Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 140


__ADS_3

Filla membantu Tita merapikan sweter yang melekat pada tubuh mungil Tita, "Beres," ucap Filla setelah berhasil menempel hidungnya dengan gemas pada hidung Tita.


"Makasih Akak," Tita mencium pipi kanan dan kiri Filla bergantian.


"Iya Tit," ucap Filla sengaja memanggil Tita seperti itu karena ia tahu pasti Tita akan sangat tidak menyukainya.


Tita mempautkan bibirnya, "Panggil Ta, Akak, nggak mau Tit," ucap Tita geram.


Filla tertawa, "Kan emang nama kamu Tita, boleh dong dipanggil Tit?" Filla merapikan beberapa barang milik Tita dan menempatkannya didalam tas.


"Pokoknya nggak mau," ucap Tita sambil melipat tangan didepan dada.


Filla tertawa lalu menyatukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran dan membiarkan ketiga jarinya terangkat.


"Udah cantik anak Papa, udah siap pulang?" tanya papa yang baru datang diikuti mama dibelakangnya.


Semalam memang Filla meminta agar kedua orangtuanya beristirahat dirumah dan dirinyalah yang menjaga Tita.


"Udah dong," ucap Tita dengan bangga memutar tubuhnya.


"Adek," tegur mama yang membuat Tita memamerkan gigi rapinya. "Jangan muter-muter gitu," ucap mama yang langsung menggendong Tita lalu menempatkannya diatas ranjang.


Papa tertawa melihat Tita yang mengedipkan mata padanya, Tita memang punya banyak rahasia bersama papa.


Filla tersenyum melihat tingkah Tita, "Mama bawa apa tuh?" tanya Filla melihat bingkisan yang dibawa mama.


Mama mengangkat bingkisan tersebut lalu menyerahkannya pada Filla, "Dari Bundamu itu, katanya dia bikin kue," ucap mama.


Filla dengan senang hati mengambil cepat bingkisan tersebut lalu membukanya, "Wah, enak nih," ucap Filla yang langsung duduk di sofa.


"Tita juga mau Akak," ucap Tita penuh harap.


Filla menyendok sesuap untuk Tita lalu menyuapinya, "Enak kan?" ucap Filla sambil menaikkan kedua alisnya, tentu saja diangguki antusias oleh Tita. "Kenapa Bunda nggak buka toko kue aja, pasti banyak yang suka," ucap Filla sambil menyuapi sesendok kedalam mulutnya.


"Mana mau bundamu itu Kak, Mama udah jadi pelopor selama ini, pasti alasannya nggak sempet, kamu gih yang bujuk," ucap mama sambil melipat beberapa baju Tita yang sempat dibawa kerumah sakit.


Tita mengangguk, "Iya deh nanti aku coba, kan enak bisa beli dan makan kue buatan bunda tiap hari," ucap Filla antusias. "Masih mau?" tanya Filla pada Tita yang sudah menegak habis air dalam botol.


Tita menggeleng, "Nanti aja di mobil," ucap Tita.


Filla mengangguk, dirinya menyimpan kembali kue tersebut didalam paper bag.

__ADS_1


"Yaudah yuk pulang," ucap papa yang langsung menggendong Tita, sedangkan Tita dengan manja memeluk papa.


Filla dan mama mengikuti papa keluar dari ruangan.


"Fill," ucap Vino tiba-tiba memegang tangan Filla.


"Vino lepaskan tangan anak saya," ucap papa tegas.


"Pa, Vino cuma mau bicara sebentar dengan Filla," ucap Vino penuh harap.


"Jangan panggil saya Papa, setelah semua yang kamu lakukan menyakiti anak saya," papa menarik tangan Filla.


Filla menatap papa, "Kalian duluan aja Pa, Filla bicara dulu sama Kak Vino, nanti Filla nyusul," ucap Filla yakin.


Papa menatap Filla dan Vino bergantian, "Papa tunggu 15 menit, segera telpon Papa kalau dia macam-macam," ucap papa menatap Vino penuh amarah.


Filla mengangguk cepat.


Mereka akhirnya pergi menyisakan Vino dan Filla.


"Mau ngomong apalagi?" tanya Filla to the point.


Filla menepis tangan Vino lalu menatap mata Vino tajam, "Aku cuma nggak mau Kakak mencelakai keluargaku lagi, jadi cepetan mau ngomong apa."


Vino mengacak rambutnya, Filla dapat melihat bagaimana kacaunya Vino sekarang, rambut berantakan, mata yang kurang tidur sampai wajah yang entah sudah berapa hati tidak ia rawat sudah ditumbuhi janggut dan kumis tipis, Filla tahu pasti Vino bukan tipe pria berantakan.


"Harus bagaimana lagi Fill kamu bisa maafin Kakak? Kakak nggak bermaksud mencelakai siapapun, Kakak harus lakuin apa biar bisa dapat maaf dari kamu?" tanya Vino frustasi.


Filla menatap mata Vino, "Tanggungjawab sama apa yang udah Kakak perbuat, berhenti beranggapan bahwa kita masih bisa berhubungan seperti dulu karena itu udah nggak mungkin, Kakak punya Salsa dan calon anak kalian," ucap Filla getir.


Vino meraup wajahnya, "Harus berapa kali Fill, aku bilang kalau aku maunya nikah sama kamu, bukan Salsa," Vino memegang kedua bahu Filla.


Filla melepas tangan Vino dari bahunya, "Semua ini udah kejadian, mau gimanapun Kakak bersikap, situasi yang benar adalah Kakak menikahi Salsa dan melupakanku," ucap Filla meneteskan airmatanya. Terlalu sakit membayangkan semua ucapannya.


"Nggak bisa Fill, aku mohon," Air mata Vino menetes menyesali perbuatannya. "Kamu tahu pasti, melupakanmu itu nggak akan mungkin apalagi menikah dengan dia."


"Kenapa Kakak lakuin itu kalau Kakak tahu akhirnya akan seperti ini?" tanya Filla sambil menatap tajam mata Vino.


Vino mengusap kasar wajahnya, "Itu semua kesalahan Fill, aku ng-,"


"Kesalahan itu terlalu fatal Kak, nggak bisa Kakak tanggapi dengan santai, Kakak punya kewajiban untuk bertanggungjawab, berhenti membujuk aku atau keluargaku, aku udah maafin Kakak, bagaimanapun Kakak orang baik, jadi jangan rubah penilaian aku lagi karena sikap yang Kakak tunjukin."

__ADS_1


Filla meninggalkan Vino yang terduduk dikursi tunggu rumah sakit.


Filla menghapus airmatanya lalu memaksa tersenyum, ia tidak bisa menampakkan wajah sedih pada keluarganya didepan sana.


"Kak," panggil mama yang menunggu Filla disebelah mobil.


Filla tersenyum, "Tegang amat Ma," ucap Filla mendekati mama.


"Kamu nggak diapa-apain kan?" tanya mama sambil memeriksa dengan memutar tubuh Filla.


"Mah stop, aku nggak apa-apa," ucap Filla menyakinkan mama.


"Kamu serius Kak?" tanya papa yang ikut memasang wajah khawatir.


"Semua udah selesai, jadi kalian nggak perlu khawatir," ucap Filla yakin. "Yaudah yuk pulang, kasian Tita nunggu sendirian didalam mobil," ucap Filla.


Akhirnya mama dan papa mengangguk lalu masuk kedalam mobil.


"Udah tidur," ucap Filla saat mendapati Tita tertidur dengan menyenderkan kepalanya di pintu mobil.


Filla mengambil bantal kecil yang memang disediakan didalam mobil lalu menempatkan di pahanya, dengan hati-hati Filla membawa kepala Tita untuk berbaring di sana.


Filla mencium pipi Tita gemas, "Tidur aja gemes," ucap Filla sambil tersenyum.


"Bicara apa Kak Vino sama kamu?" tanya mama sambil memasang sabuk pengamannya.


Filla mengangkat wajahnya, "Minta maaf," ucap Filla. "Tapi nggak ada yang serius, Filla yakin Kak Vino tahu cara bertanggungjawab," ucap Filla.


"Kamu jangan berhubungan dengan dia lagi Kak," ucap papa.


Filla mengangguk.


"Semoga dia benar-benar tanggungjawab," ucap mama lalu kembali menatap kedepan.


"Ma, kue Bunda minta dong," ucap Filla ketika mengingatnya.


Mama menggeleng, "Nih," ucap mama sambil memberikannya pada Filla. "Heran Mama, sesuka itu kamu sama kue buatan bundamu itu."


Filla tersenyum, "Abisnya enak gimana dong, bahkan kue di restoran terkenal pun kalah sama kue buatan bunda," ucap Filla bangga.


*******

__ADS_1


__ADS_2