tua yang telah pergi untuk selamanya atau ini benar-benar nyata?


Mama ada didepannya dan pelukan Mama begitu erat dan hangat yang ia rasakan, "Mama?" ucapnya pelan hampir tak bersuara, jika benar ini mimpi, ia hanya ingin tidur dan berharap tak pernah bangun.


Mama melepaskan pelukannya lalu menekan tombol darurat dekat ranjang Filla, dengan cepat Dokter dan Suster masuk kedalam kamar Filla dan memeriksa keadaan Filla.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya? Apa dia benar-benar bangun dari koma? Atau saya hanya bermimpi?" tanya mama sambil menangis menatap Filla.


Dokter menatap mama sambil tersenyum, "Alhamdulillah, dia melawati masa keritisnya, selamat dek Filla, terimakasih sudah berusaha bangun," ucap Dokter itu sambil melihat kearah Filla.


Filla mengangguk, menatap mamanya sambil menangis, teringat olehnya hidup tanpa mama disampingnya, tapi sekarang mama dihadapannya, dan semua ini bukan mimpi.


"Ma, maafin Filla, jangan tinggalin Filla lagi," ucapnya.

__ADS_1


Mama menghambur kedalam pelukan Filla, mereka melepas rindu yang teramat, "Kamu yang jangan tinggalin Mama lagi, makasih nak kamu memilih bangun, Mama memang yakin anak Mama kuat dan akan bangun, maafin Mama sayang," seru mama sambil mengelus puncak kepala anak semata wayangnya.


"Papa mana Ma? Filla mau minta maaf sama Papa," tanya Filla saat pelukan mereka sudah lepas.


"Papa tadi pulang, Mama akan telpon Papa, Papa pasti senang sekali," ucap mama sambil mengambil ponsel didalam kantung celananya. Menunggu sebentar lalu terhubung dengan papa.


"Pa, Filla bangun, cepat kesini," ucap Mama senang, terpancar jelas ia gembira dengan kembalinya Filla.


Filla masih menatap mamanya, rindu menguasai semua ruang dalam hatinya, entah apa yang sebenarnya terjadi, semua seakan tak nyata menurutnya, apa yang terjadi, bagaimana dengan ingatannya tentang kematian kedua orangtuanya dan pejalanan hidupnya beberapa tahun ini, apa semua itu hanya mimpinya saat koma? Lalu apakah Rangga, Bunda, Ayah dan yang lain hanyalah ilusi? Entahlah Filla bingung dengan semua ini.


Tapi satu yang ia syukuri, setidaknya ingatan buruk tentang kematian orangtuanya tidak benar, cukup ia merasa ditinggalkan, cukup ia merasa sedih saat sendiri, sekarang semuanya kembali.


Lelaki paruh baya masuk dengan cepat, lelaki itu adalah papa yang bermandikan keringat, sepertinya ia berlari karena mengetahui putri semata wayangnya bangun dari koma. Ia menatap tak percaya pada Filla yang duduk diatas ranjang, "Filla," ucapnya pelan hampir tak bersuara. Ia berlari mendekati Filla dan menarik Filla dalam pelukannya.


"Papa," ucap Filla hampir tak mampu bersuara. "Papa maafin Filla," ucapnya sambil mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya pada dada bidang yang begitu hangat, ia merindukannya, sosok hero-nya, sosok pahlawan yang sekarang kembali.


"Aku yang salah Pa, aku anak pembangkang, berutal dan suka bikin Papa sama Mama malu, maafin Filla, dan jangan ninggalin Filla," Filla menangis sejadi-jadinya.


"Harusnya Mama juga percaya kamu nak, tapi kami terlalu bodoh," sambung mama lalu memeluk Filla, diikuti papa yang juga memeluk Filla dan mama erat.


Filla membenamkan wajahnya pada bahu dua orang yang sangat ia rindukan kehangatannya seperti saat ini, Tuhan mengembalikan mereka, "Filla sayang kalian, jangan tinggalin Filla sendiri ya," pintanya karena takut merasakan hal yang sama seperti sebelumnya


Kedua orangtuannya menggangguk dan memeluk Filla erat, bagi mereka kembalinya Filla adalah anugrah, saat semua orang menyerah dengan keadaan Filla, mereka hanya bisa yakin kalau anak mereka pasti sembuh, dan ternyata keyakinan adalah batu loncatan kenyataan.


******

__ADS_1


Filla sedang diperiksa Dokter Adit, lama terbaring koma membuat beberapa organ tubuhnya sulit digerakan, terasa kaku karena lama tidak digerakan.


"Keadaan kamu jauh lebih baik, kamu cuma perlu terapi sedikit agar bisa bergerak seperti biasanya, saya tidak menyangka dua orang yang koma bisa sadar diwaktu yang bersamaan, ini anugrah," ucap Dokter Adit sambil tersenyum.


Filla mengerutkan keningnya mencerna ucapan Dokter Adit, "Maksudnya dok? Ada yang koma selain aku?" tanya Filla akhirnya.


Dokter Adit mengangguk, "Pasien pria disebelah, umurnya sama kayak kamu dan kalian juga koma gara-gara kecelakaan yang sama. Kalian tabrakan," jelas Dokter Adit.


Filla membulatkan matanya, ternyata benar terjadi kecelakaan, tapi mengapa semuanya seperti berubah, Filla ingat saat ia kecelakaan ia tak luka sedikitpun dan benar kecelakaan itu terjadi dengan pria, tapi setelahnya kabar orangtua yang meninggal tapi sekarang alurnya berbeda, mereka tabrakan dan akhirnya koma sampai 3 tahun dan bangun diwaktu yang bersamaan, sebuah keaneh yang nyata menurut Filla.


"Iya, dan kamu tahu? Pria itu anaknya sahabat Papa sama Mama saat dipanti asuhan dulu, kami sama-sama dibesarkan dipanti asuhan," jelas papa yang meraih anggukan mama.


"Yasudah, nanti suster akan jelaskan jadwal terapinya, cepet sembuh ya Filla," ucap Dokter Adit sambil menepuk bahu Filla.


Filla mengangguk lalu tersenyum, "Terimakasih Dokter," ucap Filla.


Dokter Adit keluar dari ruangan Filla, Filla tambah merasa aneh dengan semua ini, apa yang sebenarnya terjadi? Semuanya membingungkan seakan ia dan pria itu terhubung. Filla jadi ingat Rangga, dimana Rangga sekarang, apa Rangga ada didunia yang Filla tempati sekarang? Ia merindukan Rangga, mereka akhirnya mengungkapkan perasaan tapi semua seperti percuma karena tidak ada kepastian, bahkan Filla tidak tahu Rangga itu ilusi atau apa.


Filla menutup melutnya terkejut dengan pikirannya sendiri, jika semua ini berhubungan apa jangan-jangan pria yang dimaksud Dokter Adit adalah Rangga? Karena di mimpinya pria yang bertabrakan sebelum ia koma adalah Rangga, lalu bunda dan ayah juga sahabat mama dan papa seingatnya. Jika semua ini benar maka Rangga bukan sebuah ilusi.


Filla menyingkirkan selimutnya hendak bangun dari tidurnya, padahal ia belum bisa menggerakkan kakinya karena kaku.


"Filla mau kemana?" tanya papa yang langsung menangkap Filla yang hampir terjatuh. Diikuti mama yang juga menopang berat Filla.


Filla berpegangan pada papanya, "Pa, aku mau ketemu sama pria yang disebut Dokter Adit, aku harus memastikan sesuatu," ucap Filla memohon.

__ADS_1


******


__ADS_2