
"Filla," ucap seseorang dengan wajah terkejut mendapati Filla berdiri tepat didepan pintu apartemennya.
Filla tersenyum kikuk, "Kakak yang pesen?" tanya Filla sambil menunjukkan sekotak pizza bawaannya.
"Iya, kamu ngapain?" tanya Vino masih penasaran.
Filla melempar senyum, "Nganterin pizza la kak, ngapain lagi? Nih," Filla menyodorkan sekotak pizza yang ia bawa tadi.
Vino menerima dengan wajah penuh tanya, "Kamu kerja?" tanya Vino akhirnya setelah menerjemah semua keadaan.
Filla mengangguk cepat, "Iya kak, aku harus kerja biar bisa bayar uang kuliah sama apartemen," jawab Filla tanpa segan.
"Sejak kapan kamu sedewasa ini dek," Vino mengelus puncak kepala Filla.
Filla hanya tersenyum menanggapi.
"Sekarang masih ada kerjaan?"
Filla menggeleng, "Kakak pelanggan terakhir," Filla tertawa.
"Terus sekarang?" tanya Vino sambil menaikan kedua alisnya.
"Mau langsung balik ke apartemen."
Vino langsung menarik tangan Filla masuk kedalam apartemennya, "Pas banget dek, kakak baru mau telpon kamu, ngajakin kamu makan bareng."
Filla mengikuti tanpa membantah, "Kakak yang masak?" tanya Filla saat mereka berada diruang makan.
Vino mengangguk, "Tenang aja, kakak udah belajar masak sejak 5 tahun lalu, jadi kamu nggak bakalan keracunan," canda Vino sambil membawa Filla duduk.
Filla tertawa, "Percaya kak, dari dulu kan kakak udah suka masak walau nggak enak," celetuk Filla.
"Ledekin aja terus dek, kamu emang nggak berubah," Vino sudah seperti kebiasaan mengacak pelan rambut Filla.
Filla mulai menyuap steak daging buatan Vino, "Sumpah kak, enak banget," Filla dengan cepat memotong dan melahap steak dengan semangat.
"Pelan-pelan makannya, entar keselek dek," ucap Vino.
Filla memamerkan gigi ratanya, "Nggak akan," ucapnya lalu kembali memakan steak dengan semangat.
Ponsel Filla berdering pelan, "Bentar kak," ucap Filla yang meraih anggukan dari Vino.
Filla meronggoh sakunya, "Hallo."
"Mau makan apa buat malem ini?" tanya Rangga diseberang.
"Tumben amat lo nanya," celetuk Filla.
"Seriusan gue nanya," ucap Rangga yang mulai kesal dengan jawaban bertele Filla.
__ADS_1
"Nggak usah Ngga gue udah makan," ucap Filla sambil menyuap satu gigitan steak yang sudah ada digarpunya.
Vino menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah Filla.
"Lo makan dimana? Inget perjanjian awal Filla, nggak ada kata boros," ucap Rangga penuh penekanan.
"Seuzon mulu, gue makan di apartemen kak Vino, dia yang masakin," ucap Filla. "Kok diem?" tanya Filla karena tak ada suara Rangga lagi, Filla mengambil ponsel yang sedari tadi ditelinganya dan menatap layar yang sudah kembali ke layar utama.
"Kenapa?" tanya Vino.
Filla menggeleng, "Dimatiin," ucap Filla.
"Rangga marah?" tanya Vino sambil menyesap air putih yang sejak tadi diatas meja.
Filla mengangkat kedua bahunya, "Palingan lagi gila, aku tuh udah biasa kak jadi korban kegilaan Rangga," adu Filla.
Vino tertawa, "Ada-ada aja kamu ni dek."
*****
"Gimana Fill? Kapan lo bakalan kenalin gue sama kak Vino?" tanya Reya.
Sekarang mereka berada dikantin kampus, matakuliah pertama mereka selesai 10 menit lalu.
Filla menoleh menatap Reya setelah lama menatap lurus taman disebelah kanannya, disana ada Rangga dan Vebi, bercanda seperti biasanya, Filla selalu merutuki hatinya yang sesak melihat tawa Rangga yang jarang ia lihat saat bersamanya.
"Sabar Rey, gue juga bingung gimana ngomongnya sama kak Vino," jawab Filla jujur.
Reya menghela napas kesal, "Tinggal bilang apa susahnya sih Fill, niat nggak sih bantuin?" ucap Reya dengan nada kesal yang begitu ketara.
Fillla menatap pada Reya, "Gue juga butuh waktu yang tepat Rey buat ngomong, secara gue baru ketemu lagi sama kak Vino, masak tiba-tiba langsung jodoh-jodohin dia," jawab Filla jujur.
Reya melipat tangganya didepan dada, "Atau lo suka kak Vino? Makanya lo lambat-lambatin buat kenalin gue sama dia," ucap Reya sambil menatap curiga Filla.
Filla tersenyum sinis, "Lo ngeraguin gue? Gila Rey segitunya, kalau gue suka kak Vino buat apa gue iyain waktu lo minta bantu deketin?" Filla menyenderkan punggungnya pada senderan kursi.
Reya akhirnya mengalah, "Oke gue percaya sama lo, jangan sampai lo khianatin gue," ucap Reya mengingatkan.
Filla menatap malas pada Reya.
"Jadi kapan lo mau ngomong? Atur gimana kek biar gue sama kak Vino bisa ketemuan," ucap Reya memaksa.
Filla menghela napas, "Oke Fine Reya Renata Kusuma," ucap Filla menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
"Gitu dong," Reya menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum.
Filla kembali menatap Rangga dan Vebi, otaknya menolak memikirkan mereka, tapi hatinya tak sejalan, rasa yang ada tidak ia ketahui apa maksudnya, seperti hatinya mulai menjadikan Rangga istimewa.
"Katanya nggak suka, tapi pandangan nggak lepas tuh," ejek Reya.
__ADS_1
Filla dengan cepat mengalihkan pandangannya, "Apaansih," ucapnya kesal.
"Mau gue bantuin jauihin Vebi dari Rangga?" tanya Reya sambil menaikkan kedua alisanya. "Lo bantuin gue dan gue bantuin lo dapetin Rangga," ucap Reya serius.
"Gila lo," Filla meninggalkan Reya, berbicara pada Reya saat ini membuatnya tambah pusing, lebih baik kembali kekelas.
"Gue nggak bercanda, kasih tau kalau berubah pikiran," ucap Reya yang sudah merangkul Filla.
*****
"Masih mau makan disini? Gue pikir bakalan selama-lamanya makan bareng Vino, kan lumayan ngurangin beban," ucap Rangga saat Filla duduk dikursi makan depannya.
Filla menghela napas, "Kalau ngomong bisa disaring dulu nggak Ngga?" tanya Filla.
Filla mengangkat kedua bahunya, "Buat apa?" tanyanya cuek.
Filla hanya bisa mengatur napas, menetralisir semua kesal yang memuncak, daripada berdebat dengan Rangga dan membuat hatinya sesak lebih baik menulikan telinga atas semua ucapan Rangga.
Filla mengambil piring dan mulai meyendokkan nasi dan juga masakan yang Rangga masak.
Filla memejamkan matanya saat ia rasa pandangannya buram, ia menggeleng menetralkan pusing yang mulai terasa, Filla menghembuskan napas lega saat pandangannya kembali jelas.
Filla kembali duduk dan mulai memakan masakan Rangga.
"Gimana tugas kemaren?" tanya Rangga setelah mereka lama terdiam.
Filla menoleh, "Belum tahu, minggu depan baru tahu hasilnya," jawab Filla sekenanya.
Sendok Filla jatuh membuat suara berdenting keras, Filla terdiam tangannya terasa kaku, tak bisa ia gerakkan.
"Yaampun Fill, kotor lantainya," bentak Rangga sambil berdiri dari duduknya, ia menatap sendok Filla yang terjatuh dan menyebabkan lantainya kotor karena nasi disendok Filla.
"Sorry Ngga," ucap Filla sambil menyembunyikan tanggannya yang terasa kaku. "Gue beresin," ucap Filla sambil mengambil sendok dan menaruhnya di wastafel cuci piring.
Rangga menghela napas kesal, lalu kembali melanjutkan makannya.
Filla mengumpulkan nasi yang bercecer dilantai dan membersihkannya.
"Makanya makan tuh yang bener kenapa sih, udah gede juga," ucap Rangga.
Filla terdiam, Rangga tak pernah bersikap seperti ini biasanya, Filla rasa Rangga berubah, "Kenapa sih Ngga? Gue ada salah?" tanya Filla akhirnya menatap dalam manik mata Rangga.
Rangga mengerutkan keningnya, "Apaansih, cepetan lanjutin makan abis itu balik ke apartemen lo, gue mau tidur," ucap Rangga lalu menyesap air putih didalam gelasnya.
"Gue pulang sekarang," ucap Filla sambil meraih ponselnya diatas meja dan berjalan meninggalkan apartemen Rangga.
"Abisin makanan lo!" teriak Rangga yang tak digubris Filla sedikitpun.
******
__ADS_1