Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 171


__ADS_3

Filla masuk ke dalam cafe yang cukup sepi, mungkin karena sedikit gerimis sejak habis magrib.


"Filla sini," panggil Reya sambil melambai tangan.


Filla tersenyum lalu mengangguk.


"Basah nggak?" tanya Reya sedikit khawatir.


Filla tersenyum lalu menggeleng, "Nggak, cuma gerimis kok tadi," Filla mendudukkan diri dikursi kosong depan Reya.


"Syukur deh, udah gue pesenin capuccino."


"Tau aja lo, gue bakal pesen itu," Filla melepas tasnya lalu meletakkan dikursi kosong sebelahnya. "Sam mana? Tumbenan lo merasa sendiri, secara kan kemaren-kemaren lagi bucin-bucinnya," ledek Filla.


Reya tertawa, "Gue lagi mumet aja sama kerjaan, butuhnya temen curhat, kasian kalau Sam dengerin curhatan gue yang nggak habis-habis."


"Resek banget lo, sama gue nggak kasian?" tanya Filla sambil mempautkan bibirnya.


Reya kembali tertawa, dirinya menyampirkan anak rambut yang sedikit berantakan kebelakang telinga, "Lumayan, kayaknya liat muka lo juga butuh teman curhat," ledek Reya.


"Permisi Mbak," ucap pria muda membawa pesanan mereka.


"Makasih," ucap Filla dan Reya saat setelah minuman mereka diletakkan diatas meja.


"Permisi," ucap pria itu sambil tersenyum kearah Filla sebelum akhirnya melanjutkan pekerjaannya.


Reya menaikkan kedua alisnya berulang sambil tersenyum jahil.


Filla mengerutkan kening, "Apaansih?" tanya Filla sambil tertawa.


"Kayaknya tuh cowok naksir lo," ucap Reya sambil menunjuk pria yang mengantar minuman mereka.


Filla ikut menoleh lalu mendapati pria itu melihat kearah mereka, dengan sopan Filla menyapa lewat senyuman lalu kembali berbalik menghadap Reya, "Perasaan lo aja kali, orang masnya emang ramah," celetuk Filla sambil menyesap es capuccino miliknya.


Reya menghela napas, "Pantesan aja jomblo, kode bertebaran nggak sadar sih," ucap Reya.


"Fokus sama tujuan utama, lo kan mau curhat," Filla sengaja mengalihkan pembicaraan, jika diperpanjang maka tidak akan ada habisnya, jiwa kepo Reya sudah Filla hafal sejak lama.

__ADS_1


Reya memajukan tubuhnya, "Biasa, lagi banyak kerjaan banget, gue hampir seminggu ini lembur, bahkan di hari liburpun gue masih nggak punya waktu karena ngejer deadline."


Filla mengangguk-angguk, "Wajar kok, semua orang pasti ngerasain capek, temuin nyamannya aja dulu, pasti lo punya alasan kan bekerja disana bukan hanya semata kebutuhan hidup."


Reya mengangguk, "Ya gue suka ngejalaninnya Fill, karena emang fashion gue disini, cuma makin kesini rasanya gue selalu ngecewain Samuel."


Filla memajukan tubuhnya dan meletakkan tangan diatas meja, "Jadi masalahnya bukan sama rasa capek lo, tapi karena rasa nggak enak karena nggak punya waktu buat Sam?" tanya Filla ketika menyadari apa yang sebenarnya menjadi kekhawatiran sahabatnya yang satu ini.


Reya mengangguk, "Dia nggak marah sama sekali waktu gue nggak bisa tepatin janji buat kumpul sama keluarganya kemarin, padahal gue tahu dia pasti kecewa," ucap Reya terlihat jelas merasa bersalah.


"Mungkin dia kecewa Rey, tapi gue yakin kok dia pengertian sama kerjaan lo sekarang, gue nggak bisa banyak omong juga tentang masalah ini, karena lo yang jalanin, lo pasti lebih tahu apa yang harus lo lakuin, saran gue coba omongin sama Sam."


Reya mengangguk, "Lo bener, gue harus ngomong langsung sama Sam, makasih buat gue yakin," ucap Reya sambil tersenyum.


"Lebay lo," ledek Filla sambil tertawa, "Biasanya juga nggak pernah bilang makasih, apalagi kalau nyomot cireng gue waktu Kuliah."


Reya tak bisa menahan tawanya, "Inget aja lo."


"Ingetlah, itu kan cireng kesukaan gue," ucap Filla pura-pura kesal. "Kapan-kapan harus sih kita beli cireng itu lagi, kangen gue."


Filla menggeleng, "Gue disini aja," ucap Filla yang meraih anggukan Reya.


Setelah Reya pergi, Filla menatap jendela kaca disebelahnya, gerimis masih setia seperti tadi, Filla menghela napas, ucapan Rangga tadi masih terngiang diotaknya, Filla membenci dirinya sendiri terlalu pimplan dengan perasaannya.


"Hayo mikirin apa?" tanya Reya yang sudah duduk dihadapan Filla.


"Ngagetin lo," ucap Filla.


Reya tertawa, "Abis gue liat lo termenung natap tuh kaca, gue tahu lo juga punya masalah kan? Gue kan udah cerita masalah gue, sekarang giliran lo," ucap Reya menuntut.


Filla menghela napas, "Gue bingung sama perasaan gue sendiri, disatu sisi gue capek banget berusaha melupakan harapan gue bersama Rangga, tapi disisi lain gue juga nggak bisa terus mengabaikan semua ucapan Rangga."


Reya menatap Filla, "Kisah cinta lo rumit, gue selalu bingung, apa susahnya buat sama-sama kalau emang saling suka, kalian sendiri yang bikin ribet."


Filla tertawa, Reya memang selalu mengungkapkan apa yang ada dipikirannya, dan Filla suka itu, mungkin jika orang lain yang melihat Reya menyikapi suatu masalah akan memilih menghindar, namun Filla butuh orang yang bukan bersembunyi dibalik rasa tidak enakan.


"Lo berhasil menghapus harapan itu?" tanya Reya akhirnya.

__ADS_1


Filla mengangguk pelan walau ragu.


"Bahkan dalam tiga tahun berusaha, lo masih ragu buat jawab pertanyaan semudah itu. Kenapa lo mulai bimbang? Bukannya udah mantep buat nggak terima Rangga lagi?"


Filla mengangguk, "Awalnya iya, tapi setelah ucapan dia tadi siang, gue nggak tahu kenapa gue jadi berdebat sama diri gue sendiri."


Reya melipat tangan didepan dada sambil menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi, "Dia bilang apa?"


Filla menghela napas, "Rangga pengen tukeran posisi, dia akan berperan seperti gue yang selalu mengejar cinta dan gue bebas melakukan apapun bahkan menyakiti."


Reya tertawa, "Keren juga Rangga bisa kepikiran cara itu, sampai lo yang berjuang 3 tahun buat melupakan malah bimbang sekarang."


Filla menghela napas, "Kenapa harus sekarang coba? Dulu gue mengikhlaskan rasa malu gue cuma buat dapetin perhatian dari dia, sekarang ketika gue berusaha berenti dia malah pengen memulai."


"Lo nggak mau coba? Sekalian aja sakitin balik, tolak sepuas lo seperti dulu dia menolak dan mempermalukan lo, anggep aja balas dendam, Setelahnya baru lo tanya sama hati lo, lo pengen selesein balas dendam atau coba buka lembar baru pada orang yang sama."


Filla meraup wajahnya, "Gue kesel sendiri sama hidup gue yang nggak pernah berjalan mulus."


Reya tertawa, "Lo sendiri yang pilih dia buat tempati ruang dihati lo, ya konsekuensinya lo harus rasain sakit, pertanyaannya tinggal lo yang akhiri atau lanjut."


"Curhat sama lo tambah mumet gue."


"Salah sendiri, curhat sama gue mah perlu mental," ucap Reya sambil menyesap jusnya.


"Lama-lama gue kena mental."


Reya tertawa, "Tapi kayaknya Rangga emang ngebet banget pengen sama lo, kenapa nggak coba lagi aja? Gue yakin kali ini dia serius, tiga tahun cuma nungguin lo."


Filla mengerutkan kening, "Emang Rangga nggak pernah pacaran selama gue di Milan?"


Reya menggeleng, "Gimana punya pacar, semua cewek ditolakin, malah mandangin instagram lo tuh anak setiap nongkrong sama Sam."


"Rey, lo bikin gue tambah bingung!" ucap Filla kesal.


"Lo juga jangan bohongin diri sendiri."


*******

__ADS_1


__ADS_2