Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 103


__ADS_3

"La, gue ke toilet ya, kebelet," ucap Filla sambil meletakkan liptint yang ia minati kembali pada rak.


Ola mengangguk, "Jangan lama-lama," ucap Ola.


Filla hanya menyatukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran.


Filla berjalan keluar dari make up store tersebut dan mendapati Vino dan Jiel yang masih setia menunggu mereka.


"Kak aku ke toilet dulu," ucap Filla menyempatkan diri mendekat pada Vino.


"Mau Kakak temenin?" tanya Vino.


Filla menggeleng, "Aku bisa sendiri kok, lagian toiletnya deket," ucap Filla sambil menunjuk tanda toilet yang tak jauh dari mereka.


Vino mengangguk.


Filla menyampirkan rambutnya yang ia gerai, ia melangkah meninggalkan Vino dan Jiel, seperti biasa, banyak mata yang menatapnya, Filla sudah terbiasa untuk mengabaikan tatapan kagum dari pria yang bahkan menggandeng pacarnya.


Dari kejauhan Filla menangkap sosok Rangga dan Kania, sedikit penasaran pembicaraan serius seperti apa yang mereka bahas, tapi Filla tak bisa menahan lebih lama, ia melangkah cepat masuk kedalam toilet.


Tidak butuh waktu 5 menit, Filla keluar dan merapikan rambutnya, sampai ia menghentikan langkah saat tangannya terasa ditahan.


"Filla," panggil seorang pria yang berdiri didepan lorong masuk toilet. "Akhirnya."


Filla berbalik dan menatap pria tersebut dengan alis berkerut, "Siapa?" tanya Filla sambil melepas pergelangan tangannya.


"Lo lupa sama gue? Setelah semuanya?" tanya pria tersebut menatap tak percaya pada Filla.


Filla menatap penuh tanya, "Maksudnya?" tanya Filla tak mengerti dengan perubahan wajah pria yang tidak ia ingat wajahnya sedikitpun.


Pria tersebut tertawa sinis menatap Filla membuat Filla sedikit bergidik ngeri, "Lo lupa setelah kasih harapan palsu buat gue?" tanya pria tersebut sambil menarik tangan Filla.


Filla dengan kekuatan penuh menghempas tangannya hingga terlepas, "Maaf ya Mas, saya nggak paham anda berbicara apa, saya permisi," ucap Filla berusaha tenang.


Belum sempat Filla melangkah lebih jauh, pria tersebut menahan Filla dengan berdiri didepannya, "Harusnya lo nggak lupa setelah apa yang lo lakuin ke gue, lo lupa? Kita satu sekolah waktu SMP?" tanya pria tersebut dengan raut kecewa.


Filla mengingat sambil menatap wajah pria didepannya, tapi tetap saja tidak ada ingatan tentangnya, apalagi jika benar tentu Filla akan melupakan kejadian hampir 9 tahun lamanya.


"Lo inget kan?" tanyanya penuh harap. "Jadi selama ini gue cari keberadaan lo percuma? Lo yang kasih harapan dengan nyapa gue tiap pagi dan selalu kasih sandwich,.maksud lo apa? Jangan bilang lo cuma tebar pesona karena lo cewek populer disekolah?"

__ADS_1


Filla tambah tak mengerti apa.yang sebenarnya pria ini katakan, "Gue nggak paham maksud lo, lagian kalau gue nyapa lo bukan berarti gue kasih harapan kan? Apa salahnya menyapa sesama teman sekolah," ucap Filla.


Pria itu menghembuskan napas, "Dasar cari muka," ucap pria itu sambil mendorong Filla kedinding.


"Aw," Filla mendapati dirinya tertahan oleh tubuh seseorang yang menangkapnya.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Rangga sambil membawa Filla menghadapnya dan memegang kedua lengan Filla.


Filla menggeleng.


"Jadi ini pacar lo?" tanya pria itu dengan tangan terlipat didepan dada.


"Gue nggak kenal lo, lo mau apa sebenernya?" tanya Filla mulai kesal dengan perlakuan pria didepannya.


Pria tersebut tertawa sinis, "Dasar," ucap pria tersebut sambil mengangkat tangan.


Filla memejamkan mata, refleks pasrah dengan apa yang akan dilakukan pria tersebut, sampai ia mendengar pukulan keras membuatnya membuka mata.


Filla berteriak saat Rangga sudah melayangkan pukulan kedua pada pria tersebut sampai mereka terbaring dilantai.


"Ngga, stop," ucap Filla mencoba melerai, namun Rangga masih menikmati pukulan yang ia layangkan pada pria yang bahkan tak ia kenali.


"Berhenti," ucap dua orang petugas keamanan yang dengan sigap melerai Rangga dan pria tersebut dengan menahannya. "Jangan membuat keributan," ucap petugas keamanan dengan tegas


Pria tersebut dibawa pergi karena sikap berutalnya, sedangkan Filla berjongkok , kakinya terasa tidak bisa menopang tubuhnya lebih lama.


Apa yang terjadi tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, ia ingat pria tersebut adalah pria yang satu kelas dengannya saat SMP, Kaviandra seorang pria pendiam yang selalu membuat Filla tertarik menyapa atau memberikan cemilan yang ia beli saat istirahat sekolah tanpa berniat lebih, hanya karena Kavi selalu menjauhkan diri dari orang lain.


Filla tak pernah menyangka, sikapnya yang berusaha ramah membuat Kavi salah paham.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Rangga sambil membantu Filla berdiri.


Filla menghembuskan napas lalu menggeleng. Ia memegang kepala dan mengatur napasnya.


Rangga menarik Filla dalam pelukannya, Ia tahu pasti Filla sangat terkejut dengan apa yang terjadi.


"Dek kenapa?" tanya Vino.


Filla melepas pelukan Rangga ketika mendapati wajah kesal Kania.

__ADS_1


Vino menarik Filla kedalam pelukannya, menenangkan Filla yang terlihat terkejut, "Kamu baik-baik aja kan?" tanya Vino sambil memegang wajah Filla.


Filla mengangguk.


Ola yang menyusul langsung mendekati Filla, "Lo nggak apa-apa kan?" tanya Ola khawatir, "Tadi gue lihat Kavi," ucap Ola yang mengenal Kavi karena dirinya dan Filla sudah bersama sejak SMP walau belum berteman dekat.


"Gue nggak tahu, dia tiba-tiba bilang kalau gue ngasih harapan buat dia," ucap Filla.


"Gila tuh orang," ucap Ola tak habis pikir dengan jalan pikiran Kavi, padahal sudah sangat lama mereka tidak bertemu.


Vino menggosok punggung Filla, "Udah kamu tenang," ucap Vino.


Filla mengangguk.


"Lo terlalu baik kali atau emang kasih harapan nggak mungkin juga kan dia tiba-tiba dateng dan bersikap gila," ucap Kania.


Rangga menyenggol bahu Kania, berusaha menghentikan ucapan Kania yang bernada sinis tentunya.


Filla menatap Kania tak habis pikir, bahkan saat dirinya tak ingin meladeni, Kania tetap masih ingin perang dingin dengan Filla.


"Heh, gue udah sabar dari tadi, kalau lo nggak tahu masalahnya, cari tahu dulu, berkoar dengan sok tahu segalanya ngebuat lo kayak sampah dimata gue," ucap Ola kesal.


"Gue cuma bilang apa adanya, mau gimana?" ucap Kania tak mau kalah.


"Kalian bisa diem?" Vino berucap dengan tegas. "Ayo Fill, kita pulang," ucap Vino sambil merangkul Filla.


Filla tanpa membantah mengikuti Vino, termasuk Ola dan Jiel, mereka pergi meninggalkan Rangga dan Kania tanpa kata.


"Baperan," ucap Kania sambil melipat tangan didepan dada.


"Jangan karena ada kata baperan, kamu lupa caranya sopan santun dan minta maaf," ucap Rangga kesal.


"Kamu kalau mau belain dia, sana jangan sok bijak," ucap Kania.


Rangga menghembuskan napas, "Kita pulang masing-masing," ucap Rangga lalu berjalan meninggalkan Kania.


"Rangga, Rangga!" teriak Kania membuat orang-orang disekelilingnya menatap heran.


Kania menghentakkan kakinya dengan sebal, mendapati Rangga yang meninggalkannya tanpa berniat berbalik sedikitpun.

__ADS_1


********


__ADS_2