Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 135


__ADS_3

"Kaki Kakak seriusan udah sembuh?" tanya Filla sambil melihat kaki Vino yang sudah tidak menggunakan gips.


Vino mengangguk, "Udah sayang," ucap Vino sambil mengusap puncak kepala Filla.


Filla mengangguk, "Yaudah kalau gitu," ucap Filla.


Mereka berjalan menuju parkiran, sudah sekitar 10 menit yang lalu Filla pamit pada ketiga sahabatnya yang masih memilih nongkrong lebih lama di kantin.


Filla mengerutkan kening saat melihat gelagat Vino yang tak biasa, Vino sejak tadi memperhatikan sekeliling membuat Filla merasa heran, "Kakak cari siapa?" ucap Filla memberanikan diri.


Vino langsung menatap Filla lalu tersenyum, "Nggak, cuma lagi ngebayangin aja setelah ini kampus akan sepi tanpa kamu," ucap Vino.


Filla tersenyum tipis, Ia tahu Vino mengalihkan pembicaraan, "Kakak ada yang sembunyiin sesuatu dari aku?" tanya Filla sambil melirik Vino.


Vino mengangkat kedua alisnya, "Nggak, emang kenapa?" tanya Vino yang langsung merangkul Filla.


"Kakak nggak biasanya kayak gini, aneh," ucap Filla.


Vino tertawa, "Aneh gimana, Kakak mah gini-gini aja," ucap Vino.


Mereka masuk kedalam mobil, Filla menempatkan diri duduk di kursi penumpang sebelah Vino, "Kakak tahu kan? Sejak dulu aku paling nggak suka sama orang yang berbohong," sindir Filla sambil memasang sabuk pengaman.


Vino diam memandang lurus kedepan.


"Kak," panggil Filla sambil menyentuh lengan Vino.


"Hmm," gumam Vino gelagapan. "Nggak ada apa-apa sayang, perasaan kamu aja, oke?" ucap Vino sambil menjalankan mobilnya.


Filla menghela napas, percuma rasanya mengorek informasi pada seseorang yang enggan, Filla hanya berharap semua kecurigaannya tidak benar.


********


Setelah acara wisuda seminggu yang lalu, seperti yang Ola ucapkan, universitas mengadakan pesta yang lumayan besar, baru Filla ketahui, acara ini adalah ide dari mahasiswa angkatannya, bisa dikatakan hal seperti ini baru disetujui oleh pihak kampus.


Pesta kali ini cukup ramai karena ada beberapa angkatan diatas mereka yang juga diundang, bisa dibilang reunian.


Filla mengenakan dress brokat peach selutut ditemani high heels silver, dengan rambut yang ia kepang setengah membiarkan rambut bagian bawahnya tergerai indah.


Filla menggandeng tangan Vino disebelahnya.


"Kamu cantik," bisik Vino saat mereka masuk kedalam pesta.


Filla tersenyum, "Kakak, harus berapa kali ngomong gitu? Malu kalau didenger yang lain," ucap Filla berbisik.


Vino kembali mendekat pada telinga Filla, "Sampai puas muji kecantikan kamu," ucap Vino sengaja membuat wajah Filla memerah.


"Waw seriusan sahabat gue nih?" ucap Reya yang menepuk pundak Filla.


Filla tersenyum lalu mereka cepika-cepiki, Filla sengaja mengangkat kedua alisnya memberikan kode pada Reya, "Hei Sam," sapa Filla sambil tersenyum.


"Hai Fill," ucap Samuel yang baru saja bertegur sapa dengan beberapa tamannya. "Kalian udah lama?" tanya Samuel.


Vino menggeleng, "Baru aja," ucap Vino.


"Sejak kapan nih?" tanya Filla sengaja melihat Reya dan Samuel bergantian.

__ADS_1


"Udah lama, lu nya aja nggak up-to-date."


Filla menatap sebal pada Reya yang tidak mempan ia ledeki.


Samuel hanya tertawa melihat lihat tingkah Filla dan Reya.


"Udah pada ngumpul nih, gabung dong," ucap Ola yang berjalan mendekati mereka, Ola bersama Jiel, Caca dan Zaki.


Meraka berempat seperti biasa langsung berpelukan walau tadi siang pun mereka masih bersama-sama.


"Kalian udah lama?" tanya Ola.


"Baru sekitar 10 menitan," ucap Filla.


"Ow, ada yang punya gandengan nih? Perasaan tadi siang katanya nggak ada," ucap Caca sambil menyenggol Reya.


"Apaan sih," ucap Reya yang menyenggol Caca balik membuat yang lain tertawa.


"Cie," ledek Filla dan Ola.


"Sam, udah tembak aja, pasti mau," celetuk Ola yang langsung meraih tatapan mematikan dari Reya. "Ups," ucap Ola yang langsung pura-pura menutup mulutnya dengan tangan.


Filla menepuk bahu Ola sambil tertawa, "Resek banget lo La," bisik Filla membuat Ola ikut tertawa sedangkan Reya masih menatap mereka dengan wajah kesalnya.


Sedangkan Samuel hanya tersenyum sambil melipat tangannya.


suara gitar mulai terdengar dari panggung yang memang dipersiapkan untuk pertunjukan musik para mahasiswa jurusan seni.


Semua orang mulai mendekati panggung tak terkecuali Filla dan yang lain, mereka berjalan beriringan mendekati panggung yang mulai ramai dikelilingi oarang-orang yang mulai menikmati musik yang sedang dimainkan oleh beberapa orang dipanggung.


Filla bertemu tatap dengan Rangga, Rangga tidak jauh berdiri disebelah kanannya. Filla berusaha mengalihkan pandangannya walau hatinya masih saja menginginkan melihat Rangga.


"Bagus ya Dek," ucap Vino sambil merangkul Filla, tidak menyisakan jarak untuk mereka berdua.


Filla melirik Rangga, Rangga masih setia menatapnya dari kejauhan.


Rangga tersenyum lalu kembali menikmati lagu yang sedang dimainkan.


******


Filla duduk di kursi yang sudah disiapkan, dirinya duduk dengan ketiga sahabatnya, sedangkan para pria sibuk mengobrol tak jauh dari mereka.


"Kak Filla," panggil seseorang membuat Filla menoleh kebelakangnya.


"Salsa," ucap Filla.


Salsa mengangguk sambil tersenyum.


Filla mengerutkan keningnya, "Kamu kenapa disini?" tanya Filla.


"Aku boleh ngomong sama kamu? Tentang Kak Vino," ucap Salsa dengan wajah yang sulit Filla artikan.


Filla sedikit terkejut ketika Salsa menyebut nama Vino.


Ketiga sahabat Filla hanya menatap heran pada Salsa.

__ADS_1


Filla mengangguk, "Mau ngomong dimana?" tanya Filla.


"Taman belakang," ucap Salsa.


"Gue sama Salsa dulu," ucap Filla yang diangguki ketiga sahabatnya walau mereka sama bingungnya dengan Filla.


Baru beberapa langkah Filla berjalan tangannya ditarik oleh Vino, "Mau kemana?" tanya Vino membuat Filla dan Salsa menoleh.


Salsa sedikit terkejut dengan kehadiran Vino.


"Aku mau ngomong sama Salsa Kak," ucap Filla menatap mata Vino, ia tahu ada yang tidak beres diantara keduanya, tatapan Vino pada Salsa penuh rahasia menurut Filla.


"Buat apa? Ngomong tinggal ngomong aja disini," ucap Vino tegas.


Filla menatap heran pada Vino, "Kakak beneran nyembunyiin sesuatu kan dari aku?" tanya Filla to the point.


Vino terbelalak, "Maksud kamu? Kakak nggak nyembunyiin apa-apa," ucap Vino.


"Salsa, kamu bisa ngomong disini," ucap Filla sambil menatap Salsa tanpa memperdulikan tangannya digenggam lebih erat oleh Vino.


Salsa menunduk.


"Aku udah curiga sejak awal, ada yang kalian sembunyikan dari aku," ucap Filla.


Ola berdiri mengusap bahu Filla, dirinya tentu saja bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku hamil," ucap Salsa pelan sambil menunduk, butuh banyak keberanian sampai dirinya bisa mengucapkan dua kata tersebut.


"Salsa!" tegur Vino tegas membuat beberapa orang menatap kearah mereka. "Aku udah bilang untuk nggak bikin kesalahpahaman," ucap Vino sambil menatap tajam Salsa.


Filla menatap tak percaya pada Vino dan Salsa, banyak pertanyaan dalam otaknya. "Maksud kamu hamil anak Kak Vino?" tanya Filla membuat semua orang terkejut dengan ucapan Filla.


Salsa mengangguk, "Maaf Kak, aku nggak bisa terus sembunyi kayak gini, semua emang salah aku sejak awal, tapi Kakak juga salah," ucap Salsa sambil menatap mata Vino dengan sisa keberaniannya.


"Fill, dengerin, dia cuma pengen milikin aku, tapi aku tetap maunya kamu," ucap Vino sambil menatap mata Filla.


"Ucapan dia bener? Kalau Kakak ngehamilin dia?" tanya Filla dengan airmata yang sudah menggenang.


"Tapi tanpa cinta, hari it-," ucapan Vino terputus.


"Stop, Kakak ngelakuin itu?" tanya Filla sekali lagi.


Reya dan Caca ikut berdiri disebelah Filla menatap tak percaya pada Vino.


Vino membuang pandangannya lalu kembali menatap Filla, memegang bahu Filla, "Cuma kamu Fill, itu hilaf," ucap Vino.


BRUUK...


Satu pukulan melayang diwajah Vino, "Sampah," ucap Rangga lalu menarik tangan Filla, membawa Filla keluar dari kerumunan orang-orang yang menyaksikan pertengkaran mereka.


"Filla!" teriak Vino.


Filla manatap tangannya yang ditarik oleh Rangga, dirinya mengikuti langkah Rangga, rasanya benar-benar menyakitkan saat dikhianati oleh seseorang yang dirasa tidak mungkin menyakiti.


Filla tak bisa membendung airmatanya, dirinya menangis dalam diam. Filla menghempas tangannya membuat langkah Rangga ikut terhenti.

__ADS_1


"Buat apa kamu nangis? Dia nggak pantes buat ditangisin, pria breng***," ucap Rangga sambil menatap Filla.


*******


__ADS_2